
Samsul mulai terangsang dengan perkataan Pak Dadang mengenai perawan yang katanya enak. Hasrat birahinya tiba- tiba timbul. Miliknya pun tak terasa sudah menegang.
Keringat dingin mulai menitik di dahinya. Jantungnya berdebar- debar, sejak mengkonsumsi obat kuat dari dokter. Samsul selalu ingin melakukan kontak fisik. Tapi apalah daya. Istrinya Mila sudah pergi dari sisinya.
Pada siapa ia harus lampiaskan hasrat nya hari itu. Pikirannya semakin kalut. Pekerjaan di atas meja yang seabreg, ia abaikan begitu saja.
Samsul lalu beranjak berdiri dan melangkah menghadap jendela kaca kantornya. Ia mulai melakukan olah raga kecil agar bisa menyeimbangi hawa nafsunya.
Kedua tangannya diangkat ke atas kemudian ia mengatur nafasnya agar stabil. Tapi tetap saja burungnya menegang. Samsulpun duduk bersila sambil memejamkan matanya. Tapi justru yang terbayang wajah istrinya yang sedang bercumbu dengan berondong muda.
Deg!
Sekilas Samsul mengingat sesuatu. Barangkali ini yang di rasakan Mila saat hasratnya timbul sementara ia tidak berada di sisinya. Hingga Mila berbuat di luar akal sehatnya. Demi melampiaskan hawa nafsunya, Mila mungkin saja tidak bisa mengendalikannya. Hingga terjadilah dosa besar itu.
Ini juga yang dialami dirinya saat ini. Otak Samsul kian panas, ia harus segera melampiaskan bebannya segera. Tapi pada siapa. Semakin ia menghindarinya semakin kuat gairahnya untuk segera bercinta.
Ia harus meminta bantuan Pak Dadang segera.
Samsul kemudian mengambil ponsel yang ada di tasnya, bermaksud menghubungi Pak Dadang.
"Hello Pak! Tolong temui saya sekarang juga! Ini penting!" Sambungan telpon langsung Samsul tutup.
Tak lama seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Cepat Samsul membukanya.
"Sini Pak cepat!" Samsul menarik kasar tangan Pak Dadang lalu dengan cepat ia tutup kembali pintunya.
Pak Dadang menatap heran wajah Samsul.
"Pak, ada apa ini?" ujar Pak Dadang kaget melihat raut wajah Samsul yang memias.
"Pak tolong saya Pak, lihat ini!" Samsul memperlihatkan burungnya pada Pak Dagang yang sudah menegang.
Sontak saja Pak Dadang syok melihat barang Samsul.
"Hah! Apa- apaan ini Pak?" kecam Pak Dadang sambil mundur beberapa langkah menjauhi Samsul.
"Dih Bapak ini! Obat dari dokter itu Pak. Lihat efeknya. Saya tidak tahan. Saya butuh seseorang Pak untuk melepaskan beban saya ini, saya sudah tidak kuat Pak," keluh Samsul keringatnya sudah membasahi sekujur tubuhnya.
"Waduh, gawat. Coba pake sabun Pak, ayo kita ke kamar mandi. Kubilang juga apa, lelaki itu pamali hidup sendiri. Nah ini akibatnya!"
"Hah, pake sabun bagaimana Pak?"
"Duh, Bapak ini. Memangnya Bapak belum pernah?"
"Pernah sih Pak, waktu muda dulu. Tapi masa disini?"
__ADS_1
"Ya ampun Pak. Sana ke toilet."
Pak Dadang geleng-geleng kepala melihat ulah Samsul. Di saat kerja ada saja masalah yang di hadapi lelaki polos itu. Ia kira Samsul memanggilnya ada urusan pekerjaan. Eh ... tapi apa yang terjadi. Lelaki itu malah memintanya untuk mencari solusi yang menurutnya konyol.
Obat kuat dari Dokter memang ampuh dan reaksi nya cukup ampuh hingga membuat orang yang mengkonsumsinya bereaksi dengan cepat.
Samsul akhirnya pergi ke toilet di antar Pak Dadang.
* * *
Zahra duduk terdiam sambil memperhatikan Poto yang terpampang di dinding. Wajah cantik nan rupawan bersanding bahagia di samping lelaki gagah nan perkasa.
Sekilas Zahra membayangkan dirinya jika kelak Menikah nanti. Dengan siapa kelak dia akan berjodoh hanya tuhan yang tahu. Hanya saja saat ini. Ia masih memikirkan keberadaan ibu kandungnya.
Masih duduk manis. Zahra kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudu guna melaksanan solat dhuhur.
Tapi sebelum kaki mungilnya melangkah, terdengar seseorang mengetuk pintu rumahnya.
Zahra pikir mungkin itu Samsul yang datang. Cepat ia bergegas untuk membukakan pintu.
Seorang lelaki muda dan tampan tampak berdiri di depan pintu memakai jaket kulit warna hitam melengkapi penampilannya.
Zahra begitu tertegun melihat wajah lelaki itu hingga ia berdiri mematung sambil menatap tajam ke arah lelaki muda tersebut.
Tentu saja lelaki muda itu sama terkejutnya dengan Zahra. Seorang gadis cantik muda nan cantik berada di kediaman Samsul. Rasa curiga mulai menyelimutinya.
"Maaf, anda siapa, ya?" tanya Zahra akhirnya membuka percakapan.
"Oh. Saya, saya Deni. Apa Om Samsul ada di rumah?" tanya Deni gelagapan karena gugup.
"Tuan Samsul tidak dirumah, kalau boleh tahu. Ada keperluan apa masnya datang kemari, biar nanti saya sampaikan," ucap Zahra sambil tak henti menatap wajah Deni yang begitu rupawan.
Begitupun dengan Deni. Dari sejak datang, Deni tidak melepaskan pandangannya pada gadis manis itu. Bahkan tubuhnya terasa kaku. Baru kali ini ia melihat gadis muda cantik nan jelita berdiri anggun di hadapannya. Membuat jantung Deni dag dig dug saat itu.
"Maaf. Kalau boleh tahu. Nona ini siapa, ya?" tanya Deni penasaran dengan keberadaan gadis muda belia itu.
Zahra menelan ludahnya. Keringat dingin mulai menitik di dahinya mulusnya. Mendengar pertanyaan Deni. Zahra bingung harus mengatakan apa. Sedang dia saja baru mengenal Samsul.
Gugup dan tegang bercampur aduk jadi satu. Hingga akhirnya Zhara pun terpaksa berbohong. Bahwa ia adalah saudara jauh dari Samsul.
"Sa, saya saudaranya Tuan Samsul," balas Zahra sedikit canggung.
"Oh. Jadi nona ini saudara Om Samsul?" balas Deni kemudian.
"Iya, saya saudaranya. Kalau boleh tahu, masnya siapa, ya? Dan ada perlu apa datang kemari. Tuan Samsul sedang tidak dirumah. Sebaiknya Mas datang saja besok pagi."
__ADS_1
"Oh. Bukan, bukan itu maksud saya. Saya tidak ingin bertemu dengan Om Samsul. Saya ada sedikit keperluan saja. Istri Om Samsul menyuruh saya untuk mengambil sesuatu di rumah ini. Saya hanya sebentar kok. Kalau diijinkan. Boleh saya masuk!"
"Istri Om Samsul! Maksudnya apa? Saya tidak mengerti," Zahra semakin penasaran dengan sosok lelaki muda itu.
Sama halnya dengan Zahra. Deni binggung harus mengatakan apa pada gadis itu. Tidak mungkin Deni mengatakan yang sebenarnya padanya. Bahwa ia adalah suami siri dari istri Samsul. Sampai akhirnya Deni pun membohongi Zahra. Bahwa ia adalah saudara dari Istri Samsul.
"Saya, saya saudara dari istri Om Samsul," jawab Deni gugup.
Zahra pun tersenyum manis pada Deni sambil mengulurkan tangan.
"Zahra. Nama saya Zahra," ucap Zahra tersipu malu.
"Ehem! Saya Deni," balas Deni mendehem.
Zahra pun mempersilakan Deni masuk dan memberi kebebasan pada Deni untuk masuk ke kamar Mila.
"Silahkan ...ini kamarnya," ucap Zahra seraya mengikuti Deni dari belakang.
Tanpa ragu. Deni masuk ke dalam kamar lalu membuka lemari milik Mila. Sesuatu yang ia cari ternyata tidak ada di sana.
Sementara Zahra terus memperhatikan gerak gerik Deni yang seperti mencari sesuatu.
"Masnya cari apa? Biar saya bantu," tawar Zahra sambil menghampiri Deni yang tampak duduk berjongkok di depan lemari mencari benda milik Mila. Yaitu sepasang mukena dan sajadah baru yang menurut Mila masih baru dan masih terbungkus plastik.
Tapi benda yang itu tidak ada di lemari membuat Deni bingung.
"Masnya cari apa? Biar saya bantu," ucap Zahra.
"Oh. Itu, itu sepasang mukena dan sajadah baru yang masih terbungkus plastik," ujar Deni.
"Ohh itu .... itu sudah saya pakai Mas. Tuan Samsul yang memberikannya kepada saya. Memangnya istri tuan Samsul dimana? Kenapa bukan dia sendiri yang ambil kesini, ini kan rumahnya," balas Zahra menyimpan rasa kepenasarannya sejak tadi. Mengapa istri tuan Samsul harus menyuruh orang lain untuk mengambil sesuatu dari rumahnya.
"Jadi kamu pakai mukena itu?" Deni berujar dengan nada sedikit keras, mengagetkan Zahra yang kala itu sedang berdiri di belakangnya.
Tentu saja Zahra tercengang melihat sikap Deni yang sedikit membentaknya. Kaki Zahra mundur beberapa langkah ketakutan. Dengan cepat Deni meraih tangannya dan langsung meminta maaf.
"Maaf. Bukan maksud saya berkata begitu, saya, saya hanya bingung. Harus mengatakan apa kepada Mila," ucap Deni dengan tangan masih memegang erat tangan Zahra.
Keduanya beradu pandang. Sebelum akhirnya Zahra buka suara.
"Saya tidak tahu menahu tentang mukena itu. Bukan salah saya. Tuan Samsul yang menyuruhku memakai mukena itu," ucap Zahra dengan mata berkaca.
"Baiklah. Tidak apa-apa. Kamu tidak usah takut, ya?" bujuk Deni seraya melepaskan genggamannya yang erat memegang tangan Zahra.
"Baiklah. Saya pamit pulang dulu. Tolong maafkan perkataan kasar saya, ok."
__ADS_1
Zahra mengganguk pelan sambil menyeka matanya yang tumpah di pipi mulusnya. Mendapati perkataan kasar Deni. Sekilas ia teringat ibu tirinya yang selalu membentaknya dan memperlakukan buruk dirinya.
Tak lama. Deni pun pamit kepada Zahra sambil terus berucap maaf karena gadis itu terlihat sedih saat Deni menegurnya.