
"Mas. Apa sebaiknya kita kembalikan gadis ini pada keluarganya," saran Intana
"Tidak! Aku tidak mau kembali pada bapakku! Dia jahat!" ujar Zahra menyela.
Samsul dan Intana menoleh bersamaan mendengar pengakuan gadis itu.
Gadis itupun beringsut bangkit dari ranjang hendak turun meski tubuhnya terlihat lemah. Tapi Intana cepat mencegahnya.
"Apa yang kamu lakukan? Kondisimu masih lemah, memangnya kamu mau cari dimana ibumu. Ini kota besar!" bentak Intana mulai kesal.
Zahra menangis lirih dan terus memanggil- manggil ibunya. Membuat Intana dan Samsul semakin panik.
"Ok. Kalau kamu tidak mau kembali pada keluargamu, sebaiknya ikut aku saja pulang ke rumah. Sampai kita menemukan alamat ibumu," bujuk Samsul berusaha menenangkannya.
* * *
Deni terus membujuk Mila agar menghentikan tangisannya.
"Sudahlah sayang ... sampai kapan kamu nangis terus. Ada aku disini," rayu Deni sambil memeluk erat istri sirinya.
"Den ... apa kamu benar- benar ingin membahagiakan aku?"
"Tentu saja. Deni mencintai Ibu apa adanya, Deni akan berusaha sekuat mungkin agar Ibu bahagia."
Rasa terharu menyentuh perasaan Mila mendengar pernyataan Deni. Lelaki muda itu ternyata lebih dewasa dari pada suaminya. Dan Mila merasa bahagia karena Deni selalu jadi teman setia nya di kala sepi dulu.
Mila kembali menangis sesegukan.
"Sudahlah sayang ... mulai sekarang lupakan dia. Kita bina hidup baru," rayu Deni menyemangati.
"Den ... "
"Ya sayang."
"Apa para suami selalu melimpahkan kesalahannya pada seorang Istri? Kami selaku wanita. Selalu butuh perhatian dan kasih sayang dari suami, apa dia lupa. Secara tidak sadar mereka lah penyebabnya kami melakukan dosa ini ... hiks ... hiks ... " keluh Mila diiringi linangan air mata.
"Entahlah sayang ... tapi suami Ibu memang egois. Saat Ibu membutuhkan kasih sayang, dia sibuk dengan dunianya sendiri."
Mila semakin mengeratkan pelukannya di dada Deni. Tangisnya pecah seketika.
"Tiga tahu Den. Tiga tahun, Ibu berusaha bertahan dengan sikapnya. Bayangkan setiap hari dia pulang malam. Tak pernah ada waktu untukku!" lirih Mila membatin.
"Deni tahu Bu, tapi sudahlah tak perlu kita sesali yang sudah terjadi. Kita juga telah berbuat dosa padanya. Dan kita harus menerima konswekensinya. Apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai."
Lihat. Betapa bijaksana nya Deni. Andai Samsul sedewasa Deni, mungkin kejadian tidak akan seperti ini.
"Besok Deni akan mencari pekerjaan lagi. Kalau perlu, Deni mau jadi kuli di pasar. Pokonya apapun pekerjaannya yang penting halal," tegas Deni.
"Den. Jangan terlalu memaksakan, lagipula suamiku masih memberi ku uang."
"Tidak! Ibu jangan pernah menerima uang dari dia. Deni masih sanggup membiayai Ibu."
Mila terdiam sambil menyeka air matanya yang tak henti meleleh di pipi mulusnya. Meski Deni suami siri nya. Tapi ia lelaki yang penuh tangung jawab dan baik.
"Ayo Den. Antar Ibu ke pasar. Hari ini. Ibu akan membeli peralatan dapur," ajak Mila.
"Memangnya Ibu punya uang? Kalau itu uang dari suami Ibu, Deni tidak mau! Pokoknya jangan pernah di terima kalau suami Ibu memberi uang. Titik!"
"Tapi kamu kan belum dapat kerjaan Den," sela Mila.
"Ibu jangan khawatir. Besok pagi Deni akan menemui teman Deni. Mudah- mudahan dia bisa memberiku pekerjaan."
"Baiklah Den. Tapi antar Ibu ke pasar dulu. Ini uang tabungan ku Den. Uang suamiku selalu aku simpan di ATM."
"Baiklah, ayo."
Keduanya pergi menuju pasar yang tak jauh dari kontrakan tempat Deni tinggal.
* * *
__ADS_1
Di lain sisi. Samsul dan Intana tengah membereskan biaya rumah sakit Zahra. Gadis muda itu terpaksa akan Samsul ajak ke rumahnya. Agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Entah dari desa mana gadis muda itu berasal. Yang pasti Samsul akan membujuknya nanti setelah situasi tenang.
Lagi pula harus kemana gadis itu pergi. Di kota yang cukup besar dan rawan kejahatan tentu akan sangat membahayakan jika gadis itu tidak di tolong.
Ketiganya akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit.
"Kalian berdua tunggu disini, aku akan ke parkiran ambil mobil," ujar Samsul berjalan tergesa menuju parkiran mobil yang cukup jauh dari pintu keluar rumah sakit.
Sementara Intana dan Zahra menunggu. Keduanya tampak mulai akrab. Intana begitu terenyuh melihat keadaannya.
Tiba- tiba sebuah mobil Avanza warna putih berhenti tepat di depan mereka.
Dari dalam mobil keluar pria bertubuh kekar dan langsung memburu Intana.
Sontak Intana dan Zahra terkejut. Pria itu langsung menarik kasar tangan Intana sebelum akhirnya Intana sadar. Pria itu ternyata anak buah suaminya.
Intana berusaha meronta dan melawan sambil berteriak meminta tolong. Tapi pria satunya datang dari arah yang berbeda. Pria itu ternyata Toro suaminya.
"Bang Toro!"
Intana berusaha kabur namun pria itu berhasil menggendong paksa dirinya dan langsung memasukkan tubuh lemah itu ke dalam mobil. Obat bius yang di sumpelkan pada mulut Intana bereaksi cepat membuat Intana terhuyung dan pingsan. Kejadian itu sempat mengusik beberapa orang yang ada di sekitarnya. Tapi mereka bukannya menolong malah bengong seperti patung.
Mobil yang membawa Intana itupun langsung melaju cepat ke arah jalan raya.
Zahra yang melihat kejadian singkat itu. Hanya melongo dengan tubuh gemetaran. Dirinya begitu syok melihat dua pria asing membawa Intana dan memasukkannya ke dalam mobil.
Tak berapa lama mobil Samsul sudah ada di depannya.
"Ayo Zahra masuk sini," sahut Samsul.
"Tuan ... tuan ... itu, itu ... " Zahra bicara tergagap.
Samsul menatapnya heran.
"Ada apa Zahra? Ayo cepat masuk!" teriak Samsul sambil membuka pintu mobilnya.
Zahra berjalan mendekat.
Melihat Zahra seperti kebingungan. Samsul pun turun dari mobil dan mencari- cari Intana.
"Lho, Intana kemana?"
Zahra tampak pucat saat Samsul berkali- kali bertanya tentang keberadaan Intana.
"Zahra! Dengar tidak? Dimana Intana?" sentak Samsul sambil mengguncang bahu Zahra yang tampak pucat.
"Tuan, itu ... itu ... tadi ada dua orang pria menculiknya," ucap Zahra gelagapan.
"Apa?!"
Zahra mengganguk samar masih dengan tubuh gemetaran.
"Siapa yang menculiknya?"
"Entahlah tuan. Kejadiannya begitu cepat. Tapi tadi sekilas saya dengar. Ibu Intana menyebut nama To, Toro tuan," ungkap Zahra.
"Hah! Toro maksud kamu?"
"Iya itu yang tadi saya dengar tuan."
Samsul menghela nafas panjang. Wanita malang itu akhirnya berhasil di temukan suaminya. Menyesal ia tadi tidak mengajak Intana ke tempat parkiran.
Ia tak bisa berbuat banyak untuk menolong Intana. Toro masih berhak atas diri wanita itu.
Samsul terkulai lemas. Intana wanita yang baik. Tapi sayang nasibnya sungguh tragis. Kembali Samsul meneteskan air mata. Dua wanita yang ia sayang, hilang dalam genggaman.
Tadinya Samsul akan mengembalikan Intana kepada orang tuanya. Tapi sebelum itu terjadi. Toro berhasil menemukan wanita malang itu.
"Tu ... tuan, maafkan saya tidak bisa menolong Ibu Intana, karena saya takut tuan ... " keluh Zahra sambil tertunduk.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak perlu meminta maaf. Ayo kita pulang," ajak Samsul berjalan tergesa lalu masuk ke dalam mobil.
Zahra mengikutinya dan ikut masuk ke dalam mobil.
Secepatnya Samsul menjalankan mobilnya pergi dari tempat itu.
Di sepanjang jalan. Pikiran Samsul masih pokus memikirkan nasib Intana. Terakhir Intana selalu mengeluhkan keadaanya hidup rumah tangganya yang tak bahagia.
Sementara Zahra duduk di belakang dengan wajah bingung.
"Zahra. Kamu boleh tinggal di rumahku sementara, tapi secepatnya aku akan antar kamu pulang, ok." Samsul berbicara sambil menatap gadis muda itu lewat kaca depan mobilnya.
"Ba, baik tuan ..."
Tak butuh waktu lama. Akhirnya Samsul tiba di rumahnya.
"Ayo. Ini rumahku," ajak Samsul.
Dengan hati- hati, Zahra turun dari mobil mengikuti Samsul yang berjalan di depannya.
Samsul lalu mengeluarkan kunci rumah dari saku celananya.
Pintu pun terbuka lebar.
"Ayo sini masuk."
"Iya tuan."
Meski ragu. Zahra masuk ke dalam dan ia langsung duduk di sofa.
Matanya mengedar menyapu ke setiap sudut ruangan yang tampak bersih.
Samsul langsung menunjukan salah satu kamar pada Zahra.
"Nah itu kamar kamu. Ayo istirahatlah, kamu pasti lelah. Aku akan ke depan nyari makanan."
Setelah menunjukkan kamar pada Zahra. Samsul pun pergi naik motor untuk membeli makanan.
Zahra masih mematung di depan pintu kamar, sambil mengamati ruangan yang lainnya.
Langkah kakinya berjalan dengan hati- hati menuju ke ruang tengah.
Sebuah Poto seorang wanita cantik terpajang di dinding. Ada juga photo pernikahan Samsul disana.
Zahra mengamatinya sambil tersenyum tipis. Kemudian kaki kecilnya menuju ruangan yang berada di ujung. Kembali Zahra melangkah ragu menuju ke sana.
Ternyata itu ruang makan sekaligus dapur. Tampak ada beberapa piring kotor menumpuk belum di cuci.
Dengan cepat tangan Zahra bergerak mengambil busa untuk cuci piring yang tak jauh dari tempat itu.
Zahra kemudian membersihkan semua piring kotor itu. Baginya pekerjaan di dapur sudah terbiasa ia lakukan di kampungnya.
Ibu tirinya tak pernah berhenti memerintah. Semua pekerjaan rumah ia yang bereskan. Ayah kandungnya bagai boneka di depan ibu tirinya. Pasrah dan tak berdaya. Seringkali Zahra di perlakukan tak manusiawi oleh ibu tirinya. Ibu tirinya kerap menyiksa dirinya jika ia melakukan kesalahan kecil. Bahkan Zahra sering di kurung di kamar kosong tanpa di beri makanan.
Hingga suatu hari. Ibu tirinya bermaksud menikahkan ia dengan seorang pria lumpuh yang kaya raya.
Tapi Zahra menolaknya dan kabur ke rumah temannya. Lewat temannya lah Zahra mengetahui bahwa ibunya masih hidup dan berada di kota.
Dan dengan bekal uang tabungannya. Iapun bertekad akan mencari ibu kandungnya ke kota.
Pergi menggunakan bis malam. Zahra memulai perjalanannya.
Dan saat tiba di kota. Zahra malah kebingungan harus memulai darimana ia mencari ibunya. Sedangkan ia sendiri tak punya alamat yang harus dituju.
Di saat pikirannya linglung. Zahra menyebrang jalan begitu saja hingga sebuah mobil warna hitam menghantam tubuh mungilnya.
Dan nasib mempertemukannya dengan Samsul.
"Zahra! Sedang apa kamu di dapur?"
__ADS_1
Suara Samsul menyadarkan lamunannya.