
Samsul menghela nafas panjang melihat sikap Pak Dadang yang selalu saja mengejeknya.
Tampak Zahra duduk di sofa meringis kesakitan sambil memegang kakinya. Segera Samsul menghampiri dan langsung meraih kaki Zahra untuk melihat di bagian mana kakinya terkilir.
"Mana yang sakit?" tanya Samsul seraya memandangi wajah Zahra yang meringis kesakitan. Lalu Samsul berjongkok di hadapannya untuk melihat luka yang dialami gadis itu.
Tapi saat Samsul memegang kakinya. Zahra berusaha menepis tangan Samsul dengan kasar.
"Jangan Tuan. Saya tidak apa-apa, hanya sedikit lecet," ucap Zahra sambil mengalihkan tatapan Samsul.
Pak Dadang pun ikut memperhatikan luka lecet yang dialami Zahra. Sedikit lebam tapi tidak begitu parah.
"Pak. Sebaiknya pake Betadine saja," usul Pak Dadang.
"Iya betul. Tapi saya tidak punya obat itu," jawab Samsul kemudian.
"Tidak Tuan, saya baik-baik saja," sela Zahra.
Dengan sekuat tenaga Zahra berusaha berdiri dari duduknya meski rasa nyeri dikakinya semakin ngilu terasa. Hingga membuat Samsul semakin mencemaskan gadis malang tersebut.
"Kamu jangan berdiri dulu, biar saya beli obat ke apotik. Kamu tunggu sebentar, ya?"
"Udah Pak. Biar saya yang beli ke apotik," tawar Pak Dadang sambil berjalan tergesa menuju ke luar rumah.
"Terima kasih Pak. Saya jadi merepotkan Bapak," ucap Samsul.
Samsul kemudian meminta Pak Dadang untuk menggunakan motor ke apotik.
"Nih Pak kuncinya. Pake motor saja," ujar Samsul sambil mengambil kunci motor yang tergantung di balik pintu lalu melemparnya ke arah Pak Dadang. Dengan sigap, Pak Dadang menangkapnya.
Pak Dadang pun pergi menggunakan motor.
Samsul kemudian meminta Zahra untuk beristirahat sejenak di kamar.
"Ayo Zahra, sebaiknya kamu masuk ke kamar dan istirahat," pinta Samsul sambil memapah Zahra.
"Tuan. Maafkan ... saya selalu merepotkan Tuan," ucap Zahra melirih.
"Sudahlah ...bukan kamu yang salah, ini semua karena kesalahan saya," ucap Samsul.
Karena melihat keadaan Zahra yang berjalan payah. Samsul pun dengan cepat menggendong Zahra masuk ke dalam kamar. Raut wajah Zahra seketika memerah saat Pria yang baru saja di kenalnya itu. Tiba-tiba menggendongnya. Tentu saja jantung Zahra berdetak tidak karuan. Dan itu sedikit membuat Zahra canggung dan gugup.
Dengan hati-hati, Samsul membaringkan tubuh Zahra di atas tempat tidur.
"Papa?!"
Tanpa di duga. Mila sudah berdiri tepat di hadapan mereka berdua.
Mata Samsul dan Zahra terbelalak bersamaan ke arah Mila.
"Papa! Siapa gadis itu?" pekik Mila sambil memburu Samsul yang tengah membaringkan Zahra.
__ADS_1
Deni juga sudah berada di sana. Datang menemani Mila. Rupanya Deni mengadu pada Mila mengenai gadis yang berada di rumah Samsul. Dan itu membuat Mila naik pitam dengan aduan Deni. Rasa panas di bakar api cemburu, membuat Mila tidak bisa mengendalikan emosinya ketika melihat suaminya berdua di kamar dengan gadis lain.
"Mama?!" Samsul terhentak kaget melihat kemunculan Mila secara tiba-tiba.
Plakk!"
Sebuah tamparan keras menepi di pipi Samsul. Membuat Samsul hampir terjungkal.
"Apa-apaan ini!" bentak Samsul sambil memegang pipi kirinya meringis menahan sakit tamparan Mila.
"Papa tega, ya? Baru satu hari. Mama pergi dari rumah! Papa berani memasukkan gadis lain. Dasar munafik!" geram Mila.
Melihat kejadian demi kejadian yang begitu membuat penasaran Zahra. Gadis manis itupun menangis tersedu-sedu.
Di sisi lain. Deni berdiri termangu. Ia tidak menyangka, Mila akan berbuat nekad. Tadi setelah Deni mengatakan perihal keberadaan Zahra. Mila ngamuk dan hilang kendali. Wanita itu tiba-tiba berlari ke luar rumah menuju rumah Samsul dengan menggunakan Gojek. Tentu saja Deni langsung mengejarnya. Karena takut terjadi hal tidak diinginkan. Dan benar saja, Mila ternyata cemburu berat terhadap suaminya. Dan itu membuat Deni panik.
Rasa cinta Mila terhadap suaminya masih ada dan cinta itu di tunjukkan di depan matanya. Dengan kalap, Mila menampar Samsul tanpa ada kata penjelasan dari suaminya terlebih dahulu. Karena Deni pun belum sempat memberitahu Mila bahwa Zahra adalah saudara dari suaminya.
"Siapa gadis ini!!" jerit Mila berusaha menarik tubuh Zahra dari atas tempat tidur.
"Cukup! Untuk apa kamu datang kemari? Saya sudah katakan! Kita akan bercerai!" teriak Samsul emosi.
Samsul kemudian mendorong Mila agar menjauh dari Zahra yang tengah meringis dan menangis. Dan dengan cepat, Samsul membekap gadis itu di dadanya untuk melindungi Zahra dari amukan Mila.
"Kurang ajar! Kamu ternyata diam-diam selingkuh di belakang Mama. Pantas saja Papa mengusir Mama ... hiks ... hisk ... " Mila terduduk di lantai sambil menangis terguguk.
Deni pun langsung memegang bahunya dan menjelaskan bahwa Zahra adalah saudara dari suaminya.
"Saudara? Apa maksud kamu?" Samsul menyela perkataan Deni.
"Tapi suamiku tidak punya saudara yang bernama Zahra!" Tegas Mila sambil menyeka air matanya.
"Tadi, tadi saya datang ke rumah Om. Tapi Om tidak di rumah. Dan hanya ada gadis itu di rumah. Dia mengaku saudara jauh Om," jelas Deni sambil menundukkan wajahnya.
"Apa?!" Samsul kaget setengah mati mendengar pengakuan Deni. Berondong muda itu begitu berani datang ke rumahnya saat ia tidak berada di rumah. Dan itu membuat Samsul emosi dan naik darah.
"Mau apa kamu datang ke sini, hah?!" bentak Samsul dengan wajah kian memerah karena menahan amarah yang memuncak.
"Iya Tuan. Tadi pemuda ini datang kesini, katanya disuruh istri Tuan untuk mengambil sesuatu," Zahra menambahkan.
"Iya betul! Tadi aku suruh Deni untuk mengambil mukena milikku!" tegur Mila sambil bangkit berdiri dan berjalan mendekati Samsul dan Zahra.
"Untuk apa kamu mau mengambil mukena itu? Apa kamu tidak mampu membeli mukena?" cibir Samsul sambil memelototi Deni yang masih tertunduk kaku.
"Cukup Pa! Papa belum menjelaskan sama Mama, siapa gadis ini? Dan sedang apa kalian berdua di kamar ini, hah?!"
Mila tidak bisa lagi menahan rasa cemburunya yang begitu kian menggebu. Melihat suami tercinta berada di kamar berdua dengan seorang gadis belia yang sangat rupawan.
"Itu bukan urusan Mama! Bukankah Mama cinta sama berondong itu? Jadi jangan ganggu kehidupan Papa. Kita sebentar lagi bercerai dan Mama tahu itu!" sentak Samsul membela diri.
Sebenarnya Samsul enggan berterus terang mengenai Zahra karena percuma. Rumah tangganya sudah tidak bisa ia pertahankan lagi. Tubuh istrinya sudah dinikmati lelaki lain. Dan itu tidak bisa ia maafkan seumur hidupnya. Jika pun ia memaafkan Mila. Tentu akan menyiksa batinnya. Terbayang tubuh istrinya pernah gagahi lelaki lain.
__ADS_1
"Pa! Tolong jangan berkata begitu, Mama masih mencintai Papa ... hiks ...hiks ... "
Putus asa dan hancur. Mila bersimpuh terduduk sambil memeluk kedua lutut Samsul memohon dan meminta Samsul untuk memaafkan kesilapan nya.
"Maafkan Mama Pa ... " Mila melirih merintih menggenggam kuat kedua lutut suaminya.
Tak terasa buliran bening menitik di kedua mata Samsul. Wanita yang berada di bawahnya sangat menyentuh batin Samsul kala itu. Namun kesalahan besar yang dilakukan istrinya tidak akan pernah Samsul lupakan. Dengan keji, Mila berkhianat di belakangnya. Tanpa menimbang perasaan Samsul yang hancur berkeping saat mengetahui perbuatan bejad istrinya dengan berondong muda.
"Sudahlah Ma. Biarkan semua terjadi seperti air mengalir. Papa sudah memaafkan kesalahan Mama. Biarkan Papa hidup dengan jalanku. Dan Mama berjalan di jalan Mama, mungkin jodoh kita hanya sampai disini," rayu Samsul sambil memegang kedua bahu istrinya.
Mila perlahan berdiri memandangi wajah pria yang telah menemaninya selama tiga tahun. Selama itu pula. Samsul suaminya tidak pernah sekalipun menyakiti perasaannya. Hanya saja kekurangan Samsul membuat Mila terjerumus cinta terlarang dengan berondong muda. Dan nyatanya, Mila menyesal dengan perbuatannya. Yang mengakibatkan ia harus kehilangan orang yang sangat ia cintai dengan sepenuh jiwa.
Pemandangan yang mengharukan di depan matanya. Sekilas membuat batin Deni tersentuh. Kerena cinta sesaat dan nafsu yang laknat. Secara tidak langsung. Ia telah merusak hubungan suami istri.
Lain halnya dengan Zahra. Dirinya tidak menduga rumah tangga Samsul ternyata tengah di terpa badai yang maha dasyat. Istri tercinta berselingkuh dengan pemuda yang tadi siang datang ke rumah. Dan mengaku sebagai saudara dari istri Tuan Samsul.
Zahra tidak menduga. Deni lelaki muda itu, ternyata berondong simpanan Istri Tuan Samsul.
Kembali Samsul menguatkan Mila agar melupakan semua yang telah terjadi. Tidak ada manusia sempurna. Ia menyadari, istrinya selama ini kesepian karena selalu ia tinggal bekerja setiap hari.
"Ma ... maafkan Papa, ya? Papa tidak bisa menerima Mama kembali ... tapi percayalah, Papa akan selalu mendoakan Mama. Semoga Mama hidup bahagia bersama pria pilihan Mama. Papa sadar, Papa banyak kekurangan. Papa tidak bisa membahagiakan Mama ... " ucap Samsul sambil memeluk istrinya dengan erat.
"Papa jangan berkata seperti itu Pa!" Mila tiba-tiba menangis histeris di pelukan suami tercintanya.
Keduanya saling peluk diiringi air mata. Hati dan perasaan mereka berdua masih memendam rasa sayang dan cinta. Namun kesalahan fatal yang dilakukan Mila. Membuat Samsul seakan ia berada diantara dinding kuat yang tidak bisa ia gapai guna mencapai cinta itu.
Ya. Dinding kuat itu adalah Deni. Ia mengerti bagaimana perasaan Mila terhadap Deni. Wanita itu sudah menduakan cintanya. Sedang cintanya terlanjur sakit saat Mila mengoyakkan harga dirinya.
"Ma. Pulanglah. Papa akan segera membebaskan Mama. Hari ini juga Papa putuskan. Papa tidak akan pernah menjadi bagian hidup Mama lagi. Hidup lah bahagia bersamanya. Disini Papa akan selalu berdoa, agar hidup Mama senantiasa bahagia ... pergilah ... " Samsul melepaskan pelukannya lalu membalikkan badannya tidak ingin melihat wajah Mila lagi.
Mila membeku sambil menangis terisak. Air mata tumpah mengucur deras di pipinya. Matanya pun beralih pada Zahra gadis muda cantik yang sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan aneh.
"Siapa namamu?" tanya Mila dengan sorot mata tajam melirik ke arah Zahra.
"Zah, Zahra ... " ucap Zahra gagap.
"Tolong jaga dia sebaik mungkin. Sayangi dia cintai dia. Dan jangan pernah sia-siakan dia. Pria ini lelaki hebat dan sabar. Kamu sangat beruntung mendapatkan dia. Aku mohon, jangan pernah sakiti hatinya .... "
Kata-kata yang menyentuh jiwa. Sesaat membuat Zahra tersentak haru. Mulutnya seakan terkunci.
Tatapan Mila pun beralih pada suaminya yang masih berdiri membelakanginya. Tidak ada lagi kata yang terucap. Kini hanya kebencian yang ada di hati suaminya.
Bola kristal bening perlahan meleleh di mata Mila. Kemudian ia berjalan mundur ke belakang sebelum akhirnya ia tidak kuasa melihat lelaki yang telah mengabaikannya dan telah menemukan cinta baru.
Mila pun berlari ke luar kamar diiringi tangis haru. Sakit rasanya tidak terkira, kepingan luka yang begitu perih menusuk di jiwa. Mengiringi kepergiannya dari rumah itu. Sekali saja, Mila ingin Samsul membuka hatinya. Bahwa kesalahan yang selama ini ia perbuat, itu karena Samsul tidak pernah perhatian padanya dulu.
Deni yang sedari tadi diam menunduk. Lantas mengejar Mila.
Zahra nampak terbengong mendengar pernyataan wanita yang baru saja dilihatnya. Ia tidak percaya dengan apa yang di alaminya. Kalau saja kakinya tidak terluka. Tentu ia akan mengejarnya dan menjelaskan pada wanita itu. Bahwa ia dengan suaminya tidak punya hubungan apapun.
Tapi Zahra lebih tidak mengerti dengan sikap Samsul. Pria itu terkesan pasrah saat istrinya mengatakan tentang hubungannya, yang sama sekali antara mereka berdua tidak pernah ada jalinan spesial seperti yang dituduhkan wanita itu.
__ADS_1
Mengapa Samsul tidak menjelaskan pada istrinya, apa dan mengapa ia sampai berada di rumah itu?