
Samsul tak tinggal diam. Ia terus menekan istrinya untuk berterus terang mengenai kehamilannya. Bukankah di saat seperti itu. Seorang Istri akan merasa bahagia memberi kabar tentang kehamilannya. Tapi Mila seakan mengelak dan menghindar. Membuat Samsul semakin penasaran. Apa maksud dan tujuan Mila sebenarnya.
"Ma. Kalau Mama tak mau berterus terang baiklah! Papa takkan memaksa, tapi Papa akan menunggu sampai Mama berterus terang!" tegas Samsul sambil berjalan menuju ke ruang tengah.
Pikiran Samsul semakin kalut. Rasa curiga mulai menyelimuti pikirannya.
***
Malam itu ...
Saat hujan deras menerpa kota tersebut. Dimana Intana tertahan tidak bisa pulang ke rumahnya, padahal waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Ia berdiri di depan kedai yang sudah hampir tertutup seluruhnya.
Ia menghela nafas. Melihat hujan yang terus jatuh dengan derasnya. Hujan seperti ini mungkin akan awet pikirnya namun tidak mungkin juga ia harus berdiri semalaman di tempat itu. Karena pertengkaran hebat dengan suaminya Toro. Intana kabur dari rumah karena sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan kasar suaminya.
Duaaaarr ... Suara ban meletus membuat Intana terkejut karena mobil itu sedikit oleng mengarah ke arahnya.
Ckiiiiiiiiiittttt .... Dan berhenti dengan sempurna. Intana membelalak sambil terus mengamati sebuah mobil Avanza berhenti di depannya.
Braaakkk, seorang pria keluar dengan membanting pintu lalu berjalan mendekati ban belakang mobil yang ia gunakan.
Di tengah hujan pria itu terlihat kesal, sedangkan Intana masih berdiri kaku mengamati lelaki itu.
Sial!
Lelaki itu tenyata suaminya Toro. Intana langsung berlari dari tempatnya berdiri. Dan seketika itu juga dua orang lelaki tinggi besar mengejarnya. Itu dua pengawal Toro. Mendapati Intana kabur dari rumah. Toro dan dua kaki tangannya berusaha mencarinya. Dan secara tak sengaja mobil yang dikendarai Toro bannya meledak tepat di depan dimana Intana berdiri.
Tanpa menghiraukan gelapnya malam. Intana terus berlari tak tentu arah. Yang penting ia bisa menjauh dari lelaki yang tak berprikemanusiaan itu. Demi taruhan Intana di korbankan suaminya untuk melayani nafsu lelaki tua bangka yang merupakan klien besar suaminya.
Bukan satu dua kali, Toro berbuat kejam padanya. Pernah satu kali ia dengan pasrah di tiduri dua pria pengusaha kaya yang ikut andil untuk proyek suaminya. Dan disitulah Intana mulai berontak. Ia sudah tidak tahan lagi dengan kekejaman suaminya.
Sudah seringkali Intana meminta cerai dari suaminya. Tapi Toro sedikitpun tak menghiraukan permintaanya. Intana malah di kurung di sebuah kamar yang gelap. Beruntung kedua pelayannya yang setia berhasil menolong Intana untuk melarikan diri dari rumah bagai neraka itu.
Malam semakin gelap. Entah kemana kakinya terus berlari tak tentu arah tujuan. Intana tak peduli lagi dengan keadaannya yang sudah basah kuyup.
Tiba- tiba secara tak sengaja Intana menubruk motor yang tengah melaju pelan ke arahnya.
Brukk ...
__ADS_1
Intana terjerembab jatuh ke tanah. Tubuhnya kotor terciprat debu jalanan.
Hujan semakin mengguyur membasahi tubuh Intana.
Seorang pria cepat turun dari motornya untuk melihat keadaannya.
"Intana!" Samsul terkejut. Ternyata wanita yang menubruk motornya itu adalah Intana.
Begitupun dengan Intana. Tak di duga ia bertemu Samsul disaat dirinya tengah berlari kencang menebus gelapnya malam.
Samsul segera memangku Intana untuk menepi di sebuah bangunan tua mengindari guyuran hujan.
"Beb ... tolong aku ... " Intana melirih sambil menenggelamkan wajahnya di dada Samsul.
"Tapi kenapa kamu berada disini? Dimana suamimu?" tanya Samsul sambil menurunkan tubuh Intana.
Setelah itu Samsul memarkirkan motornya di tempat itu. Jas hujan yang tengah dikenakannya. Ia lepas kan untuk menutupi tubuh Intana yang basah kuyup.
Ya. Malam itu Samsul di hubungi Pak Wisnu untuk mengambil berkas penting. Tapi tanpa di duga ia malah bertemu Intana di tengah perjalanannya menuju rumah Pak Wisnu
Dan keadaan Intana sangat mengkhawatirkan. Wanita itu terlihat sedih dan putus asa.
"Ayo Intana katakan apa yang terjadi? Mengapa malam- malam kamu berada disini sendirian, kemana suamimu?" tegur Samsul.
Intana menggeleng pelan. Air mata tak henti henti keluar membanjiri pipinya.
Samsul kemudian mengambil ponsel dari dalam jaketnya. Kemudian ia menghubungi Pak Wisnu bahwasannya ia tak bisa datang di karenakan hujan lebat.
"Baiklah besok pagi saja kamu ke rumahku, aku memerlukan berkas itu. Ini penting." Jawaban Pak Wisnu dari sebrang sana.
"Baik Pak. Terima kasih."
Setelah menghubungi Pak Wisnu. Samsul kemudian meminta Intana untuk pulang.
"Ayo Intana, aku akan antar kamu pulang!" ujar Samsul.
"Tidak! Aku tak mau pulang! Biarkan aku disini," sahut Intana sambil menjauh dari Samsul.
__ADS_1
"Intana! Ini sudah malam, aku tak mau terjadi apa- apa sama kamu," rayu Samsul mencoba membujuk Intana agar mau menuruti perkataanya.
"Aku tidak mau pulang! Berapa kali aku katakan sama kamu! Biarkan aku disini!" sentak Intana kemudian.
"Kamu itu sudah tak waras! Ayo pulang! Aku akan antar kamu!" Samsul mulai kesal. Ditariknya lengan Intana dengan kasar, tapi secepat kilat Intana menepisnya dan langsung berlari kencang menuju jalan raya. Sontak Samsul kaget dengan ulahnya. Gegas Samsul mengejarnya. Setelah berhasil menangkap tubuh Intana, Samsul menampar keras pipi wanita itu.
Plakk!
"Kamu ini sudah sangat keterlaluan! Apa kamu mau mati!" Bentak Samsul. Hilang kesabarannya karena ulah Intana yang nekad berlari ke tengah jalan. Sepertinya Intana ingin mengakhiri hidupnya dengan menabrak diri. Beruntung tak ada kendaraan yang lewat.
Seketika Intana menjerit histeris membuat Samsul panik. Sebenarnya apa yang terjadi pada Intana.
"Ayo ikut aku!" Dengan paksa Samsul menarik tangan Intana.
"Lepaskan aku! Aku tak mau pulang!" Jerit Intana meronta saat Samsul memaksanya untuk mengikutinya.
"Kamu itu keras kepala! Ayo naik motorku! Aku akan bawa kamu pulang!" balas Samsul kesal.
"Pulang? Pulang kemana?"
"Ayo ikut ke rumahku saja!"
"Apa? Apa maksudmu?"
"Jangan banyak bicara! Kamu aku antar pulang tidak mau, sebaiknya kamu ikut saja."
Intana tercenung mendengar perkataan Samsul. Bagaimana mungkin Samsul membawanya ke rumahnya. Apa kata istrinya nanti.
"Tunggu!" Intana menghentakkan tangannya dari genggaman tangan Samsul.
"Bagaimana dengan istrimu? Aku tak mau merusak rumah tanggamu," tanya Intana.
"Jangan khawatir aku akan menjelaskan pada istriku," Samsul menatap wajah Intana dengan sendu. Ia tak menyangka nasib Intana begitu memilukan.
"Baiklah ... aku ikut denganmu, tapi, tapi ... "
"Sudahlah, ayo ikut!"
__ADS_1
Keduanya pergi menembus gelapnya malam pikiran Samsul tegang saat itu. Bagaimana reaksi Mila saat ia membawa Intana ke rumahnya. Tapi Samsul tak peduli. Ia akan berusaha menjelaskan pada Mila tentang keadaan Intana. Dan Samsul berharap istrinya mengerti.