
Samsul pergi ke kantor dengan terburu-buru. Hari ini pekerjaan di kantor menumpuk. Dari kemarin masalah yang tengah di hadapi datang bertubi- tubi. Menyelesaikan masalah rumah tangganya, belum lagi Intana yang berhasil di temukan suaminya belum lagi masalah Zahra. Gadis belia yang ingin menemukan ibu kandungnya.
Pergi menggunakan mobil baru ke kantor. Samsul di hadang kemacetan. Membuat ia sedikit terlambat ke kantor.
Tepat pukul sembilan pagi. Samsul akhirnya tiba juga di kantor dan langsung masuk ke ruang manajer. Ya, sejak ia di angkat jadi manajer. Samsul diberi fasilitas khusus.
"Pagi Pak." Pak Dadang muncul di sebalik pintu.
"Eh Pak Dadang, kebetulan. Sini Pak, banyak yang ingin aku ceritakan," ucap Samsul sambil menyuruh Pak Dadang duduk.
"Wah ... ada masalah apa lagi Pak. Sepertinya serius," ucap Pak Dadang.
"Ini sangat serius Pak. Kita ngobrolnya sambil berkerja saja ya Pak. Ngomong- ngomong hari ini Pak Dadang sibuk gak?"
"Tidak terlalu sih, hanya ada satu berkas yang harus ku kerjakan hari ini. Tapi bukan masalah besar, saya bisa mengerjakan besok atau lusa," terang Pak Pak Dadang. Iapun duduk di kursi menghadap Samsul.
Sebelum memulai pembicaraan. Samsul mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Lalu ia membuka laptop tersebut.
"Pak, saya akan menceraikan istri saya," ucap Samsul sambil pokus menatap layar.
Mata Pak Dadang membelalak.
"Hah! Bapak ini bicara apa?" tanya Pak Dadang kaget.
Kemudian Samsul menutup laptopnya. Menghela nafas pelan memandangi wajah Pak Dadang lalu berkata.
"Saya serius Pak. Istriku selingkuh kini dia hamil," ungkap Samsul dan titik air mata mulai ada di kedua sudut matanya.
"Hamil?"
"Iya Pak, dia hamil anak dari berondong selingkuhannya itu. Dan yang lebih parah, istriku diam-diam menikah siri tanpa sepengetahuanku," keluh Samsul. Air matanya kini tumpah meleleh di pipinya.
Pak Dadang menghembus nafas kasar dengan wajah yang sudah terlihat kesal.
"Istrimu itu kejam sekali. Baru kali ini saya mendengar ada istri menikah siri. Biasanya itu di lakukan para suami. Istrimu itu sudah gila!" sentak Pak Dadang tak terima. Samsul pria baik tapi begitu keji istrinya memperlakukan pria yang ada di hadapannya.
"Itulah Pak. Hari ini juga saya akan urus perceraian ku. Biar hidup saya tenang."
"Tapi sebentar Pak. Kata Bapak istri Bapak tengah hamil. Bagaimana jika itu bukan anak selingkuhannya melainkan anak Bapak."
"Itulah Pak yang jadi masalahnya. Makanya aku akan jamin biaya hidupnya. Aku masih ragu, apa bayi itu milik berondong itu atau malah sebaliknya. Dan untuk itu, jika bayi itu lahir. Aku akan lakukan tes DNA."
"Sekarang istri Bapak masih tinggal bersama Bapak? Atau sudah Bapak kembalikan pada keluarganya."
"Saya serahkan dia sama berondong itu Pak."
__ADS_1
"Astaga!" Mata Pak Dadang melotot mendengar pengakuan Samsul. Bahkan ia memegang dadanya karena syok.
"Kemarin saya serahkan istriku pada lelaki bajingan itu!"
Pak Dadang geleng- geleng kepala seakan tak percaya dengan sikap Samsul yang terlalu polos.
"Bapak ini terlalu baik Pak, coba saya jadi Bapak. Sudah ku siksa habis keduanya!" kecam Pak Dadang greget.
"Tidak seperti itu Pak. Saya ingin jalan damai dan tak ada lagi keributan. Saya juga merasa salah dalam hal ini. Saya sering mengabaikan istriku. Kurang perhatian dan tidak bisa memuaskan istri di ranjang. Mungkin karena tiga penyebab itulah, istriku mencari kenyamanan di luar sana. Walau bagaimanapun sikap kita para suami sedikit besarnya membawa pengaruh pada moralitas seorang istri. Kadang para suami kurang memahami apa yang sebenarnya diinginkan seorang istri. Dan itu juga yang membuat mereka berontak dan melakukan hal- hal diluar akal sehat mereka." Panjang lebar Samsul menjelaskan bagaiman suami ikut andil besar dalam mempengaruhi jiwa seorang istri.
Kepala Pak Dadang mangut mangut mendengar cerita yang bisa jadi pelajaran buat suami yang diluar sana. Yang kadang kurang memperhatikan keinginan seorang istri. Dan tanpa mereka sadari. Bahwa memang perhatian sekecil apapun sangat penting untuk di tunjukkan kepada istri.
Seorang istri kadang butuh hiburan untuk membuat hari mereka begitu bahagia. Dan bukan materi sebenarnya yang membuat istri bahagia. Tapi kehadiran dan cinta suami yang setia dan selalu ada disampingnya menemani hari- harinya yang sibuk mengurus anak di rumah.
Dan bukan itu saja. Sekecil apapun bentuk perhatian itu. Buatlah istrimu bangga karena telah memiliki kita.
Kata cinta dan rayuan manis dari seorang suami bagi seorang istri itu merupakan hal yang sangat sangat menyentuh hatinya.
Hari itu Pak Dadang mulai sadar dan mengambil pelajaran yang sangat berguna dari Samsul. Memanjakan seorang istri memang wajib di lakukan oleh semua para suami.
"Pak. Bapak memang bijaksana. Bapak menyadari dan mengakui kesalahan Bapak, saya salut sama Bapak," tegas Pak Dadang sambil angkat jempol.
"Iya. Kita para suami kadang lemah untuk menentukan sikap. Tapi kita juga harus tegas dan bijaksana, walau berat saya berpisah dengannya. Tapi itu lebih baik agar tak ada lagi salah paham yang berkepanjangan."
"Maksudnya?"
"Iya coba saja Bapak pikir. Banyak di beritakan suami bunuh istri karena kedapatan selingkuh, lalu si suami masuk bui. Dan si istri mati. Nah, yang jadi korban kan darah daging mereka. Si anak jadi kehilangan ibu dan bapaknya dalam waktu singkat."
Samsul mengangguk berulang ulang. Ternyata menyelesaikan masalah dengan kepala dingin jauh lebih baik daripada dengan jalan kekerasan.
"Ohiya Pak. Saya akan jual rumah beserta isinya. Saya tidak mau tinggal disitu lagi. Rumah itu menyimpan kenangan pahit. Saya yakin. Istriku sering melakukan tindakan asusila di kamar saya. Membayangkan itu. Batin saya tersiksa Pak," keluh Samsul sambil menundukkan wajahnya menyembunyikan kesedihannya yang begitu pedih dan sakit.
"Betul juga Pak. Kalau Bapak masih tinggal di rumah itu. Pasti batin Bapak akan tersiksa, apalagi jika Bapak tidur di kamar dimana istri Bapak dulu bercumbu dengan selingkuhannya."
"Itulah Pak. Saya ingin secepatnya pindah dari rumah itu. Tabunganku lumayan banyak, saya akan mencari rumah baru yang sedikit jauh dari kota."
"Baiklah Pak. Mulai hari ini, saya akan tawarkan rumah Bapak. Ada beberapa teman saya yang kebetulan ingin cari rumah. Saya akan coba tawarkan sama dia nanti sore, mudah- mudahan dia minat."
"Ok. Terima kasih ya, hari ini saya akan cepat mengerjakan semua tugas biar cepat selesai. Kasian Zahra di rumah menunggu," celetuk Samsul keceplosan menyebut nama Zahra pada Pak Dadang.
"Zahra? Siapa Zahra Pak?"
Seketika wajah Samsul pias. Entah mengapa ia kepikiran gadis muda itu.
"Eh, itu anu ... Zahra ... " Samsul berbicara gagap.
__ADS_1
"Wah ... rupanya sudah ada pengganti istri Bapak ya ...hehehe " sindir Pak Dagang sambil tertawa terkekeh.
"Bukan! Gadis itu hanya ... " ucap Samsul grogi.
"Wah ... hebat masih gadis lagi," potong Pak Dadang menyindir.
Karena Pak Dadang terus mengejeknya. Akhirnya Samsul menceritakan semua kejadian yang dialaminya saat bertemu dengan Zahra. Bahkan Samsul juga menceritakan pribadi Zahra yang sangat sopan dan seorang muslimah sejati. Rajin sembahyang dan mengaji juga selalu melaksanakan puasa sunat.
Tentu saja Pak Dadang sangat senang mendengarnya. Ia pun tak henti mengumbar senyum canda pada Samsul.
"Pak. Ternyata tuhan itu adil, ya?"
"Adil? Adil bagaimana? Saya tidak mengerti," kata Samsul penasaran dengan ucapan Pak Dadang.
"Iya adil. Bapak telah di sakiti oleh istri Bapak. Kemudian tuhan mengirim jodoh yang soleha buat Bapak. Itu berarti Bapak di beri Rahmat oleh yang maha kuasa ... hahaha ... " ujar Pak Dadang sambil tertawa terbahak.
"Ah, Bapak ini ada- ada saja. Saya belum kepikiran untuk mencari pengganti istri saya. Zahra masih sangat muda, masih terlalu dini untuk mengarungi rumah tangga," ucap Samsul kemudian.
"Wow. Daun muda rupanya. Bapak ini jangan kalah sama istri Bapak. Dia dapat berondong muda. Nah, Bapak dapat istri muda. Kan impas Pak ... hahahaha ... " Pak Dadang tak henti- henti menyindirnya membuat Samsul jengah.
"Sudah Pak ah! Bapak ini kalau soal menyindir memang jagonya," umpat Samsul kesal.
"Aduh Pak, sebentar lagi kan Bapak jadi duda. Duda keren lagi, wajah Bapak kan ganteng. Pasti banyak para janda yang antri ingin menikah sama Bapak. Tak baik Pak, lelaki hidup sendiri tanpa ada pendamping. Kata kolot baheula mah pamali ... hahahaha,"
Bibir Samsul mengerucut mendengar celotehan Pak Dadang. Lelaki itu kalau tak di hentikan akan terus memojokkannya.
"Sudah Pak. Saya banyak kerjaan. Silahkan Bapak kembali ke ruangan Bapak. Pembicaraan kita selesai!" tegas Samsul sambil membuka lagi laptop yang sedari tadi ia biarkan teronggok di atas meja kerjanya.
Pak Dadang kemudian beranjak dari duduknya.
"Iya deh Pak. Saya akan pergi, lagipula saya harus mengerjakan tugas saya. Dan ya, hanya sekedar mengingatkan. Kalau Bapak jadi nikah sama gadis itu. Ingat saya ya, Pak. Saya masih menyimpan obat kuat yang lebih ampuh ... hahahaha ... "
"Aduh! Bapak ini!" bentak Samsul langsung berdiri tegak dengan wajah memerah karena malu sekaligus kesal.
Pak Dadang pun melangkah pergi sambil senyum mesam mesem karena tidak tahan melihat reaksi wajah Samsul yang seketika berubah merah karena malu.
Tepat di depan pintu. Pak Dadang menghentikan langkahnya sambil menoleh ke belakang menatap wajah Samsul.
"Pak, rasa perawan itu enak lho ... hahaha .."
Setelah mengatakan itu. Pak Dadang pun pergi menghilang dengan tawa mengejeknya.
Jantung Samsul mulai berdetak kencang mendengar ocehan omong kosong Pak Dadang. Sekilas perkataan Pak Dadang mulai mengusik perasaanya. Keringat dingin mulai berembun di dahinya. Segera Samsul menyusutnya dengan tissue yang tersedia di meja ruang kerjanya.
Samsul mulai terangsang dengan perkataan Pak Dadang mengenai perawan yang katanya enak. Hasrat birahinya tiba- tiba timbul. Miliknya pun tak terasa sudah menegang.
__ADS_1