
Dan.
Mila tepaksa harus berhenti bersuara, ketika tanpa di duga ia menyaksikan sebuah tontonan panas yang dilakukan suaminya dengan wanita yang diakui suaminya itu sebagai Siti.
Samsul berdiri tepat di depan pintu dan menggandeng Intana.
Seakan mereka tak menyadari bahwa saat ini ada seseorang yang sedang berdiri menyaksikan, pria yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Tanduk- tanduk transparan sudah mulai muncul di kepala Mila, seolah dia sudah siap menyeruduk dua manusia laknat yang telah berani membodohi nya. Yang sepertinya memang tidak sadar akan keadaan di sekitarnya. Menciptakan aura kemurkaan yang terpancar begitu kentara di raut wajah Mila. Sampai ketika Mila sudah tidak tahan lagi dalam menyaksikan kemesraan suaminya dengan wanita licik itu.
Sontak Mila meraih sesuatu yang terjangkau oleh tangannya dan berjalan ke arah mereka berdua.
Tanpa pikir panjang, ia lantas bersiap memukulkan sebuah vas bunga ke arah kepala Siti. Akan tetapi, belum sempat vas bunga itu menyentuh bagian kepala dari yang menjadi targetnya, tiba- tiba dengan sigap Samsul menghalaunya.
"Awas kau! Jangan berani menyentuh Intana!"
Sontak Intana menoleh dan turut membelalak ketika mendapati sebuah vas bunga yang hendak melayang ke arahnya. Lalu secepat kilat, Intana pun bersembunyi di belakang Samsul ketakutan.
"Kalian kurang ajar!" teriak Mila memaki.
"Mas ... bagaimana ini ... " Intana berbisik pada Samsul dengan wajah memias.
"Papa, tega, ya? Dasar bajingan! Jadi ini yang namanya Intana? Dasar brengsek! Papa tega membohongi Mama!" Mila berteriak lantang. Mencecar Intana tampa ampun bahkan mendaratkan pukulan-pukulan penuh emosinya sesekali. Pandangan yang Mila sorotkan terlihat begitu sendu. Amarah pun tampak menguar sepenuhnya dari dalam diri.
Samsul menggeleng. Kemudian sebisa mungkin iapun mencoba menenangkan Mila dengan cara meraih bahunya dan mengajaknya bicara.
"Dengarkan dulu penjelasanku Ma! Intana dan aku ... "
"Cukup!" potong Mila sambil mengempaskan kedua tangan Samsul dari bahunya. Lalu Mila menatap lelaki yang sudah tiga tahun menjadi suaminya itu dengan sorot yang penuh luka.
__ADS_1
"Tiga tahun kita berumah tangga, Pa. Tiga tahun aku mencoba bertahan dengan kelemahanmu. Dan selama tiga tahun itu pula. Aku mencoba menahan batinku yang kau koyak sedemikan rupa. Kamu tahu Pa. Dari dulu aku sudah katakan, aku tak butuh materi. Tapi tetap kau tidak mengerti. Aku ini hanya ingin kamu! Kamu! Kamu!" lontar Mila. Air mata bahkan sudah berderai di kedua belah pipinya. Membuat Samsul ingin menyudahi sandiwara perselingkuhan nya bersama Intana.
Tapi sakit yang ia beri pada Mila tak sebanding rasa sakit hatinya yang telah di khianati Mila. Dan Samsul berjanji akan membalas perbuatan istrinya. Agar ia merasakan bagaimana sakitnya dibohongi oleh orang tercinta.
Kemudian, Mila berusaha menyeka jejak air matanya. Melirikkan pandangannya ke arah Intana yang dari tadi menguping sambil bersembunyi di balik tubuh suaminya.
"Asal kamu tau, ya Pa! Selama ini Mama mencoba buat mengerti, setiap kekurangan yang Papa miliki! Tapi Mama mencoba menahannya. Apa Papa tahu? Papa tak pernah memberi nafkah batin yang di dambakan seorang istri!" jerit Mila menatap penuh kebencian wajah suaminya.
"Jadi selama ini. Mama menderita hidup bersama Papa!"
Intana sedikit terharu mendengar pengakuan Mila. Ternyata di balik pribadi baik Samsul ada satu kekurangan yang membuat istri manapun akan merasa tersiksa. Samsul ternyata lelaki lemah di atas ranjang. Dan itu poin kedua yang ia ketahui selain perselingkuhan Mila.
"Sudahlah Pa, Mama tak perlu menjelaskan apa- apa lagi. Sekarang katakan sama Mama. Apa yang ingin Papa lakukan dengan wanita itu?" ucap Mila sambil menatap sekilas wajah Intana.
Mata Mila memanas, ia pun menatap ke arah suaminya dan juga Intana tak luput dari sorot tajam matanya.
Samsul hanya bisa mengusap dada mendapati sikap istrinya. Rupanya hari itu, ia dan Intana berhasil menghancurkan batin wanita yang tiga tahun ini sudah menemaninya. Meski pilu terdengar tentang penderitaan istrinya selama ini. Tapi Samsul harus kuat.
Wanita keji itu. Berani melakukan pernikahan siri bersama berondong muda walau statusnya masih sah jadi istrinya. Itu dosa Mila yang takkan pernah ia ampuni.
Untuk itu. Samsul akan terus bersandiwara sampai wanita itu pergi dari rumahnya. Dan membiarkan kemana saja dia pergi. Samsul sudah tak mau peduli lagi, apalagi ingin meneruskan mahligai rumah tangganya. Tapi sebelum ia menceraikan Mila. Ia harus membuat perhitungan dengan wanita itu terlebih dahulu.
"Jawab Pa? Apa Papa ingin lakukan dengan wanita itu?" teriak Mila di depan wajah Samsul.
"Mama yakin ingin mendengarnya ... " bisik Samsul bicaranya pelan nyaris tak terdengar.
Mila menatap heran wajahnya.
"Apa Pa? Cepat katakan?" Mila sudah tidak sabar.
__ADS_1
Samsul menghela nafas panjang, mempersiapkan diri dengan langkah selanjutnya. Kali ini ia harus tega demi sakit hatinya yang tak bisa ia tahan lagi. Jika mampu, ingin rasanya Samsul menjerit sekencang mungkin. Jika ia membayangkan istrinya digauli lelaki lain. Dan itu terjadi selama setahun. Selama itu pula, ia harus membanting tulang untuk memberi semua keinginan Mila.
Tapi apa balasan darinya?
Mila begitu keji dan jahat telah membohonginya selama ini. Beruntung Intana mengungkap semuanya. Jika tidak. Ia terus menjadi budak cinta istrinya.
"Aku akan menikah dengan Intana," ucap Samsul sambil menatap Intana penuh kehangatan lalu mengecup punggung tangan Intana dengan mesra.
Intana menutup bibirnya rapat- rapat dan mengikuti alur sandiwara yang di mainkan mereka berdua. Rasa tegang harus ia buang jauh demi lancarnya rencana yang telah mereka sepakati yaitu membalas semua kebusukan Mila.
Mata Mila terasa perih saat melihat pemandangan yang membuat hatinya hancur berkeping- keping.
"Pa. Apa Papa serius dengan ucapan Papa?" ucap Mila masih tak percaya.
"Iya Ma. Kami berdua sudah menjalin hubungan selama setahun. Dan hari ini, Papa harus jujur sama Mama. Jika Mama ijinkan, Papa akan menikah dengannya. Dan jika tidak ... "
"Jika tidak apa Pa? Katakan?" sentak Mila dengan nafas yang sudah sesak, tak tahan dengan pengakuan suaminya yang begitu ia cintai.
"Kalau tidak. Mama boleh pergi dari rumah ini. Papa akan bebaskan Mama selamanya," ucap Samsul sambil menundukkan wajahnya menghindari tatapan istrinya.
Plakk!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Samsul dan itu berhasil membuat Samsul terhuyung dan jatuh.
"Kurang ajar! Jadi selama setahun ini, Papa selingkuh di belakang Mama, hah?!" murka Mila dengan wajah kian memerah.
Tatapan Mila kemudian beralih pada Intana yang sedari tadi berdiri kaku tak bergerak.
Ia menghambur mendekati Intana dan dengan kasar. Mila menyambar hijab yang di kenakan Intana lalu menyeret lengan Intana menuju pintu.
__ADS_1
Tak berhenti sampai disitu. Mila kemudian menendang perut Intana dengan keras membuat Intana menjerit kesakitan. Mila begitu geram melihat wajah munafik Intana. Di balik wajahnya yang rupawan. Ternyata wanita itu tak lebih dari seorang pelakor.