
"Cukup Intana! Ada apa ini sebenarnya?"
Samsul mulai kesal dengan sikap Intana. Tiba- tiba berdiri dan memukuli dadanya sendiri, membuat Samsul panik.
Intana lalu menghentikan kegiatannya lalu berjalan perlahan mendekati Samsul seraya berkata.
"Apa kamu yakin, istrimu hamil anakmu?" ujar Intana dengan sorot mata tajam menatap Samsul.
Amarah Samsul sudah meluap. Dari tadi arah pembicaranya selalu memojokkan istrinya membuat Samsul geram dan tak tahan lagi dengan sikapnya.
"Pergi kamu dari sini sekarang juga!" Mata Samsul berkilat menunjuk satu jarinya tepat di wajah Intana.
Intana sudah tak tahan lagi. Sakit rasanya menerima perlakuan Samsul.
Harus kah ia katakan yang sebenarnya pada Samsul mengenai pernikahan siri Mila?
Tapi tak tega rasanya ia melakukan itu semua. Situasi dan kondisi nya tidak tepat jika ia harus berterus terang hari itu. Intana butuh waktu dan bukti.
"Baiklah ... aku akan pergi dari sini, tapi tunggu istrimu pulang." Intana kemudian berbalik badan hendak pergi ke kamarnya, tapi detik berikutnya Samsul menahan lajunya.
"Aku belum selesai bicara! Apa maksud perkataanmu tadi?"
Intana menoleh. Menatapnya dengan mata sendu.
"Jawab!!!
Darah Samsul seakan mendidih. Wanita itu berani mempertanyakan darah dagingnya yang kini bersemayam di rahim istrinya.
Intana menghembus nafas berat saat Samsul membentaknya. Batinnya menjerit, wajah tak berdosa Samsul sungguh membuatnya iba. Mengapa lelaki itu sangat polos dan mau saja di bodohi oleh istrinya.
"Mas. Maafkan aku, bukan maksud aku menyinggung istrimu, aku terbawa emosi," keluh Intana seraya memegang pipi Samsul sambil menitikkan air mata.
Samsul bergerak menjauh menghindarinya.
"Tidak! Apa yang kau sembunyikan dariku? Sepertinya kamu mengetahui sesuatu! Katakan apa yang kamu tahu tentang istriku?!" desak Samsul mengguncang bahu Intana dengan kedua tangganya, agar wanita itu menjawab semuanya. Tapi Intana malah diam membisu dengan derai air mata yang tak bisa lagi ia cegah.
"Jawab Intana?"
Intana lalu bersimpuh di kaki Samsul, menggeleng kuat. Tangisnya pecah dengan mata sayu yang memohon pada Samsul agar tak menekannya.
Samsul mundur beberapa langkah menjauhi Intana yang terus menangis tak henti seolah ingin mengatakan hal yang sangat rahasia. Tapi wanita itu seperti enggan mengatakannya.
Kilatan putus asa terlihat jelas pada Intana yang tiba- tiba bersimpuh di kakinya.
__ADS_1
"Berhentilah menangis! Aku tak kan pernah memaafkan mu, jika kamu berani menyembunyikan sesuatu tentang istriku! Aku akan melupakan. Bahwa kamu lah wanita pertama dalam hidupku!"
Intana berangsur berdiri sambil menyeka air mata yang tak henti meleleh di pipi mulusnya.
"A, aku, aku tadi pagi. Aku ... aku ... " Intana berkata tergagap.
Samsul semakin penasaran.
"Apa? Tadi pagi ada apa?"
Intana terguguk mempersiapkan diri. Hari itu harus ia bongkar kejahatan Mila.
"Intana jawab?!"
"Is ... istrimu, telah berselingkuh!"
Tubuh Samsul membeku sebelum ia mencerna semuanya. Ini kedua kalinya ia mendapat laporan tentang perselingkuhan istrinya. Pertama Mang Ujang, tukang sayur langganannya. Dan sekarang Intana. Baru satu malam, Intana berada di rumahnya. Tiba- tiba Intana mengungkap sesuatu yang membuat darahnya mendidih.
Samsul lalu berjalan perlahan kemudian merubuhkan tubuhnya di atas sofa.
Dengan tubuh gemetaran. Intana mendekatinya.
"Mas ... saat aku hendak membereskan tempat tidur istrimu ... se ... secara tidak sengaja ...a ...aku ... baca pesan dari lelaki yang bernama De ... Deni ... " ucap Intana gelagapan.
Mata Samsul terbuka lebar dengan kedua tangan mengepal, menahan gejolak dihatinya.
Intana mengangguk samar. Dan dengan kalimat terpatah Intana menceritakan semua kejadian yang tadi pagi di alaminya. Bahkan Intana mengadukan tentang pernikahan siri yang di langsungkan di kontrakan Deni. Tapi belum tuntas Intana bercerita, Samsul tiba- tiba berdiri.
"Cukup! Jangan diteruskan!"
Raut wajah Samsul dari rasa sakit yang tak terkira mulai bergejolak membakar seluruh tubuhnya.
Dirinya tak cukup kuat untuk mendengar semua pengakuan Intana.
Hati Samsul semakin di remas pilu. Rasa sakit di tubuhnya tidak sesakit yang ada di dadanya.
Hancur, perih, kini tengah di rasakannya. Rasa sesak di dada seakan mengguncang seluruh tubuhnya.
"Ya Allah ... begitu berat ujian yang kau berikan ..." tangis Samsul membatin.
Intana tak sanggup lagi melihat keadaan Samsul, lantas ia menghambur memeluk lelaki itu dengan erat.
"Maafkan aku ... aku tak bermaksud menyakitimu, tapi kalau kamu tidak percaya. Aku bisa menunjukkan dimana Mila saat ini ... hiks ... "
__ADS_1
Intana semakin mengeratkan pelukannya saat Samsul tiba- tiba menjerit histeris dan bergerak cepat menuju kamarnya. Intana gegas mengikutinya.
"Mas, mau kemana?" tanya Intana berupaya menarik lengan Samsul.
Samsul tak bergeming. Ia kemudian mengobrak abrik seluruh isi lemari milik istrinya. Perhiasan Mila tak luput dari amukannya.
Lalu mata Samsul beralih pada lemari yang selalu Mila kunci. Yang menurut istrinya, lemari itu berisi semua tas mewah yang di beli Samsul untuknya.
Kosong. Tak ada satupun tas mewah disana.
Samsul mulai geram. Jelas Mila telah membohonginya. Pantas saja, ia tak pernah melihat Mila memakai tas apapun.
Dan Deni.
Lelaki bajingan itu hampir setahun menempati rumah yang ada di sebelahnya. Dan selama itu Mila pasti sering bertemu dengan lelaki sialan itu.
Intana hanya menangis terguguk. Tak kuasa melihat kesedihan yang di rasakan Samsul saat itu. Tadinya ia tak bermaksud membongkar semuanya. Tapi Samsul mendesak dan mengancamnya, terpaksa Intana menceritakannya. Meski ia tahu. Lelaki itu akan hancur mendengarnya.
Tampak Samsul sudah sedikit tenang dan duduk di tepi ranjang banjir air mata.
Intana perlahan mendekat dan berlutut di hadapannya.
"Kamu baik- baik saja ... "
Samsul mengalihkan tatapan Intana dengan mata yang sudah terpejam. Intana mengerti. Lelaki itu sedang menahan sakit. Sakit yang tak bisa di uraikan dengan kata- kata.
Bagaimana tidak!
Wanita yang selama ini ia cinta dan percaya. Kini telah menaruh luka di dada. Luka yang sangat dalam.
Intana semakin khawatir dan cemas melihatnya. Samsul diam saja. Hanya air mata yang mewakili betapa hancurnya ia saat itu.
"Nasib kita sama Mas ... di kecewakan oleh orang yang kita cinta," keluh Intana sambil berlutut dihadapan Samsul.
Lalu perlahan tangan Samsul bergerak kecil membelai rambut Intana.
"Maafkan aku ... tadi aku telah kasar sama kamu ... " ucap Samsul. Butiran air bening yang keluar dari matanya jatuh mengenai rambut Intana dan itu membuat Intana tak tahan. Lalu Intana beringsut dan berdiri.
"Mas ... kamu harus balas perbuatan istrimu, beri dia pelajaran yang setimpal!" tegas Intana.
Samsul mengangkat sedikit wajahnya menatap Intana.
"Maksudnya ... "
__ADS_1
"Kamu harus tegas Mas mulai sekarang. Beri ia sakit seperti ia menyakitimu! Istrimu itu telah menginjak harga dirimu sebagai suami! Balas semua perbuatan dia! Aku akan mendukungmu!"
Samsiul membisu. Hatimya masih tak percaya. Mila begitu tega mengkhianatinya.