Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 1" perjodohan.


__ADS_3

"bu? sebentar lagi keluarga aditama akan segera sampai, tolong ibu dan nirma bersiap-siap ya," pintaku pada istriku lastri yang sedang rebahan di depan tv bersama dengan putriku nirma.


"lalu bagaimana dengan sulis pak,! Apa dia juga akan ikut nimbrung dengan kita di depan para tamu." tanya putriku nirma bangun dari pembaringannya.


"tentu saja nak,! Bukankah dia juga kakak sepupu kamu," jawabku singkat lalu keluar di ruang tamu.


terdengar langkah kaki mendekatiku, aku tau jika lastri pasti akan tidak setuju jika sulis ikut menampakan diri.


"pak? saya tidak setuju ya jika sulis menampakkan batang hidungnya jika tamu kita datang nanti,! Bagaimana jika anak yatim piatu itu mengambil kebahagiaan nirma" benar dugaanku, lastri pasti akan menolak sulis untuk hadir, kulihat istriku sekilas lalu kembali menyesap kopiku yang rasanya sudah mulai dingin.


"ibu tau bagaimana sifat sulis, anak itu memang tumbuh tanpa orang tua, tapi sulis selalu menanamkan kebaikan dalam hatinya sendiri, jika ibu takut sulis untuk hadir, biarkan bapak yang bicara padanya,"


"terserah apa kata bapak aku juga tidak perduli? Yang pasti jika anak sialan itu ikut nimbrung, ibu tidak akan maafin bapak" ku hembuskan nafas guna mengurangi sesak mendengar kalimat istriku.


Aku beranjak dari tempat dudukku mencari di mana keponakanku itu.


Ku lihat di kamarnya dia tidak ada, ku telusuri dapur dimana dia selalu berkutat dengan segala pekerjaan, benar saja? Dia sedang mencuci piring bekas makan tadi.


Sulis menyadari kedatanganku, hatiku berdesir mana kala melihat senyumnya yang mereka bak bunga mawar yang terlihat sangat manis.


"pakde sedang apa,! Apa pakde bituh sesuatu?" tanyanya berjalan mendekatiku.


"duduklah,! Biar aku ambilkan jika pakde butuh sesuatu" ucapnya lagi tak lepas dengan senyum manisnya.


"tidak nak? Kamu duduk saja, Pakde kesini karena ingin membicarakan sesuatu," kataku sambil menepuk kursi meminta dia untuk duduk.


"ada apa pakde,! Sepertinya pakde sedang hawatir," ucapnya menelisik wajahku yang sudah terlihat tua.


"begini nak,! Kamu jangan tersinggung ya,? Budemu memintamu untuk tidak?"


"tidak ikut gabung di acara perjodohan itu," potong sulis seakan tau maksud arah pembicaraanku.


"tidak masalah pakde,! Saat tamu datang? Aku akan tetap di dapur dan tidak akan keluar tanpa perintah dari bude, pakde jangan hawatir, aku akan baik-baik saja meski tidak bergabung dengan kalian,"

__ADS_1


Nyess..rasanya sakit sekali mendengar keihklasan ponakanku,


Dia bahkan suda menyiapkan diri apa-apa saja yang akan terjadi dalam perjodohan ini.


Ku usap lembut kepalanya, dia melihatku namun tidak mengatakan apa-apa, hanya matanya yang seakan mengisyaratkan jika di sana menyimpan ribuan pertanyaan namun dia lebih memilih menyimpannya sendiri.


Ku alihkan pandanganku aku tidak kuat menatap mata teduh yang di milikinya, mata inipun seakan memanas tak kuasa menahan rasa bersalah karena belum bisa mewujudkan permintaan kakak perempuanku.


"baiklah nak,! Terimakasih atas kesabaranmu, pakde ke depan lagi ya, jangan sampai tamunya datang dan tidak orang di ruang tamu"


"iya pakde aku juga mau menyiapkan beberapa kue untuk di hidangkan," katanya sambil berdiri dan meraih beberapa piring di atas meja dan mengisinya dengan kue buatannya.


Ku tinggalkan dapur dan keluar di ruang tamu, kulihat istriku lastri sudah siap dengan gamisnya yang terlihat sangat anggun.


"bu di mana nirma" tanyaku pada lastri yang sedang membenahi jilbabnya, dia terlihat kesulitan mungkin karena lastri tidak biasa berhijab makanya dia sedikit kewalahan.


"lihat saja di kamarnya pak, bapak tidak lihat aku sedang sibuk, mana tau aku anak itu di mana?" jawabnya asal tanpa berpaling dari cermin.


Tak ingin membuatnya kesal, aku memilih menghampiri nirma di kamarnya,


Ku ketuk pintu kamar nirma hingga beberapa saat pintunya pun terbuka menampakkan nirma yang berbeda dari yang biasanya.


"wah? Cantik sekali putri bapak, tiyas pasti senang melihat calon istrinya seperti bidadari surga," pujiku pada nirma agar tidak cemberut seperti ibunya


"iya dong pak, nirma kan titisan dari ibu, jadi wajar saja kalau nirma cantik "jawabnya tak lepas dari kesombongannya.


"ya allah aku tau engkau adil, maka jangan tukar kebahagian kedua putriku dengan rasa sakit baik itu untuk nirma ataupun untuk sulis."


Ku tinggalkan kamar nirma dan kembali ke ruang tau, terdengar suara deru motor di halaman rumah, aku berdiri dan melihatnya ternyata orang yang kami tunggu sejak tadi akhirnya datang juga.


Aku keluar bergegas menghampirinya, ku salami kedua orang tuanya, namun aku bingung kenapa tiyas tidak terlihat.


Aku ingin bertanya tapi rasanya tidak sopan, ku ajak mereka masuk dan karena di luar cukup panas untuk tetap di sana.

__ADS_1


"mari silahkan masuk pak," ajakku kepada orang tua tiyas.


"mari pak biar ibu bantu," ucap ibunya tiyas bernama bu fatma,


Mungkin karena suaminya berjalan kurang seimbang makanya dia membantunya untuk berjalan.


"silahkan duduk pak bu, saya kedalam dulu memberitahu istri saya soalnya tadi lagi siapa-siapa." ucapku seraya pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.


"bu mereka sudah datang, apa ibu sudah selesai, jika sudah temuilah mereka,"


"iya pak ini juga sudah selesai, cepat beri tahu nirma dan suruh dia keluar menyambut calon mertuanya,"


"bareng ibu saja ya, bapak mau ke dapur dulu untuk meminta sulis mengantarkan minum pada tamu kita,"


"apa bapak lupa tadi ibu minta apa? Kenapa masih meminta anak itu untuk keluar," terlihat lastri menahan kesalnya, aku tau tak mudah bagiku membiarkan anak itu untuk keluar walau sekedar mengantarkan minum pada mereka.


"lalu bagaimana? Apa ibu mau menyajikan minum untuk mereka, lagi pula nak tiyas belum datang, hanya orang tuanya saja yang datang lebih dulu, jadi tidak papa jika sulis melayani mereka dulu," kataku mencoba meluluhkan hati istriku.


"maksud bapak apa? Kenapa tiyas belum datang" tanya istriku lastri lalu keluar ke ruang tamu.


"selamat siang pak bu silahkan duduk kembali" ucap istriku saat aku tiba di belakanganya.


"bagaimana kabarnya buk pak semoga sehat ya" ucap istriku sekedar berbasa-basi.


"Alhamdulillah kami sehat bu," jawab bu fatma dengan ramah.


"Ngomong-ngomong kok aku tidak melihat tiyas putra ibu," tanya istriku langsung ke intinya.


"oh..itu bu,! Tiya masih di jalan soalnya anak sayah lumpuh jadi dia harus naik angkot bersama adiknya, maklum bu kami tidak punya mobil jadi terpaksa menggunakan angkotan umum agar bisa sampai di sini"


Ku lihat istriku, ada raut kekesalan yang tercetak jelas di wajahnya.


Mungkin dia kaget mendengar kata tiyas yang lumpuh.

__ADS_1


"terus bu fatma dan pak aksan datang kesini naik apa?" tanya istriku lagi tanpa merasa malu, aku jasa bisa melihat jika bu fatma dan pak aksan saling melempar pandang guna memberi jawaban.


__ADS_2