Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 13: sela yang bar-bar


__ADS_3

Selepas bubarnya warga aku lebih memilih tetap di kamar, ku isi waktuku dengan mengaji berharap rasa hawatirku bisa sedikit berkurang, doa demi doa ku panjatkan berharap allah mau berbelas kasih memudahkan segala urusan dalam pernikahanku, selesai mengaji aku sholat Tahajud dan terus berzikir sampai aku merasa ngantuk.


Setelah mata terasa perih aku beranjak ke tempat tidur mungkin jika aku tidur aku bisa lepas dari kekehawatiran walaupun besok pagi akan teringat lagi.


"mba lis sudah tidur ya?" tanya sela saat berada di sampingku.


"belum?" jawabku singkat menatap sela yang juga menatapku dengan posisi miring menghadap ke aku.


"aku nggak bisa tidur kak?"


"hemm..tinggal merem aja kamu pasti langsung tidur" ucapku merubah posisi jadi membelakanginya.


"ih?..mba lis aku tuh nggak bisa tidur kenapa nggak di temenin cerita dulu" rengek sela padaku membuatku garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"ribet juga punya adik manja seperti sela." batinku memijit keningku.


"itu karena kamu tidur siangnya berlebihan makanya kamu jadi susah tidur." ucapku kini sudah duduk dan menaruh bantal di pangkuanku lalu menopang dagu dengan kedua tangan.


"mba?"


"hemm?"


"menurut mba lis suami yang baik itu harus bersikap seperti apa sih"


Aku menautkan alis untuk apa sela menanyakan hal itu padaku.


"Memangnya kenapa kamu bertanya seperti itu,!" jawabku masih malas menanggapinya.


"ih mba lis aku tuh lagi nanya serius?"ucap sela sedikit berteriak hingga memekikkan telinga.


"kebiasaan kamu sela?" kesalku dengan kelakukan sela,


Sela mengrucutkan bibirnya karena aku masih diam saja.

__ADS_1


"hem..baiklah simak baik-baik ya mba kasih tau" ucapku terpaksa mengalah jika tidak sela tidak akan membiarkan aku tidur.


"suami yang baik itu adalah suami yang mengerti apa yang di ingingkan istrinya tanpa harus di minta,! Suami yang baik itu taat beribadah seperti melaksanakan perintah allah seperti? Sholat lima waktu, mengajarkan istrinya untuk menutup auratnya, sayang pada keluarga, mau meringankan pekerjaan rumah, atau setidaknya menghargai kerja keras sorang istri, seperti memakan masakan istrinya walaupun rasanya tidak karuan, tetap sabar walaupun istri bangun kesiangan, tidak memaksa jika sang istri tidak mampu memberi pelayanan, tetap tersenyum walaupun dia sedang banyak pikiran, dan masih banyak lagi yang tidak bisa mba jelaskan "


"tapi mba apa semua itu hanya berlaku untuk suami," tanya sela lagi yang sepertinya butuh penuntasan dari pertanyaan,


"itu juga berlaku untuk istri,! Kenapa seperti itu? karena suami dan istri mempunyai peran yang berbeda tapi memiliki tujuan yang sama, jadi apapun yang mba jelaskan tadi itu semua juga berlaku untuk parah istri dan untukmu juga jika sudah menjadi istri orang."


mendengar penuturanku sela melemparkan batal padaku tapi dapat ku tangkis dan membuat sela mendengkus kesal karena tidak mengenai sasaran.


"hahahaha...kenapa kesal begitu sel mba kan cuman menjawab pertanyaan kamu,?" ucapku setengah tertawa melihat ekspresi sela.


"ih..tapi kenapa mesti di kaitkan sama sela mba sela kan belum mau nikah," jerit sela lagi hingga aku menutup telinga karena suaranya yang melengking hingga ke seluruh ruang kamar.


"yo wes mba minta maaf ya, nggak usah marah gitu lagian apa yang mba katakan pasti akan terjadi karena allah sudah menciptakan kita hidup berpasangan, memangnya kamu mau jadi perawan tua." ucapku lagi hingga sela mendelik padaku.


"mba lis nggak seru aaaaahhhh..?" jerit sela lagi.


"selaaa? malam-malam begini kenapa teriak-teriak seperti orang kesurupan saja kamu," sentak ibu di balik pintu,


"mana anak itu? kenapa suaranya menghilang,! Bukankah tadi dia hampir membuat ibu jantungan karena teriakannya."


Dada ibu naik turun menelisiki seluruh sudut kamar hingga pandangannya tertuju pada gundukan di sampingku yang tentu saja itu adalah sela.


Segera ku beri isyarat pada ibu agar mengurungkan niatnya untuk memarahi sela, aku tau sela juga pasti sedang ketakutan pada ibu,


"beruntung kamu punya calon kakak ipar yang baik jika tidak sudah ku kuliti kamu yang membungkus tubuh seperti kepompong ini." hardik ibu lagi lalu keluar kamar dan menutup pintu dengan keras hingga menimbulkan suara gaduh dari kamar ini.


Menyadari ibu sudah pergi sela langsung bangkit dan mengatur pernafasannya, mungkin karena dia membungkus dirinya dengan rapat makanya dia megap-megap.


"Alhamdulillah...syukurlah ibu sudah keluar, mba lis makasih ya berkat mba lis ada di sini ibu jadi berpikir ribuan kali untuk menghakimiku." ucap sela sambil mengelus-elus dadanya.


Aku hanya geleng-geleng melihat kelakuan sela, lalu beringsut mundur untuk tidur.

__ADS_1


"eh..eh..mba mau ngapain?" tanya sela lagi, padahal dia sudah tau kalau aku mau ngapain.


"mau tidur?" jawabku polos lalu memejamkan mata.


"ih..? Mba lisssss....mana bisa begitu? Sela kan belum ngantuk mba." rengek sela lagi membuat aku mengusap wajahku berulang-ulang.


"ya allahu Robbi...anak ini benar-benar ya pengen jadiin aku burung hantu, dia yang belum ngantuk tapi aku yang tidak bisa tidur " pikirku frustasi punya calon adek ipar yang ngalemnya tingkat runtuh,


"sel cobala untuk tidur, lihat sekarang sudah jam berapa?"


Sela melihat jam dinding yang tergantung di tembok yang sudah jamuran itu, jam menunjukkan hampir setengah sebelas malam dan sela masih meributkan aku yang ingin tertidur.


"setengah sebelas mba, tapi kan sela?"


"udah ya coba saja kamu diam dan jangan banyak bicara pasti kalau kelamaan baring kamu juga pasti bakalan ngantuk." ucapku memotong ucapan sela dan memberi pengertian padanya.


"ih..mba lis nggak seru tau." rengeknya lagi hingga ingin rasanya aku menjewer kupingnya itu.


"sudah mba ngantuk?" ucap ku kemudian menutupi tubuhku seperti yang sela lakukan tadi.


Sela mendengkus kesal lalu dengan terpaksa ikut baring iuga di samping ku.


seperti biasa aku bangun di waktu sholat subuh, aku sudah mandi jadi aku langsung keluar saja setelah selesai sholat.


Hari ini ibu bangun lebih pagi dan sudah sibuk di dapur.


"pagi bu?" sapa ku saat suda berada di dapur.


"pagi juga sayang,"


"Pagi ini ibu bangun lebih awal ya, apa ada yang ingin ibu lakukan hingga bangun sepagi ini." tanyaku melihat ibu begitu sibuk memasak aneka masakan yang enak-enak.


"hari ini calon ayah mertuamu akan pulang dari jakarta, maklum anaknya kan mau menikah jadi dia akan pulang dan tiba pagi ini, ibu sudah memasak semua menu kesukaannya semoga saja dia suka dengan masakan ibu" ucap ibu terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


"tentu saja ayah akan suka bukankah ibu memasaknya dengan cinta."kataku sedikit menggoda ibu.


__ADS_2