Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 17: menghindar


__ADS_3

Setelah hampir setengah jam menempuh perjalanan, mobil berbelok di pekarangan rumah bude.


Rumah minimalis peninggalan ayah dan ibu terlihat sepi, entah semua penghuninya pergi kemana?.


Aku turun lebih dulu sementara mas tiyas masih menunggu supir mengambil kursi roda di bagasi.


"Assalamu'alaikum" ucapku, namun tak ada sahutan dari dalam rumah.


"kemana perginya semua orang? Bukan kah bude tau jika aku akan datang menjenguk pakde." gumamku masih berdiri di depan pintu.


"ada apa?" tanya mas tiyas kini sudah di sampingku,


"ini mas? sepertinya tidak ada orang padahal aku sudah bilang sama bude kalau aku mau datang melihat langsung ke adaan pakde, tapi kok rumah ini sepi banget ya.!"


"coba kamu hubungi nirma barang kali mereka membawa pakde ke bidan." ucap mas tiyas masih berpikiran baik.


padahal aku yakin jika mereka bukan ke bidan tapi melainkan menghindar dari ku, aku yakin mereka hanya ingin memanfaatkan aku saja.


seperti yang di katakan mas tiyas, ku hubungi nirma guna menanyakan keberadaannya, tapi nomornya malah tidak bisa di hubungin, benar-benar menyebalkan adik ku yang satu itu.


"bagaimana?" tanya mas tiyas melihat ku bernafas lesu.


Aku hanya menggeleng tanda tidak ada jawaban dari nirma.


"ya sudah kita pulang saja, jika mereka memang butuh pasti mereka akan menunggu kamu datang atau paling tidak mereka menghubungimu lebih dulu sebelum mereka meninggalkan rumah."


Aku hanya mengangguk pasrah mengiyakan ucapan mas tiyas dan memutuskan untuk pulang.


"eh sulis kamu dari mana saja, kenapa aku baru melihat?" tanya salah satu ibu-ibu ketika aku hendak membuka pintu mobil.

__ADS_1


"aku dengar kamu pergi dari rumah dan ikut tinggal dengan calon suamimu ya," ucapnya lagi terdengar mengejek, pasti mereka tau itu dari bude, dan pasti sudah banyak isuh yang tidak baik tetang aku.


"iya bi? Saya memang tinggal dengan calon suami saya karena bude meminta saya meninggalkan rumah." ucapku berkata jujur karena memang benar adanya seperti itu.


"he? Sulis,! Kenapa malah menyalahkan bu lastri, setahu kami bu lastri itu sangat baik padamu dan sekarang kamu malah memfitnah dia." herdiknya lagi semakin membuat ku kesal saja.


"ayo kita pulang saja tak perlu buang tenaga meladeni cicitan burung seperti itu," kini mas tiyas yang bersuara hingga wanita itu melihat kesumber suara.


"oh jadi ini laki-laki yang dengan bangganya ingin menikahi nirma, pantesan saja nirma tidak mau wong yang melamar saja cacat fisik begini, terus ini mobil siapa? Bukankah dia itu pas datang cuman naik angkot ya, aduh nggak usah sok kaya deh cuman mau bikin nirma nyesel, palingan juga tuh mobil cuman minjamkan" ucapnya lagi semakin mendidihkan darahku.


"jaga bicaramu," herdikku membuat dia tersentak mundur beberapa langkah.


"lagi pula meski dia lumpuh tapi setidaknya hatinya tidak lumpuh, dari pada anda sudah burik cacat hati pula lalu apa yang dapat di banggakan, hanya dengan menilai dari penampilannya saja anda sudah berpikiran jika beliau orang paling miskin di dunia, sadar deh karena penampilan tidak dapat menunjukkan identitas seseorang" ucapku kesal sudah tak dapat aku tahan.


Dulu aku memang penurut, tapi seiring berjalannya waktu mereka tidak sadar telah merubah singa yang patuh menjadi singa liar,


Ya aku tidak beda jauh dari seekor singa yang di kurung, selagi aku mendapat makanan maka aku akan menerima penyiksaan apapun tanpa ada perlawanan,


"aku akan melaporkan hal ini pada bu lastri agar menyiksamu hingga tak dapat berdiri lagi?" ucapnya terlihat kesal namun aku tidak merasa takut sama sekali.


"laporkan saja? Akan ku tunggu bude lastri untuk menyiksa calon istriku, kalau perlu kamu juga boleh ikut, dan jangan panik jika kamu akan pulang tanpa kedua tanganmu itu."


Wanita itu bergetar setalah mendapat gertakan dari mas tiyas, biar saja, aku cukup geli melihat tampangnya yang ketakutan.


"ayo pulang,? Ajak mas tiyas menarikku hingga terduduk di pangkuannya lalu memindahkan aku di sebelahnya.


Huf kenapa mas tiyas senang sekali membuat ku olaraga jantung.


Mas tiyas menutup pintu mobil dan memasang sabuk pengaman untukku, lagi-lagi aku tidak bisa bernafas menghirup bauh tubuh mas tiyas yang terlalu dekat,

__ADS_1


sementara di luar mobil wanita itu masih setia memantau ku di dalam mobil, masa bodoh biar saja dia pusing sendiri lagipula aku juga tidak memintanya mengurusiku.


Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah bude dan juga wanita tua itu yang masih setia memantau kepergian ku, hug? Dasar kurang kerjaan, memang pantas mereka di juluki ibu-ibu komplek, wong masalah orang saja semuanya di rusuhi.


Tiba di rumah mas tiyas kali ini aku yang mengambil kursi roda mas tiyas lalu sopir membantuku memindahkan mas tiyas ke kursi roda,


"Assalamu'alaikum" ucapku lalu ku


dorong kursi mas tiyas hingga masuk rumah tak lupa mengucapkan salam sebelum aku masuk.


"Walaikumsalam...? Loh kalian sudah pulang,! Bagaimana kabar pak ahmad, apa dia baik-baik saja." tanya ibu membrondongku dengan banyak pertanyaan.


"biarkan sulis duduk dulu bu? Jawab mas tiyas protes dengan ibu.


"hehehe..maaf, ayo duduk dulu nak?" ucap ibu kini mempersilahkan ku duduk dengan cengengesan, hemm...dasar wanita tua.


"jadi bagaimana apa benar pak ahmad sakit seperti yang bu lastri katakan atau dia hanya pura-pura agar kamu memberinya uang?" tanya ibu langsung kepada intinya.


"nggak tau bu, soalnya kami belum sempat bertemu dengan pakde." jawab ku enggan memikirkan keluarga serakah itu.


Terlihat ibu menghela nafas lalu beralih menatap mas tiyas.


"bagaimana kalian belum bertemu mereka, bukan kah kalian datang kerumahnya, lalu kenapa malah tidak tau apa-apa ?" tanya ibu lagi.


"kami memang sudah ke sana, hanya saja mereka tidak di rumah, ku pikir apa yang di katakan sulis memang ada benarnya jika mereka memang hanya ingin memanfaatkan sulis, nyatanya mereka malah tidak di rumah padahal mereka tau jika sulis akan datang." ucap mas tiyas menjelaskan.


Aku hanya diam saja karena mas tiyas sudah menjelaskan semuanya pada ibu.


"ya sudah setidaknya kalian sudah punya niat baik untuk membantu mereka, jika mereka malah ingin menipu dengan cara seperti itu, itu tandanya mereka bukanlah orang yang pandai bersyukur"

__ADS_1


benar yang di katakan ibu, mereka memang tidak pandai bersyukur, bukannya menyambut kami dengan hangat, mereka malah sengaja meninggalkan rumah, apa lagi coba kalau tidak punya niat yang salah.


" ya sudah bu, sepertinya kita tidak perlu memikirkan mereka lagi, toh mereka juga tidak unjuk rasa kepada kita, aku pamit ke kamar dulu mau sholat sebentar." ucap ku lalu pamit karena memang sudah hampir jam dua.


__ADS_2