
"ya ampun anak gadis kok tidurnya kaya kebo si, udah tidurnya kaya ular, ileran, ngorok pula lagi, mana di bangun susah banget lagi," batin ku berkacak pinggang karena sela belum bangun juga.
"sela ayo dong bangun, sampai kapan kamu tidur ini sudah sore sel,?"
"aaanggg..hhaaamam..! Ada apa si mba lis, sela masih ngantuk lo mba," kata sela mengucek ngucek matanya tapi kembali merem lagi.
"ya sudah kalau nggak mau bangun mba tinggal masak dulu ya,"
Aku capek bangunin sela, udah bangun tapi tidur lagi, ya sudah aku tinggal masak saja,
"duh calon mantu ibu lagi masak apa nih," tanya ibu saat aku sibuk berjibaku dengan segala bumbu.
"ini bu aku cuman goreng ikan dan tumis sawi," jawabku dengan tangan masih sibuk membolak-balikkan ikan yang sedang ku goreng.
"walah pasti enak tuh, nanti panggil ibu ya kalau sudah matang, ibu mau mandi dulu." ucap ibu lalu meninggalkan dapur tapi sesaat kemudian ibu kembali lagi.
"loh kok balik lagi bu, ibu lupa sesuatu ya,"tanyaku pada ibu.
"kamu ada lihat sela,"
"sela masih tidur bu, tadi sulis udah bangunin tapi sela tidur lagi,." ucapku karena memang anak itu masih berselayar di alam mimpinya.
"hug..anak itu sampai kapan dia akan dewasa." ucap ibu ketus dan berjalan ke kamar, mungkin ibu mau membangunkan sela.
Sedetik kemudian.
"selaaaa...bangung? Ini sudah jam berapa kenapa kamu masih leha-leha di tempat tidur bukannya bangun mandi atau apa ini malah masih berguling di kasur." ucap ibu berang dan mengguncang seisi rumah.
Aku tetap sibuk di dapur karena sudah hampir sore dan aku juga belum mandi, kusajikan semua menu di meja makan lalu berlalu ke kamar untuk mengambil handuk,
"sela belum bangun bu?" tanyaku pada ibu yang masih terlihat geram melihat anak gadisnya yang tertidur.
__ADS_1
"boro-boro bangun melek aja enggak,?" ketus ibu lalu keluar dari kamar.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat keduanya seperti anak kecil yang berebut tempat tidur.
Mumpung sela belum bangun aku mandi lebih dulu setelah selesai berpakaian ku bangunkan sela yang masih nyenyak dengan tidurnya.
"sel ayo bangun ini sudah hampir magrib loh,! Sana mandi gih habis itu makan." ucapku membangunkan sela.
"mba lis udah cantik, mba sudah mandi ya?" tanya sela meregangkan otot-ototnya.
"iya mba sudah mandi, ayo kamu juga mandi sebelum ibu datang lagi dan berteriak di telingamu."
"memangnya tadi ibu kesini ya?" tanya sela polos sepertinya dia tidak sadar saat tadi ibu kesini.
"iya,! Dan ibu sangat kesal kamu nggak mau bangun,"
Sela memiringkan kepala ku pikir dia sedang berpikir tapi sedetik kemudian dia ambruk lagi.
"ada apa si mba"
"ya ampun sel mba pikir kamu itu kenapa ternyata kamu tidur lagi," ucapku kesal sementara sela hanya nyengir dan tidak berasa bersalah.
"hehehe..maaf ya mba lis,"
"ya sudah sana mandi"
"siap bu pol" jawabnya memberi hormat,
Setelah sela ke kamar mandi aku keluar menemui ibu di ruang tamu,
"lis apa sela sudah bangun, jika belum bangun siram saja air sebaskom bukan hanya bangun dia pasti akan langsung berlari berpikir di rumah sedang kebanjiran." ucap ibu tetap fokus ke depan tv.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum menanggapi penuturan ibu dan ikut lesehan di sampingnya menonton drama korea pilihan ibu, azhan pun di kumandangkan mengingatkan seluruh umat muslim untuk melaksanakan sholat magrib.
Aku bergegas mengambil wudhu dan segera melaksanakan sholat magrib, setelah selai aku kembali keluar menuju meja makan, sela sudah keluar sejak tadi saat aku sedang sholat,.
"tiyas keluuaar kamu?" teriak seseorang di depan rumah, aku segera membuka pintu setelah mengetahui jika mereka adalah parah warga yang sempat ku intip lewat jendela.
"aduh sakit..?" jeritku hingga menarik perhatian orang-orang di dalam rumah.
Aku tersungkur kelantai karena salah satu ibu-ibu menarik jilbabku hingga aku terjatuh ke lantai karena aku mempertahankan jilbabku yang di tarik dengan paksa.
"ada apa ini, kenapa kalian memperlakukan calon menantuku seperti ini, herdik ibu kepada wanita yang sebaya dengan ibu.
"ini dia biyang dari kumpul kebo di desa kita, apa pantas jika lita membiarkan mereka tetap tinggal di desa ini." ucap wanita itu menunjuk ibu di depan orang banyak.
Aku ingat,! Dia wanita yang datang ke rumah ibu waktu kau baru datang ke rumah ini.
"he? Jaga bicaramu itu? Meski pun anak saya tinggal dengan calon istrinya bukan berarti saya sebagai orang tua jadi lepas tanggung jawab,"
"hala? Tidak usah bohong de bu, palingan juga ibu tidak tau jika calon mantu ibu ini sudah tidur dengan anak ibu, wong satu rumah siapa yang tau ya ibu-ibu kalau tiyas dengan perempuan ini sudah berzinah." ucap ibu itu lagi hingga aku bangkit dan melayangkan satu tamparan di wajahnya.
"jaga bicaramu jika kamu masih mau lidahmu itu tetap di tempatnya, tidak masalah jika kalian keberatan aku tinggal di rumah ini, tapi jika kesucianku yang kalian pertanyakan, aku siap melakukan pemeriksaan apapun atau jika perlu ke kantor polisipun aku mau asalkan kali juga mampu mempertanggung jawabkan tuduhan kalian jika sampai aku terbukti tidak melakukan perzinahan."
Setelah aku berucap tidak satupun dari mereka yang berani membuka mulut, aku tersenyum kecut menatap wanita tua yang barusan aku tamparan pipinya terlihat merah akibat tamparan dariku, punya nyali datang ke rumah orang dan menimbulkan fitnah, sekali aku bicara semuanya malah menciut, jika nyalinya cuman setengah-setengah ngapain rame-rame datang kesini.
"neng maaf ya jika ke datangan kami mengganggu ketenangan kalian, tapi demi ketenangan para warga sebaiknya neng tinggalkan rumah ini dan cari tempat tinggal yang lain, jika memang neng ini calon istrinya nak tiyas, sebaiknya segeralah menikah agar tidak menimbulkan fitnah seperti ini lagi." ucap pria yang berseragam coklat itu dan jika di lihat sepertinya dia RT di desa ini.
"jangan hawatir lusa kami akan menikah dan kami akan segera pindah dari desa ini, masalah kenapa calon istri saya tinggal di sini, biar itu menjadi urusan keluarga kami." ucap mas tiyas entah sejak kapan dia ada di depan pintu.
"bagaimana ibu-ibu dan bapak-bapak apa masih ada yang ingin kalian sampaikan, kalian dengar sendiri jika lusa mereka akan menikah jadi kurasa tidak ada lagi yang perlu kalian khawatirkan."
Mereka saling berbisik hingga mereka pun setuju dan memilih untuk pulang.
__ADS_1
"baiklah kami akan membiarkan wanita ini tetap tinggal di sini, tapi jika lusa kalian tidak menikah jangan halangi kami jika kami harus mengusir dia dari desa ini." ucap sala satu bapak-bapak yang memiliki jenggot seperti kambing.