
"widih makan enak nih," sela datang dari arah kamar sepertinya dia baru selesai mandi,
"loh? Sayurnya kok ini,? Bukannya tadi kak lis masak kangkung ya,!"
"sudah habis?" jawab ibu di sela-sela makannya.
"ha...lapar apa doyan tuh bu, lahap banget makannya, anaknya sampai enggak kebagian loh?"
"sudahlah sel biarkan ibu menikmati apa yang dia suka, bersyukur ibu masih doyan makan, kalau ibu susah makan kan kita sendiri yang bingung." ucapku mengingatkan.
Ku ambil piring lalu mengisi dengan nasi dan sayuran.
"nih kamu juga makan kamu nggak akan kenyang kalau cuman di lihatin." sela tersenyum dan meraih piring yang kuberikan yang sudah ku isi dengan nasi dan lauk.
"makasih ya mba lis," aku tersenyum dan ikut duduk di samping mas tiyas,
"bu semalam yang datang kesini itu siapa saja," tanyaku karena memang aku belum berkenalan dan mereka juga mereka seperti enggan untuk mengenalku.
"bukan siapa-siapa itu hanya parah tetangga yang kebetulan lagi main ke rumah," jawab ibu terlihat menyembunyikan sesuatu.
"oh ya lis,! nanti selesai makan kamu langsung coba gaun pengantinnya ya, soalnya hanya itu yang belum di siapkan," jelas ibu mengalihkan perhatianku.
"di mana sulis akan mencobanya bu?" tanyaku menatap wanita tua itu yang sebentar lagi akan jadi mertuaku.
"nanti akan ada disainer yang mengantar beberapa baju pengantin jadi kamu bisa mencobanya di rumah saja,"
"iya bu? Tapi pakaiannya lengkap dengan hijab kan bu?" tanyaku sedikit takut, aku takut mereka berpikir aku terlalu banyak meminta.
"tentu saja, ibu sudah memesan sesuai dengan penampilan mu,"
"bu buat sela ada nggak?" tanya sela
"apa? Kamu juga mau baju pengantin, kuliyah saja belum selesai udah mikirin nikah?" ketus ibu memicingkan matanya.
"ya ampun bu,! Siapa yang mau nikah si, pacar aja nggak punya mau nikah sama siapa coba, sela tuh minta di pesanin baju pesta aja misalnya kebaya gitu, sela kan belum sempat belanja buat kebutuhan sela."
__ADS_1
"terus kalau nggak cocok gimana? Di pulangin lagi gitu,! sementara akadnya dua hari lagi, kenapa nggak di siapin jauh-jauh hari si sel." ibu terlihat mulai jengah
"ibu kan tau aku kuliyah mana sempat aku kemall, udah ah ibu pesanin aja yang penting cantik dan ukurannya samain aja sama punya mba lis."
Ibu memutar bola matanya malas seenaknya saja sela meminta
"samain mukamu,? Badan gendut kaya baby gitu mana ada ukuranmu di samakan dengan mba mu,"
Sela mendengkus kesal hingga bibirnya maju beberapa senti ke depan.
"ibu kenapa sih nggak ngerti banget,?" sungut sela mengaduk-ngaduk nasinya tanpa berniat memakannya.
"ibu nggak ngerti bagaimana maksud kamu, kamu mau di nikahkan juga?, gampang itu mah?"
"ibuuuu...." teriak sela tanpa perduli dengan ku dan mas tiyas.
"iya sel..ada apa?" jawab ibu. Seakan tidak mendengar teriakan sela.
"sela? ini bukan hutan kenapa harus teriak-teriak, nggak malu kamu sama mba mu." jelas mas tiyas terlihat kesal, aku saja merinding melihat wajahnya yang matanya sepertinya hendak keluar.
Sela tidak menjawab dan mempercepat makannya, hingga tanpa sengaja dia tersedak makanan.
"hati-hati sel, makanlah dengan dengan perlahan." ucapku memberikan minum.
"kamu kenapa sel?" tanya zean yang baru saja datang dari luar.
"dia merajuk minta di pesenin baju dan di samain ukurannya dengan mba mu?" ucap ibu mendelik pada sela.
"sela-sela ada saja kmu kalau minta sesuatu." ucap zean geleng-geleng kepala.
Aku berdiri dari tempat dudukku, dan membawa piringku ke wastafel lalu mencucinya.
"Assalamu'alaikum?"
Terdengar seseorang mengucapkan salam, aku ingin membuka pintu tapi ibu sudah berjalan lebih dulu.
__ADS_1
"Walaikumsalam..."jawab ibu lekas membuka pintu.
"bu tiya kebetulan sekali ibu sudah datang, mari silahkan masuk." ucap ibu pada tamu yang datang dan entah dia siapa, melihat apa yang dia bawa sepertinya dia orang yang di maksud ibu tadi.
"sesuai permintaan ibu maka saya datang ke sini, saya juga sudah membawa beberapa model baju pengantin untuk di coba, semoga saja pengantin wanita cocok dengan ukurannya" ucap wanita itu yang ibu panggil sebagai bu tiya.
"kalau begitu silahkan duduk saya mau panggil dia dulu," ucap ibu menghampiriku.
Di dapur aku sedang menyeduh teh untuk tamu ibu, dan mas tiyas sendiri sudah sejak tadi duduk di ruang tamu dimana bu tiya juga duduk di ruangan yang sama dengan mas tiyas.
"lis..kamu sedang apa? Ayo keluar dulu dan mencoba gaun mana yang cocok dengan ukuranmu." ucap ibu berdiri di sampingku
"iya bu, ibu duluan saja nanti sulis nyusul dan membawa teh untuk tamu ibu,"
"baiklah tapi jangan lama ya ibu ingin melihat kamu mencobanya."
"iya bu" jawabku lalu ibu keluar ke ruang tamu.
Tidak butuh waktu lama teh dan kopi sudah siap di nampan kecil, segera ku bawa keluar dan meletakkan di atas meja.
"apa ini calon istrinya pak tiyas,!" tanya bu tiya kepada ibu saat aku meletakkan teh di depan dia.
"iya dia calon menantu saya,! Sayang kenalkan ini desainer yang ibu katakan tadi pagi." ucap ibu memperkenalkan dia padaku,
"saya sulis bu?" ucapku mengelurkan tangan namun ada rasa tidak suka yang dia perlihatkan, aku tidak tau apa itu aku juga tidak ingin berprasangka buruk.
"cantik? Tapi akan lebih cantik lagi jika mba sulis ini mengenakan baju pengantin ini." ucapnya meraih baju pengantin dan memberikannya padaku.
"bajunya bagus sekali, aku yakin ini harganya pasti wow banget, untuk keluarga seperti ini kurasa ini terlalu mahal untukku, kasihan mas tiyas jika harus memutar otak hanya untuk memikirkan selembar gaun pengantin." batinku meletakkan baju itu dan memilih yang terlihat biasa saja.
"sayang kenapa kamu tidak mencobanya dulu, itu bagus banget loh." kata ibu terlihat bingung.
"itu terlalu glamor bu,! Sulis mau yang ini saja, kelihatannya kainnya juga tidak terlalu panas," kataku beralasan, padahal baju itu memang bagus, tapi aku tidak ingin menyulitkan mas tiyas hanya karena masalah gaun.
"kenapa tidak di coba dulu, siapa tau nanti kamu suka kalau sudah di coba." jelas bu tiya ikut menimpali.
__ADS_1
"maaf bu saya akan coba yang ini saja, lagipula baju itu terlalu ketat, jadi kurasa aku akan kurang nyaman saat mengenakannya, sedangkan baju ini, meski terlihat sederhana, namun saya suka karena ukurannya tidak terlalu ketat di tubuh saya."
"dari mana kamu tau jika itu longgar di badan kamu,?" tanya bu tiya terlihat tidak suka, mungkin karena aku memilih yang lebih sederhana atau yang lebih murah.