
Mereka saling melempar pandang satu sama lain, kubiarkan mereka berdiskusi dulu, mereka juga pasti butuh persetujuan dari tiyas hingga mereka membuka suara dan bertanya pada putranya.
"nak? Bagaimana apa kamu setuju jika calon istrimu di gantikan dengan gadis yang bernama sulis,
"bagaimana dengan ibu? Apa ibu setuju," jawab tiyas melempar pertanyaan kembali pada ibunya.
"jika menurut ibu tidak ada salahnya jika kita melihat gadis itu dulu, siapa tau dia gadis yang baik" ucap bu fatma setengah berbisik namun masih dapat terdengar olehku karena memang aku duduk di samping tiyas.
"terserah ibu saja, aku yakin pilihan ibu pasti yang terbaik." ucap tiyas memberi persetujuan pada ibunya,
"baik pak bisa tolong panggilkan ponakan bapak biar kami bisa melihatnya."
"tunggu sebentar?"
Aku kembali kedalam mencari di mana sulis, dia masih di tempat yang sama memainkan kedua jarinya.
"nak?"
"eh pakde butuh apa lagi, apa kuenya kurang" tanyanya langsung berdiri mengambil beberapa piring kue.
"tidak nak, pakde kesini mau memintamu untuk keluar,"
"untuk apa pakde, bukankah bude tidak mengijinkanku untuk keluar" tanyanya lagi.
"nirma menolak perjodohan ini, karena itu bude?"
"meminta sulis yang mengantikan nirma, itukan yang ingin pakde sampaikan,"
Ku anggukan kepala sebagai jawaban apa yang di katanya memang benar.
"ayo kita temui mereka" ucapnya menggandeng tanganku.
Sesampainya di luar, sulis menyalami pak akzan lebih dulu lalu beralih pada bu fatma, keduanya sama-sama tersenyum ketika sulis mencium tangan mereka dengan takzim.
__ADS_1
Namun dengan tiyas dan dan adiknya, sulis cukup menangkupkan kedua tangannya di Depan dada.
"seperti yang kamu katakan tadi, pakde meminta ijinmu untuk menggantikan nirma sebagai mempelai wanita." ucapku membuka percakapan.
"apapun keputusan pakde dan bude, sulis akan mendukung selama itu tidak merugikan siapapun." jawab sulis tanpa beban sama sekali.
Mataku terasa panas, tidak tega rasanya aku membiarkan ponakan ku menjadi korban dari penolakan nirma.
"ada apa pakde, apa ucapan ku menyakitimu, kenapa pakde terlihat sedih."
Ku hapus air mataku yang sepat menerobos aku tidak ingin membuatnya malu dengan menangis di depan calon besanku, ya meski yang akan menikah bukan putriku, tapi tetap saja mereka akan menjadi besanku karena sulis sudah aku anggap putriku sendiri, terlebih lagi sulis putri dari kakakku sendiri.
"bu fatma dialah yang akan menggantikan nirma, jika ada yang ingin kalian tanyakan, silahkan tanya padanya langsung."
Bu fatma menggenggam tangan sulis lalu beralih menatap suaminya.
"nak ibu tau kalian belum saling mengenal, dan ibu harap ibu bisa mendengar kejujuranmu saat ini, bapak dan ibu tidak akan memaksa untukmu menikah dengan anak ibu, kamu bisa lihat sendiri anak ibu itu lumpuh dan itu sudah berlangsung selama dua tahun, dan jika ingin menolak maka katakan saja, namun jika kamu berkenang untuk menerima perjodohan ini, tolong berilah kami kepastian agar kami pulang dengan kabar yang sudah di nantikan oleh para keluarga kami."
Bukannya menjawab, sulis malah menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, aku tau dia masih bingung dan mungkin juga dia belum siap untuk menikah.
Pertanyaan itu lolos begitu saja membuatku bingung harus menjawab apa.
"maafkan pakde nak, pakde tau ini salah, menikahkan mu dengan cara menjadi pengganti adikmu, itu sama saja pakde tidak memikirkan perasaanmu." ucapku seraya terguguh dan berlutut di hadapan sulis gadis yang ku besarkan selama 13 tahun.
Kedua orang tua tiya pun sangat terkejut atas tindakanku, namun aku tidak perduli, aku sangat merasa bersalah pada kakakku karena membiarkan putrinya menikah dengan cara seperti ini.
"pakde, ayo bangunlah." tangan lembut itu mengusap wajahku lalu membantuku duduk kembali di atas sofa,
Ku lirik istriku, dia sama sekali tidak terganggu dengan apa yang terjadi, bahkan sejak tadi, dia dan nirma hanya diam saja dan menyimak pembicaraan kami.
"pakde tidak usah menyalahkan diri sendiri, anggap saja ini baktiku pada ayah dan ibu melalui pakde dan bude, jika sulis akan menikah, cukup berikan doa terbaikmu agar sulis senantiasa bersabar menjadi hamba allah."
lagi-lagi aku menangis, bahkan kedua orang tua tiyas ikut menangis, berbeda dengan sulis, dia justru biasa saja dan terlihat baik-baik saja.
__ADS_1
Subhanallah mungkin itu lah kelebihan anak yatim piyatu, dia tidak perlu menangis atas apa yang terjadi, cukup berserah diri pada allah, maka semuanya akan baik-baik saja.
"jadi apa keputusanmu nak apa kamu bersedia menikah dengan anak saya tiyas." bu fatma bertanya setelah cukup lama terdiam.
"bagaimana dengan anak ibu, apa dia bisa menerima kurang dan lebihnya saya, apa dia siap menerima walaupun saya tidak punya orang tua, saya tidak punya apa-apa selain iman, jika sewaktu-waktu mas tiyas sukses akankah mas tiyas tetap menjadi imam saya tanpa adanya orang ketiga."
Ku lihat sejak tadi tiyas tidak berhenti menatap sulis, mungkin itu yang membuat sulis sedikit menunduk saat berbicara.
"apa kamu tidak malu jika hidup berdampingan dengan pria lumpuh sepertiku." tanya tiyas tiba-tiba membuat sulis mengangkat wajahnya.
"untuk apa mas? Saya juga punya banyak kekurangan, ya..salah satunya tidak punya orang tua sejak saya berusia 7 tahun."
Tiyas mencebik seakan belum puas dengan jawaban yang di berikan sulis.
"bisa saja kamu seperti saudaramu itu, bedanya kamu lebih memilih berpura-pura,"
"jika saya berpura-pura apa untungnya buat saya, apakah ada yang patut di banggakan hingga saya harus berpura-pura"
"maafkan anak saya nak, dia hanya tidak ingin kecewa." jelas bu fatma merasa tidak enak dengan sikap putranya.
"siapapun pasti tidak ingin kecewa termasuk diri saya sendiri, jika mas tiyas justru menolak menikah dengan saya, insya allah sayapun akan berlapang dada, namun jika mas tiyas mau melanjutkan perjodohan, insya allah sayapun akan bersedia."
"bagaimana nak apa kamu mau menikah dengannya," tanya pak akzan pada putranya.
"iya saya setuju"
"setuju apa nak?" tanyak bu fatma lagi mencoba memperjelas ucapan tiyas.
"saya setuju dia menggantikan nirma."
"namanya sulis nak, bukan dia.?" ucap pak akzan menjelaskan sambil sedikit terkekeh.
"Alhamdulillah..jadi sudah jelas ya, sulis yang akan menikah dengan tiyas" ucap ku berucap syukur, meski bukan nirma yang akan menikah dengan tiyas, tapi aku tetap bahagia untuk sulis.
__ADS_1
"iya pak saya juga merasa lega, sebentar lagi, anak kami akan menikah."
Sejak tadi istriku lastri sudah masuk bersama nirma, mungkin dia sedang di depan tv, kebiasaan mereka jika sedang tidak perduli pasti akan menghilang.