Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 5: mengambil keputusan


__ADS_3

"eling bu, ingat? Bisa saja anak yang begitu kau banci justru dialah yang akan mengangkat derajat kita, ibu lihat? Bahkan anak malang itu siap menjadi pengganti nirma, untuk apa,? jelas saja untuk menutupi harga diri kita."


lagi-lagi pakde membelaku, aku semakin sedih jika mereka bertengkar karenaku.


Ku tajamkan pendengaran ku, aku ingin mendengar apa saja yang akan di lontarkan bude untukku.


"bapak tidak usah banyak bicara, ibu melakukan ini itu semua demi kebaikan kita, bukankah sudah waktunya anak sialan itu membalas budi,!"


"balas budi kata ibu?, almarhumah orang tua sulis yang sudah membantu banyak hal untuk kita, mulai dari pekerjaan, ekonomi, biayaya sekolah nirma hingga dia lulus sarjana, bahkan rumah ini di serahkan untuk kita,? asalkan kita mau menjaga harta yang paling berharga untuk mereka, yaitu sulis,! anak yang ibu mintai balas budi."


"pak? Apa yang mereka berikan, itu tidak sebanding dengan biayaya yang kita keluarkan untuk anak itu, bapak tidak usah terus-terusan membelanya,! Biarkan anak itu menikah dengan pria lumpuh itu, ibu sudah tidak sabar melihat dia pergi dari rumah ini."


"plaaakkk?"


Aku tersentak saat mendengar pakde menampar istrinya.


"jaga ucapan ibu?"


Aku sedari tadi hanya menguping kini ku beranikan untuk menampakkan diri.


"Ibu benar-benar tidak punya perasaan, bisa-bisanya ibu menginginkan hal serendah itu,!"


Bentak pakde pada bude lastri, kulihat di sela-sela jarinya, pipinya terlihat memerah akibat tamparan dari pakde, mungkin pakde menamparnya terlalu keras hingga telapak tangan pakde tercetak jelas di pipi bude lastri.


"Jika sulis mau angkat bicara, detik ini juga dia sepenuhnya punya hak untuk mengusir kita semua, tapi hati anak itu terlalu baik untuk menyakiti kita, dan dengarlah apa yang barusan ibu bilang, ibu ingin mengusirnya ha?"


Ku rasakan tubuhku bergetar, baru kali ini aku melihat kemarahan pakde, sebelumnya pakde akan luluh jika melihat bude lastri menangis, tapi Sekarang amarahnya sudah di luar kendali, dapat ku lihat pakde masih berusaha menahan diri agar tidak berbuat lebih.


"ya allah...kau tau betul bagaimana caranya menghadirkan cinta dan kasih sayang, maka tolong lembutkanlah hatinya, padamkan api yang sedang berkobar di antara keduanya."


Ku dekati pria tua itu dan mengusap lengannya.


"istighfar pakde jangan turuti amarah itu, sulis tidak apa-apa kalau memang harus pergi, toh sebentar lagi sulis akan menikah, jadi tidak perlu kau hawatirkan kemana aku akan pergi."


Setelah berucap kulihat pakde berulang kali mengucap istighfar dengan sesekali mengelus dadanya.


"kau dengar itu pak? Anak itu saja tidak masalah jika harus pergi dari sini, dia cukup tau diri jika dia sudah membebani kita,! lalu kenapa bapak masih keras kepala, pokoknya ibu tidak mau tau, setelah sulis resmi menikah, dia tidak boleh lagi menginjakan kakinya di rumah ini."

__ADS_1


"astagfirullah?" baru saja aku merasa tenang melihat pakde meredam emosinya, bude kembali bersuara.


Namun kali ini pakde tidak menggubris lagi, dia hanya berjalan melewati bude dan berlalu masuk ke kamar ku.


Ku alihkan pandanganku pada bude, ada tatapan tidak suka yang dia tampakkan,


"ini semua gara-gara kamu, jika saja kamu ikut mati bersama orang tuamu, hidup keluargaku tidak akan sesulit ini, kenapa kami harus selamat dari kecelakaan itu ha? Apa kamu punya ribuan nyawa hinga kau bisa selamat dari maut itu?."


"bude kenapa kau begitu memebenciku, dan kenapa hidupmu sulit karena aku,! Bukankah semua yang bude nikmati adalah milik sulis, lalu kenapa bude beranggapan aku menyulitkan keluarga bude."


"ya? Itu semua karena orang tuamu, dia selalu beranggapan kami ini hanya orang miskin yang taunya hanya meminta."


Aku menggeleng keras tak ingin nama orang tuaku di bawa-bawa.


"bude ayah dan ibu ku sudah tiada, mohon maafkanlah dia, jika yang bude lakukan padaku adalah sebagai penebusan dosa orang tuaku, insya allah sulis ridho menerima, jika memang harus pergi dari sini."


Aku tersentak saat bude menjambak jilbabku, rasanya perih sekali rambut ikut tertarik oleh tangannya.


"bagus jika kamu sadar, dan sebaiknya suruh calon suami kamu yang lumpuh itu untuk mempercepat pernikahan kalian, karena saya tidak sudi lagi melihat wajahmu yang sok lugu itu."


Setelah berucap bude lastri berlalu di hadapan ku, tubuhku ambruk di lantai, rasa sakit begitu menyakitkan hingga aku tidak dapat menopang tubuhku sendiri.


Entah berapa lama aku duduk termenung, hingga suara getaran dari ponsel pemberian mas tiyas berdering mengagetkanku.


Ku lihat layar ponsel itu, ada nama zean yang tertera, ku geser tombol hijau, hingga terdengar suara di balik telpon.


"Assalamu'alaikum" ucap seseorang di balik telpon.


"Walaikumsalam..?" jawabku membalas salamnya.


"bagai mana kabarmu lis" tanyanya membuatku sedikit gugup.


"ba..baik? Maaf dengan siapa ya?" tanyaku penasaran.


"ini aku tiyas,"


"deg?"

__ADS_1


"mas tiyas? Kenapa menghubungiku jam segini." batinku merasa gugup.


"haloo?"


"eh i..iya mas? Ada apa,!"


"apa kau merasa gugup?" tanyanya membuatku semakin ingin menghilang.


"se...sedikit mas?" jawabku singkat.


"ada apa mas menelponku jam segini"


"aku hanya ingin memberi tahumu, jika pernikahan kita akan di langsungkan sebul?"


"apa sebulan lagi?" ucapku terkejut dan memotong perkataan mas tiyas, ku tutup cepat mulutku, aku tidak sadar sudah berteriak, padahal berbisik saja mas tiyas juga pasti akan dengar.


"ada apa? Apa itu terlalu cepat?" tanyanya membuatku menggeleng cepat, padahal mas tiyas tidak dapat melihatku.


"Ayo sulis, jujur saja pada dia, dia juga pasti tidak keberatan jika pernikahan ini di percepat,"


Ku hirup nafas dalam-dalam, ini kulakukan demi pakde, aku tidak ingin melihat keluarga ini terus bersitegang karena aku.


"itu mas anu?"


"iya,! Anu apa?"


"tidak bisa kah di percepat sedikit?"


Cukup lama mas tiyas terdiam hingga dia memanggil namaku.


"sulis? Bisa kamu memberiku alasan, kenapa kamu ingin mempercepat pernikahan ini? Jika sejak awal kita memang memiliki hubungan, maka wajar saja jika kamu ingin mempercepat pernikahan kita, tapi baru tadi siang kita bertemu dan memutuskan untuk menikah, jika kamu meminta hal ini, rasanya cukup aneh jika kamu tidak menjelaskan lebih detail lagi."


Kupilin ujung bajuku, aku sendiri bingung harus memulai dari mana?, apa aku harus jujur atau tidak, yang pasti, pernikahan ini harus di langsungkan dalam minggu ini.


"bude memintaku pergi,! setelah menikah,? aku tidak di bolehkan menginjakan kaki di rumah ini lagi jika sudah menikah, aku?"


Sesak yang kutahan sejak tadi kini harus kulepas lagi, ucapanku berhenti berganti dengan tangis yang sesegukan.

__ADS_1


"hai..kenapa menangis, apa sesulit itu yang kamu rasakan,."


__ADS_2