
"kak zean kutub utara mana,? kok kakak cuman sendirian?" tanya sela membuat ku sedikit bingung, Siapa lagi kutub utara itu?.
"hush..kamu tuh kalau cari orang sebut namanya dengan benar, nanti kalau orang dengar bisa bahaya kan hidup kamu." jawab zean berlalu lalu membukakan pintu mobil untukku.
lagi-lagi aku tertegung dengan mobil yang ku tumpangi, pasalnya mobil ini jauh lebih mewah di banding mobil yang di gunakan untuk menjemputku di rumahnya bude.
"ayo naik mba, kak tiyas pasti sudah menunggu" ku anggukan kepala lalu masuk ke mobil seperti yang di minta zean.
Ibu juga ikut masuk dan duduk di belakang bersama dengan sela Sementara aku di depan dengan zean.
Sekitar tiga puluh menit akhirnya sampai juga di sebua gedung besar yang di sewa mas tiyas untuk resepsi.
sebenarnya aku ingin bertanya, mengapa mereka mengeluarkan uang begitu banyak padahal aku tidak apa-apa jika menikah hanya di hadiri keluarga saja juga pak penghulu beserta para saksi,
Mengingat kondisi ekonomi juga kondisi fisik mas tiyas, aku jadi tidak enak jika mereka harus memutar otak hanya demi melangsung pernikahan semewah ini.
Menikah di gedung tentu pasti mengeluarkan biaya yang sangat banyak, Apa lagi harus menyewa beberapa mobil mewah untuk mengantar kami semua.
"nak ayo turun, sampai kapan kamu akan memandangi tempat ini, di dalam sana ada calon suami kamu, apa kamu tidak ingin dia melihatmu secantik ini." ucap ibu membuyarkan lamunan ku.
"hehe..iya bu maaf?" jawab ku cengengesan,
aku hanya berpikir dari mana semua ini, bukankah saat datang melamar nirma, mereka hadir seperti orang yang paling susah, tapi saat nirma menolak dan menjadikan aku sebagai gantinya, justru keadaan jadi terbalik,
Aku berjala beriringan dengan ibu, Sementara sela juga zean mengekor di belakang.
"bu..aku?"
"jangan hawatir berjalan saja sesuai dengan arahan dari ibu, zean juga calon suamimu, di sini kamu sebagai mempelai wanita jadi tunjukan auramu di depan semua orang." ucap ibu seakan mengerti kehawatiran ku.
__ADS_1
Aku berjalan terus di tuntun oleh ibu, pelaminan terlihat begitu jauh Sementara aku berjalan lebih lamban dari keong racun.
Jika ini bukan pernikahan pasti aku sudah berlari lalu duduk dengan manis di depan sana.
Tapi tunggu? Kenapa mas tiyas melihat ke arah ku seperti sedang melihat hantu, bahkan bibirnya tidak terkatub dan menganga tanpa peduli dengan imechnya.
"jangan mangap terus nanti lalatnya masuk ke mulut." celutuk sela mendapat ciwitan dari zean.
"apaansi kak, sakit tau?" kesal sela mendelik ke zean hingga bola matanya ingin meloncat keluar.
"di sini banyak orang, kebiasaan kamu kenapa nggak di tinggal di rumah saja sih !, kalau kak tias sampai marah kamu mau di gantung dengan posisi terbalik, kalau aku sih ogah amat mending cari aman saja dari pada dapat masalah," giliran zean yang berbicara, seakan kedua anak itu benar-benar seperti tom dan jerry selalu saja ribut di setiap ada kesempatan untuk berdebat.
"ayo duduk sayang, sebenar lagi icap kabulnya akan segera di mulai." titah ibu membantu ku untuk duduk di dekat mas tias hingga lengan ku tidak sengaja menyentuh lengannya.
rasanya aneh saat sentuhan fisik itu terjadi, mungkin karena aku belum terbiasa jadi seperti sedikit takut saat mata itu melihat ku tanpa berkedip sama sekali.
"baik nak tiyas bisa kita mulai , berhubung waktunya sudah sangat baik, sebaiknya kita segera menunaikan acara akadnya," ucap pak penghulu menatap lurus ke mas tiyas bergantian menatap ku juga.
"nak sulis apa apakah anda sudah bersedia menikah dengan saudara tiyas dan menerima segala kekurangannya." tanya pak penghulu kini beralih bertanya padaku.
"i..iya pak s..saya bersedia" jawabku gugup hingga kurasakan tanganku terasa hangat karena pria di sampingku menggenggam tangan ku untuk pertama kalinya.
Ingin ku singkirkan aku takut dia melotot, ku biarkan saja malah membuat ku keringat dingin, hadee..sulit sekali posisiku.
"nak tiyas bagaimana dengan anda, apakah anda bersedia menikah dan menerima kurang dan lebihnya nak sulis."
"saya bersedia dan akan saya penuhi segala tanggung jawab saya" jawabnya tenang namun ada kesan tegas di dalam ucapanya.
"baik kita mulai ! Bismilahirahmanirrahim.. saudari tiyas triatmaja saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan sulis nur mauliya binti Hendrawan dengan mahar senilai uang seratus juta beserta emas perhiasan lima puluh gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
__ADS_1
"apa? sebanyak itu maharnya,! itu duit dan emas semua,! apa itu semua tabungan mas tiyas yang dia jadikan sebagai mahar," pikir ku menelengkan kepala ku mencari cela kebenaran di wajah pria yang sedang duduk cantik di sampingku.
"saya terima nikah dan kawinnya dengan sulis nur mauliya binti Hendrawan dengan mahar tersebut dan seperangkat alat sholat di bayar tunai." jawab mas tiyas tanpa gugup sama sekali. Aku saja sudah kekurangan oksigen padahal bukan aku yang mengucap icap kabul.
"bagaimana para saksi,! Sah?" tanya pak penghulu pada orang-orang yang yang di anggap sebagai saksi pernikahan hari ini.
"saaahhh?" jawab mereka seperempak hingga suasana sedikit riuh.
Setelah melantukan doa sebagai penutup, aku dan mas tiyas kini berdiri di pelaminan menyambut para tamu yang banyaknya tak dapat aku hitung.
"mas kamu undang berapa orang, kenapa tamunya tidak habis-habis." celetuk ku terlihat polos karena sejak tadi memang tamunya tidak habis, bukannya tambah sedikit karena hari suda menunjukan angka jam satu, tapi justru tamunya lagi padat-padatnya.
"entah, aku juga tidak tau karena zean dan papa yang mengurus semuanya, kenapa? Apa kamu lelah berdiri?" tanyanya mulai memperhatikan ku.
"sedikit mas, tapi aku masih bisa berdiri kok?" jawabku tersenyum malu padanya.
Apa papa mertua dan zean mengundang sejagat raya hingga tamunya sebanyak ini.
Sementara di ujung sana sekelebat aku melihat mereka bertiga, tapi kenapa aku tidak tau.
Ya bude, pakde, dan nirma ada di pesta ini, apa keluarga ini mengundang mereka, tapi kenapa dia baru terlihat, apa mereka baru sampai.
"nggak nyangka ya jika tiyas itu punya duit banyak nyatanya dia memberi mahar pada mempelai wanita yang jumlah sangat fantastik." ucap seseorang yang tak jauh dari tempat ku berdiri.
Bude dan nirma saling berbisik, bahkan nirma sesekali menghentakkan kakinya, mungkin dia mendengar ucapan orang itu.
"sayang selamat ya, sekarang kamu sudah menikah, pakde harap kamu bahagia telah menjadi seorang istri." ucap pakde setelah mendapat giliran maju untuk menyalamiku bersama dengan anak dan istrinya yang wajahnya selalu terlihat kusut.
"iya pakde sulis pasti bahagia, Terimakasih karena suda hadir di pernikahan sulis," ucap ku tulus meski di balas cibjran oleh bude lastri.
__ADS_1
"nikah sama orang sama orang lumpuh saja bahagia, pasti maharnya ngutang tuh sama pegadaian, kalau tidak ! Mana mungkin dia punya uang untuk di jadikan mahar." aku hanya tersenyum menanggapinya dan tak ingin merusak suasana hatiku di hari bahagia ki menjadi seorang istri.
"iya tuh, pasti niatnya mau bikin kita nyesel tuh bu, karena nirma suda menolak pinangan tiyas, ya kali aku mau nikah dengan orang lumpuh dan miskin, mending aku jadi perawan tua dari pada mengabdikan hidup untuk orang yang tidak berguna," kini giliran nirma yang berbicara, rasanya kuping ku sudah mulai resah mendengar cicitan mereka berdua.