
Hari ini ke putusan sudah di tetapkan oleh para orang tua, aku sebagai anak cukup mengikuti alurnya saja, semoga kedepannya aku dan mas tiyas bisa rukun menjadi pasangan suami istri.
Ku pandangi pakde, sepertinya dia sangat bahagia, syukurlah!setidaknya masih ada orang yang mau tersenyum untuk kebahagiaanku.
Berbeda dengan bude dan nirma, dia lebih terlihat sedang mencemohku, ah sudahlah, bukankah sejak dulu mereka berdua memang begitu.
"pakde, dan yang lainnya, boleh kah saya di dalam saja."
Kataku ingin beranjak, tak enak juga di perhatikan oleh mas tiyas, dia melihatku seakan-akan ingin menerkamku.
"loh kenapa nak? Apa kamu tidak ingin berbicara dengan calon suamimu." cegah bu fatma mencekal tanganku
Ku garuk keningku yang tidak gatal, rasanya aneh mendengar kata suami, memikirkannya saja sudah membuatku takut, entah apa yang akan dia lakukannya jika aku sudah menjadi istrinya, semoga saja dia tidak memakanku.
"iya nak? Jika kamu masih malu, setidaknya temani mereka di sini, yang mau menikah kan kamu, bukannya pakde." ucap pakde menertawakanku.
Aku tidak bisa berkutik jika pakde sudah bicara, biarlah aku menemani mereka, tidak baik juga jika aku ikutan pergi seperti bude dan nirma, apa yang akan mereka pikirkan jika aku juga seperti itu.
Aku kembali duduk di samping bu fatma, ku pejamkan mata dan membuang nafas berkali-kali berharap perasaanku akan jauh lebih baik, baru saja mataku terbuka, aku kembali panas dingin tak kala melihat mata elang mas tiyas.
"ya ampun orang itu, apa dia tidak perna melihat orang jelek seperti aku,! Sampai segitunya lihatin aku,?"
"nak? Sulis ini sudah bekerja atau belum?" tanya bu fatma membuyarkan lamunanku.
"eh..itu bu anu, saya belum berkerja
Maklum saya cuman tamatan smp, jadi agak sulit bagi saya untuk mencari pekerjaan."
Ku lihat dari ekor mataku, aku tau jika mas tiyas sedang menertawakanku.
"senang pasti dia melihatku gelagapan, sepertinya mas tiyas sengaja membuatku salah tingkah, baik? Akan ku ikuti permainanmu." batin ku tersenyum mengejek.
"jangan gugup begitu, ibu hanya bertanya bukan menyuruhmu untuk bekerja, di keluarga kami, jika wanita sudah menikah, cukup di rumah saja jika memang tidak ingin bekerja, karena mencari nafkah memang tugas laki-laki."
__ADS_1
Jelas bu fatma terus saja menggenggam tanganku, bahkan aku merasakan tanganku mulai berkeringat sangking lamanya dia genggam.
"oh ya pak,! Bagusnya hari apa kita melangsungkan pernikahan, apakah bulan ini sudah bisa terlaksana." tanya bu fatma pada pakde.
"soal itu, saya serahkan saja pada pihak laki-laki, kami cukup menerima arahan kapan dan di mana akan di laksanankan icap kobul."
"wah baiklah kalau begitu, kami pulang dulu, masalah ini perlu di rundingkan dengan keluarga besar kami, kami akan mengabari jika sudah menetapkan tanggal." ucap pak akzan ikut menimpali.
"oh iya pak tentu saja, kami akan menunggu kabar dari keluarga bapak."
"tapi tolong jaga anak menantu kami ya, beberapa hari lagi kami akan menjemputnya." ucap pak akzan lagi lalu berdiri dari duduknya.
"kami pamit dulu nak, kita akan bertemu di hari pernikahan dengan tiyas." ucap bu fatma memelukku lalu mencium kedua pipiku.
"apa bu fatma tidak merasa jijik memeluk dan mencium pipiku," batin ku masih tidak bergeming dan kurasa pipiku pun mulai memerah saat ini bersitatap lagi dengan tiyas.
"aku pulang dulu, jika butuh sesuatu, beritahu aku saja, nanti akan ku siapkan untukmu."
Aku melongok tidak percaya, ku kira dia seperti raja hutan yang akan menerkam jika sudah mendekati mangsanya.
"apa kamu punya ponsel." tanyanya lagi membuatku berpaling melihatnya.
"hehehe...maaf mas saya tidak punya,?" jawabku malu karena sejak tadi tatapannya selalu saja tertuju padaku.
"pakai miliku saya agar aku lebih mudah menghubungimu, kamu juga butuh itu agar pakde tau tanggal pernikahan kita."
"Tanpa senyum dan tanpa ekspresi dia terus saja berbicara, ku pikir dia lupa bagaimana caranya untuk tertawa, tapi nyatanya tadi dia menertawakan ku, meski ku tahu dia hanya cekikikan."
"i..iya mas, Terimakasih," jawabku seraya mengambil ponsel di tangannya.
"eh mas tunggu?" ku cegat dia saat sudah berada di halaman.
"ada apa?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"nanti mas pakai apa kalau ponselnya sama saya?" tanyaku menggoyang-goyangkan ponsel di depan wajahnya.
"biar itu menjadi urusanku,! Kau pakai saja itu? Jika tidak butuh kamu bisa membuangnya." ucapnya lalu pergi.
lagi-lagi aku terperanga mendengar jawabanya, bisa-bisanya dia memintaku membuang ponsel pemberiannya.
"pakai saja nak, sepertinya nak tiyas memang ingin memberikanya padamu."
"eh..pakde, sulis hanya tidak enak pakde, takut di sangka matre." jawabku cukup kaget, pakde tiba-tiba ada di sampingku, padahal tadi dia masih di jalan nganterin orang tua mas tiyas.
"hahaha...ada saja kamu nak, mereka juga pasti cukup tau diri untuk tidak berpikiran seperti itu."
"maskud pakde apa?"
"bukan apa-apa,! Ayo kita masuk, rasanya pakde sangat lapar."
Ku picingkan mataku mencari kebenaran di wajah tua itu, tapi gagal karena pakde sudah jalan mendahuluiku.
"bagaimana pak, apa perjodohan itu tetap terlaksana, sulis tidak menolak anak lumpuh itukan,! Ingat ya pak, ibu tidak mau jika anak ibu satu-satunya punya suami lumpuh seperti tiyas itu, berikan saja pada sulis dan jika dia menolak usir saja dia dari rumah ini,?"
"astagfirullah." ucapku mengucap istighfar, tak sengaja aku mendengar perkataan bude.
"apa yang bude maksud itu adalah mas tiyas, tega sekali bude berkata seperti itu, atau jangan-jangan nirma menolak perjodohan ini karena mas tiyas lumpuh."
Aku menganga menutup mulutku sendiri, mendengar bude ingin mengusirku jika aku menolak perjodohan ini,
Aku bersandar di balik tembok pembatas antara ruang tamu dan ruang keluarga, jadi aku sangat jelas mendengar apa yang bude katakan.
Ku tekan dadaku, tak kala bayang ayah dan ibu melintas di ingatanku, pedih rasanya jika mengingat mereka saat aku akan menikah, ku hapus air mataku dengan kasar, entah sejak kapan air mata itu membasahi jilbab dan gamisku.
"jangan hawatir sulis anak yang baik, meski dia hidup tanpa didikan orang tuanya, anak itu tau bagaimana caranya dia memperlakukan kita sebagai orang tua angkatnya, ibu saja yang tidak tau bersyukur, punya dua putri tapi malah pilih kasih."
"he? Ralat ya pak? Anak ibu cuman satu yaitu nirma, jangan sebut dia anakku karena aku tidak sudi mengakuinya anak sekalipun dia terlahir dari rahimku."
__ADS_1
"nyeeesssh" lagi-lagi hati ini semakin sesak, hanya pakde yang berusaha mencapai kebahagiaan untukku, tidak seperti bude, dia justru sengaja ingin menorehkan luka yang tiada habisnya.