
"ya sudah terserah kamu saja, yang penting kamu suka dan nyaman mengenakannya, pergilah ke kamar dan coba dulu gaunnya." titah ibu menyuruhku segera mencoba gaunnya.
"iya bu, kalau gitu maaf saya tinggal sebentar"kataku beranjak dari dudukku.
Di kamar ku letakan gaun itu di tempat tidur dan melepaskan baju yang ku kenakan lalu menggantinya dengan gaun pengantin, benar dugaanku gaunnya memang pas di badanku, cantik sekali sampai-sampai aku berdecak kagum dengan tampilanku di cermin.
jilbabnya pun tak lupa ku pakai dan menambah kesan anggun di wajahku, setelah ku rasa cukup aku berjalan keluar menghampiri ibu.
"bu, mas? Bagai mana apa kah gaunnya cocok untukku.?" kataku berdiri di depan mereka.
Tak ada yang menjawab, merek bertiga hanya terdiam dengan mulut yang menganga.
"kenapa diam saja,! Apa kah ini tidak bagus ku kenakan?" tanyaku memperhatikan diriku lagi dan berganti menatap mereka.
"cantik?" kata mas tiyas menatap ku tanpa berkedip sama sekali.
Kurasa mas tiyas tidak sadar apa yang dia ucapkan.
"a..apa mas? Barusan mas bilang apa?" tanyaku pura-pura tidak mendengar apa yang mas tiyas katakan, padahal sebenarnya sudah sangat jelas apa yang barusan mas tiyas katakan.
"ah i..itu? Bajunya cocok untukmu,?" ucap mas tiyas gelagapan.
"iya sayang kamu sangat cantik seperti yang di katakan tiyas, ibu sampai pangling melihatmu."
Ucap ibu membuat pria kaku itu semakin kikuk,
"ah ibu bisa aja? Kalau gitu sulis ke kamar dulu mau lepas gaunnya dulu."
"iya sayang?"
Setelah melepas gaun, baju yang tadi kembali ku kenakan dan membawa gaun itu keluar dari kamar.
"bu ini gaunnya??" kataku meletakkan gaun itu di atas meja.
"simpan saja dan gunakan nanti saat resepsi kalian," ucap ibu lalu mengantar bu tiyas keluar karena sejak tadi bu tiya sudah merapikan barangnya.
__ADS_1
Aku ingin bertanya kenapa harus mengadakan resepsi, tapi ku urungkan niatku dan mengambil kembali gaun yang menjadi pilihanku.
Mas tiyas sudah kembali ke kamar sejak tadi, sementara sela dan zean entah pergi kemana.
Aku kembali ke kamar dan menggantung gaun pemberian ibu, ku lihat jam ah ternyata sudah setengah satu.
Aku ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu melaksanakan sholat lima waktu, setelah selesai aku ke belakang untuk mengangkat jemuran ibu dan sela,
"kamu ngapain di sini"
"astagfirullah...!,"gumamku terkejut.
Aku hampir saja mengumpat karena mas tiyas muncul seperti hantu tak tau datangnya darimana, tau-tau sudah di belakangku.
"lis? Kamu dengar aku kan aku nanya apa?" tanya mas tiyas, karena aku masih membelakanginya.
"iya mas aku dengar kok,! aku di sini cuman mau ambil jemuran ibu sama sela karena sebentar lagi mau turun hujan." kataku meletakkan semua jemuran ke dalam keranjang tanpa menoleh padanya.
"setelah ini aku tunggu kamu di kamar ku, ada hal penting yang perlu ku bicarakan denganmu." ujarnya lalu pergi sebelum aku menjawab
Setelah itu aku ke kamar mas tiyas sesuai permintaannya.
Tok tok tok.
"masuklah." ucap mas tiyas Terdengar karena memang pintu tidak tertutup.
Aku masuk dan berdiri di belakang mas tiyas menunggu dia membuka suara.
"lis apa kamu benar-benar sudah siap untuk menikah denganku? Masih ada dua hari,! Jika memang kamu ingin membatalkan pernikahan kita maka aku akan membatalkannya?" tanyanya dingin tanpa melihatku,
"mas sendiri bagaimana,! Apa mas sudah benar-benar sudah siap juga? Jika mas siap menikah denganku tanpa perduli latar belakangku, insya allah aku juga siap melanjutkan pernikahan ini." jawabku lalu berdiri tetap di hadapannya
"lalu bagaimana dengan kondisi ekonomi ku, jika kita menikah aku tidak akan bisa menafkahi mu seperti sebagaimana suami harus menafkahi istrinya, aku ini lumpuh dan tidak bisa?"
"mas? Jika hanya karena masalah kondisi ekonomi dan fisik yang ingin kami bahas, maka berhentilah memikirkan semua itu, aku sama sekali tidak berpikir mengarah kesitu, tapi jika mas masih butuh pembuktian mas bisa katakan apa yang bisa aku lakukan agar mas bisa tenang melangsungkan pernikahan ini" ucapku memotong ucapnya dan berlutut di depan mas tiyas,
__ADS_1
"apa ada seseorang yang kamu cintai?" tanyanya setelah cukup lama terdiam
"tidak ada,! Dan aku tidak pernah menjalin hubungan kepada siapapun, lagi pula? Mana ada laki-laki yang mau dengan wanita sepertiku," jawabku lalu beranjak untuk berdiri tapi mas tiyas menarik lenganku hingga aku berlutut kembali.
"apa sekarang aku ada di sini." tunjuknya tepat di dadanya, mungkin maksudnya apa dia di hatiku, hanya saja dia menunjuk hatinya sendiri, lagi pula bisa kena tabok dia kalau berani melakukan itu.
"untuk saat ini memang belum ada, dan aku yakin aku juga belum ada di hati mas, tapi jika kita ikhlas insya allah cinta itu pasti akan hadir dalam pernikahan kita."
Dia hanya mangguk-mangguk dan tidak memberi komentar apapun,
"ya sudah kamu bole keluar," ucapnya lalu ketempat tidur, Rasanya aku ingin sekali mengetok kepalanya agar dia banyak bicara dan tidak benyebalkan itu.
Tanap menjawab aku keluar dari kamarnya, bisa dara tinggi aku jika terus melihat dia membeku di tempat tidur tanpa berniat bicara lagi denganku.
"eh mba lis darimana?" tanya zean yang tenga duduk menonton acara tv.
"emm..itu,! Aku dari kamar mas tiyas, tadi dia ingin bicara denganku tentang pernikahan,"
"apa ada masalah?" tanyanya lagi terlihat hawatir.
"tidak ada masalah apa-apa, mas tiyas hanya bertanya ukuran cicin yang biasanya aku pakai," kataku mengulas senyum padanya.
"oh kirain ada masalah,! Kalau gitu aku ke kamar dulu ya mba, soalnya sudah soreh aku belum mandi."
"iya?" jawabku lalu zean ke kamarnya.
"ya ampun ini sudah hampir jam empat, sebaiknya aku sholat dulu terus masak untuk makan malam." gumamku berlari kecil ke kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai berwudhu aku langsung ke kamar, ku lihat sela masih tidur tapi ku biarkan saja karena sudah hampir magrib aku belum masak dan juga belum mandi.
Hanya beberapa menit tugasku sebagai hamba allah sudah selesai, segera ku rapikan mukena dan sejadaku lalu membangunkan sela untuk mandi.
Ku hampiri sela, dia benar-benar tertidur pulas,
"sel ayo bangun, ini sudah sore lo, ayo bangun mandi nanti gantian sama mba." kataku menggoyangkan tangannya tapi sela sama sekali tidak bergerak.
__ADS_1