Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 9: di suruh masak


__ADS_3

"masuk saja?" jawabnya lagi lalu aku pun membuka pintu.


Selalu saja begitu, irit bicara, dan sulit tertawa.


"bagaimana tidurmu," tanyanya saat aku mulai merapikan tempat tidurnya, sementara mas tiyas sudah duduk di kursi roda.


"ya allah unik sekali makhlukmu yang satu ini, bertanya tanpa ekspresi membuatku ingin berlari saja."


"Alhamdulillah nyenyak kok mas, tadi juga bangunnya tidak kesiangan." jawab ku berusaha menyibukkan diri, aku tidak kuat jika melihat tatapannya,


"tadi kamu masak apa?" tanyanya lagi, padat, singkat dan jelas.


"cuman nyayur kangkung sama goreng tempe mas, soalnya adanya juga cuman itu."


"enggak apa-apa itu juga enak kok?" katanya lagi membuatku berhenti sejenak.


"memangnya mas sudah makan, kok tau kalau sayurnya enak?" cecarku masih menatap ke arahnya.


"sudah tadi aku makan sama ibu dan zean, maaf sayurnya habis,?"


"tidak apa-apa, syukur mala kalau mas suka,." ku sunggingkan senyum padanya.


"nanti kamu masak lagi ya,! Soalnya tadi sayurnya kurang,"


"padahal cuman kangkung, kok samapi minta nambah."


"iya mas, tapi di kulkas tadi sudah habis, makanya tadi aku cuman masak itu," kataku berkata jujur, karena tadi memang hanya itu yang ada menghiasi kulkas.


"ibu sedang belanja di depan, nanti kalau ibu masuk, kamu bisa masak lagi sama ibu, kalau perlu kamu aja yang masak, nanti rasanya beda kalau ibu yang masak."


Jelasnya lalu keluar dari kamar.


"ada apa dengan pria beku itu, apa sebegitu enaknya masakanku sampai-sampai dia tidak mau jika ibunya yang memasak, aduh..harus bilang apa nanti aku sama ibu, pria dingin itu membuatku dalam masalah" gumamku kembali membereskan kamarnya.


Aku kembali ke dapur saat sudah selesai beres-beres, ku lihat ibu sudah di dapur, aku menghampirinya karena tadi mas tiyas memintaku untuk memasak,


"bu biar sulis yang masak ya, ibu duduk saja," ucapku mengambil alih sayuran di tangannya.

__ADS_1


"baiklah, ibu juga mau makan masakan kamu," jawabnya tersenyum ramah padaku.


"lis, ibu boleh tanya, tapi kamu jangan tersinggu ya." ucap ibu duduk di sampingku.


"bolah bu,! Ibu mau tanya apa?" jawabku masih membersihkan sayur.


"kenapa kamu mau menikah dengan anak ibu, bukankah dia lumpuh, kamu juga masih gadis dan masih muda juga, sementara tiyas sudah pernah menikah, tidakkah kamu ingin mencari jodoh yang lebih baik, setidaknya carilah pria yang sempurna yang bisa berdiri tegak mendapingi kamu di pelaminan."


Ku hentikan aktifitasku mencernah setiap ucapan ibu, ada rasa sakit yang ku rasa mengingat bagaimana masa-masa sulitku selama di rumah bude.


Di sana, jangankan bertanya apa yang ku mau, bahkan tidak ada yang perduli jerit dan tangisku, hanya pakde yang selalu menguatkanku berharap suatu hari istri dan anaknya dapat melihat keberadaanku.


Nyatanya mereka semakin menutup mata ketika lamaran ini datang dan sengaja manjadikan diriku barang pertukaran.


Namun berbeda di rumah ini ibu justru memikirkan apa keputusan ku sudah benar atau tidak.


"buat apa bu orang yang mampu berdiri, belum tentu juga dia baik, jika mas tiyas dapat menjadikan aku ratu di hatinya, maka aku ridho menjadi kakinya untuk berjalan, lagipula kesempurnaan itu hanya milik allah, orang yang mampu berdiri belum tentu tidak memiliki kekurangan, dan orang yang lumpuh belum tentu dia jauh dari kata sempurna, contohnya mas tiyas, meski duduk di kursi roda apakah dia selalu menyulitkan ibu."


Ibu terdiam tanpa menjawab kata-kata ku,


"bu kalian datang ke rumah itu atas izin dari allah, dan aku menerima atas izin allah juga, nyatanya sampai saat ini allah belum menghadirkan raza ragu untuk menolak."


Setelah merasa lebih tenang ibu kembali tersenyum, ah benar-benar wanita luar biasa,


"terimakasih."


"untuk apa bu?" tanyaku Kembali dengan sayuran di depanku.


"karena menerima anak ibu dan tidak mempermasalahkan kondisi rumah kami," katanya lagi hampir menangis.


"sama-sama bu, aku juga berterimakasih sama ibu dan keluarga karena telah menerimaku di sini sebelum menjadi istri mas tiyas." ucap ku selembut mungkin aku takut membuatnya menangis lagi.


"iya ibu juga seneng ada kamu, jadi ibu ada temen bicara,."


Aku hanya tersenyum menanggapi dengan,anggukan.


"bu? Sulis mau tanya juga, sebenarnya sejak semalam aku ingin tanya, tapi sulis masih malu,"

__ADS_1


"mau tanya lis, kenapa hawatir begitu."


Aku memang merasa hawatir dengan kedatanganku, aku takut jika para warga marah aku tinggal disini.


"apa sebaiknya sulis ngontrak saja bu,?"


"ngontrak? Kenapa mau ngontrak apa kamu tidak suka tinggal disini, apa karena rumah ibu jelek."


Aku menggeleng cepat sebelum ibu salah paham terlalu jauh.


"bu..bukan begitu bu? Sulis hanya tidak enak di pandang warga sini, di rumah ini ada dua pria lajang, jika sulis tinggal di?"


"tinggallah di sini dengan tenang, tidak akan ada yang berani mengusikmu apalagi berbicara yang buruk tentangmu"


Belum juga selesai bicara, mas tiyas sudah mencelahku lebih dulu,


"tapi mas?"


"sudah jangan pikirkan apapun. Dua hari lagi kita akan menikah, jadi sesegerah mungkin pasti kamu juga akan jadi bagian keluarga ini."


"dua hari,? apa tidak terlalu cepat,! bagaimana mas tiyas melakukan persiapan, biarpun acaranya tidak terlalu megah, tetap saja akan membutuhkan waktu."


Ku lirik ibu, ibu sama! hanya mengangguk setuju pada mas tiyas, aku hanya pasrah apa yang akan terjadi jika para warga melakukan demo pada keluarga ini.


"ya sudah terserah kalian saja, sulis hanya takut jika ada masalah datang dari luaran sana."


"semuanya akan baik-baik saja, percayakan saja pada calon suamimu biar dia yang bereskan, kamu hanya perlu bersiap diri untuk menikah."


Kata ibu dan ku angguki.


Sayur yang sudah ku bersihkan langsung ku timu lagi seperti yang tadi, bedanya tadi sayur kangkung sekarang sayur brokoli dan jamur, keduanya aku campur agar memiliki rasa yang berbeda.


Sambil menunggu sayurnya matang, ku kocok terlur lima butir lalu menambahkan daun bawang dan beberapa bumbu, aku campurkan juga dengan kacang panjang yang sudah di iris tipis.


Semua ku aduk hingga tercampur rata, selesai dengan telur sayur pun matang, ku pindahkan ketempat lain lalu mencuci wajan karena ingin ku gunakan lagi untuk menggoreng telur.


Ibu dan mas tiyas masih di meja memperhatikanku sejak tadi, hingga kedua hidangan matang dan ku letakan di meja makan di mana ibu dan mas tiyas tak lepas memandangku.

__ADS_1


"wha..ibu jadi lapar lagi lihat omlet telurnya, kayanya enak ada sayurannya." kata ibu mengambil piring yang sudah ku siapkan lebih dulu.


__ADS_2