Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 6: pingsan


__ADS_3

Tidak cukup jelas apa saja yang di katakan mas tiyas, kepalaku terasa sakit, mungkin akibat terlalu lama menangis, tanpa ku sadari tubuh limbun ke lantai.


Samar-samar ku dengar suara pakde begitu panik, bahkan ponsel belum sempat ku matikan, mungkin mas tiyas juga mendengar jeritan pakde, hingga kesadarankupun hilang sepenuhnya.


"lis,! Sulis? Bangun nak, ada apa denganmu kenapa kamu pingsan di luar?" tanya pakde saat aku mulai sadar bahkan di sisi tempat tidurku ada mas tiyas juga dan adiknya, mungkin karena tadi aku belum mematikan ponsel, pasti mas tiyas datang karena mendengar jeritan pakde.


"tidak apa-apa pakde,"


"tidak apa-apa bagaimana,? coba lihat? alismu sampai berdarah gitu, apa sebegitu sulitnya kamu menjelaskan hingga kamu lebih memilih untuk menangis?"


Semua mata tertuju pada mas tiyas, mungkin mereka tidak mengerti ke mana arah pembicaraan mas tiyas.


"lis,? Jelaskan nak, apa yang di maksud nak tiyas, apanya yang begitu sulit dan kenapa harus menangis."


Ku raih tangan pakde menuntunya untuk duduk di sampingku, tepat dia berhadapan dengan mas tiyas.


"maaf pakde,! sulis harus melakukan ini, hiks..hisk.."


Ah cengeng sekali aku ini, baru berucap beberapa kata saja, aku sudah menangis.


"melakukan apa nak, katakanlah,! apapun yang memberatkan hatimu, pakde akan menuruti apa ke inginanmu."


lagi-lagi aku terguguh, aku benar-benar tidak mampu bersuarah, suraku tercekat di kerongkongan.


Namu tangisku hilang saat mas tiyas menggenggam tangan kiriku.


"benar kata pakde, katakanlah, apapun itu, mas juga akan mendukung,"


Manis sekali dia berbicara menyebit dirinya mas?


Ku tatap mereka berdua, lalu tatapanku berakhir pada bude, hatiku kembali sakit mengingat ucapan bude beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


"pakde? Mas tiyas? Sulis ingin mempercepat pernikahan ini, jika bisa di langsungkan dalam minggu ini, maka itu akan jauh lebih baik."


"apa bude mu mengatakan sesuatu?" tanya pakde mulai tersulut emosi.


"redakan amarah mu pakde, itu tidak baik untuk kesehatanmu, bude hanya melakukan apa yang menurutnya benar, sulis juga tidak ingin menjadi penyebab renggangnya hubungan pakde dan bude lastri."


"apa itu yang ingin kamu jelaskan tadi" tanya mas tiyas dan ku angguki, ku lirik tanganku, dia masih belum melepasnya.


"iya mas,? Dan maaf kan sulis, jika permintaan ini terlalu terburu-buru, aku hanya?"


Ku sebut dia mas, karena dia sendiri yang mengajariku,


"jangan hawatir,! mas akan mengurus semuanya, akan kupastikan minggu ini kita akan menikah, dan mulai hari ini kamu ikut denganku, bukankah itu yang di inginkan budemu, memintamu menggantikan nirma dengan tujuan agar kamu cepat pergi dari rumah ini,"


Tenang tapi menusuk, aku tau kata-kata itu di tujukan untuk bude lastri.


Tubuh ku bergetar, aku takut keadaan akan semakin kacau, mas tiyas semakin mengeratkan genggamannya, sepertinya dia faham ketakutan ku.


"maaf kan sulis pakde, sulis harus membuat keputusan, dan keputusan sulis sudah bulat, sulis akan ikut dengan calon suami sulis, ku harap pakde dapat menghargai keputusan sulis."


Berat sekali aku merangkai kalimat itu? Apa lagi melihat wajah pakde yang terlihat begitu lelah, tapi demi ketenangan rumah ini, makah aku harus keluar dari rumah ini


Ku lihat bude yang berdiri di dekat pintu, tak ada raut kesedihan di wajahnya, yang ada dia sedikit menyunggikan senyum sinis padaku, entah apa artinya itu,


"tapi bagaimana dengan pendapat orang jika kamu tinggal dengan tiyas, orang-orang pasti akan berbicara yang tidak-tidak, sebaiknya tolong pikirkan lagi keputusan kamu ini nak, pakde tidak akan bisa membantu jika kamu mendapat masalah di luar sana." ucap pakde setelah cukup lama terdiam.


"hala? Biarkan saja pak jika dia mau pergi,! Keadaan akan jauh lebih baik jika anak sundal itu tidak tinggal di sini lagi,!"


"ya allah...bahkan bude tidak bisa berbicara dengan menyebut namaku dengan benar, hampir setiap hari namaku terus berganti dengan panggilan yang jauh dari nama-nama hewan."


Ku tundukkan kepalaku, mataku rasanya memanas dengan keadaan ini.

__ADS_1


"jangan hawatir kan soal itu, setelah sulis keluar dari rumah ini, maka kalian bisa lepas tanggung jawab,! dia akan baik-baik saja tinggal bersama dengan saya, soal membantu? Kalian tidak perlu repot-repot membantu sulis, karena selagi saya masih bisa bernafas, saya tidak akan membiarkan sesuatu apapun terjadi pada calon istri saya."


Ku rasakan degup jantungku lebih cepat dari tadi siang saat mataku tak sengaja beradu pandang dengan mas tiyas, ku buang pandanganku ke sembarang tempat, tak kuat juga menatapnya terlalu lama.


ternyata menatapnya dengan jarak yang cukup dekat raut wajahnya jau lebih menakutkan.


"bereskan pakaianmu,! Aku akan menunggumu di luar?" ucapnya pergi tanpa menunggu jawaban dariku.


Begitu cepat dia berubah, baru saja dia menyebut dirinya mas, sekarang terbalik menjadi aku.?


Aku berdiri dari tempat tidur menuju lemari tempat dimana aku selalu menyimpan pakaianku.


Sejak tadi pakde sudah keluar, mungkin saat ini dia sedang menemani mas tiyas, sementara bude,! Aku tidak tau dimana,


Gegas ku masukkan semua bajuku ke dalam koper, tak lupa foto ayah dan ibu ku masukan juga dalam koper,


Hanya butuh 15 menit akhirnya aku selesai juga berkemas, tak ingin membuat mas tiyas menunggu lebih lama lagi, ku seret koperku yang berukuran cukup besar, cukup sulit aku menyeretnya melewati pintu kamar, Karena di bawah pintu ada penyangganya, jadi aku perlu mengangkatnya baru koperku bisa lolos dari kamar itu.


Ku hapus keringat yang membasahi keningku, hingga adik mas tiyas mengejutkanku.


"sini biar saya bantu mba?" ucapnya seraya meraih koper dari tanganku.


"Terimakasih,! Maaf sudah merepotkan,?" ucapku merasa kikuk, kenapa aku harus berada di tengah-tengah pria beku seperti mereka berdua.


Saat melewati ruang tamu, ku lihat pakde duduk dengan bude lastri, bahkan nirma juga ada di situ, mungkin mereka berdua ingin menyaksikan kepergianku, tapi bukan itu yang ku pedulikan, melainkan pakde yang sejak tadi hanya diam saja.


"pakde,! Aku pamit ya, pakde jaga kesehatan baik-baik, obatnya jangan lupa di minum, maafkan sulis,? Jika selama tinggal di sini sulis hanya bisa menyulitkan kalian."


Ku raih tangan keriput itu lali menyalaminya dengan dengan rasa sayang, berat memang? Tapi harua ku lakukan.


karena tak mendapat komentar apapun darinya, aku beranjak dari hadapannya dan meninggalkan rumah peninggalan orang tuaku dengan rasa berkecamuk

__ADS_1


__ADS_2