Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 7: merasa gugup


__ADS_3

"masuklah mba,! Biar kopernya ku taruh di bagasi."


Aku bingung adik mas tiyas menyuruh ku masuk di mana?, apa dia memintaku masuk dalam rumah atau bagaimana? Tapi kenapa koperku mau di simpan di bagasi."


"maaf saya harus masuk dimana? Apakah kamu menyuruhku masuk kerumah itu lagi."tanyaku menunjuk rumah yang baru saja akan ku tinggalkan.


"bukan mba, maksud ku masuk dalam mobil, itu di sana?" ucapnya menunjuk ke arah jalan, memang tidak akan ada yang tau jika di sana ada mobil karena tempatnya memang cukup gelap.


Aku berjalan mengekori adik mas tiyas, aku belum tau namanya siapa karena dia sendiri belum memperkenalkan diri.


Setelah sampai kubuka pintu mobil bagaian belakang lalu masuk dan duduk dengan nyaman, di dalam mobil sangat gelap hingga aku harus berhati-hati membenarkan posisi dudukku.


"astagfirullah?" ucap ku seraya beringsut memangkas jarak dengan orang yang barusan ku pegang tangannya.


Alangkah terkejutnya aku menyadari tak sengaja menggegam tangan orang lain.


Ku pukul keningku mengumpat sial pada diri ku sendiri, aku baru ingat jika sejak aku keluar dari rumah aku tidak melihat batang hidung mas tiyas, mungkin dia sudah di mobil sejak tadi.


Aku semakin di buat gemetar menyadari aku duduk tepat di sampinya, yah,! Siapa lagi di samping ku kalau buka mas tiyas.


"ma...maaf mas apa itu kamu." tanyaku gelagapan.


"hemm" jawabnya singkat tapi mampu membuatku semakin meringsut ke pintu mobil.


"Ya allah...kenapa jantung ini tidak bisa di ajak kompromi, baru pegang tangannya saja jantung ku sudah mau loncat, bagaimana nanti kalau sudah nikah, semoga saja aku tidak mati berdiri."


"apa mas sejak tadi ada di sini," tanyaku lagi masih enggan untuk mendekat,


"hemm..?"


"tidak bisakah dia berbicara lebih banyak, aku benar-benar takut jika dia kaku seperti itu, tapi aku lebih takut jika dia bukan mas tiyas."


"duduk yang benar, jangan miring begitu seperti orang yang sedang mabuk"


"i..iya mas ma..maaf,?"


"syukurlah itu benar mas tiyas, tapi ini mobil siapa,?" batin ku baru sadar dengan mobil ini, pasalnya kemarin mas tiyas hanya pulang dengan naik angkot, jika punya mobil sebagus ini kenapa harus rela kepanasan di angkot.

__ADS_1


Namun aku tidak ingin banyak bertanya, takutnya nanti aku salah bicara,


Mobil kini sudah melewati perbatasan, tadi aku meninggalkan rumah pas selesai sholat isyah,


Ku lihat jam kecil yang melingkar di tangan ku, sudah pukul 20.35, berarti sudah setengah jam kami ada di jalan.


Badanku juga rasanya capek sekali dan terasa pegal, mungkin akibat jatuh tadi.


Ku sandarkan punggungku, rasanya nyaman sekali saat ada yang menopangku dari belakang.


Hingga beberapa menit kemudian kantuk pun mulai menyerangku, entah berapa lama aku tertidur, yang pasti aku tidak ingin segera terbangun, baru kali ini aku tidur dengan posisi duduk dan terasa nyaman sekali.


"lis bamgunlah lita sudah sampai"


mendengar suara itu aku langsung terbangun, aku mengerjapkan mata. Hingga cahay lampu di mobil mulai terlihat, tafi memang tudak di nyalakan makanya gelap sekali.


Tapi sekarang semuanya terlihat jelas, bahkan aku yang masih bersandar di dada mas tiyas langsung terjungkal hingga kepalaku kepentok pintu mobil.


"aduh.." ringisku mengusap kepalaku.


"hati-hati dengan gerakkanmu," kata mas tiyas membantuku duduk dengan benar.


"iya, ada apa, apa kamu tidak suka tidur di pelukan ku."


"suurrrrhhhh?" rasanya tertiup angin mendengar ucapannya,


"bu..bukan begitu mas aku hanya?"


"ayo turun semua sudah menunggumu di dalam" kata mas tiyas memotong ucapan lalu keluar dengan di bantu adiknya.


Saat keluar dari mobil aku masih enggan untuk masuk, di sini aku tidak mengenal siapa-siapa, hingga tiyas menghampiriku, sepertinya dia paham jika aku merasa gugup.


"ayo masuklah denganku, jika ada yang julid padamu katakan saja padaku,"


"apa mereka akan menerimaku mas, kamu tau aku datang sebelum kita menikah, apa yang akan mereka pikirkan tentang aku."


"mereka butuh penjelasan, jika kamu gugup biar aku yang menjelaskan pada mereka, kamu cukup diam saja jika tidak ada yang bertanya, dan jawablah seadanya jika ada yang bertanya."

__ADS_1


Aku mengangguk dan mengikuti mereka berdua, kini aku yang mendorong kursi mas tiyas Karena adiknya harus membawa koperku yang isinya entah apa saja, aku tidak tau apa saja yang ku masukkan ke koper itu hingga aku kesulitan untuk mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum" salam kami bertiga.


"Walaikumsalam salam" jawab orang-orang di dalam.


Ku lihat bu fatma berjalan ke arahku, langsung ku salami tangannya lalu beliau memelukku.


"ayo masuk nak, ibu sejak tadi sudah menunggumu"


"sejak tadi? Pasti mas tiyas sudah berbicara banyak dengan keluarganya, jika tidak? Mana mungkin mereka melakukan penyambutan seperti ini."


"tadi ibu sudah masak, kita makan dulu ya,! kamu juga pasti belum makan,! kebetulan tiyas dan zean juga belum makan, jadi ayo makan bareng biar lebih enak."


"zean?"


"iya? Zean adik tiyas yang bersamamu tadi."


"oh? Maaf bu soalnya tadi belum kenalan,"


"tidak apa-apa sayang, itu hanya masala nama, ayo lekas ke meja makan, zean dan tiyas pasti sudah makan lebih dulu."


Saat samapi di dalam ternyata bukan hanya mas tiyas dan zean saja yang ada di dalam, melainkan ada anggota keluarga lainya yang ikut meramaikan.


"wha...jadi ini toh calon kakak ipar, ternyata lebih cantik ya dari foto yang di perlihatkan kak tiyas, kenalin aku sela adik kedua kak tiyas."


Aku mnyengrit heran sejak kapan mas tiyas mengambil fotoku.


"aku sulis" jawab ku merasa malu.


"mba nanti ajarin aku pakai jilbab ya, soalnya mba sulis cantik banget dalam balutan jilbab, aku juga pengen dong secantik mba sulis."


Aku hanya menganggu dan tidak banyak bicara, ku lihat mas tiyas sudah selesai makan, aku merasa heran, kenapa tidak ada yang membahas soal kedatanganku,


Tak ada suara di meja makan selain suara dentingan sendok yang saling beradu di piring masing-masing.


Setelah semuanya, aku membantu ibu dan sela membersihkan meja makan, sebenarnya ibu sudah melarangku, tapi aku tidak enak, sebagai tamu tentu harus tau diri juga, apa lagi ini rumah calon mertuaku, tentu aku harus memberi kesan yang terbaik.

__ADS_1


Akupun keluar bersama ibu dan sela setelah pekerjaan di dalam sudah beres semua.


"nak jika kamu lelah istirahat saja, kamu bisa tidur dengan sela anak ibu yang perempuan, maklum karena rumahnya kecil, jadi kamarnya pun tidak seberapa,! Di rumah ini hanya ada empat kamar, dan semuanya ada penghuninya, jadi kamu tidur dengan anak gadis ibu, setelah menikah baru kamu satu kamar dengan tiyas, semoga kamu kerasan ya tinggal di sini."


__ADS_2