Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 8: salah masuk


__ADS_3

Malam semakin larut semua penghuni suda kembali ke kamar masing-masing kecuali ibu dan aku,


Sela sudah lebih dulu masuk ke kamar, sementara mas tiyas dan zean sejak tadi sudah tidur, mungkin mereka lelah dan ini juga sudah hampir jam 12malam,


Ibu belum tidur karena masih harus memilih beberapa persiapan untuk pernikahan ku bersama mas tiyas, aku memilih menemaninya karena aku juga belum mengantuk.


Setelah selesai ibu pun pamit untuk tidur dan menunjukan kamar sela yang bersembelahan dengan kamar mas tiyas.


"lis ibu tidur duluan ya, ini sudah larut malam sebaiknya kamu juga tidur, tadi ibu sudah bilang sama sela agar pintu kamarnya tidak di kunci, ibu ke kamar dulu."


"iya bu?" jawabku lalu beranjak untuk berdiri.


Aku berdiri di antara dua kamar, aku bingung yang mana kamar sela,


"ah mungkin ini kamarnya," gumamku membuka pintu dengan sangat hati-hati.


Di dalam kamar sangat gelap hingga aku tidak dapat melihat apapun, aku berjalan sambil meraba-raba seperti irang buta.


Setelah menemukan pinggiran tempat tidur, tanpa berpikir panjang aku pun langsung merebahkan diri dengan sangat hati-hati.


Indra penciumanku mencium bau yang aneh, ya sepertinya aku mengenal bau ini.


Belum sempat aku memeriksanya kurasakan ada tangan yang melingkar di pinggangku.


Ku periksa tangan itu " kenapa tangan sela banyak bulunya," gumamku meraba tangan itu hingga ada sedikit pergerKan.


"ceklek"


Lampu kamar menyala, hingga nampaklah wajah yang begitu menyeramkan bagiku.


"kamu?" katanya terkejut menunjuk wajahkku namu Tidak sampai berteriak.


"aduh kenapa harus salah masuk sih, mana mukanya serem banget lagi, semoga aku baik-baik saja setelah ini."


"heheh...maaf mas aku salah kamar." ucapku merasa malu dia hanya mendengkus kesal, mungkin dia pikir aku sengaja masuk kamarnya,


"hem..kamar sela di sebelah situ, apa tidak ada yang memberitahumu."

__ADS_1


"ibu sudah menjelaskannya padaku, tapi aku saja yang masuk tidak memeriksa siapa yang ada di kamar." jelasku sedikit menunduk.


"memangnya kamu tidak melihatku tidur di sini." tanyanya lagi hingga aku mengangkat wajahku hingga bersitatap dengan dia.


"maaf mas, tadikan gelap, jadi aku tidak kalau itu kamu yang tidur di sini." jawabku nyaris tidak terdengar.


"hem ya sudah kembalilah ke kamar sela, bentar lagi pagi loh, nanti kamu kurang tidur lagi."


Aku buruh-buruh turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar sela, tapi aku kembali lagi karena pintu kamar mas tiyas lupa aku tutup.


"eh maaf cuman mau nutup pintu kok." ucapku langsung menutup pintu tanpa membuat suara, bisa malu tujuh turunan aku kalau orang-orang sampai tau aku salah masuk kamar.


Saat pagi datang terdengar suara kicauan burung yang seperti menari-nari di di telingaku, ku mengerjabkan mata ternyata mata ternyata sudah setengah enam,


Ku singkap selimut sementara sela masih asyik di alam mimpi, aku berlalu ke kamar mandi untuk mandi lalu sholat meski fajar hampir tiba aku tetap melaksanakan.


Setelah selesai aku berlalu keluar, semuanya belum ada yang bangun termasuk ibu, mungkin ibu masih mengantuk karena semalam di tidur cukup larut malam.


Aku melangkah kedapur mencari sesuatu yang bisa ku sulap jadi sarapan untuk pagi ini.


Ku buka kulkas yang berukuran kecil di dalamnya hanya ada kangkung dan dua papan tempe.


Setelah selesai menyiami sayur, aku cuci lebih dulu lalu menumisnya sampai tercium baunya hingga keseluruh ruangan.


"mba lis masak apa baunya enak banget."


Aku terkejut ada zean di sampingku, ku pikir belum ada yang bangun.


"eh zean ngagetin aja, aku pikir belum ada yang bangun loh," ucapku memindahkan tumis kangkung ke wadah yang lain lalu meletakkannya di meja.


"aku baru bangun mba, soalnya dengar suara perang di dapur,?" ucapnya sambil tertawa kecil.


"ku pikir dia tidak bisa tertawa dan hanya bisa membeku seperti mas tiyas," batinku menanggapi candaannya.


"maaf..biasanya kalau di rumah bude sepagi ini aku sudah masak, soalnya pakde harus berangkat pagi untuk keladang?"


"mba lis masak apa? Sela laper,?"

__ADS_1


"sel cuci muka dulu sana, baru bangun langsung mau makan apa enggak jijik tuh?" timpal zean di balas toyoran oleh sela.


"berisik tau enggak kak," timpal sela menghentakkan kakinya ke kamar mandi.


"jangan tersinggung ya dengan sikap sela, dia memang suka begitu."


"tidak apa-apa,." jawabku sambil tersenyum simpul.


"aku ke kamar dulu ya?" kataku lagi hanya di angguki zean.


Saat membuka pintu kamar mataku terpukau memindai setiap sudut kamar, aku bingung harus memulai dari mana, pasalnya hampir semua barang bukan pada tempatnya.


Mulai dari bantal ada di lantai, baju bersrakan di mana-mana, dan apa ini? Oh ya ampun zela, mengapa anak itu punya kamar seperti ini, bahkan kamar ini lebih mirip kapal pecah.


Setelah puas memandangi kamar, ku langkahan kakiku memungut satu persatu barang yang berserakan.


"eh mba biar sela aja yang bersihkan, bisa kena omel nanti aku sama ibu kalau mba yang beresin kamar." kata sela menarik tanganku dan mendudukanku di tempat tidur.


"tidak apa-apa sel? Aku juga sudah terbiasa kok kaya gini," ucapku kembali berdiri tapi sela mendorongku hingga aku duduk kembali.


"ini di rumah kak tiyas, jadi mba sulis engga perlu melakukannya sendiri, tadi mba sudah masak kan, sekarang biarkan kamar ini jadi urusan aku, mba mandi saja, nanti gantian sama aku."


Ada rasa hangat yang ku dapat dari keluarga ini dulu nirma jika di mintai untuk sekedar membuat kopi untuk pakde dia selalu saja menolak, sekarang di rumah ini, aku serasa punya saudara perempuan, sebab masih ada yang mau berbagi pekerjaan dengan.


"kamu saja yang mandi, biar aku yang bersihkan kamar ini, tadi aku juga sudah mandi kok pas mau sholat subuh." jawabku kembali


"wah salut deh sama mba sulis, udah cantik baik rajin ibadah pula, hemm...kalau aku laki-laki pasti aku sudah jadi saingan kak tiyas." ucapnya sambil tertawa.


"hhhh....sudah-sudah sana pergi mandi, jangan biasakan mandi terlalu siang nanti jodohnya datangnya kelamaan." jawabku di acungi jempol oleh sela.


Selagi sela di kamar mandi, ku bersihkan kamar lalu beralih kamar zean, setelahnya kamar mas tiyas.


"tok...tok..tok?"


"mas tiyas ini aku sulis, apa mas tiyas sudah bangun,?" tanyaku di balik pintu masih enggan untuk masuk lebih dulu.


"ada apa?" jawabnya tanpa membuka pintu.

__ADS_1


"aku cuman mau beresin kamar mas,?" ucapku masih setia berdiri di depan kamarnya.


__ADS_2