Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 14: kepulangan pak aksan


__ADS_3

Tok..tok..tok?


"Assalamu'alaikum..bu?"


Terdengar suara ketukan serta salam dari luar, aku segera membuka pintu hingga menampilkan pria yang pastinya itu adalah ayah mas tiyas.


"Walaikumsalam?" jawabku saat pintu terbuka.


segera ku raih tangannya lalu menciumnya dengan takzim.


"ayah apa kabar?" tanyaku sambil mempersilahkan beliau masuk.


"ya seperti yang kamu lihat nak ayah sudah tua dan berharap bisa segera menimang cucu," jelas ayah tidak sesuai dengan pertanyaan ku, padahal yang kutanyakan adalah kesehatannya, ini kok malah alurnya sampai ke cucu segala.


"insya allah ya yah semoga keinginan ayah di jawab oleh allah." ucapku tetap bersikap sopan karena bagaimanapun dia tetap orang tua calon suamiku.


"di mana ibu dan yang lainnya nak, kenapa rumah ini sepi sekali seperti kuburan?"


"ini masih pagi yah tentu saja yang lainnya masih pada bangkong," ucap ibu muncul dari dapur membawa kopi hitam kesukaan ayah.


"hade..bagaimana kelanjutan generasi kita jika mereka tidak di siplin begitu,! Cepat bu bangun mereka, apa mereka tidak kangen sama ayah, kenapa mereka masih tidur jam segini dan tidak menyambut kedatangan ayah."


Setelah meletakkan kopi ibu menghampiri kamar ketiga anaknya untuk di bangunkan, sementara aku pamit ke dapur dan menyelsaikan pekerjaan ibu.


Selang beberapa detik ketiga manusia berbeda genre itu sudah berjalan ke arah ruang tamu seperti para zombie.


Bagaimana tidak sela bahkan berjalan sambil tertidur dan di tuntun oleh ibu, sementara mas tiyas dan zean terlihat kaku dengan tampilannya yang serba hitam.


"pagi yah?" sapa mereka bertiga dan mencium tangan sang ayah secara bergantian.


"pagi juga,?" sapa ayah juga tak kalah hangatnya.

__ADS_1


"ayah bawa apa dari jakarta?" tanya sela masih terlihat mengantuk dan langsung duduk di samping ayah.


"seperti yang kamu lihat ayah hanya bawa diri dan tidak ada yang lain lagi." jawab ayah seketika membuat sela cemberut hingga ayah menertawakannya.


"hahaha...anak ayah kenapa cemberut gini, lagian kamu juga tidak pesan mau di bawakan apa"


Jarak dapur dan ruang tamu memang hanya terbatas dengan tembok jadi aku mendengar sangat jelas percakapan mereka meski aku di ruang dapur.


"apa sela harus minta dulu baru ayah mau belikan sesuatu?" rengek sela mendengkus kesal.


"iya dong sayang, nanti kalau ayah belikan tanpa kamu minta kan mubazir kalau kamu sampai tidak suka,"


"bagai mana pekerjaan ayah di jakarta? Apa ada perkembangan" tanya mas tiyas menengahi ayah dan adik perempuannya.


"Alhamdulillah..semuanya berjalan dengan baik, dan ayah tidak pernah menyangka jika putra ayah mampu memimpin perusahaan sebesar itu hingga mampu mempunyai cabang di berbagai negara." ucap ayah terdengar senang kepada mas tiyas.


Deg?


"jika mas tiyas seorang pengusaha sukses lalu kenapa dia datang melamar nirma hanya menggunakan angkotan umum, padahal jika mau dia bisa naik mobil mewah dan tentu saja nirma dan bude tidak akan menolak lamarannya, tapi kenapa dia malah datang seperti orang yang tidak punya." batin ku mendengar pembicaraan mereka


Ku tepis apa yang sedang ku pikirkan dan berlalu ke ruang tamu membawa du kopi untuk mas tiyas dan zean dan dua teh untuk ibu dan sela.


Ku letakan satu persatu di depan mereka dan ingin kembali lagi ke dapur tapi ayah malah menahan ku.


"ada apa yah?" tanyaku melihat ayah mencekal tanganku.


"duduklah ada yang ingin kami beritahu?" kata ayah terlihat sangat serius.


Aku memilih duduk di samping ibu dan di sampingku juga ada mas tiyas.


"apa yang ingin ayah jelaskan kenapa ayah terlihat tegang sekali?" tanyaku setelah aku ikut duduk di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"ini soal tempat tinggal kami? sebenarnya tempat tinggal kami bukan di kampung ini, tapi tempat tinggal kami di jakarta, kami semua berharap setelah kamu menikah dengan tiyas kamu mau ikut dengan kami ke jakarta?" ucap ayah lagi benar-benar membuat ku bungkam.


"iya sayang ibu juga berharap kamu tidak marah karena kami tidak jujur dari awal dan membiarkan mu tinggal di rumah yang kumuh seperti ini" ujar ibu ikut menimpali omongan ayah.


Aku tidak bisa menjawab dan masih banyak yang berkecamuk di pikirku.


"mba lis jawab ibu dan ayah, mba mau ikut kan ke jakarta? Sela akan senang jika mba lis mau iku"


"tentu,! mba pasti ikut, bukankah tugas istri harus mengikuti kemanapun suaminya akan pergi," jawabku membuat ayah dan ibu bernafas lega dengan persetujuan ku.


"baiklah jika mba lis sudah setuju, lusa kita langsung berangkat saja setelah sehari setelah icap kobul," jelas zean ikut membuka suara,


"ish..kenapa buruh-buruh sekali apa kamu juga akan melamar kekasihmu hingga tidak bisaa tinggal beberapa hari lagi, kasian mba mu pasti dia juga ingin pamit dulu dengan keluarganya." ucap ayah tidak setuju dengan usulan zean.


"tidak apa-apa yah, lusa kita berangkat saja, lagi pula tidak akan ada yang mau pamit dengan ku, mereka sudah memintaku untuk pergi jadi apa gunanya aku menemui mereka."


Ucapku menyetujui usulan zean.


"apa tidak sebaiknya kamu temui mereka dulu sebelum berangkat nanti, lagi pula masih ada pakde yang perduli denganmu."


Kini mas tiyas ikut mengusulkan aku untuk bertemu dengan keluarga yang tidak punya tatakrama itu, malas sekali rasanya jika harus mendengar sindiran demi sindiran yang sudah pasti akan di lontarkan oleh bude.


"soal pakde cukup di telpon saja, aku benar-benar tidak ingin kesana lagi, jangan sampai dengan kedatangan ku di sana justru akan memicuh penghinaan untuk kalian,"


"ya sudah, aku juga tidak ingin memaksa, lusa juga kita langsung berangkat seperti yang di katakan zean." jelas mas tiyas sedikit mengulas senyum.


"Hai ada apa dengannya, Kenapa tiba-tiba tersenyum, apa dia sedang merencanakan sesuatu," batinku menelisik wajahnya dengan rahang yang terlihat sangat kokoh.


"jangan melihatku seperti itu, jika kamu suka bisa panjang urusannya." ucap mas tiyas lagi di sertai tawa yang lainnya.


"is?..apaan si,!" jawab ku berlari ke dapur karena merasa malu, sementara di ruang tamu suara tawa pecah seketika karena melihat wajah ku suda memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"ada apa si dengan dengan kulkas seribu pintu itu, kenapa omongannya jadi ngalur kidul gitu, biasanya juga beku seperti bongkahan gunung es," gumam ku setelah berada di dapur.


Di luar sanah Terdengar riuh dengan saling bercanda, sementara aku berusaha menyibukkan diri agar tidak terus-terusan memikirkan si gunung es itu.


__ADS_2