Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 16: sudah terbiasa


__ADS_3

"mas tiyas aku ingin membicarakan sesuatu?" ucap ku sedikit takut melihat wajah masamnya yang selalu di tekuk seperti lipatan karton.


"bicara apa?" tanyanya tetap fokus ke layar tv menyaksikan berita tentang politik.


"itu? Barusan bude nelpon jika pakde sedang sakit dan perlu di bawa ke bidan yang tidak jauh dari desa, tapi bude tidak punya uang dan meminta ku untuk mengirim uang agar pakde segera berobat,"


Ucap ku semakin takut tak kalah mas tiyas menatap ku tanpa berkedip.


"di kamar ku ada koper kecil, bukalah dan ambil uang sebanyak yang kamu mau dan kirimkan sesuai permintaan bude agar pakde segera ke bidan, jika sakitnya cukup parah nanti mas akan bawa dia ke rumah sakit di jakarta ."


Aku terperanga Mendengar penjelasan mas tiyas,


"tidak mas? Aku tidak akan mengirim uang itu langsung pada bude, soalnya aku curiga jika itu hanya akal-akalan bude saja untuk meminta uang dengan mengatakan jika pakde sedang sakit."


"lalu apa yang ingin kamu lakukan?" tanya mas tiyas sedikit mengerutkan keningnya.


"emm..jika boleh, aku mau izin pada mas tiyas untuk pergi ke rumah bude dan melihat langsung keadaan pakde untuk memastikan apa pakde benar-benar sakit atau hanya alasan bude saja."


"kirim saja uangnya agar kamu tidak perlu mendengarkan hinaan dari mereka, aku tau tujuannya bukan hanya untuk meminta uang, tapi mereka juga belum bisa ikhlas jika kamu belum menderita sepenuhnya." ucap mas terlihat geram pada bude.


"tapi mas bude bisa keenakan jika di berikan uang secara cuma-cuma, jika kita menuruti keinginannya, kedepannya aku yakin dia pasti akan melakukan hal lain lagi agar bisa mendapat kiriman dariku, mas lihat aku tidak bekerja lalu dari mana aku dapat uang untuk di kirim pada bude." ucap ku sedikit lesu.


Mas tiyas terlihat bingung, mungkin baru kali ini dia melihat ku berbicara begitu banyak.


"ya suda jadi apa keputusan kamu" tanyanya sambil menatap ku.


"aku mau ke rumahnya bude itu juga kalau mas ijinkan" jawab ku juga ikut menatapnya.

__ADS_1


"baiklah nanti akan ku temani?" ucap mas tiyas sambil mengulas senyum dan masuk ke dalam kamarnya.


"ha? Apa dia sedang tersenyum atau sedang sembelit kenapa senyum nya terlihat manis sekali." gumam ku menatap mas tiyas hingga menghilang di balik pintu kamar.


"hai? Mba lis bengong aja,! Lagi lihatin apa si kok serius banget." ucap sela yang tiba-tiba muncul di belakang ku.


"astagfirullah...untung saja jantung mba kuat, kamu tuh kalau datang ngucap salam atau apa kek, jangan main datang aja, untung saja jantung mba nggak geser." ucap ku sedikit kesal sementara sela hanya cengar-cengir menampilkan gigi ginsulnya.


"hahahah...maaf deh mba, lagian mba juga kayanya serius banget sampai nggak nyadar ada sela di belakang mba," ucap sela tertawa terbahak-bahak.


"ish kamu itu kalau ketawa di manisin dikit napa si sel? Dan lihat ini gaya dudukmu macam tukang ronda yang ada di pembatas desa itu," ucap ku pada sela hingga anak itu terdiam seketika.


"hehehe...iya mba maaf, terus kalau duduk yang manis itu kaya gimana soalnya ibu juga tidak pernah ngajarin aku kaya gitu." jawab sela cengengesan dan mendapat serang musuh dari arah dapur.


"Bukannya ibu nggak pernah ngajari kamu, cuman kamu nya saja yang petakilan dan susah di atur, ini malah ngomong yang tidak-tidak sama mba mu." ucap ibu naik pitam dan melempar sapu tangan pada sela.


"bodo amat, lagian juga kamu belum mandikan, sana mandi dan bersihkan badanmu yang sudah bauh kecut itu." ucap ibu lagi membuat sela semakin kesal.


Ibu dan sela jika sudah bertengkar akang sulit di lerai, entah kenapa mereka selalu saja ribut, ada saja yang mereka ributkan entah itu sela yang pecicilan atau ibu yang sengaja menggoda sela hingga anak gadisnya merengut dan mogok makan.


Sela berlalu ke kamar, mungkin dia mau mandi, sementara aku menghampiri ibu di meja makan.


Baru saja aku hendak bangkit, mas tiyas sudah lebih dulu memanggil ku.


"lis bersiaplah kita berangkat sekarang saja?" ucapnya yang suda rapi lebih dulu, dia terlihat sangat tampan dengan kemeja putih dengan lengan di gulung ke atas.


"i..iya mas? Tunggu sebentar" jawab ku gugup lalu ke kamar mengambil ponsel ku yang tadi ku letakkan di meja rias.

__ADS_1


"siang-siang begini kalian mau kemana?" tanya ibu mengamatiku yang keluar dari kamar lalu bergantian menatap mas tiyas.


"sulis ingin menemui pak ahmad bu kata bu lastri beliau sedang sakit?" jawab mas tiyas


Ibu kini menatapku dan ku angguki untuk membenarkan apa yang di katakan mas tiyas.


"benarkan kamu ingin ke sana? kenapa tidak mengirimkan uang saja, bagaimana jika mereka menyakitimu lagi" tanya ibu Terlihat hawatir.


"jangan hawatir bu? Bukan kah mas tiyas bersama ku, aku juga tidak akan lama di sana, setelah memastikan pakde baik-baik saja aku dan mas tiyas akan segera pulang." ucap ku menyalami ibu.


"aku pamit dulu ya bu," ucap ku pamit setelah mas tiyas menyalami ibunya.


"iya nak hati-hati?" ucap ibu lalu mengantarku keluar dan masuk dalam mobil.


Sepanjang perjalanan suasananya sangat hening, sebenarnya aku juga ingin bertanya mobil yang ku tumpangi ini milik siapa, soalnya ketika datang melamar mas tiyas datang dengan menggunakan angkotan umum, jika mobil ini punya mas tiyas lalu kenapa dia pura-pura tidak punya apa-apa dan tetap diam ketika nirma dan bude menghinanya.


"lis apa menurut mu bude lastri ingin memanfaatkan kamu saja, aku pikir dia sama sekali tidak menyayangimu?" tanya mas tiyas setelah cukup lama hening di dalam mobil.


"kurang lebih seperti itu mas, tapi aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, karena biar bagaimanpun merekalah yang telah membesarkan ku." jawab ku tetap tenang meski dalam hati terasa sesak dengan himpitan kenangan masa kecil ku yang teramat menyebalkan untuk di ingat.


"aku juga cukup tau diri, jika sudah di besarkan oleh merek" kata ku lagi dengan mata yang mulai mengembung.


"menangis lah, itu akan membuat lebih tenang, bahu ini akan siap menjadi sandaran mu setiap kali kamu membutuhkannya."kata mas tiyas kini sudah menatap ku dalam.


"mas aku? Hiks..aku minta maaf?" ucap ku kini sudah banjir air mata.


"kenapa minta maaf, bukan kah kamu tidak berbuat apa-apa?" tanya mas tiyas mulai mengelus bahu ku agar aku lebih tenang, entah kenapa aku merasa nyaman dengan sentuhan itu.

__ADS_1


__ADS_2