Bertahan Walau Sulit

Bertahan Walau Sulit
Bab 20: kehabisan kesabaran


__ADS_3

Ku lirik mas tiyas dia sama kesalnya dengan ku, tapi tenang mas,! Kali ini aku tidak akan mengalah lagi.


Dulu memang aku lebih senang mengalah karena aku tinggal bersama dengan mereka dan aku juga sangat menghormati pakde.


Apapun keinginan nirma pasti aku penuhi, dan apapun keinginan bude pasti aku turuti, berharap suatu saat aku bisa mendapat cinta dari mereka, Bukannya cinta yang ku dapat tapi aku justru di kucilkan di rumah orang tua ku sendir.


Meski begitu, hal itu tidak membuat ku berkecil hati, aku tetap sabar dan dan ikhlas menjadi mainan bude dan nirma, hari ini aku sudah menikah dan memiliki kehormatan yang harus aku jaga.


Dan mulai hari ini, akan ku tunjukan bagaiman perangai seorang sulis, aku juga tidak ingin munafik ya, aku juga bisa marah jika kehormatan ku di injak-injak, terlalu baik juga akan membuat mereka jadi semena-mena, apa lagi yang mereka hina adalah orang yang suda menjadi surga bagiku.


"he? Anak tak tau diri kenapa kamu diam saja, ups lupa? Kamu memang seperti ini ya tidak bisa berbuat apa-apa ," ucap bude membuyarkan lamunan ku.


"ah bude aku hanya berpikir sampai kapan bude berdiri di sini, lihatlah di belakang sana antrian begitu panjang, aku rasa mereka juga ingin memberikan selamat untuk kami, bahkan pakde sejak tadi suda pergi dari antrian, lalu kenapa bude dan nirma masi betah di sini,"


"berani sekali kamu sama bude,?"ucap bude lalu tangannya terangkat ingin menamparku.


Tapi tunggu kenapa tidak sakit? Kubuka mataku karena tadi aku benar-benar tidak siap bude ingin menamparku, alangkah terkejutnya aku siapa orang yang telah menghalangi bude untuk menyakitiku.


Aku saja tidak mampu berucap apa-apa melihat siapa orang yang menghentikan bude.


"m...mas? Kamu,!" ya dia mas tiyas pria lumpuh yang beberapa jam yang lalu telah resmi menjadi imam ku dan menjadi bulan-bulanan bude dan nirma.


"jangan sekali-kali anda menyakiti istri saya dan pergilah dari hadapan ku jika anda ingin pulang dengan kehormatan yang tetap utuh," ucap mas tiyas tegas dan penuh penekanan.

__ADS_1


sebenarnya aku tidak tega apa lagi dengan pakde yang sangat baik pada ku, tapi apa gunanya merasa prihatin dengan mereka berdua, mereka berdua memang perlu di beri pelajaran agar mereka bisa berfikir dengan akal sehatnya.


"k..kamu? Bagaimana kamu bisa berdiri, bukankah kamu lumpuh," tanya bude memindahi mas tiyas dari atas sampai bawah.


"kenapa? apa salah jika saya bisa berdiri, jika saya datang dengan penampilan seperti ini saya tidak akan pernah tau bagaimana sifat asli wanita yang akan aku nikahi,"


"tapi apa yang kamu lakukan itu sama saja kamu menipu kami, tidak? Aku tidak terima jika sulis yang menjadi istri kamu, seharusnya nirmala yang berdiri di sampingmu bukan dia," tunjuk bude padaku,


Aku hanya tersenyum sinis menanggapi kekesalan bude, bodoh amat dia mau kesal seperti apa, salah sendir sok jual mahal.


"he? Anak tak tau diri, kamu juga pasti suda taukan kalau tiyas itu tidak lumpuh dan kaya raya," todong bude malah melemparkan kesalahan putrinya padaku.


"kenapa bude, apa bude menyesal menolak pinangan pria lumpuh yang baru saja kalian hina, aku sendiri tidak tau siapa pria yang ku nikahi, tapi dengan restu dari pakde aku menerima pernikahan ini meski harus menjadi pengganti nirma," aku menjawab tanpa harus menguras emosi, aku tau apapun itu bude tidak akan percaya apa saja yang terucap dari mulut ku.


"apa kamu ingin menikah dengan mas tiyas hanya karena fisiknya yang baik-baik saja dan juga ternyata orang yang beruang, sadar nirma? Melihat mas tiyas lumpuh kamu langsung menolak,! lalu bagaimana jika kamu menikah dengan mas tiyas lalu kemudian dia lumpuh lalu bangkrut menjadi orang yang paling miskin, apa kamu akan tetap menemaninya"


"tentu saja aku akan menemaninya, diakan calon suamiku, iya kan mas?" ucap nirma kemudian mendekati mas tiyas, aku saja kesal melihat tingkahnya, benar-benar tidak punya urat malu ni anak.


Baru saja nirma ingin merangkul lengan mas tiyas, dengan cepat mas tiyas menarik ku berdiri di depannya lalu memeluk ku dari belakang.


Kena mental kan kamu, makanya jangan usil sama suami orang.


"saya bukan calon suami kamu setelah kamu menolak lamaran saya dengan alasan bahwa saya lumpuh dan miskin, dan mulai hari ini hingga di masa depan istriku yang akan menemaniku, hari ini aku menunjukan siapa diriku, karena aku ingin kamu menyadari jangan pernah menilai seseorang dari fisik dan penampilannya,"

__ADS_1


mendengar perkataan mas tiyas bude dan juga nirma akhirnya meninggalkan tempat kami berdiri, di kejauhan aku melihat pakde tersenyum padaku dan memegang sesuatu di tangannya lalu memperlihatkan padaku, mungkin itu hadiah untuk ku, syukurlah setidaknya pakde masih punya etikad baik padaku.


sementara aku masih diam seperti patung tiba-tiba mendapat pelukan hangat dari pria sedingin es ini.


"mas? Kamu..!" pertanyaan ku terpotong karena mas tiyas mencela lebih dulu.


"maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongimu, aku melakukan ini karena?"


"tidak apa-apa mas, sekalipun kamu masih seperti kemarin aku juga tidak masalah, maafkan sikap mereka ya," ucap ku tulus, meski sebenarnya aku juga terkejut dengan apa yang terjadi.


"Terimakasih, aku janji mereka tidak akan menyakitimu lagi, biarkan mereka kesal, aku juga penasaran, sejauh mana bude lastri akan bertindak, aku yakin dia dan nirma pasti sedang merencanakan sesuatu untuk kamu,"


Aku menyengrit heran, dari mana mas tiyas tau, aku saja hanya melihat tampang kesal mereka dan tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.


"dari mana mas tiyas tau,?" tanyaku karena aku benar-benar tidak menangkap bahasan tubuh mereka yang mencurigakan.


"sayang mas ini sudah bertahun-tahun bekerja di kantor, ketatnya dunia bisnis membuat orang rela melakukan apa saja termasuk melenyapkan nyawa saingannya," ucap mas tiyas lagi membuat ku bergidik Ngeriiii, sekaligus malu mendengar kata sayang dari bibirnya itu.


"ya allah kenapa setega itu mas, padahal allah sudah mengatur rezeki kita masing-masing, tapi orang-orang masih saja tidak bersyukur atas apa yang dia dapat," jawabku sedikit prihatin dengan dunia yang di geluti mas tiyas, berharap rasa gugup ku bisa hilang.


"ya itu lah kehidupan, karena itu pula mas pura-pura lumpuh hanya sekedar menguji siapa orang berhati tulus dan tidak meributkan nikmat dunia saja,"


Aku termenung mengingat bude juga nirma, ya allah bahkan keluargaku sendiri bagian dari keserakahan dunia, kapan mereka akan ingat pada sang pencipta.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum kecil dan menutup pembicaraan, tamunya juga mulai berdatangan lagi setelah tadi bude membuat mereka mengurungkan niat untuk menyalami kami.


__ADS_2