
"ya allah...sela?" teriak ibu membuat sela langsung terduduk.
"ada apa si buuuuu....?" jawab sela kesal mendengar teriakan ibu yang melengking kemana-mana.
"ada apa ada apa? Noh lihat sudah jam berapa sekarang,?" tunjuk ibu ke arah jam dinding dan sela mengikuti arahan dari ibu.
"baru juga jam 5 pagi kenapa mesti di bangunin si?" jawab sela ingin kembali tidur namun ibu kembali meraung hingga sela menutup telinganya.
"sela kamu lupa kakak mu tiyas akan menikah?" ucap ibu lagi membuat sela melek sempurna, sepertinya dia benar-benar lupa jika mas tiyas akan menikah.
"adu ibu kenapa nggak di bangunin dari tadi si, sela kan belum mandi." ucap sela meloncat dari tempat tidur karena ibu hampir saja menjewer kupingnya.
Nah lo sekarang malah ibu yang di salahkan,
"dasar anak petakilan, awas saja ya kalau molor lagi ibu akan siram air seember kalau kamu belum siapa-siapa juga." ancam ibu lalu keluar dan menutup pintu hingga menimbulkan suara keras.
"mba lis jangan dengerin ibu ya, ibu memang suka begitu tapi aslinya dia orangnya baik kok, cuman kalau sama aku ibu sering kumat, ya seperti yang kak niah lihat tadi, ibu marah-marah seperti orang kesurupan" tutur sela lalu masuk ke kamar mandi.
Aku sudah mandi sejak tadi, sebelum memakai riasan dan mengenakan gaun aku makan dulu supaya nanti nggak lemas saat proses pernikahan.
"sayang kamu kok belum siapa-siapa?" tanya ibu saat aku menuju dapur, ibu juga sepertinya ingin makan.
"iya bu nanti aku siapa-siapa ini aku mau makan dulu biar nanti nggak lemes"
"ya suda makanlah nanti ibu yang antar makanan ke kamar tiyas karena sebelum icap kobul saat ini kalian berdua tidak boleh bertatap muka." ucap ibu menjelaskan.
"iya bu sela ngerti kok?" jawab ku lalu mengisi piringku dengan nasi dan lauk.
"ibuuuu....?"
__ADS_1
"uhuk..uhuk? Ya ampun ada apa lagi dengan anak itu." grutuku mendengar teriakan sela hingga terbatuk-batuk.
"kamu kenapa lagi sel? Mau ku sumpel tuh mulut biar nggak teriak-teriak terus." ucap zean kesal yang keluar dari kamar dengan menggunkan handuk dan badannya masih penuh dengan sabun.
"astagfirullah....zean? Ngapain kamu di situ, kamu nggak lihat ada mba di sini, kamu sengaja ya menodai mata mba itu." kini giliran ibu yang justru malah wira yang kena semprot.
Ya sejak tadi memang aku suda membelakangi wira sebab dia keluar dengan bertelanjang dada.
"ya maaf bu, aku nggak sengaja dan tidak tau kalau mba lis ada di situ, lagian nih anak ibu yang satu ini lebay banget, pagi-pagi suda bikin orang kesel aja." ucap zean lalu masuk kamar dan menutup pintu.
"jadi ini ulah kamu lagi,? Ada apa kamu membuat bising sepagi ini." tanya ibu berkacak pinggang bak foto model.
"ini bu resletingnya susah di naiki, ibu tolong di naiki ya soalnya tanganku nggak nyampe." jawab sela memasang wajah cemberut.
"kenapa nggak bilang dari tadi sih kan nggak perlu sampai teriak-teriak gitu."
Ucap ibu menjewer telinga sela sementara aku hanya hanya tertawa menyaksikan dua wanita yang berbeda usia itu.
"pagi mba?" sapa ku pada perias itu.
"pagi juga mba? Langsung saja ya kita makeup nya Karena waktunya tinggal sedikit," ucap perias itu balas menyapa ku.
"iya mba mari silahkan masuk" ajak ku padanya masuk ke dalam kamar.
Hanya butuh setengah jam aku sudah selesai makeup dan memakai gaun pengantin, aku menatap diriku di pantulan cermin tanpa berkedip, rasanya aneh sekali melihat wajah ku penuh dengan makeup tebal,
Wajah yang biasanya menggunakan riasan sederhana kini terlihat seperti badut, ya menurutku si begitu, tapi tidak dengan mba periasnya yang berdecak kagum sejak tadi.
"waw mba cantik banget, seumur-umur aku baru merias secepat ini dan hasilnya sangat memuaskan, aku yakin calon suami mba pasti pangling de kalau ketemu nanti." ucapnya lebih bersemangat dari pada aku.
__ADS_1
"ah mbanya bisa saja, kalau menurut saya, saya lebih mirip badut dengan riasan setebal ini, maklum mba? Saya tidak biasa dengan tampilan seperti ini dan bukan berarti kerja keras mba itu tidak baik, aku yakin di luar sana orang akan memuji hasir kerja keras mba."
Dia hanya tersenyum dan merapikan peralatannya.
"ya sudah mba mumpung kerjaan saya selesai, saya keluar dulu ya, biar bu fatma mengecek hasil kerja saya." pamitnya undur diri.
"iya mba Terimakasih sudah mau menjadi perias saya, maaf jika saya sedikit banyak bicara."
"hahahah...sama-sama mba, sepertinya saya juga banyak bicara." jawabnya lagi sambil tertawa dan keluar dari kamar.
Setelah perias itu keluar giliran ibu yang masuk kamar.
"wah calon mantu ibu anggun sekali, bagaimana sayang apa kamu gugup?" tanya ibu dan berkahir memeluk ku.
"bu? Terimakasih ya sudah mau menerima aku, kedepannya jika aku berbuat salah tolong ingatkan aku ya bu, aku minta maaf jika aku sudah banyak merepotkan ibu dan keluarga." ucap ku berusaha menahan tangis agar makeup ku tidak rusak.
"iya sayang sama-sama, ibu juga berterimakasih atas kemurahan hati kamu yang sudah mau menerima kondisi anak ibu meski kamu tau kami tidak punya apa-apa."
"jangan bicara begitu bu, bagiku harta bisa di cari, tapi kemuliyaan hati tidak semua orang dapat memilikinya." ucap ku bermunolog kini malah ibu yang menangis, hadee..jadi bingung aku.
"maaf ibu kelepasan," ucapnya segera menghapus genangn air matanya.
"ya sudah ayo kita keluar, semua orang suda menunggu kamu di luar." ajak ibu sudah tidak menangis lagi dan membantu ku untuk keluar karena gaun yang ku kenakan membuat ku sulit untuk berjalan.
"repot juga jadi pengantin" keluh ku berjalan seperti siput sementara ibu mengekor di belakang ku membantu ku mengangkat gaun yang panjangnya entah berapa meter.
"tapi ini lah momen yang saklar bagi setiap mempelai, di mana janji suci akan di ucap sekali seumur hidup, ya tentunya hanya untuk pasangan yang setia pada teman hidupnya." jawab ibu dan terus mengekor di belakang ku.
"ya ampun mba lis cantik banget, jadi nyesel de nggak minta di rias, coba tadi kalau aku di rias, pasti kak tiyas bingung bedain yang mana calon istrinya."
__ADS_1
"ya tetap bedalah, yang satu seperti putri malu sementara yang yang satunya lagi tidak punya urat malu, ya kali mau dandan kaya pengantin, kalau kak tiyas beneran salah gimana?" celetuk zean tanpa di saring lebih dulu,