
Setelah semua selesai sarapan pagi aku kembali ke kamar untuk membereskan kamar yang lebih mirip dengan kapal pecah, sementara sela sedang berada di belakang bersama dengan ibu.
Ku rapikan tempat tidur lebih dulu lalu ku ambil semua pakaian kotor yang berserakan di lantai lalu menyimpannya di keranjang, setelah itu ku sapu lantai hingga bersih dan menyimpan barang-barang pada tempatnya.
entah semua barang-barang itu di gunanya untuk apa hingga hampir semuanya berada di lantai.
Setelah Semuanya beres, dering ponsel yang di berikan oleh mas tiyas berdering menandakan ada seseorang yang telah menghubungi nomor itu.
Aku beranjak dari duduk ku dan menghampiri benda pipi itu yang terletak di meja rias,
"nirma?" gumam masih menatap ragu dengan nama yang tertera.
"untuk apa nirma menghubungiku bukankah dia dan juga bude lastri suda tidak ingin berhubungan lagi dengan aku, lalu ada apa dia baru menghubungi ku," gumam ku dan belum menjawab panggilan itu.
Aku masih membolak-balikkan benda pipi di tanganku ini, karena ini untuk kedua kalinya aku menggunakan ponsel ini saat terakhir kali mas tiyas menghubungiku hingga aku berakhir tinggal di rumah ini.
"halo nirma ada apa kamu menghubungiku?" tanyaku langsung saat sambungan sudah terhubung ke sebrang sana.
"idih..?biasa aja kali kak? Aku juga menghubungi kamu itu atas permintaan bapak,!"
"oh? Jadi kamu juga masih ingat ya kalau masih punya kakak?" sindirku , karena saat aku berada di rumah itu nirma memang tidak pernah mengakui sebagai kakaknya, kecuali ada maunya.
"ya mau bagaimana lagi jika bapak sedang sakit dan aku tidak mau membuat dia semakin drob karena sikap ku yang kurang baik padamu ya tentu saja aku melakukan ini demi bapak dan bukan karena kamu" jawab nirma di sebrang telpon di sertai tawa bude yang menggemah dalam rumah itu.
__ADS_1
"ada apa dengan pakde nir? Apa dia baik-baik saja?" tanyaku mulai hawatir, karena selama aku pergi aku memang belum memberi kabar kepada pria tua itu, dan ini juga untuk pertama kalinya aku berada jauh darinya selama dia membesarkan aku.
"lis kamu tuli apa bagaimana sih? Sudah nirma katakan jika bapak sedang sakit dan ingin bertemu dengan kamu apa kamu belum paham juga ha?" sentak bude, kini giliran dia yang berbicara.
"astagfirullah...maaf bude maksud ku pakde sakit apa,! Apa dia sudah di bawa ke bidan untuk di periksa?" tanya ku dengan suara yang mulai Terdengar parau.
"priksa gundulmu? Kamu pikir ke bidan itu pakai daun apa?, bude mana punya uang untuk ke bidan untuk beli sayuran saja mesti ngutang dulu di warung, kalau kamu mau? Kirim saja uangnya pada nirma nanti bude sama nirma yang bawa pakde berobat ke bidan." ucap bude setengah berteriak,
inilah yang membuat ku tidak ingin ke rumah itu lagi, sebab bude dan nirma benar-benar tidak punya etika ketika berbicara.
Ck pintar sekali mereka ingin mengibuliku, apa mereka pikir aku tidak tau niat mereka yang sebenarnya, Kita lihat? sampai kapan mereka akan membodohiku.
"he? Lis kamu dengar bude tidak, jadi anak kok malah kurang ajar begitu? Ingat ya lis bude sama pakde yang sudah bersusah paya membesarkanmu, jadi sudah kewajiban kamu untuk balas budi."
"kalau begitu tolong berikan ponsel nirma pada pakde, aku perlu memastikan jika pakde benar-benar sakit dan bukan akal-akalan bude saja yang ingin memerasku dengan mengatas namakan kesehatan pakde." ucap ku mulai mengusai perasaanku, karena ku pikir aku tidak tinggal di rumah itu lagi jadi untuk apa aku tunduk dengan perintah mereka jika mereka saja tidak punya hati kepadaku.
"dasar anak tidak tau di untung, apa ini balasan kamu setelah kami membesarkanmu, kamu pikir bude bohong jika pakde sedang sakit, pakde itu lagi sakit gigi jadi dia tidak bisa ngomong? Tinggal kirim aja susah banget si?" grutu bude semakin kesal dengan suara yang naik beberapa oktaf.
Dasar mata duitan? bisa-bisanya dia beralasan yang tidak berguna,
"terus kalau aku kena tipu sama bude kan aku yang rugi? Bude pikir aku juga dapat uang dari mana, hingga seenaknya saja minta kiriman,! Apa bude tidak malu meminta sesuatu padaku setelah bude mengusirku malam itu," ucap dengan datar tanpa merasa takut sama sekali.
Ku matikan telpon lalu menghubunginya lagi melalui video kol, karena mulai malam itu aku sudah memutuskan tidak akan tunduk lagi dengan perintah bude, aku harus berani menjawab jika mereka berani menindasku lagi.
__ADS_1
"ngapain si video kol? Kan tadi bude sudah nelpon." ucap bude terlihat kesal karena aku mengubah panggilan video.
"kan aku sudah bilang bude aku perlu bukti kalau pakde beneran sakit atau tidak?"
"kamu ngeyel bangeti lis, sudah bude bilang kalau pakde itu sakit gigi dan tidak bisa bicara kenapa kamu tidak mau kirim uang si, apa kamu tidak kasihan sama pakde yang sudah ngebesarin kamu"
"ya suda demi kenyamanan bersama berikan hpnya sama pakde biar aku lihat sendiri bagaimana kondisinya."
Bude terlihat komat-kamit, aku tau dia sedang kesal karena aku mempersulit kebohongannya, hug..enak saja minta kiriman uang memang aku ini tkw yang sedang bekerja di luar negri.
"ya sudah kalau kamu tidak mau kirim uang, pakde mu pasti akan kecewa karena kamu tidak perduli padanya,"
"lah? Bude siapa yang tidak perduli sih aku kan cuman ingin melihat kondisi pakde, apa salah jika aku ragu dengan apa yang bude katakan, selama ini pakde juga tidak pernah meminta apapun padaku meskipun dia sedang sakit, jadi wajar sajakan kalau aku tidak percaya begitu saja dengan ucapan bude."
"terserah kamu saja, yang penting bude sudah memberi taumu tetang keadaan pakde mu di rumah, jika kamu tidak perduli biar bude yang membawanya ke bidan, kamu memang anak yang tidak tau di untung,! Sudah di besarkan tapi malah jadi durhaka begitu, malu bude punya ponakan seperti kamu."
Aku hanya tersenyum miris menanggapi kekesalan bude, bagiku sudah biasa aku mendengar kata-kata yang tidak sehat seperti itu,
"baiklah bude nanti sore aku akan menemui pakde tolong tetaplah di rumah, karena aku perlu memastikan jika bude memang berkata jujur." ucap ku lalu mengakhiri panggilan.
Aku keluar dari kamar dan menemui mas tiyas yang berada di ruang tamu, bagaimanapun dia calon suamiku, jadi aku perlu membicarakan hal ini pada mas tiyas.
Setelah cukup lama aku terdiam di belakangnya, kuputuskan untuk duduk di sampingnya dan tetap menjaga jarak karena biar bagaimanapun kami belum menikah.
__ADS_1