
"hanya naik motor bu, maklum hanya itu yang kami punya," di lihat dari raut wajah mereka, sepertinya mereka mulai tidak nyaman dengan pertanyaan dari lastri.
"bu bagaimana? Siapa yang akan menyajikan makanan, ibu sendiri tidak mengijinkan Sulis untuk keluar." ku bisik istriku agar dia mau membiarkan sulis menyajikan minum atau makanan.
"ya sudah suruh dia cepet-cepet," istriku menjawab dengan wajah sedikit di tekuk.
"eh pak suruh nirma keluar, biar dia melihat calon mertuanya," lastri memanggilku ketika baru saja hendak berdiri.
"iya buk bapak akan panggilkan," ucapku seraya berjalan ke arah kamar nirma.
Baru saja hendak mengetuk pintu nirma sudah lebih dulu membukanya.
"ada apa pak?" tanya putriku nirma melihatku berdiri di depan kamarnya.
"itu nak! Ibu memanggilmu, bapak kedalam dulu sebentar," ku tinggalkan nirma tanpa menunggu jawaban darinya.
Di dapur ku hampiri ponakan ku yang sedang duduk di meja, sepertinya dia sudah menyiapkan segalanya.
"nak"
"eh pakde ada apa?"
"tolong bawakan minum dan beberapa kue kedepan ya, tapi agak cepat sedikit pakde takut kamu kena marah sama budemu di luar sana."
Dia tersenyum seraya menuangkan minuman delam gelas.
"tidak papa pakde, anggap saja bude sedang menasehati sulis,
Ku ikuti sulis di belakangnya dengan membawakan kue sementara sulis membawa minuman.
Ku letakan kue lebih dulu lalu di susul sulis di belakangku, satu persatu gelas dia taru di depan tamu, hingga gelas terakhir ingin di letakkan namun pergerakannya berhenti karena bu fatma.
"Siapa namamu nak?" tanya bu fatma tatapannya tak lepas dari sulis.
"sulis bu,! Maaf saya ke dalam dulu," jawab sulis Setelah mengatakan namanya dia segera masuk tanpa perduli tatapan bu fatma dan pak aksan.
"ayo bu pak silahkan di cicipi dulu kuenya sambil menunggu putra ibu datang," ucapku mencoba mencairkan suasana.
Saat asyik bercengkraman, terdengar suara angkotan umum berhenti di depan, aku berjalan ke arah pintu, benar saja itu tiyas dan adiknya turun dari angkot.
__ADS_1
Aku mengenalnya karena aku memang sempat bertemu, sementara nirma ataupun istriku hanya melihat tiyas lewat foto.
Kulihat tiyas duduk di kursi roda sebagaimana yang di katakan bu fatma jika tiyas itu lumpuh
Sebenarnya itu tidak masalah bagiku, selagi anak baik-baik, maka aku akan menerimanya dengan tangan terbuka, tapi aku tidak tau dengan pendapat anak dan istriku, semoga saja mereka tidak mencemoh kekurangan tiyas.
"Assalamu'alaikum" suara tiyas dan adiknya mengagetkanku, karena aku memang berdiri di depan pintu.
"Walaikumsalam" jawab orang-orang di dalam membuatku malu karena tidak mengucapkan salam.
"ayo masuk nak semuanya sudah menunggu, maaf tadi bapak melamun dan tidak melihat tamu sudah di depan mata," ucapku mempersilahkan mereka masuk.
"Iya tidak papa pak" jawabnya berjalan melewatiku
Baru saja mereka duduk istriku sudah melempar pertanyaan yang sedikit menohok pada mereka.
"nak tiyas ini kerja apa,?"
"saya lumpuh bu jadi saya tidak berkerja, untuk kebutuhan keluarga itu di tanggung adikku, dulu saya berkerja di kantor, tapi karena Kecelekaan saya terpaksa risain karena kondisi saya yang seperti ini."
"apa tidak bekerja? Lalu jika sudah menikah bagai mana dengan uang belanjaku" nirma yang sejak tadi terlihat malu, justru membuatku terkejut.
"kenapa pak,? Apa bapak akan tetap setuju jika nirma menikah dengan laki-laki miskin seperti dia," ucap lastri menunjuk ke arah tiyas tanpa perduli dengan orang tua mereka.
"bu selagi dia anak yang baik-baik maka bapak akan setuju."
"dan kamu nirma,! Lelaki seperti apa yang kamu cari? Apa laki-laki yang bisa memberi kemewahan namun tidak punya iman sama sekali,
"pak maaf atas kekurangan anak kami, kami juga tau diri jika putra kami tidak pantas untuk di jadikan menantu, tapi setidaknya jangan membuat kami malu, seluruh warga di kampung sudah tau jika anak kami akan menikah, jika di batalkan bagaimana dengan anak kami"
Ku hempaskan tubuh di atas sofa, benar yang di katakan bu fatma, mereka akan menanggung malu jika perjodohan ini di batalkan, bahkan orang-orang di sana tau siapa yang akan menikah dengan tiyas.
Ku usap wajahku dengan kasar dan beralih melihat putri dan istriku.
"kenapa bapak lihat ibu seperti itu"
"bu tolong jangan batalkan perjodohan ini, pikirkan juga nama baik keluarga mereka"
"tidak pak? Bagaimana bisa nirma mendapatkan suami seperti dia, sudah cacat miskin pula, hu..mau makan apa anak saya jika jadi istrinya"
__ADS_1
lastri semakin tidak bisa mengontrol ucapannya, aku beralih pada nirma putriku semoga saja dia tidak sepikiran dengan ibunya.
"nak?"
"tidak pak? Nirma juga tidak setuju menikah dengan dia, tak sudi aku hidup dengan laki-laki lumpuh seperti dia, yang ada nanti cuman nyusahin aku saja."
kulihat tiyas mendorong kursinya, sepertinya dia mau keluar.
"nak mau kemana?" tanyaku melihat dia terlihat tidak nyaman dengan perkataan nirma.
"maaf pak saya cukup tau diri, wanita mana yang mau menghabiskan waktunya bersama denganku, lihat keadaanku pak, saya bahkan tidak bisa meninggalkan kursi roda ini, jika aku menikah bagaimana aku menghidupi anak bapak."
Ku usap kepalanya, aku juga tidak tega melihat dia di rendahkan.
"tunggulah sebentar di sini, biar bapak bicara dulu dengan anak istri bapak, bu fatma dan pak akzan juga tolong tetap di sini,"
Ku pandangi sekali lagi anak dan istriku, sepertinya mereka memang tidak mau meneruskan perjodohan ini.
"bu, nirma, apa kalian benar-benar tidak ingin meneruskan perjodohan ini" tanyaku pada mereka.
"menurut bapak bagaimana,? bukankah tadi ibu dan nirma sudah menjelaskan penolakan pada mereka,"
Ku hirup nafas dalam-dalam lalu ku hembuskan kembali.
"atau suruh aja tuh ponakan bapak yang gantiin nirma, aku yakin dia tidak akan menolak permintaan bapak"
"bagaimana bisa kamu melakukan itu pada kakak sepupumu," ucapku tidak terima jika sulis harus menggantikan nirma.
Dia pasti akan lebih sedih jika aku memintanya menutup nama baikku.
"benar tuh kata nirma pak,? Suruh sulis saja yang menggantikan nirma sebagai pengantin wanitanya, jika dia menolak bapak pasti akan malukan, jadi sebaiknya bapak bicara padanya dan biarkan dia menikah sama tiyas."
Ya allah apa lagi ini, haruskah aku melakukan ini.
Dengan berat hati ku tanya lebih dulu dengan pihak laki-laki apakah dia setuju jika mempelai wanitanya di gantikan oleh sulis, anak gadisku yang paling aku jaga
Bagiku dia bukan hanya ponakan ku, tapi dia sudah seperti anakku sendiri.
"bagaimana pak? putri saya nirma menolak untuk menikah dengan tiyas dan saya sebagai orang tua meminta maaf akan hal itu, tapi jika bapak dan ibu serta nak tiyas setuju, saya akan meminta ponakan saya untuk menggantikan putri saya"
__ADS_1