Bertemu Untuk Cinta

Bertemu Untuk Cinta
BAB. 21 Bertengakar


__ADS_3

"biar aku saja yang mencucinya" ucap Cesya sedikit memaksa saat Renal kini menyalakan keran d wastafel untuk mencuci piring kotor mereka berdua.


"sudahlah, kau duduk saja" timpal Renal sedikit mendorong tubuh Cesya ke samping, membuat Cesya merengut tidak enak hati, terlebih saat Renal menyingsingkan lengan bajunya, terlihat perban di lengan kiri Renal, dimana Cesya masih merasa bersalah karena memukul Renal hingga mengakibatkan luka lebam yang cukup parah.


"apa tanganmu baik-baik saja? " tanya Cesya yang kini dengan leluasa menggunakan bahasa santai pada Renal.


Renal melihat dan menggerakkan lengan kirinya lalu mengangguk.


"yah, udah lumayan" jawab Renal yang kembali sibuk membersihkan piring kotor, Cesya yang merasa tak ada lagi topik pembicaraan dengan gerakan kaku ia pun menjauh dari renal walaupun ia sesekali berharap Renal memanggilnya untuk melakukan sesuatu biar perasaannya lebih baik.


Tapi sayangnya sampai Cesya duduk di ruang tengah pun Renal tetap sibuk di dapur, Cesya sesekali mengintip kalau ada hal yang bisa ia bantu kerjakan, tapi Renal begitu teliti hingga sisa bumbu dan yang lain-lain pun ia rapikan seperti semula.


Hari itu Cesya merasa sangat canggung dimana ini pertama kalinya ia tinggal bersama dengan orang asing terlebih orang asing ini memiliki sebuah masalah percintaan yang sangat buruk, Cesya sangat takut ia salah-salah bicara dan membuat pria di hadapannya itu merasa terpuruk—begitulah pikir Cesya sambil membayangkan tokoh karakter protagonis pria di telenovela kemarin yang ia tonton.


Renal setelah selesai membersihkan dapur, ia sekilas menatap kearah Cesya lalu berjalan menuju tangga untuk naik menuju kamarnya.


"tunggu! untuk siang ini apa kau mau makan sesuatu? " tanya Cesya, membuat Renal berhenti dan menoleh ke arah Cesya bingung.


"apa kakakmu menugaskan mu untuk memasakan makanan untukku? " tanya Renal dengan tatapan penuh tanda tanya.


Cesya melambaikan tangannya seperti menepis pertanyaan Renal itu.


"gak, kak Aditya gak  bilang begitu, hanya saja gak enak rasanya, kalau aku memasak hanya untuk diriku sendiri" Jelas Cesya, Renal pun mengangguk mengerti.


"aku tidak makan siang, aku ingin tidur saja, kau jangan khawatir, aku bisa masak sendiri kalau lapar" ucap Renal seraya kembali melangkah ke lantai atas ke kamarnya.


Cesya pun manggut-manggut mengerti dan kembali menikmati acara tv yang lagi menayangkan acara kuis yang membosankan.

__ADS_1


Langit di luar sangat cerah membuat Cesya pun tertarik untuk menikmati suasana kota London yang padat. ia melangkah keluar ke balkon ruang tengah dimana balkonnya tersambung dengan balkon kamarnya yang berada di lantai yang sama.


Cesya menebarkan pandangannya dan tatapannya pun kemudian terarah ke pinggir balkonnya, terlihat sebuah balon tersangkut di pagar balkon.


"hey, nona! apa anda bisa mengambilkan balon saya" teriak seorang anak kecil yang merupakan tetangga Cesya yang berada di lantai bawah, membuat Cesya melongok kebawah melihat anak kecil berambut pirang dengan mata kelabu dengan wajah sedih.


"ini punyamu" teriak Cesya saat menghampiri balon yang sedang tersangkut di pagar balkonnya.


"iya" teriak anak kecil itu.


Tapi tiba-tiba saja angin bertiup kencang sehingga balon yang hampir lepas lilitan dari pagar itu hampir terbang membuat Cesya Reflek mencondongkan tubuhnya keluar balkon hampir terjatuh.


Untungnya tangan seseorang melingkar di pinggang Cesya menahan Cesya untuk tidak jatuh dan membuat Cesya bisa menggapai balon yang hampir terbang itu.


"Kau gila" teriak Renal tak habis pikir baru saja ia meninggalkan adik temannya itu, tiba-tiba saja gadis itu hampir terjun bebas dari lantai 7.


"tak sampai 10 menit aku meninggalkanmu, kau hampir saja jatuh dari balkon" marah Renal tanpa memberi kesempatan Cesya untuk berbicara, Cesya pun merasa bersalah dan juga merasa dia melakukan hal itu karena reflek.


Renal kini beralih melihat kearah balon yang di pegang oleh Cesya.


"apa kau anak kecil" ucap Renal sengit dengan tatapan merendahkan pada Cesya, Cesya merasa terpojok dengan perkataan Renal, langsung menghentakkan kakinya.


"ini bukan punyaku, anak yang di sana meminta bantuanku untuk mengambilnya" timpal Cesya membela diri. Renal pun melongok kearah anak kecil yang tampaknya ikut panik saat Cesya hampir jatuh tadi dan berteriak.


"nona, apa anda baik-baik saja" teriak anak itu dari bawah.


"iya aku baik-baik saja, aku akan mengantar balon ini padamu"  seru Cesya berlalu begitu saja dari hadapan Renal dengan raut wajah jengkel.

__ADS_1


Renal memutar matanya sambil menghela nafas panjang, tapi dengan cepat ia mengikuti langkah Cesya dari belakang menuju ke lantai bawah dimana anak kecil tadi sudah menunggu di depan pintu bersama ibunya.


"ini balonmu" ucap Cesya seraya menyodorkan tali balon ke anak tetangganya itu. yang langsung di sambut tangan kecil si anak dengan wajah gembira.


"terima kasih" ucap anak kecil itu.


"oh ya ampun, maaf kan anakku, aku sudah memberitahunya untuk jangan main di balkon tapi dia tetap saja sulit di kasih tahu. terima kasih banyak, anakku sudah merepotkan kalian" ucap ibu anak itu tampak memelas karena merasa bersalah.


"lebih baik anda mengunci pintu balkonnya, karena jangan sampai lalai seperti saya yang hampir saja membuat adik saya ini hampir jatuh dari balkon" ucap Renal, yang membuat Cesya mendelik marah kearahnya.


"oh, anda hampir jatuh nona, ya ampun... maafkan saya, saya akan lebih hati-hati" ucap ibu itu dan setelah berbincang-bincang sebentar sampai si ibu itu menutup pintu apartemen nya dengan cepat Cesya menatap Renal marah.


"apa harus berbicara seperti itu?! " tanya Cesya dengan raut wajah kesal kearah Renal yang kini berbalik badan berjalan dengan santai menuju lift.


"iya sebagai pembelajaran" jawab Renal acuh tak acuh kemudian menaiki lift di ikuti Cesya sambil melipat tangannya tidak suka.


untungnya tak butuh waktu lama untuk kembali kelantai atas, saat dalam apartemen Renal dengan cepat berjalan kearah pintu balkon dan menguncinya membuat Cesya melongo dengan tingkah teman kakaknya itu.


"aku ingin tidur, jangan melakukan sesuatu yang bahaya lagi" ingat Renal seraya berlalu dihadapan Cesya.


Cesya seperti di anggap seperti anak kecil pun hanya bisa mencibir melihat tingkah Renal.


Saat Renal kembali masuk ke kamar, Cesya dengan jengkel juga kembali ke kamarnya, Cesya meraih ponselnya di atas ranjang dengan cepat membuka catatan yang ada tulisan tangan Renal.


Cesya langsung menghapus gambar love yang ia buat sebelumnya dengan kesal.


"ternyata dia orang yang menyebalkan" gerutu Cesya kesal dimana bayang-bayang tatapan Renal yang menyakiti harga dirinya itu terus terbayang.

__ADS_1


Bersambung… 


__ADS_2