Bertemu Untuk Cinta

Bertemu Untuk Cinta
BAB. 22 Perang Dingin I


__ADS_3

Beberapa hari Cesya dan Renal tak saling tegur sapa, Renal tampak tak begitu peduli karena ia terlalu sibuk untuk mengurus hal-hal seperti itu. berbanding terbalik dengan Cesya yang merasa bersalah dan juga ada harga diri yang ia pertahankan.


Mereka kadang hanya saling menatap tapi sedetik kemudian mereka saling membuang muka.


Sampai tiba hari dimana Cesya merasa bosan di apartemen, ia pun melihat di instagram sebuah acara kapal wisata menyajikan suasana malam kota London dan juga pesta kembang api.


Cesya pun dengan penuh minat membuka postingan itu dan mendaftar sebagai peserta acara, ia memilih sabtu malam untuk acara itu, dimana acara akan dimulai besok malam.


Saat Cesya sedang sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba saja Renal berlalu dihadapannya.


"aku akan pergi, mungkin besok aku akan pulang sore" ucap Renal, karena tak ada balasan dari Cesya, Renal yang penasaran pun menatap Cesya yang kini sibuk dengan ponsel sampai tidak menghiraukan keberadaannya.


Renal memutar bola matanya tak peduli lalu bergegas keluar dari apartemen. saat pintu apartemen sudah tertutup akhirnya Cesya menatap kearah pintu sambil mencibir.


"pergi aja sana, huh!" bisik Cesya kesal.


Setelah ia mendaftar, di lempar ponselnya ke samping sambil kembali menggonti-ganti siaran tv.


Sedangkan di rumah sakit dimana Renal baru saja masuk kedalam ruangan dokter dan memakai kacamatanya. seperti hantu Addy datang tanpa suara membuat Renal kaget.


"apa?! " tanya Renal tampak ngeri melihat keberadaan temannya itu yang secara tiba-tiba.


"beberapa hari ini raut wajahmu tampak aneh, apa ada sesuatu yang terjadi? " tanya Addy, seraya duduk di kursi pengunjung di depan meja kerja Renal. Renal kali ini memakai jas dokternya lalu duduk di kursi kerja tampak menimbang-nimbang sesuatu.


"menurutmu bagaimana cara mengatasi anak gadis yang sedang marah" jawab Renal, Addy yang mendengar ucapan Renal seperti ada yang salah dengan pendengarannya.


"kau pasti bercanda" ujar Addy sambil tertawa pelan, tapi tiba-tiba tawanya itu menghilang saat melihat raut wajah Renal yang masih serius.


"berapa umurnya? " tanya Addy lagi untuk memastikan solusi yang bagus untuk temannya itu.

__ADS_1


"gadis baru lulus sekolah dan mau masuk ke perguruan tinggi" ucap Renal yang tak tahu akan umur Cesya yang merupakan gadis yang ia maksud dan hanya bisa menerka-nerka dari pendidikan Cesya.


Addy tampak berpikir serius.


"apa dia kerabatmu? " tanya Addy lagi, Renal tampak ragu menganggukkan kepalanya.


"kalau begitu beri saja dia hadiah" ucap Addy.


Renal menegakkan duduknya dan menatap serius ke Addy.


"hadiah seperti apa? " tanya Renal, Addy berpikir sejenak tapi sebelum ia mengeluarkan idenya tiba-tiba saja pintu ruangan Renal terbuka dan masuklah dokter Ellen dengan senyum sumringah terukir di bibirnya.


"oh! dokter Addy juga ada di sini" ucap Ellen, Addy pun hanya cengar-cengir tetap duduk di ruangan itu, menanti ada adegan apa lagi yang akan ia lihat kali ini, tanpa mengingat pembicaraan sebelumnya dengan Renal. saat Addy cengar cengir seketika tak ada satupun yang berbicara membuat suasana jadi sepi, Addy pun tersadar bahwa keberadaan nya menganggu dengan cepat berdiri.


"aku baru ingat, ada kerjaan yang harus aku kerjakan, aku pergi dulu" ucap Addy bergegas keluar, sedangkan Renal kehilangan kata-katanya saat Addy sudah menghilang di balik pintu.


Kini Renal menatap Ellen yang sedang tersenyum manis padanya.


Hari itu berlalu begitu saja terlebih Renal tak habis-habisnya bertemu dengan Ellen yang selalu mengingatkannya tentang acara kembang api besok malam. membuat Renal kini berbaring malas di ranjang ruang dokter menginap.


"apa anda tak sabar menunggu besok? " tanya Jonny yang ternyata sedang bermalas-malasan di ruangan yang sama.


"apa Addy yang memberitahu mu? " tanya Renal yang kini menutup sebagain wajah dengan lengan kanannya.


"semua orang di rumah sakit mengetahuinya" jawab Jonny, mendengar itu Renal menghela nafas berat karena kabarnya dengan dokter Ellen pasti sudah sampai ke telinga para atasannya.


Renal berharap besok ia menghilang saja, sebelum tersebar lebih banyak gosip tentangnya bersama dokter Ellen.


Dokter Ellen bukanlah orang jahat hanya saja statusnya yang merupakan anak dari pimpinan rumah sakit membuat Renal tidak begitu suka, karena membuatnya harus tampak menonjol antara dokter lain, bahkan dokter Richard memaksanya untuk cepat mengambil program profesi supaya bisa bersaing dengan dokter muda lainnya dan bisa bersanding dengan Ellen.

__ADS_1


Keesokan harinya dimalam acara kembang api berlangsung menggunakan kapal wisata sungai Thames.


Renal baru pulang ke apartemen pukul 5 sore, ia tebarkan pandangannya mencari batang hidung Cesya di ruang tengah maupun dapur, tapi karena sedang terburu-buru, Renal bergegas membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk pergi dan di tinggalkannya sebuah catatan untuk Cesya.


Sedangkan Cesya di kamar sedang menghamburkan pakaiannya di ranjang, memilih-milih pakaian apa yang akan ia gunakan malam itu. dari luar ia mendengar suara Renal masuk apartemen dan tampak sedang terburu-buru, Cesya yang masa bodoh dengan keberadaan Renal tetap sibuk dengan kegiatannya dan pakaiannya pun jatuh pada pilihan.



by. pinterest


Pakaian sweater berwarna cream, mantel sepanjang lutut warna serasi dengan sweater, rok span motif kotak-kotak, topi bared yang senada dengan baju sweater nya dan sepatu bot hitam. untuk sentuhan terakhir Cesya menggunakan make up tipis yang membuatnya menjadi lebih dewasa.


Tak lama Cesya selesai berdandan, terdengar lagi suara pintu tertutup, membuat Cesya bingung, kali ini ia keluar dan mengintip-intip apakah Renal masih di dalam apartemen, ia berjalan menuju pintu luar tapi langkahnya terhenti ketika sebuah catatan di meja makan.


"aku akan pulang malam, pastikan kau mengunci pintunya"


Cesya yang melihat catatan itu hanya mendengus tak peduli, ia kembali ke kamarnya seraya merapikan lagi pakaian yang ada di atas kasur.


Dengan teliti kali ini Cesya memastikan ponsel, dompet dan barang-barang penting lainnya sudah ia masukan kedalam tas kecil yang akan ia bawa.


Setelah dirasanya sudah tak ada yang ketinggalan ia pun pergi dan mengunci pintu.


Saat ia sedang menunggu di depan pintu lift, dari ujung ekor matanya ia merasa pintu tangga darurat tampak ada seseorang mengintipnya, tapi saat ia menatap kearah pintu itu untuk menegaskan pandangannya ternyata pintu itu sedang tertutup rapat.


Cesya mengangkat bahunya tak peduli, mungkin saja penglihatannya salah, seraya masuk kedalam lift dan turun ke lantai bawah.


Saat diluar gedung apartemen ternyata hari sudah mulai gelap, sedangkan kapal akan berangkat mulai dari jam 7 malam, Cesya berencana untuk makan malam sebelum pergi ketempat acara.


Pada malam itu tampak ramai orang berlalu lalang yang juga sedang menikmati beberapa festival yang masih berlangsung.

__ADS_1


Sesekali ia menoleh ke belakang merasa ada seseorang sedang mengawasinya, tapi Cesya menganggap mungkin itu hanya perasaan paranoid nya saat kejadian tempo hari ia di ikuti oleh seseorang.


Bersambung...


__ADS_2