Bertemu Untuk Cinta

Bertemu Untuk Cinta
BAB. 29 Datang Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Cesya memeluk bekal yang ia bawa sambil menatap keluar taksi dimana sekilas ia kembali ke masa lalunya, di jalanan yang sama ia pergi ke Rumah Sakit yang telah didirikan oleh Yayasan ayahnya. 


Rumah Sakit yang didirikan untuk kepentingan masyarakat yang membutuhkan serta ikatan para dokter yang mumpuni dan berbakat berkerja sama untuk tujuan yang mulia. Sampai membuat ayahnya di beri gelar kehormatan oleh keluarga kerajaan sebagai 'The Order of Companions Honour', —tapi keluarga Brown tetaplah keluarga Brown yang tak terlalu tertarik dengan kemewaahan, hampir seluruh uang hasil pendapatan rumah sakit yang masuk ke kantong ayahnya itu di sumbangkan ke badan amal kesehatan.


Di abad ke-21 ini, gelar dari kerjaan hanyalah sebagai formalitas hubungan antara pengusaha dengan pihak kerajaan dan hal itu cukup di banggakan secara pribadi, bahkan sekarang ayahnya yang merupakan ketua Yayasan lebih memilih untuk merawat kakeknya Cesya di Manchester.


Entah berapa lama Cesya melamun sampai suara supir taksi menggunakan aksen becek khas warga London, membuat Cesya tersadar kini ia sudah sampai di Rumah Sakit, ia bergegas membayar taksi lalu keluar. 


Cesya menghela nafas menghirup udara yang penuh kenangan di Rumah Sakit itu, ia melihat ke sekitar rumah sakit memperhatikan hanya sedikit perubahan yang ada.


Beberapa menit sebelum Cesya datang ke rumah sakit tampak Renal sedang berkutat dengan beberapa lembar data pasien yang akan melakukan rawat jalan. 


Pada kertas terakhir yang ia tandatangani, dengan cepat ia merapikan kertas itu dan membawanya ke pusat perawat. 


Saat ia bejalan menuju pusat perawat dari jauh Renal ia melihat beberapa suster yang saling dorong sampai ia berhenti di depan para suster yang kini sedang cengar-cengir.


"Dokter Renal itu—" ucap para suster tergantung saat Renal meletak tumpukan kertas di meja dalam pusat perawat.


"Dokter, bagaimana kalau anda mentraktir kami? " Ujar Jonny yang melongok di antara para suster itu. 


Renal yang mendengar itu mengangkat alisnya bingung menatap Jonny yang sekarang mulai mendekatinya. 


"Hari ini 5 pasien sudah pulang, bukankah harus kita rayakan" Ucap Jonny sambil menoleh meminta persetujuan dengan suster lain yang langsung mengangguk dengan semangat. 


Renal tersenyum dan mengangguk mengerti. 


"Kalau begitu pesanlah, aku akan membayarnya" Ucap Renal yang seketika membuat semua perawat mengepal tangan di depan mulut mereka yang menganga tak percaya. 


"Anda serius? " Tanya Jonny yang langsung menegakkan badannya dengan semangat. 


Renal hanya mengangguk, Jonny yang dijuluki Raja sosmed itu pun langsung dengan cekatan mengetuk ponselnya membuka sebuah aplikasi Restoran cepat saji dan menunjukkannya pada Renal.


Renal melihat itu mengangguk dengan senyum tipis, yang langsung membuat Jonny berseru kegirangan. 


"Burger King" Teriak Jonny yang langsung disambut bahagia suster dan perawat pria lain. 


Renal melihat itu terpana, kagum akan kekompakan orang-orang yang akan membuatnya bangkrut itu. 


Para suster dan perawat pun seperti sudah biasa mereka satu persatu bersahutan menyebutkan makanan yang akan mereka pesan. 


"Katakan padaku kalau kalian ingin membayar" Ucap Renal seraya berlalu menuju ke ruangan dokternya, yang disambut anggukan semangat dari Jonny. 

__ADS_1


Renal berlalu kembali menuju ruang dokternya, setelah menutup pintu dengan malas Renal memegangi lehernya yang sakit karena terlalu lama menunduk. 


Tapi sebuah nada pesan membuatnya menoleh ke arah ponsel yang kini tergeletak diatas meja kerja. 


Dengan cepat diraihnya ponsel itu dan mengetuk untuk melihat pesan siapa yang masuk, Renal mengernyitkan keningnya bingung dengan pesan yang ternyata dikirim oleh Aditya. 


'Barangmu akan segera datang, jangan buat adikku menunggu'


"Barang apa? " Gumam Renal sambil mengangkat bahunya tak tahu, ia pun duduk di kursi kerjanya sambil menatap ke layar komputer. 


Entah berapa lama Renal sibuk mengetik sesuatu di komputernya, tiba-tiba Jonny masuk ke dalam ruangan dengan senyum sumringah. 


Renal merogoh saku celananya untuk memberikan beberapa uang kepada Jonny, tapi Renal kembali teringat dengan pesan yang dikirim oleh Aditya. 


"Biar aku yang langsung bayar, dimana kurirnya" Tanya Renal yang disambut senang oleh Jonny. 


"Ada di Lobby" Seru Jonny, Renal pun keluar sambil membawa ponselnya dengan raut wajah menerka-nerka apa yang dimaksud Aditya.


Renal menuruni eskalator dan berjalan menuju ke Lobby rumah sakit dimana dari jauh ia sudah melihat kurir yang sedang menaruh 2 kantong plastik besar yang merupakan pesanan dari para bawahannya itu. 


"Berapa? " Tanya Renal kepada kurir yang mengantar makanan. 


"Selamat menikmati" Ucap kurir itu seraya berlalu, yang disambut anggukan dari Renal. 


Saat Renal ingin mengambil dua kantong di atas meja lobby, tiba-tiba dari sampingnya terdengar. 


"Permisi, saya ingin bertemu dengan dokter Renal" Ucap seorang gadis yang sekarang mencondongkan tubuhnya ke depan menatap kearah staff wanita yang berdiri di belakang meja lobby. 


"Beliau dokter Renal" Ucap staff itu ke arah Renal yang masih terpaku namanya disebut. 


Perlahan Renal dan gadis yang tak lain adalah Cesya itu saling bertatapan. 


Cesya yang menyadari kebetulan itu pun langsung membuatnya menoleh dengan senang, berbanding terbalik dengan Renal yang sekarang menatapnya bingung. 


"Apa yang kau lakukan disini? " Tanya Renal bingung dengan keberadaan Cesya di tempat kerjanya. 


Cesya mengangkat sebuah tas bekal ke depan Renal. 


"Aku membawakan bekal" Ucap Cesya dengan senyum sumringah, melihat itu dua staff yang masih berdiri di belakang meja lobby pun tampak tertarik dengan percakapan dua orang di depan mereka. 


"Untukku, kenapa? " Tanya Renal penasaran menatap Cesya penuh curiga. 

__ADS_1


Cesya menatap ke arah kedua staff yang sedang memperhatikan mereka yang disambut dengan senyum ramah dari para staff. 


Dengan ragu Cesya menatap ke arah Renal dan membasahi bibirnya yang mulai terasa kering karena gugup. 


"Untuk memastikan hubungan kita" Ucap Cesya setelah mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat tersebut. 


Seketika staff pria yang sedang menyeruput kopinya tiba-tiba tersedak membuat Renal dan Cesya menatap staff yang kini melambaikan tangannya mengisyaratkan untuk tidak menghiraukannya. 


Renal kembali menatap Cesya dengan lelah mengusap pelipis matanya, sepertinya Cesya kesambet sesuatu sampai mengucapkan hal yang aneh. 


"Kalau begitu serahkan itu dan pulanglah" Ucap Renal seraya mau mengambil bekal yang dibawa Cesya. 


Tapi dengan cepat Cesya mundur dan memeluk bekal itu dan beri isyarat untuk mengajak dirinya ke ruangan dokter Renal. 


Renal menggelengkan kepalanya dan kini melangkah ke depan tapi Cesya masih bersikeras, tidak memberikan bekal itu pada Renal


"Kalau kau tidak mau berikan itu, maka pulanglah" Marah Renal berbalik. 


"Apa kau kemarin masuk ke kamarku? " Tanya Cesya yang seketika membuat kedua staff memasang wajah terkejut. 


Renal langsung berbalik tidak percaya dengan anak gadis baru lulus sekolah menengah atas itu mengatakan hal secara random membuat keadaan semakin ambigu. 


"Apa yang kau katakan? " Bisik Renal sambil melirik ke arah staff yang tampaknya sudah salah paham dengan ucapan Cesya. 


"Kalau begitu ajak aku ke ruang doktermu, ayo kita berbicara" Ucap Cesya makin berani, membuat Renal kehabisan kata-katanya dengan tingkah Cesya. 


Renal menatap ke arah dua orang staff yang sekarang berpura-pura menyibukkan diri mereka. 


Renal memejamkan matanya sesaat sambil menghela nafas pelan. 


"Ayo" Bisik Renal menyerah, Cesya pun dengan senyum yang mengembang sempurna menunjukkan wajah manisnya membuat siapapun bisa tahu isi hatinya yang sedang bahagia. 


Sambil tersenyum dan kini mengikuti Renal yang tak berdaya berjalan di depannya sambil membawa 2 kantong plastik makanan. 


Cesya layaknya sedang bernostalgia menatap sekitar rumah sakit tanpa mengindahkan wajah masam Renal di depannya. 


Saat menaiki eskalator menuju ke atas, di seberang eskalator yang turun tampak sosok Ellen sedang membawa sekantong Tote bag yang berisi mantel Renal, yang dipakainya saat berkencan dengan Ellen tempo hari. 


Ellen lagi-lagi melihat pemandangan yang tak ingin ia lihat, terlebih belum selesai pikirannya menjadi kalut saat gosip Renal yang membawa Alat Kontrasepsi, sekarang gadis yang menjadi objek kekhawatirannya itu datang ke rumah sakit secara terang-terangan bersama Renal. 


Bersambung… 

__ADS_1


__ADS_2