Bertemu Untuk Cinta

Bertemu Untuk Cinta
BAB. 37 Urat Saraf


__ADS_3

Malam harinya—dimana Renal sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit, ia menuruni tangga dan melihat Cesya baru saja keluar dari arah dapur, karena suara derap kaki Renal yang mengganggu membuat Cesya menoleh. 


"Mau kemana? " Tanyanya, Renal melihat Cesya sekilas dan langsung berbelok ke arah pintu depan memasang sepatunya. 


"Aku kerja di shift malam, pastikan kau mengunci ganda pintunya" Ucap Renal seraya berlalu dan menghilang di balik pintu dengan cepat, membuat Cesya melongo. Yah— Cesya sekarang sudah terbiasa dengan sifat teman kakaknya itu, yang semaunya sendiri. Tapi tak mau ambil pusing ia pun melangkah menuju pintu untuk mengunci, belum sempat tangannya memegang gagang pintu, tiba-tiba pintu kembali terbuka membuat Cesya kaget mendapati Renal yang sama kagetnya dengan dirinya. 


"Ponselku ketinggalan" Ucap Renal seraya berlalu melewati Cesya dan kembali naik ke lantai atas menuju kamarnya, tak berselang lama sosok Renal kembali dengan setengah berlari keluar apartemen. 


"Pastikan kunci pintunya" Pesannya saat berlalu di hadapan Cesya yang sedari tadi masih menunggu di ambang pintu. Cesya mengangguk mengerti seraya kali ini ia benar-benar memastikan Renal sudah masuk ke dalam lift sehingga ia bisa menutup pintu dan menguncinya. 


Lagi-lagi aku terjebak sendirian di dalam apartemen ini—pikir Cesya seraya dengan gontai mematikan lampu ruang tengah dan berjalan menuju kamarnya. 


Bosan! Yah itulah perasaan yang menyelimuti Cesya gadis berumur 18 tahun yang masih mengalami masa aktif dengan gairah mudanya, kini hanya bisa menghabiskan waktu di apartemen yang besar, mewah dan sepi itu. 


Sesekali ia menatap ponsel berharap ada keajaiban seseorang menghubunginya untuk menghilangkan rasa sepi. Tapi nihil dia sudah tak memiliki pertemanan dengan teman-temannya di indonesia karena sebagiannya sudah sibuk meniti karir dan juga melanjutkan pendidikan seperti dirinya. 


Kini Cesya berharap hari hasil ujian tes segera datang. 


Sedangkan di rumah sakit, Renal baru saja mengganti mantelnya dengan jas dokter. 


"Ada apa dengan kepala anda dokter? " Tanya salah satu dokter magang perempuan didikan Renal bernama Clara, gadis mata kelabu berambut jingga kemerahan dengan sedikit bintik di pipinya. 


"Apa anda mengalami kecelakaan? " Tanya dokter magang lainnya yang bernama Eric pria jangkung dengan paras ramah berambut pirang, matanya yang cekung berwarna kuning sedang menatap Renal kaget. 


Renal menyentuh plester di kepalanya kembali teringat kejadian menyakitkan pada siang hari itu dengan raut wajah yang sulit dijelaskan, ia melambaikan tangannya menjelaskan kalau dia tidak apa-apa. 


"Hanya kecelakaan kecil" Ucapnya seraya menoleh ke para 3 dokter magang yang akan bekerja sama dengannya 6 bulan kedepan. 

__ADS_1


Dokter magang ketiga bernama Dixon dia pria kekar, bertubuh jangkung tapi memiliki sentuhan halus setiap kali ia menangani pasien, membuat Renal yakin masa depan pria muda itu di kancah profesi kedokteran sangatlah cerah. 


Baru saja mereka ingin keluar ruangan dokter tiba-tiba terdengar suara keributan di ruang UGD membuat Renal dan ketiga dokter magang yang sudah terdidik ketat oleh Dr. Barnett itu layaknya sudah tahu akan kondisi di luar dengan cepat bergerak ke setiap ranjang pasien yang didorong oleh para perawat. 


"Bawa kesini" Seru Carla dengan cekatan ikut menarik ranjang pasien, dimana seorang pasien dengan penuh luka sedang terbaring lemas. 


Dan juga beberapa pasien lainnya di tangani oleh Eric dan Dixon, Renal mendatangi pasien yang dalam kondisi kritis dimana sebelumnya seorang perawat mendatanginya memberi laporan kondisi sang pasien kecelakaan yang susah bernafas dan ada lebam di bagian dadanya yang mengakibatkan Tamponade jantung, Renal dengan cepat melakukan metode Pericardiocentesis (punkis perikardium) yaitu prosedur untuk mengeluarkan cairan atau darah dari rongga Perikardium dibantu oleh para perawat yang memasangkan alat tabung oksigen serta infusan dan lain-lain. 


Hari pertama Renal di UGD sangat penuh sesak dengan segala kemalangan orang yang sakit, tak jarang suara tangis memenuhi ruang UGD. 


Setelah melewati malam yang panjang Renal naik ke rooftop rumah sakit dimana pasien sudah ditangani dengan baik oleh para dokter magang yang cekatan dan ahli itu, jelas ketiga anak magang itu punya karir yang cerah—pikir Renal seraya menatap mata hari yang mulai terbit di pelupuk timur dimana embun tipis turun di kota London di musim semi yang tak terlalu dingin. 


"Hey"  Seru seseorang yang Renal kenal, Addy teman sejawatnya yang tampak memiliki cekungan di matanya berjalan ke arahnya. 


"Bagaimana hari pertamamu kembali ke UGD? " Tanya Addy mendekat kearah Renal yang kini menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas gedung besar rumah sakit itu. 


"Kau mau? " Ucap Addy seraya menyodorkan sekotak rokok ke arah Renal, ia berpikir sejenak sebelum akhirnya mengambil sebatang rokok dan membakar ujung puntung rokoknya menggunakan pemantik Addy. 


Addy tersenyum sekilas, melihat kawannya itu yang lama telah meninggalkan rokok, sekarang tampak ada sesuatu yang mengganggu ketenangannya, ia menghisap puntung rokoknya dalam dan melepaskan semburan asap menggumpal ke udara. Jelas Renal tidak baik-baik saja sekarang. 


"Apa tindakanmu selanjutnya? " Tanya Addy yang tahu kalau temannya itu sebenarnya sangat kesal harus kembali bekerja di ruang UGD. 


"Entahlah" Ucap Renal menerawang jauh ke langit yang semakin cerah. 


"Aku tidak punya apa-apa, aku akan menikmatinya saja" Tambahnya, sambil menjentikkan abu rokoknya. 


"Malang sekali" Desis Addy, membuat Renal tersenyum kecut. 

__ADS_1


"Kau cepat cari pasangan"


"Kenapa tiba-tiba kau membahas pasangan" Kilah Renal yang tak terima dengan pembicaraan random temannya itu. 


"Itu karena aku kasihan padamu, baru-baru ini Jonny sedang berpacaran, hampir setiap hari aku muak melihatnya tersenyum, mungkin dengan berpacaran kau bisa meringankan saraf tegang mu" Ucap Addy entah bertujuan memberi solusi atau mengejek Renal. Renal hanya memutar matanya seraya mematikan rokok di atas bak sampah besi yang tersedia di taman rooftop.


"Kau sangat membantu" Ucap Renal. 


Addy terkekeh sejenak dan entah pikiran jahil apa yang terbesit di otaknya ia menatap Renal dengan penuh arti. 


"Minggu nanti ayo kita ke club" Ucap Addy yang seketika membuat Renal terbatuk karena terhirup asap rokok Addy yang mengepul. 


"Kau gila, aku lebih baik istirahat, daripada berbaur dengan banyak orang" Ucap Rena. 


"Kau tak akan menyesal, cukup 10 menit setelah itu kau bisa pulang" Ucap Addy berusaha membujuk temannya yang keras kepala itu. 


Renal tampak berpikir sejenak, kalau di pikir-pikir ide Addy juga tak buruk, terlebih melepas lelah di tempat ramai bukankah lebih baik dari pada membekam di kamar di akhir pekan. 


"Baiklah cukup 10 menit kan" Ucap Renal yang disambut anggukan senang dari Addy. 


Hari-haripun berlalu sampai di hari minggu malam, dimana Cesya sedang menyiapkan mentalnya untuk hari esok dimana pengumuman hasil tes akan muncul di situs kampus. Akhir-akhir ini Cesya gemar berolahraga ringan saat mengetahui tubuhnya semakin lemah, sebagai calon mahasiswa sangat tidak etis muncul dengan keadaan tidak sehat. 


Saat Cesya memulai gerakan yoga sambil menatap keluar balkon dimana cahaya kota london pada malam hari menyeruak masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba nada dering ponsel memecahkan konsentrasinya. 


Dengan kesal Cesya meraih ponsel di sampingnya dan menatap nama Renal yang sedang menelpon. 


Bersambung… 

__ADS_1


__ADS_2