
Cesya menyadari ciuman yang dilakukan Renal secara mendadak, langsung mendorong Renal hingga ia terjatuh tersungkur ke belakang, karena kondisi Renal yang mabuk jadi ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan" pekik Cesya marah dengan perbuatan Renal barusan.
Renal berusaha bangkit dan duduk menatap Cesya, beberapa orang memandangi mereka sesaat, walaupun akhirnya para pejalan kaki itu memilih untuk tidak menghiraukan pertengkaran antara pasangan itu—pikir mereka.
"Apa kau Hulk? " tanya Renal.
Bukannya membalas pertanyaan Renal, Cesya malah melepas tas kecilnya dan memukulkannya ke arah Renal yang berusaha menepis dengan satu tangan.
"Iya, kalau aku Hulk sudah ku lempar kau ke sungai' gerutu Cesya, Renal mendengar itu seketika terkekeh kecil membuat Cesya semakin kesal.
" Apa kau sadar, apa yang kau lakukan? " tanya Cesya, Renal yang masih terduduk mendongakkan kepalanya menatap Cesya dan menggelengkan kepalanya begitu saja, membuat Cesya berdecih sambil menyibak rambutnya.
'Apa dia punya kebiasan mabuk mencium orang sembarangan' pikir Cesya.
Melihat Renal yang kini tampak masih mabuk.
Cesya tak mau ambil pusing, ia dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menemukan taksi online, supaya dia bisa dengan cepat membawa Renal pulang.
***
Sedangkan sebelumnya, jam baru menunjukkan pukul 8 malam itu, dimana Renal melihat Cesya sedang melakukan peregangan di ruang tengah.
"Kau berolahraga jam segini? " tanya Renal sambil menatap jam.
"Iya" jawab Cesya tanpa menoleh ke arah Renal.
Renal mengangguk dan bersiap-siap untuk pergi ke tempat club yang Addy janjikan jauh-jauh hari.
"Aku mau pergi keluar, sepertinya aku akan pulang tengah malam, jadi kunci saja pintunya" ucap Renal.
Cesya hanya mengangguk dan terus fokus dengan kegiatannya. Renal yang melihat itu hanya mengangkat bahunya tak peduli dan pergi.
Ia menggunakan taksi menuju ke club yang Addy maksud, tapi ia cukup terkejut ternyata club yang Addy maksud bukanlah club remang yang dipenuhi penari dan lagu beat cepat, melainkan sebuah Bar yang ramai dan akan diadakan konser musik jazz yang mengalun indah.
Renal masuk kedalam Bar yang sudah ramai itu, tapi untungnya ia langsung bisa menemukan sosok Addy yang duduk di kursi di pojok ruangan.
Addy yang menyadari kedatangan Renal langsung melambaikan tangannya yang disambut anggukan dari Renal.
"Senang rasanya melihatmu beneran datang" seru Addy.
"Iya, setidaknya aku akan pergi,k alau aku tidak suka" ungkap Renal.
"Itu tak akan terjadi aku yakin musik yang dibawakan oleh bintang Jazz ini akan menenangkanmu"
"Ku harap kau tidak membohongiku kali ini" harap Renal menyadari lampu ruangan Bar itu mulai redup hanya ada cahaya terang dari pentas Bar yang kecil mengekspos sosok bintang Jazz yang Addy maksud.
__ADS_1
Seketika suara tepuk tangan bergemuruh diikuti Addy dan Renal, tak lama musik Jazz pun mulai mengalun dengan indah, hampir satu jam lebih acara berlangsung dengan beberapa bintang Jazz yang bernyanyi.
Renal sungguh terhibur karena setiap artis itu membawa musik mereka dengan sedikit Jenaka membuat para penonton tertawa dan semakin menikmati acara tersebut.
Saat acara musik hampir selesai seorang pelayan datang membawakan beberapa cocktails, awalnya Renal menolak tapi karena paksaan Addy, ia terpaksa mengambilnya.
"Aku tidak bisa minum minuman beralkohol" seru Renal.
"Minum saja, kau harus mencobanya sedikit" timpal Addy yang meminum cocktails nya.
Renal pun mencoba mencicipi sedikit tapi raut wajah Renal bagaikan tontonan yang menarik bagi Addy, Renal meringis merasa hawa panas dan rasa tidak enak mengalir di tenggorokan nya.
"Ini sungguh tidak enak" gumam Renal membuat Addy terkekeh.
"Jadi? Dengan siapa kau tidur? " tanya Addy.
Renal memutar matanya mengerti kenapa temannya itu tiba-tiba saja mengajaknya keluar.
"Sudah ku bilang, aku tidak tidur dengan siapapun" ucap Renal.
"Baiklah—baiklah, kalau begitu siapa gadis muda yang datang ke rumah sakit itu? " tanya Addy.
Renal menatap temannya itu sengit "Kenapa kau ingin tahu sekali" addy terkekeh pelan.
"Karena aku dengar dia adalah gadis muda yang cantik" ungkap Addy.
"Dia adik dari temanku" ucapnya seraya mengaduk cocktails nya.
Addy menautkan alisnya "Adik temanmu, lalu? "
Sebelum Renal membalas ucapan Addy, ia seperti berpikir sejenak dan entah kenapa ia rasa, mencurahkan hatinya pada Addy bukanlah hal yang buruk, terlebih Addy orang yang tak emberan mulutnya yang selalu bergosip sana sini.
"Kami tinggal bersama" ucap Renal akhirnya membuat Addy tersentak kaget.
"Kau tinggal bersama dengan gadis itu, maksudku tinggal di tempat yang sama dan melakukan ini itu bersama"
"Apa yang kau pikirkan, kami hanya tinggal bersama tapi tidak melakukan hal ini itu bersama" bantah Renal.
"Apa kalian makan bersama? " Renal menimbang sesaat lalu membalas dengan anggukan.
"Lalu apa kalian pergi belanja bersama? "
"Apa kau sekarang mengintrogasi ku? " balas Renal tak senang.
"Ok—ok aku paham, apa kau menyukainya" ucap Addy membuat Renal kali ini benar-benar menatap Addy dengan marah.
"Berhenti mengatakan yang tidak-tidak" ucap Renal seraya meneguk habis cocktails nya.
__ADS_1
Addy berdecak, melihat wajah Renal mulai memerah karena sepertinya toleransi tubuh Renal pada alkohol sangat buruk.
"Kau tahu, semenjak datang dari Manchester perilakumu tampak aneh" ungkap Addy, Renal memperbaiki duduknya.
"Benarkah"
Addy mengangguk "Apa itu terjadi karena gadis muda itu? " tanya Addy.
"Iya, kau tak akan tahu betapa kacaunya kehidupanku saat bertemu dengannya" jawab Renal.
Addy pun merasa tertarik untuk mendengar cerita Renal, ia mencondongkan tubuhnya dan mengetuk meja berkata "Kalau begitu ceritakan padaku" Renal benar-benar tak habis pikir betapa ingin tahunya teman sejawatnya itu.
Tapi karena kepala Renal yang pusing dan ada banyak hal yang ingin ia ceritakan, akhirnya ia menceritakan semua kejadian yang ia alami saat bertemu Cesya.
"Itu luar biasa"
"Yah—aku bahkan merasa hidup di dunia fantasi yang penuh aksi" keluh Renal yang membuat Addy tergelak tawa.
"Dia gadis yang sangat jarang ditemui" celetuk Addy.
"Ya, aku juga berpikir begitu" Dengan senyum manis, Addy merasa ada sesuatu yang menggelitik baginya, yaitu sepanjang cerita kemalangan temannya itu, disadarinya tapi tak ada sekalipun raut wajah Renal tampak kesal melainkan selalu tersenyum.
"Kau jelas menyukai gadis itu" ucap Addy.
"Entahlah" gumam Renal.
"Cobalah berkencan dengannya"
"Kau gila, aku bisa ditangkap polisi kalau ketahuan mengencani gadis di bawah umur"
Addy mengepal tangannya ke mulut "Apa dia semuda itu"
Renal tak menjawab pertanyaan Addy, ia memilih untuk mengambil lagi segelas cocktails ketika seorang pelayan kembali menawarkan mereka minuman.
Addy meringis melihat temannya itu yang tampaknya mulai mabuk sampai akhirnya tubuh Renal ambruk saat gelas ketiga, Addy berdecak kasihan pada teman sejawatnya itu seraya mengambil ponsel Renal yang berada di saku jaket jeans lalu menempelkan jari temannya itu ke ponsel.
Saat Addy membuka kontak di ponsel Renal, lagi-lagi Addy berdecak tak habis pikir, bagaimana bisa temannya itu hanya ada 5 kontak dalam memori ponselnya yaitu Dr. Richard, Aditya, Addy, Jonny dan satu-satunya nama seorang perempuan yaitu Cesya.
Addy pun langsung menelpon nomor Cesya yang merupakan gadis yang tinggal bersama dengan Renal.
***
Begitulah terjadinya bagaimana bisa Renal menjadi teler seperti sekarang.
Cesya memapah Renal sampai masuk ke kamar, setibanya di apartemen. Tak Cesya hiraukan keluhan-keluhan yang keluar dari mulut Renal, karena ia masih marah dengan ciuman yang dilakukan Renal sebelumnya—
Bersambung…
__ADS_1