
Renal mengeluarkan satu persatu dan merapikan belanjaannya, bumbu di susunnya di rak samping kompor dan sisanya ia masukan dalam kulkas, tapi sesaat Renal menemukan sebuah kotak permen, karena lidahnya terasa pahit setelah makan tadi hanya memakan steak dan wine, ia pun berniat menyicipi permen itu
Tapi saat Renal membuka kotak permen seketika ia terbelalak melihat isinya, yang merupakan Alat Kontrasepsi.
"kenapa ini ada disini? " gumam Renal mengingat-ingat sepertinya ia tidak ada membeli hal seperti itu sebelumnya.
Tak berselang lama terdengar suara pintu kamar di tutup dan tiba-tiba muncul Cesya melongok dari dinding samping kulkas, yang membuat Renal secara cepat memasukan Alat Kontrasepsi itu ke kantung mantel yang masih ia pakai.
"apa itu? " tanya Cesya yang masih sempat melihat gerakan Renal menyimpan sesuatu di kantung mantelnya.
"tidak ada" jawab Renal sambil berdehem sejenak dan mencoba mengatur raut wajahnya, Cesya mengangkat alisnya bingung.
"apa yang kau lakukan? " tanya Renal memperhatikan Cesya yang sekarang mendekati kantung belanjaan.
"aku mau membantumu" sebelum Cesya membuka kantung belanjaan dengan cepat tangan Renal menutup kantung itu dengan satu tangannya.
"aku bisa melakukannya sendiri" ucap Renal, melihat itu Cesya melipat bibirnya dan mengangguk mengerti seperti memberi ruang privasi untuk Renal seraya mundur perlahan.
"kalau begitu, aku mau mandi" ucap Cesya tersenyum sekilas dan dengan girang pergi kearah kamarnya untuk mengambil beberapa kebutuhan mandinya.
__ADS_1
Renal melongok melihat kepergian Cesya sampai ia menghilang kedalam kamarnya, baru Renal dengan cepat menghela nafas lega.
'Untunglah' batin Renal seraya kembali memasukkan beberapa bahan makanan yang ada dan melempar dengan sembarang tas belanja kedalam pantry dimana tas-tas belanja tersimpan.
Renal dengan cepat berlari kedalam kamarnya dan berniat membuang Alat Kontrasepsi itu kedalam sampah dalam kamar, tapi seketika ia mengurungkan niatnya, karena sang pembantu pasti akan melihat Alat Kontrasepsi yang ia buang dan akan melaporkannya pada Aditya.
Renal kembali memasukkan Alat Kontrasepsi itu ke kantung mantelnya dan akan membuangnya di luar saat ia akan berangkat ke Rumah Sakit besok.
Kini Renal memilih untuk membuka mantelnya itu dan menggantung di gantungan baju dekat pintu kamar.
Saat ia berlalu melewati celananya yang tergantung, ia kembali teringat akan benda yang ada di kantung celananya, Renal merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kotak hadiah kecil. Renal tampak menimbang sejenak apakah ia akan memberikan hadiah itu atau tidak, sambil menghela nafas pelan ia pun membawa kotak hadiah itu ditangannya dan keluar dari kamar secara perlahan, ia menuruni tangga dengan hati-hati tanpa mengeluarkan suara, dari jauh ia mendengar suara shower yang menyala menandakan Cesya sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Bertepatan Cesya keluar dari kamar mandi Renal pun berhasil kembali ke kamarnya dan menutup pintu kamar, Cesya yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi dari sudut ekor matanya melihat pergerakan pintu di tutup di lantai atas, ia segera menoleh, tapi nihil. Cesya hanya mengangkat bahunya tak peduli dan kembali ke kamarnya.
...****************...
Kini jam sudah menunjukan jam 11 malam dimana Renal dan Cesya sedang asik dengan kegiatan mereka masing-masing di kamar.
Renal sedang duduk di atas ranjang, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sambil membaca buku.
__ADS_1
Sedangkan Cesya sedang bermain dengan ponselnya berbaring tidak karuan di antara bantal dan bonekanya, sesekali Cesya memijit pangkal hidungnya karena merasa pusing terlalu lama bermain dengan ponselnya.
Tapi tanpa mempedulikan kondisi matanya, Cesya tetap bergerak dengan gelisah di atas ranjang karena kali ini ia bermain game mobile karena hampir kalah ia pun terbawa emosi, dengan marah ia melempar handuk kecilnya kearah sembarang, yang tanpa sengaja menutupi kotak hadiah dari Renal yang berada di atas meja belajarnya.
Keesokan harinya—jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
Renal sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit sambil menggunakan mantelnya, ia turun kebawah dan melihat Cesya baru saja keluar kamar dan masuk ke kamar mandi sambil menguap.
'apa dia belum lihat hadiahnya? ' batin Renal seraya memakai sepatunya. Tak berselang lama Cesya kembali keluar dari kamar mandi.
"aku pergi, pastikan kau mengunci pintunya" seru Renal yang hanya disambut lambaian malas dari belakang dan Cesya kembali masuk kedalam kamar untuk melanjutkan tidur.
Renal hanya bisa berdecak tak percaya dengan tingkah adik temannya itu. Renal dengan cepat keluar dari apartemen dengan pikirannya yang bingung dengan reaksi Cesya yang biasa-biasa saja.
Bahkan selama perjalanan menaiki bis, Renal tak henti-hentinya melamun memikirkan hadiah yang ia berikan pada Cesya itu.
'apa hadiahnya terlalu biasa' batin Renal yang kini sudah berada di depan rumah sakit, ia berhenti sejenak menghela nafas, melihat langit yang cerah pagi itu dimana embun tipis mulai menghilang dan membuat asap tipis mengepul keatas saat ia menghela nafasnya.
Udara yang cukup dingin memaksanya untuk memasukan kedua tangannya kedalam mantel, setelah meredakan pikirannya yang kemana-mana, ia pun kembali melanjutkan langkahnya kedalam rumah sakit, ia menyapa beberapa dokter, perawat dan beberapa staff rumah sakit yang sudah datang, dengan setengah berlari ia menaiki eskalator ke lantai atas dimana ruangan rawat inap dan tempat ia berkerja berada.
__ADS_1
Bersambung…