Bertemu Untuk Cinta

Bertemu Untuk Cinta
BAB. 33 Direktur Demetrius


__ADS_3

Saat keluar dari minimarket mata Cesya sudah bertemu dengan Renal yang kini berdiri didepan pintu minimarket persis. Raut wajah Renal dipenuhi garis emosi yang siapa ia keluarkan kapan saja, tapi Cesya tahu Renal bukanlah orang yang suka menunjukkan emosinya begitu saja tanpa alasan. 


Saat pintu minimarket terbuka Cesya berjalan bersamaan dengan Cedric yang sibuk tersenyum ke ponselnya setelah tadi berhasil meminta nomor ponsel Cesya. 


"Kenapa kau masih disini? " Bisik Cesya yang hanya didengar oleh Renal itu, sedangkan Cedric dengan riang melengos dihadapan Renal dan menarik Cesya. 


"Ayo, biar aku antar" Ucap Cedric membuat Cesya kaget saat tangan Cedric meraih tangannya, tapi sedetik kemudian ia merasakan tangan Renal menahan lengannya, membuat Cedric berhenti melangkah dan menoleh, diikuti dirinya yang juga menatap Renal dengan bingung. 


Waktu seperti berhenti sesaat dimana suasana heningnya malam di permukiman dalam kawasan apartemen itu tak banyak orang yang berlalu lalang. Cesya terdiam sambil menatap bergantian kedua pria yang sudah menggenggam tangannya, dari ekor mata Cesya ia bisa melihat jelas raut wajah Renal yang kaku menahan amarah, sedangkan Cedric mengedipkan matanya seperti orang bodoh tak tahu apa-apa memandang bingung Renal dan Cesya. 


"Maaf, apa kau mengenalnya? " Tanya Cedric dengan wajahnya yang ramah, tanpa menghiraukan tatapan tajam yang dilayangkan oleh Renal kepadanya. 


Cesya yang ditanya seperti itu oleh Cedric dengan tatapan malas menatap Renal, ia menepis tangan Renal dan perlahan melepas tangan Cedric yang membuat Renal mengangkat alisnya bingung dengan perlakuan yang beda didapatkannya dari Cesya itu. 


"Kenal" Jawab Renal


"Tidak" Jawab Cesya bersamaan membuat Cedric semakin bingung dengan suasana perang dingin antara Cesya dan Renal. 


"Kalau begitu? Aku antar pulang" Tanya Cedric ragu sambil melirik ke arah Renal yang berdecak tak percaya dengan jawaban Cesya. 


Cesya menghela nafas menyerah dan menatap Cedric dengan ramah. 


"Maafkan aku, aku akan pulang sendiri, terima kasih dengan tawaran mu" Ucap Cesya seraya berlalu meninggalkan kedua pria yang sedang melongo menatapnya pergi. 


Cesya berjalan setengah berlari berharap ia bisa cepat datang ke apartemen, yang tanpa ia sadari Renal sedang mengejarnya dari belakang. 

__ADS_1


"Kenapa kau lakukan itu? " Tanya Renal dengan nafas tersengal-sengal setelah berhasil meraih bahu Cesya yang seketika berhenti dan menoleh ke arah Renal yang kini sedang menelan saliva nya dengan cepat untuk bisa segera mengatur nafasnya. 


"Apa? " Tanya Cesya dengan raut wajah datar tak tertarik dengan pertanyaan Renal, Renal berkacak pinggang menatap tak percaya anak gadis di hadapannya ini kembali menunjukkan raut wajah datar kepadanya. 


"Nona dengarkan aku, bagaimana bisa kau dengan mudah memberikan nomor ponselmu ke orang asing" Ucap Renal, Cesya memutar matanya dan kembali berjalan tak menghiraukan Renal yang berdecak kesal di belakangnya. 


"Itu bukan urusanmu" Pekik Cesya dari jauh membuat Renal mengusap kepalanya yang pusing, karena tak habis-habisnya adik temannya itu menjungkir balikkan emosinya. 


********


Keesokan harinya, Renal yang sedang bersiap-siap untuk kerja sesekali melirik ke kamar Cesya yang terletak di ujung lorong pendek setelah ruang tengah dan dapur, dimana kamarnya dan kamar mandi bawah hampir berdekatan. 


Renal benar-benar tidak tahu sejak kapan pikirannya bisa dipenuhi dengan kelakuan adik dari temannya itu, kalau diingat-ingat sifatnya hampir sama seperti Aditya, hanya saja Aditya selalu punya trik cerdik yang terkadang membuatnya kagum dengan temannya itu. Sedangkan Cesya lebih ke arah tindakan secara random, tapi selalu beruntung dan dia selalu berhasil keluar dari masalah dengan caranya sendiri. 


Tapi mental dan pikiran Renal kini tergoyahkan karena sosok gadis kaya dan pembuat masalah, sudah membuatnya pusing beberapa hari. 


Saat di rumah sakit dimana gosipnya masih beredar tak sepanas hari-hari sebelumnya, kini ia sudah terbiasa menerima tatapan aneh dari orang-orang, belum sempat ia membuka pintu ruangan dokternya, tiba-tiba Jonny datang dengan aliran wajah yang gelisah. 


"Dokter Renal, anda dipanggil oleh pimpinan" Ucap Jonny, Renal yang mendengar itu pun mengangguk kecil mengerti dengan raut wajah Jonny yang tampak gelisah. 


Renal berbalik dengan mantap berjalan menuju ke lantai atas dimana ruang direktur rumah sakit berada, beberapa kolega yang Renal kenali berlalu menatap iba ke arah Renal. 


Tentu saja sudah menjadi rahasia umum di rumah sakit itu, ketika seorang dokter dipanggil oleh direktur rumah sakit hanya ada dua alasan yang akan terjadi dengan dokter itu, yaitu dimutasi ke rumah sakit lain atau turun jabatan. 


Sebelum memasuki ruangan direktur rumah sakit, Renal sekilas menghela nafas pelan menguatkan mentalnya sebelum menerima masalah baru di tempat kerjanya itu, saat ia masuk ia melihat sosok pria paruh baya  berambut pirang dengan mata biru jernih sedang berdiri menebarkan tatapannya ke luar jendela kaca yang berada di belakang meja kerjanya dimana di atas mejanya ada papan nama tertulis Direktur Prof. Dr. Demetrius. 

__ADS_1


"Kau sudah datang, duduklah" Ucap Demetrius dengan mata yang sendu, wajah yang congkak dan badan yang gempal yang tak menutupi ia adalah sosok yang kurang menyenangkan. 


Renal duduk di sofa tamu dimana 2 sofa panjang saling berhadapan, di tengahnya ada meja kecil. 


Demetrius menekan tombol dan beberapa saat masuklah seorang sekretaris wanita cantik berambut coklat muda yang di cepol ke atas, badan yang bagus layaknya pramugari berlenggak lenggok elegan masuk kedalam ruangan. 


"Buatkan 2 kopi" Titah Demetrius seraya melambaikan tangannya kepada sekretaris itu yang disambut anggukan mengerti oleh wanita cantik yang kini bergerak cepat keluar untuk membuat kopi. 


Demetrius melangkah dengan melipat tangannya ke belakang punggungnya lalu duduk di sofa panjang depan Renal. 


"Bagaimana rasanya bekerja disini selama sebulan terakhir? " Tanya Demetrius dengan raut wajah ramah tapi tak meninggalkan garis wajah congkak yang ia punya dengan satu tangannya ia letakkan dengan nyaman di lengan sofa dan satunya di atas pahanya mengetuk-ngetuk lututnya.


"Baik-baik saja, semua berjalan lancar" Jawab Renal, Demetrius mengangguk menyetujui dengan ucapan Renal itu sambil menepuk pahanya sekilas. 


"Baru-baru ini aku mendengar rumor yang aneh tentangmu disini" Ucap Demetrius yang kini menyandarkan badannya ke kepala sofa sambil menatap Renal penuh arti. 


Renal tersenyum "Saya rasa itu hanya rumor yang tidak berdasar, sepertinya banyak orang yang sudah salah paham" Ucap Renal membela diri, setidaknya hanya itu yang bisa diucapkan. 


"Benar, orang-orang sering melakukan itu, demi kepuasan hasrat mereka akan sesuatu" Ucap Demetrius yang tak lama pintu ruangannya kembali terbuka dan muncul sosok sekretaris membawa nampan yang diatasnya ada dua cangkir kopi. Dengan cekatan ia menyodorkan gelas kopi itu ke hadapan Demetrius dan Renal, lalu pergi setelah melihat isyarat tangan Demetrius. 


Saat sekretarisnya pergi, Demetrius dengan wajah ramah melambaikan tangannya untuk Renal menikmati kopi yang ada di hadapannya. Renal mengangguk dan mulai menyeruput kopi yang ditawarkan padanya.


"Tapi sayangnya, aku mendapatkan begitu banyak keluhan" Ucap Demetrius memasang wajah kurang puas —


Bersambung… 

__ADS_1


__ADS_2