Bertemu Untuk Cinta

Bertemu Untuk Cinta
BAB. 32 Perang Dingin II


__ADS_3

Cesya tak menggubris ucapan Renal itu, kini ia sudah duduk tak memperdulikan Renal sambil menunggu mie cup nya matang, Renal menghela nafas seraya menatap keluar minimarket. 


Renal mengalihkan pandangannya kearah luar jendela menerawang jauh bertanya pada dirinya sendiri, kenapa bisa terjebak di minimarket ini bersama Cesya.


Tak lama ia tenggelam dengan pikirannya ia mendengar suara Cesya sekarang sedang menyeruput mie cupnya, dari pantulan kaca ia bisa melihat bayangan Cesya melahap mienya dengan sangat cepat. 


"Makan pelan-pelan" Ucap Renal, tapi tak kunjung di gubris. 


"Apa kau marah karena hadiahnya? " Tanya Renal kembali menatap jauh menerawang keluar dari minimarket, Cesya masih tak menggubris ucapannya. 


Sambil menghela nafas lelah semenjak beberapa hari ini ia berasa berbicara sendiri, "Kalau kau tidak suka hadiah yang ku berikan, kau bisa kembalikan pa—" Belum selesai Renal menyelesaikan ucapannya, Cesya menggebrak meja dengan tangan kanan yang menggenggam kuat garpu plastik mie cupnya. 


Renal seketika menoleh syok kearah Cesya, melihat kelakuan Cesya yang di luar kebiasaan itu membuat pikiran Renal semakin campur aduk dimana ia juga sudah menahan emosinya selama ini yang selalu di abaikan oleh Cesya. 


Dengan mulut yang dipenuhi mie, Cesya berkata. 


"Bisakah kau memberiku ruang untuk sendiri" ucap Cesya dengan wajah datar tanpa ada garis emosi di wajahnya. 


Renal melihat itu dengan perasaan yang berkecamuk menatap Cesya sengit, ada banyak hal yang ingin Renal katakan dan tanyakan akan sikap Cesya yang berubah, walaupun akhirnya ia memilih untuk mengangguk sambil memukul pahanya mengerti. Ia beranjak dari kursinya dan keluar dari minimarket meninggalkan Cesya sendiri di dalam. 


Renal sempat terbawa emosi, ia melangkah dengan cepat menyebrangi zebra cross di jalanan yang sepi itu, karena sudah memasuki puncak musim semi hawa dingin tak begitu nusuk kulit walaupun begitu pada malam hari masih cukup dingin dan membuat nafas Renal yang berat memunculkan kepulan asap tipis. 


Tapi langkah Renal perlahan berhenti, di balik pikirannya yang marah tapi ada satu perasaan khawatir yang lebih dominan yang ia rasakan, Renal tak kenal akan perasaan seperti apa yang ia rasakan antara kasian, khawatir, cemas dan juga rasa sepi sudah beberapa hari ini pikirannya bergelut dengan hatinya yang tak sinkron karena Cesya. 


Renal kembali menoleh ke arah minimarket yang tak jauh dari tempatnya, ia menggigit bibir bawahnya menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan, tapi lagi-lagi pikiran dan hatinya tak berkerja sama dengan baik, ia pun berbalik dan memilih untuk berada di seberang jalan hanya sekedar mengawasi Cesya dari jauh, setidaknya ia tak bisa membiarkan gadis seperti Cesya malam-malam sendirian di luar kawasan kota besar yang banyak pemabuk ini.


Renal menatap jamnya hampir 5 menit berlalu, ia kini menyandarkan tubuhnya ke dinding gedung yang menjulang ke langit di antara lampu jalanan yang tak begitu terang karena sudah tua yang terletak di seberang minimarket, sesekali ia mendengar suara kepadatan kendaraan serta suara sirine menunjukkan semalam apapun kegiatan manusia di dalam kota itu seperti tak ada hentinya. 

__ADS_1


Dari jauh ia bisa melihat ekspresi datar Cesya yang belum berubah semenjak ia pergi, Renal benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada adik temannya itu. Kini Renal merasa lebih baik Cesya melakukan sesuatu hal yang gila dan membuat masalah daripada diam seribu bahasa seperti sekarang. 


Belum selesai dengan pikirannya sebuah cahaya motor dari ujung belokan arah kanan Renal berada, membuat ia memicingkan matanya karena silau, motor itu menepi di minimarket didepannya, dari jauh Renal bisa memastikan si empunya motor adalah sosok pria bule dengan badan yang tinggi kini masuk kedalam minimarket menyapa dengan ramah ke sosok kasir dalam sana dan berjalan riang kearah kulkas minuman. 


Renal tak begitu tertarik dengan keberadaan pria itu, sehingga Renal mengalihkan pandangannya cukup lama kearah lain karena bosan. 


Sambil menahan lelah Renal menatap malas kembali ke minimarket, tapi tubuhnya tiba-tiba menegang ketika ia sadari pria itu sedang berbincang dengan Cesya, untuk pertama kalinya hampir seminggu ini Renal akhirnya melihat raut wajah Cesya berubah. 


"Kau? Cesya kan" Tegur seorang pria membuyarkan lamunan Cesya yang kini sedang melamun menatap botol minumannya. 


"Ya? " Tanya Cesya bingung dengan seorang pria berwajah tampan berambut pirang mata biru yang jernih, serta menggunakan kaos oblong yang di balut jaket kulit dan bercelana Jeans. 


"Ini aku? Kau lupa" Imbuh pria itu kali ini tanpa menunggu persetujuan, langsung duduk di samping Cesya dengan tatapan berbinar-binar. 


Cesya memiringkan kepalanya bingung sambil mengingat-ingat, perasaan selama di London ia tak pernah berkenalan dengan seseorang yang baru. 


"Oh, kau! " Pekik Cesya akhirnya mengingat sosok pria yang ia pernah temui di kampus dulu. Cesya agak menjaga jarak karena pertemuan mereka cukup aneh kalo di ingat-ingat. 


"Kau ingatkan" Ucap Cedric dengan senyum senang layaknya anak kecil. 


"Maafkan aku sebelumnya, kau pasti menganggap ku aneh. Aku terlalu semangat di hari ujian, sampai berkenalan denganmu dengan cara seperti itu. " Ucap Cedric mengingat cara perkenalan mereka yang cukup aneh. Cesya merasa sedikit lega dengan ucapan Cedric yang ternyata juga menyadari hal yang sama. 


"Apa yang kau lakukan disini? " Tanya Cesya mencairkan suasana canggung, Cedric hanya menggerakkan kepalanya kearah motor yang terparkir di luar. 


"Aku habis touring dengan saudara dan teman-temanku" Jawab Cedric, membuat Cesya tertarik. 


"Touring" Ucap Cesya mencoba mencari tahu kegiatan yang dilakukan Cedric itu. 

__ADS_1


Cedric mengangguk dan meminum minuman kalengnya. 


"Iya, aku melakukan perjalanan dari London - Amsterdam" Ucap Cedric dengan raut wajah biasa saja, tapi tidak untuk Cesya yang tampak semangat mendengarkan penjelasan Cedric. 


"Bukankah itu menempuh jarak yang sangat jauh" Tanya Cesya yang di sambut tawa remeh dari Cedric. 


"Tidak juga, hanya menghabiskan sekitar 9-10 jam perjalanan" Ucap Cedric tanpa beban membuat Cesya terperangah. 


"Itu sangat jauh" Gumam Cesya. 


Cedric hanya tersenyum bangga, sambil memperbaiki posisi duduknya. 


Tapi tidak dengan Renal yang kali ini memperbaiki letak kacamatanya dengan jari tengah sedang menatap sengit kedua anak muda yang sedang asik berbincang itu. 


Beberapa saat ia masih mengawasi, Renal sambil menghela nafas dan senyum getir melihat kedua anak muda itu sedang bertukar nomor ponsel. 


"Dia bahkan memberi nomor ponselnya begitu saja pada orang asing" Gumam Renal dengan senyum miring seperti mencemooh kelakuan Cesya yang begitu saja memberi nomor telponnya pada orang asing. 


Renal dengan tidak sabarnya ia melihat jam sudah pukul 10 malam, kembali mengarahkan pandangannya ke arah sosok Cesya dan Cedric yang kini beranjak dari kursi mereka dan keluar. 


Melihat itu seperti sebuah kesempatan, Renal dengan hati yang tidak tenang, setengah berlari menuju pintu keluar minimarket, bertepatan dimana kedua anak baru gede itu juga sedang keluar. 


Saat keluar Cesya membeku melihat sosok Renal yang sedang manatapnya tajam. Tapi Cedric yang tak mengenal Renal tampak tak mengindahkan pria jangkung wajah tampan berkacamata itu didepannya. 


"Ayo biar aku antar" Ucap Cedric yang langsung menarik tangan Cesya tapi terhenti dimana lengan kanan Cesya sekarang sedang di genggam erat oleh Renal, Cedric yang merasa tertahan menoleh kearah tangan Renal.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2