
Cesya merasa kecewa dengan hadiah yang diberikan oleh Renal, ternyata hanyalah sebuah hadiah ucapan minta maaf. Ia merasa bodoh karena terlalu berekspektasi tinggi, kini ia berjalan menunduk meratapi pantulan dirinya yang payah di lantai marmer rumah sakit yang mengkilap.
Tapi langkah Cesya seketika terhenti ketika melihat sepasang kaki berbalut sepatu pantofel berhak pendek berada di depannya, ia dengan pelan mendongakkan kepalanya, semakin ia menaikan kepalanya ia melihat celana kain putih lalu baju blush berwarna hijau dilapisi jas dokter. Saat ia akhirnya berhasil menatap wajah si empunya sepatu, yang ternyata adalah sosok Ellen sedang tersenyum ke arahnya.
'Wah cantik banget'—batin Cesya terpukau dengan kecantikan Ellen seperti ada lagu yang menyenangkan terputar di pikirannya saat melihat Ellen yang bersinar.
"Bisa kita bicara sebentar? " Ucap Ellen seketika suara kaset kusut menyadarkan Cesya.
"Ya? " Pekik Cesya kaget.
Ellen mengisyaratkan pada Cesya untuk mengikutinya, Cesya dengan bingung terpaku sesaat. Tapi dengan cepat ia melangkah mengekori Ellen yang berjalan di depannya. Ia tak tahu akan dibawa kemana, sampai mereka keluar tak jauh dari pintu keluar rumah sakit, Ellen pun berhenti sekilas menatap sekelilingnya memastikan tak ada siapapun yang melihatnya dan Cesya.
Sedangkan Cesya tetap berdiri menanti apa yang ingin Ellen sampaikan. Walaupun ia tetap waspada dengan apapun yang akan terjadi.
"Maafkan aku, kau pasti terkejut, aku tiba-tiba mengajakmu berbicara" Ucap Ellen dengan senyum manis, Cesya melambaikan tangannya menepis ketidak nyamanan Ellen.
"Tidak, tidak masalah. " Ucap Cesya, Ellen tersenyum sesaat kemudian dengan wajah agak ragu ia pun berkata.
"Apa hubunganmu dengan dokter Renal? " Tanya Ellen, Cesya menundukkan kepalanya sesaat dan saat ingin menjelaskan.
"Lebih baik kau jangan mengganggunya" Tambah dokter Ellen tanpa sempat memberi Cesya waktu untuk berbicara dan membuat Cesya tercekat dengan perkataan Ellen.
"Kau tidah tahu bertahan satu hari di rumah sakit ini saja, sudah cukup menyulitkan" Ucap Ellen, Cesya kali ini hanya bisa diam dan mencoba mendengar apa yang ingin Ellen sampaikan.
"Kau tahu, diskriminasi, beda ras dan juga beda jabatan, Renal mendapatkan tekanan itu semua disini" Ucap Ellen, membuat Cesya menegakkan badannya terpaku dengan ucapan Ellen.
'Aku tidak mengerti, apakah rumah sakit ini tidak seperti dulu lagi' Batin Cesya seraya melirik ke arah rumah sakit yang sudah lama tak ia datangi itu.
"Aku mengatakan ini untuk kebaikan dokter Renal, baru-baru ini banyak gosip tentangnya yang membuat citranya memburuk" Ucap Ellen membuat Cesya kini termenung menyadari selama ini tak ada yang ia ketahui tentang Renal. Cesya menunduk menatap tangannya yang bertautan.
"Aku tidak tahu hubungan seperti apa di antara kalian, tapi ku harap kau mengerti posisi dokter Renal sekarang sangat tidak baik untuk mendapatkan lebih banyak gosip." Nasehat Ellen dengan senyum manis terukir di bibirnya.
"Sepertinya anda sa—"
"Tidak, aku tahu. Tapi sebelum kau dan dia terluka, lebih baik kau melepaskannya" Ucap Ellen untuk kedua kalinya membuat Cesya hanya bisa terdiam akan perkataan Ellen.
__ADS_1
Cesya menundukkan kepalanya.
"kenapa anda mengatakan ini pada saya? " Tanya Cesya, sambil memainkan jarinya gelisah.
"Karena aku menyukai dokter Renal" Ucap Ellen lugas, membuat Cesya terkejut langsung menatap wajah Ellen yang menunjukkan ciri khas wanita dewasa dengan emosi yang stabil tidak seperti dirinya yang masih kekanak-kanakan.
'Ah, aku ingat dia, dia wanita yang ia kencani waktu itu' Batin Cesya ketika mengingat wanita yang bersama dengan Renal waktu di kapal wisata tempo hari.
Sekarang Cesya seperti tahu akan posisi dirinya, pikiran Cesya semakin kalut, karena betapa malu dirinya yang terlalu berekspektasi tinggi hanya karena sebuah hadiah permintaan maaf, sampai membawanya ke tempat kerja orang yang sering menolongnya itu.
"Anda tidak—"
"Saat ini, Renal membutuhkan dukungan internal dalam pekerjaannya, jika terus menerus tersebar rumor yang tidak menyenangkan aku takut, ia akan dipecat begitu saja" Tambah Ellen kini menunjukkan raut wajah iba.
Cesya melihat itu, langsung teringat tatapan staff lobby tadi yang mungkin saja salah paham karena kelakuannya yang kekanak-kanakannya.
'Lagi-lagi aku membuat masalah' batin Cesya mengepal tangannya kuat, sambil mengutuk dirinya.
Ellen melihat raut wajah Cesya yang gelisah—seperti bertepuk tangan sukses menghancurkan mental muda, gadis yang ada di hadapannya itu, ia tersenyum kecil dengan sudut bibir yang tertarik ke samping.
Saat Cesya merasa Ellen sudah pergi jauh, Cesya menengadahkan kepalanya keatas menatap langit biru yang cerah dimana sinar matahari yang terik, membuat Cesya sedikit menutupi separuh wajah dengan tangannya.
"Dia bahkan tak memberikanku waktu untuk sapa menjelaskan" Gumam Cesya.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, Cesya duduk di ruang tengah menatap jauh keluar balkon tanpa menyadari Renal baru saja masuk ke dalam apartemen.
"Apa kau sudah makan? " Tanya Renal tapi tak digubris oleh Cesya.
"Halo" Pekik Renal membuyarkan lamunan Cesya, Cesya menoleh dan menatap Renal yang kini menatapnya dengan sedikit emosi.
"Ada apa denganmu? " Tanya Renal, Cesya menggelengkan kepalanya dan kembali menatap keluar.
"Tidak ada" Ucap Cesya dengan nada suara datar nyaris berbisik.
__ADS_1
Renal mengedipkan matanya bingung dengan tingkah Cesya itu, karena ia sudah lelah dengan gosipnya di rumah sakit kali ini ia tak mau ambil pusing, ia melangkah ke lantai atas dan masuk ke kamar, membiarkan Cesya yang asik dengan dunianya di ruang tengah.
Saat Renal dalam kamar ia mengangkat bahunya tak peduli, toh nanti juga balik lagi sifatnya—pikir Renal.
Tapi siapa sangka pikiran Renal itu meleset dari apa yang diharapkan.
Kelakuan Cesya yang murung dan pendiam pun berjalan hampir seminggu, sampai kedatangan pembantu yang biasanya ceriwis bersama Cesya, kini hanya diam bahkan membuat sang pembantu ikut khawatir dan parahnya Renal sering mendapati Cesya melewati jam makannya.
Renal kini mengepal tangannya di depan mulut memutar otaknya yang pintar itu setidaknya ada ingatan dan solusi baginya untuk bisa mengembalikan mood Cesya seperti semula, mungkinkah ada perbuatanku yang membuatnya marah—pikir Renal yang sudah buntu.
Tak lama ia berkutat dengan pikirannya, tiba-tiba terdengar pintu kamar Cesya terbuka dan sosok Cesya keluar dengan balutan hoodie cream kesukaannya dan celana pendek, di perhatikannya Cesya yang berjalan dengan malas menuju ku pintu depan.
"Mau kemana? " Tanya Renal penasaran dan matanya terus mengikuti setiap langkah Cesya.
"Cari angin" Jawab Cesya cepat seraya memakai tutup kepal hoodie nya dan sepatu kets keluar dari apartemen.
Renal yang mendengar itu pun bergegas mengambil mantel dan menyusul Cesya.
Cesya berjalan di trotoar dengan raut wajah datar, sesekali ia menghindar dari orang-orang mabuk yang lewat di sampingnya.
"Kau tak perlu mengikuti ku" Seru Cesya yang menyadari keberadaan Renal tak jauh dibelakangnya.
"Apa kau lupa kejadian di masa lalu" Ucap Renal, Cesya berbalik membuat langkah Renal sedikit tak stabil karena kaget melihat Cesya yang tiba-tiba berhenti. Mereka saling menatap beberapa saat, bukannya berbicara Cesya hanya menghela nafas seraya kembali berjalan tanpa memperdulikan Renal yang memasang wajah bingung di belakangnya.
Cesya berjalan menyebrang menuju ke minimarket yang letaknya 1 blok lebih jauh dari tempat apartemen mereka berada, mata Renal mengawasi sekitar tempat dimana kawasan pemukiman sebagian gelap karena minimnya cahaya lampu jalan yang tampaknya sudah tua.
Saat di minimarket Renal mengekor di belakang Cesya dan melihat dengan malas rak-rak yang penuh dengan barang-barang jualan.
Cesya tak mengindahkan keberadaan Renal yang sebenarnya cukup mengganggu itu, dengan langkah cepat ia mengambil mie cup dan pergi ke kulkas pendingin diambilnya satu botol minuman soda. Lalu ia berjalan ke kasir untuk membayar semuanya, Renal dari samping hanya terus mengawasi Cesya dengan penuh harap kalau Cesya butuh bantuan.
Setelah selesai membayar Cesya membawa mie dan minuman sodanya ke barisan tempat pengunjung bisa duduk dan ada terdapat dispenser di pojok meja yang bisa digunakan untuk menuang air panas maupun air dingin.
"Kalau kau lapar, kau bisa meminta tolong aku untuk membelikan makanan" Ucap Renal sambil menopang pipinya dimana ia sudah duduk santai di samping kursi Cesya, ia memperhatikan kegiatan Cesya yang sedang mengisi mie cup dengan air panas.
Bersambung…
__ADS_1