
Cesya menuruni tangga dengan malas, disebarkannya pandangan ke seluruh ruang apartemen yang sunyi. Ia merasa sangat bosan, sudah sepekan ia berkutat dalam apartemen mewah itu, menanti jadwal hasil tes yang akan di umumkan seminggu lagi, membuatnya terpaksa bersabar lebih lama sebelum ia kembali ke Manchester.
Belum sempat ia turun dari anak tangga terakhir, ia berhenti dan duduk di ambang anak tangga pertama sambil memeluk lututnya. Ia menatap lurus ke depan dan menyandarkan kepalanya ke tiang pagar tangga besi yang dingin.
Kalau diingat-ingat mantel yang ia lihat dalam tote bag tadi bukankah mantel yang Renal gunakan saat berkencan dengan dokter cantik yang ia temui di rumah sakit.
Ia menghela nafas seperti mengeluarkan setengah beban dari dadanya, sudah jelas hubungan Renal dan dokter cantik itu pasti sangat dekat—pikir Cesya, tapi dibandingkan itu Cesya tak henti-hentinya mengutuk diri mengingat kebodohannya yang dengan percaya diri datang ke rumah sakit hanya karena sebuah kalung.
"Kurasa, aku harus membuang sifa naif ku" Bisiknya sambil membenamkan wajah ke atas lutut.
Hari itu ia lalui begitu saja, sesekali ia membaca buku pelajaran dan membaca beberapa novel roman picisan, menonton TV dan makan, seperti orang pemalas dan pengangguran pada umumnya.
Bahkan ia merasa hari-harinya kurang produktif, membuatnya cepat lelah karena jarang berolahraga.
"Ini namanya menjompokkan diri sendiri" Bisiknya yang sekarang menyandarkan tubuh ke kepala sofa ruang tengah, bahkan saat duduk pinggang nya terasa sakit karena terlalu membungkuk saat membaca novel, wajahnya menengadah ke atas sehingga ia bisa melihat langit-langit apartemen mewah itu dengan ukiran cantik serta corak cat abstrak layaknya lukisan menghiasi langit-langit apartemen.
Setelah terhibur dengan pemandangan langit-langit apartemen, perlahan ia menutup mata dan sebagian wajah bawahnya ia tutupi dengan buku novel yang sedari tadi ia baca, terlintas jelas bayang-bayang karakter dari novel yang ia baca sedang melakukan beberapa adegan yang buat dia senyum-senyum sendiri.
...****************...
Renal setelah tidur beberapa waktu, menyiapkan kondisi tubuhnya tetap fit untuk bisa bekerja di shift malam yang akan ia mulai nanti malam. Tiba-tiba tenggorokan nya terasa kering memaksanya untuk pergi ke dapur untuk minum.
Saat ia menuruni tangga, dari jauh dia melihat sosok gadis muda yang tinggal bersamanya itu sedang tertidur di sofa dengan buku yang menutupi sebagian wajahnya.
Renal tak begitu peduli, ia terus berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air lalu meminumnya secara perlahan sambil memperhatikan Cesya dari jauh.
"Dia beneran tidur gak sih? " Bisik Renal saat melihat pergerakan kecil yang dilakukan oleh Cesya, sambil meneguk habis minumannya lalu menaruh gelas ke dalam wastafel, sebelum ia pergi ia mencoba menyalakan kran wastafel mengecek apakah air sudah mengalir atau belum, untungnya air sudah kembali normal.
Renal pun menutup kran dan menghampiri Cesya hanya sekedar untuk memberitahukan kalau air sudah mengalir seperti biasanya, ia melangkah ke hadapan Cesya sedikit melongok ke atas karena Cesya bersandar begitu dalam ke kepala sofa yang empuk itu.
__ADS_1
"Ai—" Belum sempat Renal berbicara seketika Cesya membuka matanya dan bergerak cepat menghantamkan kepalanya ke kepala Renal yang seketika membuat mereka memekik dan meringis kesakitan bersama.
"Apa kepalamu terbuat dari batu? " Pekik Renal sambil meringis kesakitan karena sengatan sakit yang membuat kepalanya berdenyut.
"Kau sendiri kenapa tiba-tiba ada didepanku" Marah Cesya yang juga meringis memegangi kepalanya yang sakit.
"Itu karena ku sangka kau tidur" Ucap Renal seraya duduk di samping Cesya, Cesya yang merasa sakit di kepalanya berangsur hilang, ia pun mencoba melihat ke arah Renal yang masih kesakitan.
Cesya memiringkan kepala mencoba melihat ke arah Renal yang masih mengusap kepalanya yang sakit, seketika Cesya kaget lalu menutup mulut membuat Renal menatapnya bingung, dengan cengiran yang di paksa Cesya mengambil ponsel dan membuka kamera depan seraya menyodorkan nya kedepan Renal.
Renal yang tahu ada yang tak beres langsung merebut ponsel Cesya dan melihat dirinya yang terpantul kamera depan.
"Wah, apa kepalamu benar-benar terbuat dari batu" Kagum Renal saat melihat kepalanya yang sakit meninggalkan jejak kecil warna merah dan sedikit menonjol, ia menatap Cesya tak percaya yang disambut senyum terpaksa dari gadis itu.
"Tunggu disini" Ucap Cesya saat melihat kedutan di bibir Renal yang siap melontarkan kemarahan pada dirinya, ia bergegas lari ke kamar untuk mengambil box p3k keramatnya yang sudah menyelamatkan luka banyak orang selama ini, lalu kembali ke hadapan Renal yang masih setia mempertahankan raut wajah jengkelnya pada Cesya.
Cesya membantu mengoleskan salep luka lebam ke kepalanya, tampak sesekali Renal menghela nafas berat membuat Cesya semakin merasa menyesal.
Renal menatap sengit kearah gadis yang kini melirik-lirik takut ke arahnya.
"Aku ingin memberitahumu, kalau air sudah mengalir" Ucap Renal memperbaiki poni rambutnya setelah Cesya selesai membalutkan plester ke luka lebamnya.
Cesya menutup box p3k sambil mengangguk mengerti.
"Ini adalah ketiga kalinya aku terluka, kurasa aku benar-benar harus menyiapkan satu peti mati, untukku" Bual Renal membuat Cesya menunduk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karena bagaimanapun juga ia merasa bersalah sudah banyak membuat Renal terluka selama ini.
"Apa kau tidak marah lagi? " Tanya Renal.
"Ya? " Jawab Cesya heran dengan pertanyaan Renal. Renal melipat tangannya di dada sambil menyandarkan tubuhnya dengan nyaman ke kepala sofa menatap Cesya yang bingung.
__ADS_1
"Bukankah hampir seminggu kau tak mau berbicara padaku? " Tambahnya masih menanti jawaban dari Cesya.
Cesya berdiri dan duduk kembali ke posisinya dimana ia baca novel tadi, ia mengusap tangannya pelan menimbang apa yang harus ia katakan.
"Aku gak marah" Jawab Cesya yang tak berani menatap ke arah Renal.
"Lalu kenapa kau hanya diam dan tak pernah membalas ucapanku? " Dengan raut wajah penasaran Renal memperbaiki posisi duduknya menghadap ke arah Cesya yang fokus menatap ke arah tangannya.
"Tidak ada apa-apa"
"Pasti ada masalah" Ucap Renal hampir bersamaan dengan Cesya, seperti peramal yang tahu akan masa depan. Yah—mungkin karena peka ia jadi tak bisa dibohongi, terlebih Cesya bukan tipe gadis yang pintar menyimpan perasaannya walaupun raut wajah dan tingkahnya kadang membuat Renal sedikit kebingungan, tapi selama ini yang ia tangkap Cesya hanya gadis sederhana yang melakukan apapun sesuai kata hatinya.
"Tidak ada" Ucap Cesya nyaris berbisik sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Renal menghela nafas tak ingin memojokkan gadis yang ada di hadapannya itu, ia memilih mengangguk dan menepuk pahanya mengerti, karena bagaimanapun semua orang punya rahasia yang ingin mereka simpan sendiri.
"Kalau kau tak mengatakannya, tak masalah hanya saja jangan lampiaskan kemarahanmu pada orang lain, itu membuatku pusing" Ucap Renal seraya berlalu.
'Kan ini semua karenamu, kenapa malah kau yang pusing' Batin Cesya
Renal berhenti dan menoleh seperti batin mereka tersambung sesaat, sehingga Renal bisa mendengar kata batin Cesya.
"Apa? " Pekik Renal
Cesya kaget mendengar pekik Renal seperti menjawab kata batinnya.
"Barusan kau mengatakan sesuatu" Ucap Renal, Cesya yang kaget langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, tapi Renal membalasnya sambil memicingkan mata curiga, tapi dengan cepat ia tepis mungkin itu hanya perasaanku saja—pikirnya, seraya kembali berjalan meninggalkan Cesya yang pura-pura sibuk merapikan buku novel dan p3knya.
Saat mendengar suara pintu tertutup dari lantai atas, Cesya dengan cepat menghela nafas lega.
__ADS_1
"Tadi itu sangat mengerikan" Gumamnya sambil menoleh ke lantai atas.
Bersambung…