
Saat berjalan melewati pusat perawat tiba-tiba salah satu suster menghentikan langkahnya.
"dokter, maaf bisakah anda tanda tangani ini, salah satu pasien akan keluar hari ini" ucap suster itu seraya menyodorkan sebuah clip board dimana terjepit beberapa lembar surat keluar pasien, Renal pun mengeluarkan tangannya dari mantel dan meraih pulpen yang ada di pusat perawat dan menandatangani surat itu.
"yang lain antarkan ke ruangan ku" ucap Renal seraya berlalu menuju ruang dokternya.
"baik" ucap suster itu mengambil clip board yang dihadapannya.
"dokter Renal menjatuhkan sesuatu" ucap suster lain, yang kini mengambil sebuah kotak kecil yang sedikit terbuka.
"apa itu? " tanya suster tadi ikut penasaran, kedua suster itu sempat saling melemparkan tatapan penasaran satu sama lain, perlahan secara diam-diam mereka berdua pun membuka kotak itu.
Sedetik kemudian tampak aliaran wajah kaget kedua suster itu membelalakkan mata mereka syok, dengan panik mereka menutup kotak kecil itu sambil memukul satu sama lain sambil cengengesan.
Dokter Addy yang baru saja datang memasuki lorong rawat inap dan melihat dari jauh gerak-gerik aneh kedua suster itu, berjalan perlahan kebelakang suster untuk mengejutkan kedua suster yang asik berbisik-bisik.
"dor" pekik Addy mengagetkan kedua suster itu yang seketika membuat mereka menjerit.
"dokter Addy, anda kekanak-kanakan" marah suster 1 yang menatap marah ke Addy sambil memeluk clip board di dadanya.
"jantungku hampir copot" timpal suster 2 yang kini mengepal tangannya di dada.
"maaf, apa yang kalian lakukan? " tanya Addy penasaran kepada kedua suster itu, mereka tak langsung menjawab malah saling melempar pandangan ragu.
"apa yang kalian rahasiakan? " tanya Addy sambil menyipitkan matanya tak sabar dengan gerak gerik mencurigakan dari suster dihadapannya itu.
para suster itupun mendekat dan membisikkan hal yang mereka ketahui, Addy memasang telinganya benar-benar untuk mendengar ucapan para suster itu dan seketika membuat reaksi wajah Addy tampak kaget.
"mana barangnya? " tanya Addy, sang suster pun dengan ragu memberikan kotak yang tak lain dan bukan itu adalah Alat Kontrasepsi ke tangan Addy.
Addy bergegas melangkah kearah ruangan Renal tapi tiba-tiba saja ia dipanggil oleh Jonny.
"dokter Addy, Dr. Barnett memanggil anda" seru Jonny yang sedang mendorong troli penuh peralatan medis.
Addy pun berhenti melangkah dengan sedikit kesal mengepal tangannya berbalik melewati kedua suster tadi dan Jonny. Jonny yang melihat itu mengangkat alisnya bingung dan mendekat kearah kedua suster yang kini lagi menggosip.
"ada apa? " tanya Jonny kepada sang suster, para suster itu pun dengan semangat menjelaskan hal yang mereka ketahui. dan tersebar dengan sangat cepat berita Renal yang membawa Alat Kontrasepsi ke rumah sakit.
__ADS_1
Saat jadwal keliling pemeriksaan pasien, tak henti-hentinya Renal mendapatkan tatapan aneh dari para suster bahkan staff rumah sakit lainnya, cengengesan setiap Renal berlalu. Membuat Renal merasa sangat tidak nyaman.
Sedangkan di apartemen tampak Cesya masih sangat malas bangkit dari ranjangnya. ia mengumpulkan nyawanya sambil menatap nanar keluar balkon.
Dengan tenaganya yang belum sepenuhnya terkumpul, ia bangkit ingin mencuci muka, ditariknya handuk kecil yang ada atas meja belajarnya dengan malas, tapi tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dan mengenai kakinya, Cesya menatap kebawah dan menemukan sebuah kotak hadiah yang tak tahu dari mana asalnya.
Dengan penasaran ia duduk di kursi belajar, perlahan membuka kotak hadiah itu, saat membukanya ia tampak kaget dengan senyum sumringah terukir di bibirnya, di ambilnya hadiah sebuah kalung dengan model kelinci sebagai liontinnya itu.
Dengan gerakan cepat ia berjalan menuju meja riasnya yang tak jauh dari balkon, sehingga ia bisa dengan jelas melihat kalung itu saat ia letakan di lehernya.
"apa dia memberikanku hadiah!? " pekik Cesya tak percaya, seraya melompat-lompat kecil kesenangan.
"tunggu, kenapa? " gumam Cesya sedetik kemudian, dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"apa dia menyukaiku? " bisik Cesya sambil menatap dirinya di dalam kaca, memperhatikan wajahnya yang baru bangun dari ranjang dimana rambutnya masih berantakan dan penampilannya masih kusut.
"haha gak mungkin" tawa Cesya getir melihat dirinya yang acak-acakan itu, tapi kenapa aku tak menanyakannya langsung—pikir Cesya kini menatap penuh ide kedalam kaca.
Ia meletakkan kalung itu perlahan layaknya benda berharga di atas meja rias lalu dengan cepat bangkit untuk mandi.
Setelah mandi dan menggunakan gaun musim semi berwarna putih dimana motif bunga dan beberapa renda kecil yang mempercantik setiap gerakan yang memakai baju, kini Cesya menggunakan apron untuk memasakkan bekal untuk Renal sebagai alasan untuknya bisa datang menemui Renal ke Rumah Sakit. Yah— setidaknya ia punya alasan yang masuk akal, dari pada datang dengan tangan kosong.
Ia dengan lesu menatap ke bekal yang ia buat, tapi sedetik kemudian ia pun tersadar dan hampir menepuk kepalanya dengan spon cuci piring.
Aku kan bisa menanyakan hal itu pada kak Aditya—batinnya. Cesya pun mempercepat gerakkan mencuci beberapa teflon dan spatula lalu berlari ke kamarnya untuk menelpon Aditya.
Saat di kamar Cesya mengambil ponselnya dan di letakkannya ke rak samping kaca rias, lalu melakukan video call dengan kakaknya itu.
Tak lama ponselnya memanggil tiba-tiba layarnya pun berubah, dimana Aditya kini berada di meja kerja sedang memposisikan ponselnya.
"tumben Video Call" seru Aditya dengan wajah senang melihat adik kecilnya itu, Cesya melongok menunjukan wajahnya dengan senyum manis.
"aku merindukan kakak" ucap Cesya, Aditya tersenyum mendengar itu.
"ada masalah apa lagi? " tanya Aditya, yang membuat senyum Cesya pun berubah cemberut.
"aku bahkan belum mengatakan apapun" ngambek Cesya kini merapikan rambutnya dan mulai memoles beberapa make up yang di beli kemarin.
__ADS_1
sambil menutup mulutnya menahan tawa Aditya bertanya "kau mau kemana? " , penasaran melihat adiknya itu berdandan. Cesya memiringkan kepalanya sebentar memikirkan alasan yang bagus untuk dikatakan ke kakaknya itu.
"aku ingin jalan, sekaligus mengantarkan barang teman kakak yang ketinggalan" jawab Cesya sedikit ragu, Aditya mengangkat alisnya bingung.
"barang apa? " tanya Aditya, Cesya melipat bibirnya memutar otak mencari alasan. karena ia takut kalau ia mengatakan untuk membawakan bekal untuk Renal membalas atas hadiah yang Renal berikan, kakaknya bisa salah paham dengan hubungan dirinya dengan Renal.
"kacamata" ucap Cesya dengan cepat, mencoba untuk tidak membuat Aditya lebih curiga.
"anak itu memakai kacamata lagi? bukannya pertama kali masuk kerja dia pakai softlens." gumam Aditya tampak berpikir sejenak.
Cesya mengangkat bahunya pura-pura tak tahu, Aditya pun menghela nafas pelan.
"jadi? apa kakak tahu dimana teman kakak itu kerja" tanya Cesya akhirnya memberanikan diri.
Aditya mengernyit kan keningnya dan tampak berpikir sejenak.
"rumah sakit di jalan Westmin. B" jawab Aditya, Cesya yang sedang asik berdandan pun berhenti sejenak dan menatap dengan raut wajah sulit untuk di jelaskan kearah kakaknya.
"kenapa? kaget?" Ucap Aditya sambil mengulum senyum. Cesya hanya mengangguk pelan mendengar ucapan kakaknya.
"hati-hati di jalan, pastikan aku tidak mendapatkan kabar buruk dari orang lain lagi, kau mengerti! " ingat Aditya karena hampir semua kejadian yang menimpa adiknya itu, ia dapati dari orang lain yaitu Renal atau Pembantu rumah mereka.
"ok, kakak selamat berkerja" ucap Cesya yang kembali menunjukkan raut wajah cerianya.
Aditya ikut tersenyum.
"kalau begitu sampai jumpa" ucap Aditya seraya memutuskan panggilan di sambut anggukan dari Cesya.
Cesya mengetuk-ngetuk jarinya perlahan tampak memikirkan sesuatu tapi beberapa saat kemudian, ia kembali melanjutkan berdandannya.
Setelah selesai berdandan, ia memakai kalung yang di hadiahkan oleh Renal itu, kali ini Cesya mengikat cepol rambutnya mengekspos garis leher dan membuat kalungnya tampak menonjol.
Dengan teliti Cesya mengambil tasnya yang senada dengan warna baju dan memasukkan Dompet serta ponselnya.
Setelah dirasanya tak ada lagi yang ketinggalan ia pun bergegas mengambil bekal yang ia letakkan di atas counter table dapur. Lalu setengah berlari keluar apartemen setelah ia melihat jam hampir menunjukan jam makan siang.
Ia keluar dan mengunci apartemen, saat di luar gedung apartemen ia dengan cepat menaiki taksi menuju rumah sakit dimana Renal berkerja dan juga merupakan salah satu tempat yang tidak asing bagi Cesya.
__ADS_1
Bersambung...