BETWEEN LOVE AND HATE

BETWEEN LOVE AND HATE
Bab sepuluh Lucy Malaikat penolong Alex.


__ADS_3

Alex memicingkan mata, dia merasa terpaan panas diwajahnyanya, cahaya sangat terang menerobos lewat jendela menyilaukan mata . Dia menutup wajah menggunakan telapak tangan, "Albert..!!!!, tolong tutup jendela !, Aku merasa terganggu dengan cahaya matahari yang masuk dari sana !! " Dia berteriak dengan suara lantang, tapi tak ada siapapun yang menyahut atau datang menutup jendela itu


" Albert!, apa kau tak mendengarku?!?, maribet!!, Anni!!" Dia terus saja berteriak dan terdengar sangat berisik memanggil nama para pelayan.


Lucy yang sedang memasak semangkuk bubur didapur merasa sangat sebal.


Dia bergegas menuju kamar mendiang papa yang ditempati sementara oleh Alex


.


Tadi malam Lucy membawa pria itu kerumahnya karena merasa kasihan, karena tak tahu harus membawa pria itu kemana.


Kondisinya sangat mengenaskan, sekujur tubuhnya terluka dan kepalanya mengeluarkan darah sangat banyak.


Ini kedua kali nya Lucy melihat Alex dalam bahaya, dia memutuskan menyembunyikan dirumahnya untuk melindungi pria itu sementara waktu.


Meski dia masih membenci pria itu, tapi hati nuraninya tak pernah tega melihat orang yang kesusahan didepan mata.


" Kau sudah bangun Tuan Alex yang terhormat, tapi sayang sekali pelayan- pelayanmu tak ada disini..!?" sindir Lucy sambil menutup gorden, sehingga matahari tak lagi masuk kedalam kamar.


Alex sangat terkejut Dia segera membuka mata dan menyingkirkan telapak tangan dari wajahnya, kemudian melihat Lucy yang tersenyum licik padanya.


Melihat Lucy, merasa tak yakin dengan apa yang dilihatnya,


" Apa yang kau lakukan dikamarku?" tanya Alex hendak bangkit tapi dia merasa kepalanya sangat berat dan sakit


" Aaaa..!" dia menjerit kesakitan.


" Saat ini kau berada dirumahku.." jelas lucy sambil menaruh semangkuk bubur diatas nakas disamping tempat tidur.


Alex memeriksa berkeliling dengan matanya dia baru sadar, saat ini terbaring dikamar yang jauh lebih kecil dari Kamar miliknya, tapi kamar tersebut bersih dan nyaman.


" Apa.!!?, kenapa??, Alex kehabisan kata.


" kau yang lebih tahu kenapa?" Lucy balas menatap, mencari jawaban dari Alex.

__ADS_1


Alex berusaha mengingat kejadian semalam yang menimpanya.


Tapi dia sama sekali tak ingat ada lucy dari serangkain peristiwa sejauh yang di ingat.


Alex melirik bubur dia menghirup Aromanya. perutnya mulai keroncongan minta di isi


Lucy melirik tubuh Alex yang cendera


" Tubuhmu harus dioleskan salep agar rasa sakitnya cepat hilang serta lebamnya tak semakin parah.


Alex baru sadar jika dia bertelanjang dada.


" Apakah kau yan membuka bajuku!!?" panik Alex bertanya. Lalu dengan cepat melihat kebagian bawah tubuhnya. Merasa lega karena masih memakai celana miliknya sendiri.


Lucy tersenyum malas melihat sikap Alex


" Aku membuka bajumu karena sudah rusak dan berlumuran darah, Tapi jika kau berharap aku membuka celanamu itu tak akan pernah terjadi, Jangan berpikiran mesum." Ejek Lucy sambil melirik dengan sudut matanya.


mata Alex berkilat tajam mendengarnya


" Kau yakin tak punya niat kotor dikepalamu melihat aku tak sadarkan diri, bisa saja kau sudah puas menciumiku dan menelanjangiku selama aku tak sadarkan diri, semua wanita yang kutemui selalu mencari cara agar bisa naik ranjang bersamaku.." Alex balas mencela.


" Aku yakin wanita yang kau temui adalah wanita murahan.." ketus Lucy merasa sangat emosi dengan kesombongan Alex, lagipula untuk apa berdebat masalah yang tak penting disaat kondisinya seburuk ini.


Alex membasahi bibirnya yang kering dia ingin kembali membalas cercaan Lucy.


" Jika kau masih mengoceh seputar kenarsisanmu , aku akan menyeretmu keluar dari rumah ini!" ancam Lucy.


Alex terdiam tak berkutik, sungguh dia tak ingin diseret dengan kondisi fisik selemah ini.


Dia menatap Lucy seperti anak kucing terlantar memelas minta dikasihani.


Matanya yang indah dan wajah tampannya yang melembut membuat perasaan Lucy semakin tak tega.


" Bagaimana aku bisa berada dirumahmu?!?" Suara Alex berubah lembut dan sopan ..

__ADS_1


" Kau sendiri yang menghampiri dan meminta tolong padaku "


" Lalu sudah berapa lama aku berada disini?"


" Baru tadi malam, Syukurlah kau segera sadar jika tidak aku akan kerepotan, bahkan bisa - bisa menjadi tersangaka pembunuhan jika kau tewas disini.." gerutu Lucy kesal.


,


"Meski aku membencimu dan sangat ingin melihatmu mati malam tadi. Tiba - tiba kau langsung memeluk dan pingsan dihadapaku."


" Jadi orang yang kulihat semalam adalah dirimu.."


" Lalu Bagaimana kau membawaku kemari?"


"Memakai taksi, kau membuat aku kelelahan Harus memapah tubuhmu yang keberatan dosa, belum lagi gajiku untuk beberapa minggu kedepan habis begitu saja dalam semalam karena ongkos taksi mahal.


Untungnya supir taksi itu cukup pengertian dia bahkan membantu menggendongmu ke kamar ini."


Lucy memandangi kepala Alex yang terluka paling parah.


semalaman dia membersihkan darah dari wajah dan kepala Alex dengan telanten, syukurlah pagi ini wajah Alex sudah bersih dari bercak darah, meskipun wajahnya terlihat pucat.


" Huh..!, lagi - lagi aku yang menolongmu..tapi kau tak tahu terima kasih.." gerutu Lucy.


Alex hanya menatap Lucy lama dengan pandangan yang tak dimengerti Lucy membuat ia jengah. Lucy membuang muka merasa suasana aneh dikamar itu, tiba- tiba menjadi sangat canggung.


Alex melirik ke arah bubur yang diletakan lucy di sisi tempat tidurnya.


" Kau lapar?? " Tanya Lucy ikut melihat bubur yang masih panas.,


Alex mengangguk wajahnya tiba- tiba berubah ceria.


"Aku ingat saat kau menyekapku. kau sering membuatku kelaparan, tapi masih berani mengeluh lapar padaku." Sindir Lucy, wajah Alex seketika berubah merah karena malu dan perasaan bersalah.


Lucy menyerahkan mangkuk bubur pada Alex, tapi Alex bahkan tak bisa bangun.

__ADS_1


" Aku tak bisa makan sendiri.." dia mengeluh.


"Astaga, Alexander black kau sangat menyebalkan!!! " Lucy bersungut-sungut kesal, dan mulai menyuapi Alex dengan wajah cemberut.


__ADS_2