
Alex keluar dari mobil sambil melepaskan kacamata hitam yang dipakainya.
Kakinya yang ramping dan panjang melangkah pasti memasuki kantor polisi
penampilannya yang asal, mengenakan T- shirt hitam, dilapisi jaket kulit berwarna coklat dipadukan dengan bawahan celana jeans biru dan sepatu sport yang membungkus telapak kakinya, dia juga mengenakan topi pet hitam menutupi rambut lebatnya
Memasuki kantor polisi, semua mata terpaku padanya karena dia terlihat seperti anak boy band korea, ganteng dengan kulit putih mulusnya bak porselen serta tinggi tubuh yang ideal mendukung fisiknya.
" Selamat siang Tuan, ada yang bisa dibantu?" tanya seorang polwan menghampiri dengan tingkah canggung. ketika Alex berdiri bingung diantara meja meja kerja polisi.
" Saya ingin bertemu detektif yang menangani kasus Akexander black, apakah dia Ada?"
" Oo, maksud anda detektif Larry?. Dia sedang keluar tuan, namun jika anda ingin menunggunya anda bisa duduk disana.." tunjuk gadis polwan yang cukup cantik mengenakan seragam polisinya pada bangku panjang yang berjejer rapi disisi tembok yang letaknya dekat pintu masuk.
" Saya akan menghubungi detektif Larry..sebentar!" Gadis itu berajak pergi hendak menelpon namun Alex menghentikan.
" Tak perlu, berikan saja nomor phonselnya biar aku yang menghubungi sendiri."
" Baiklah!" Jawab polwan, kemudian dia menyebutkan beberapa angka pada Alex.
Selesai menyalin nomor Larry, Alex bergegas pergi tak lupa mengucapkan terima kasih pada sigadis polwan dengan memamerkan senyum memikatnya.
" Ampun deh, itu orang guanteng!! banget..!" ujar polwan pada rekan- rekan yang ada diruangan itu.
" Kamu nggak tahu siapa pria tersebut..!?" Tanya rekan prianya.
" nggak, emang siapa pak?" dengan wajah penasaran.
" Itu Alexander black yang terkenal itu.."
Gadis polwan itu terpana.
" ya Ampun ternyata benar ya, klo Alex itu sangat rupawan."
Alex memutuskan menuju Mall Omega, Sembari melihat situasi di Mall tersebut, hmm, namun sebenarnya Alex ingin bertemu Lucy. Dia sangat bosan hanya Lucy yang bisa mengusir kebosanan nya, merecoki lucy memberi semangat pada Alex.
Masih mengenakan kacamata hitam dia berjalan diantara pengunjung Mall, meski menjadi pusat perhatian Alex santai saja.
Pikirannya hanya fokus pada tujuan hatinya.
Dia tersenyum ketika mendekati toko
membayangkan reaksi lucy ketika melihat Alex mendatanginya ke toko .
Hanya tinggal beberapa Langkah, Alex tiba ditoko. Dia melihat Lucy sedang bicara serius dengan seorang pria muda, wajahnya tampan meski tak sebanding dengan Alex, kulitnya tak terlalu putih namun bersih, perawakanya tinggi. Alex seketika berhenti.
Berpikir ingin mendekat atau pergi dari sana.
Jika melihat gerak tubuh si pria sepertinya kedua orang tersebut saling mengenal dekat. Pria itu pasti kenalan Lucy.
" Apakah kekasih Lucy?" Alex menduga- duga.
" Kumohon Luc, datanglah kepesta Ultahku," memohon penuh harap.
" Aku nggak bisa Ren, kamu ngerti nggak sich! lagipula apa pentingnya aku hadir atau tidak!, Udah ya aku sibuk gak enak ke managerku, klo ngobrol kelamaan" Lucy hendak masuk, namun kembali Rendi menahan dengan menarik tangan Lucy.
" Please.." Pinta Rendi semakin memelas.
" Kamu Apaan sich Lepasin nggak! aku nggak enak dilihat pegawai dan pengunjung toko, malu tau !" Sambil berusaha melepaskan diri dengan wajah ketus.
" Aku nggk bakalan lepasin, aku bakal bikin ribut didepan tokomu, biarin kamu dipecat aku gak peduli.." Ancam Rendi memegang tangan Lucy erat
""Rendy! kamu sudah gila Apa!?, lepasin !!" sambil menyentak tangannya, Lucy menahan suaranya agar tak lantang. Wajahnya merah padam dia merapatkan giginya kesal sekali
" Kamu harus bilang iya dulu, baru aku lepas, pesta itu ada alasannya Luc, jika kamu tak datang maka tak ada gunanya aku membuat pesta Ultah."
Lucy menarik nafas pelan , menstabilkan emosi yang ditahan sedari tadi.
Bertemu Rendi saja dia malas, pria itu malah memaksanya ikut hadir diperayaan ultah miliknya.
Lagipula Ratna pasti juga hadir kan, Lucy yakin dia akan dipermalukan nanti.
Alex merasa kesal, dia ingin sekali Menarik Lucy dan menghantam wajah pria yang memegang erat tangan Lucy.
Hening sesaat diantara mereka Lucy sedang berpikir.
" Ok, aku datang..puas!!"
Wajah Rendi berubah ceria, dia tertawa lega dan melepaskan Lucy.
Lucy menunduk menyembunyikan perasan kesal.
" Ya puas lah sayang..., ok jam 8 malam aku jemput ya, jangan lupa dandan yang cantik. karena kau akan menjadi ratunya disana.
Rendi hendak pergi. Lucy menarik tangan Rendi. membuat jantung Rendi berdebar dengan sentuhan nya.
" Tidak..! jangan jemput, aku pergi sendiri saja, lagipula kau kan harus menunggu tamu "
" Tapi luc,.."
" Ngga ada tapi tapian atau aku ngak datang aja.."
" Ok ok! aku gak jemput, tapi kamu janji datang kan?"
Lucy mengangguk.
__ADS_1
Dengan wajah berseri Rendi pergi. Lucy pun beranjak kedalam toko dengan lega.
Akhirnya pengganggu itu pergi juga. begitu pikirnya.
Sebuah tangan kekar kembali mengunci pergelangan tangan Lucy.
" Rendi gue kan udah bilang, gue pergi!!" Teriaknya marah sambil menoleh kebelakang. Matanya melotot garang, kali ini dia benaran emosi,lagipula pergelangan tangannya sakit sekali karena dicengkram sangat kuat.
Tapi bukan Wajah Rendi yang didapatinya justru wajah Tampan Alex lengkap dengan kacamata hitam menutupi wajahnya.
" Siapa Rendi!??" Tanya pria itu dengan wajah sedingin kutub utara.
Lucy kaget setengah mati. belum lagi para rekan Lucy yang heboh melihat Alex,
" Saat Rendi datang mereka biasa aja, giliran alex pada bisik bisik gak jelas." Lucy membatin
Bagaimana tidak, seorang Alexander black menarik seorang gadis pelayan dengan wajah dingin.
Apa yang dipikirkan rekan rekan Lucy.
Anjana menghampiri.
Senyum manis terukir diwajah cantiknya dengan make up natural.
" Siang Tuan Alex.." mengangguk sopan menyambut Alex seperti biasanya.
" Kamu gak perlu segan, aku bukan pemilik Mall ini lagi.." seru Alex.
" Saya tahu tuan tapi, bagaimanapun anda pernah jadi atasan saya." sahut Anjana ramah
Alex terdiam.
" Terserah lah " jawabnya datar.
Aku ingin bicara dengan Lucy ada sedikit masalah dengannya." dengan suara tegas.
" Silahkan tuan," Masih dengan senyum manis dibibir tipis anjana.
Lucy terpana bingung pada Anjana.
Ada apa dengan manajernya. Ini kan masih jam kerja, bisa- bisanya mengijinkan Alex membawa pegawainya begitu saja. Kok Anjana menjadi baik begini pada Alex.
"Astaga, Anjana pasti naksir Alex.
Ha..ha.. .. Lucu sekali"
Lucy geleng geleng.
Alex menarik tangan Lucy mengikutinya memasuki coffe shop yang ada di Mall
Setelah memaksa Lucy duduk, dia menarik bangku didepan lucy dan mendudukinya.
" Sakit Ya..?" tanya Alex pura pura iba.
" Huh!! basa basi.." sahut Lucy.
Alex nyengir sambil melepas kacamata dan meletaknya diatas meja.
Lucy memandangi Alex yang terlihat lebih muda dan keren saat ini.
Alex menaikan sebelah alisnya lalu mengedipkan mata kanan.
" Kanapa aku keren ya ???" tanyanya seperti membaca pikiran Lucy.
Wajah lucy merah. dia membuang muka ke arah lain dengan merengut.
" Ada apa, mau balikin Atm ku?" tanyanya tanpa menatap Alex, malas.
Alex menggeleng.
" nggak" menjawab singkat.
" Uangmu sudah aku gunakan untuk modal perusahaan yang baru aku bangun, anggap saja kau nanam saham disana gimana keren kan!?" Alex bertanya semangat mengharap pujian dan Lucy pasti setuju pastinya.
Lucy melotot, mulutnya ternganga,kaget yang luar biasa.
" Keren mbahmu gundul! itu uang Ayahku buat nikahanku nanti, hasil keringat Ayah selama bertahun tahun bekerja di perusahaanmu, ayahku tersayang yang kau siksa dan kau bunuh, brengsek !!" Maki Lucy dengan emosi membara.
Alex menanggapi tenang-tenang saja.
Sudah siap mental sebelumnya. hehe.
"Jumlahnya gak seberapa, jangan khawatir kau akan dapat untung lebih banyak, ini janji seorang Alex black kau bisa memegangnya."
" 300 juta kau bilang gak seberapa!?, Ampun Alex, aku benar- benar ingin membunuh mu, kau tau!??"
huh!! Lucy mendengus.
Dia menunduk. menatap ujung sepatunya mereka diam membisu beberapa saat.
" Siapa pria tadi?" ALex mengulang pertanyaan tiba-tiba memutus hening diantara mereka.
" Bukan urusanmu.!" masih emosi sambil menahan tangis. Dia menunduk, kemudian bangun hendak kembali ke toko.
Tapi Alex kembali menarik lengan lucy.
__ADS_1
" Awww!!, sakit tau!!" keluh lucy kaget.
" Makanya duduk dulu, aku belum selesai ngomong, main pergi aja."
Lucy patuh daripada lenganya ditarik lagi dengan keras.
" Siapa laki- laki tadi?" ulang Alex dengan suara tegas tak ada canda didalamnya.
" Dia Rendi, mantan..." menjawab malas
" pacar??" sahut Alex cepat.
" Hmmm.."
" ngajak balikan??" Alex penasaran
" hmmm"
" maksa..?"
"hmmmmm"
" Kamu masih punya perasaan??
" hmmmmmm"
" Kamu masih suka dia!?" kaget Alex bertanya sambil memukul meja Lucy kaget.
" A..aaa..nggak lah, masa masih suka.." sahut Lucy gagap dan kaget.
" Hmmm, hmmmm mulu dari tadi.
Lucy diam saja.
" Mau ngapain dia narik narik kamu??, kan udah mantan?"
Lucy menatap Alex tajam heran
" Aku ngelihat tadi kalian berdebat didepan toko." jelas Alex malas.
" kamu itu ganteng ganteng tapi kepoan, wibawamu jadi ilang, ternyata kamu emang manusia ku pikir kamu dari planet Lain.." sindir Lucy.
Alex tertawa.
" Jadi.."..
",Apanya yang jadi.." Lucy bingung.
" Kau terima ajakannya buat hadir di ultahnya."
" tentu saja, kenapa tidak, cuma datang, makan, pulang, kan tidak sulit" acuh Lucy menjawab,
" Aku ikut.."
Lucy bengong
" Mau ngapain ikut??"
" Nemenin kamu lah" Menjawab santai
" nggak! gak boleh! malu - maluin.." gerutu Lucy sambil melambai lambai tangan di depan wajah Alex.
" Malu katamu?, aku Alexander black dan kamu malu pergi denganku?" Alex merasa tersinggung.
" Pokoknya gak boleh, Gak sudi aku dekat dekat dengan pria narsis dan menarik perhatian banyak orang..aku nggak suka jadi pusat perhatian" jelas Lucy panik
Alex terdiam, " Yah udah kalo nggak boleh" Alex bersikap pasrah, namun dia punya rencana sendiri supaya bisa pergi bersama Lucy ke ultah Rendi.
" Kamu mau pesan Apa?" Tanya Alex perhatian.
Lucy melihat kesekeliling kafe yang mulai ramai, banyak diantara para gadis gadis menatap secara terang- terangan ke arah mereka. terutama pada Alex, sambil bisik - bisik.
Bahkan ada yang diam diam memotret Alex dengan kamera phonsel. Alex terlihat bak seorang seleb saja.
Lucy geleng geleng.
Lalu sibuk menatap wajah Alex dengan detail menilai satu persatu Asset yang dimiliki Alex di tubuhnya.
Semua memang sempurna tak ada cacat cela.
" pantas saja mereka tertarik padanya.." batin lucy.
Ehemm!!" Alex berdehem.
" fokus Amat liatnya, naksir..!?" tanya Alex datar sambil menatap buku menu serius.
" hah!" Lucy kaget wajahnya bersemu merah.
" Aku balik ke toko saja" Lucy bangkit tiba- tiba.
Alex tertawa. menyadari Lucy malu.
" kenapa takut aku minta bayarin makanannya ??" canda Alex lugas.
" Jangan khawatir meski bangkrut aku masih bisa membeli coffe shop ini." jelas Alex tanpa ekspresi sambil memanggil pelayan lewat lambaian tangan kekarnya.
__ADS_1
" Udah makan dulu. jangan berdiri terus." Alex menarik Lucy duduk seperti semula.
Dengan enggan Lucy duduk namun ia sama sekali tak bisa menikmati makanannya karena sangat enggan berada didekat Alexander black.