BETWEEN LOVE AND HATE

BETWEEN LOVE AND HATE
Bab 23 Mencari bukti part 2


__ADS_3

Alex sibuk memainkan jemari lentiknya diatas layar phonsel, Dia masih setia duduk di coffe shop meski Lucy sudah beranjak pergi kembali ke toko untuk bekerja.


Dia menyilangkan kaki terlihat nyaman dan santai sambil menempelkan phonselnya ditelinga kanan,


Pose nya sangat indah. Apalagi dia duduk berdekatan dengan jendela dengan cahaya terang dilatar belakang membingkai siluet tubuhnya yang maskulin dengan sempurna.


Alex tak sadar dia menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung kafe.


" Ok, detektif saya tunggu dicoffe shop Lantai dua Mall Omega. Terima kasih mau memenuhi undanganku."


Sembari menutup panggilannya, karena terlalu serius mengobrol diphonsel dia tak menyadari 4 gadis muda menghampiri dengan tawa cekikikan, Mereka berdiri dengan wajah ceria dihadapannya.


" Oppa..!" seru mereka berbarengan.


" Busyet deh! apa an ni, OPah?? emangnya muka gue kaya kakek, kakek!" Alex membatin, wajahnya jadi masam.


" Kita duduk disini ya Oppa!??" Tanya gadis berkuncir dua dengan pita warna-warni menghiasi kuncirannya.Suaranya manja dibuat buat.


Tanpa menunggu persetujuan Alex ke-4 gadis A- be- ge centil itu lansung duduk mengelilingi Alex.


Gadis berpita duduk di sisi Alex, sementara ketiga temanya duduk dihadapan Alex dengan semangat.


Ketiga Gadis itu menopang dagu sambil tersenyum sangat ramah, tak lepas- lepas mengagumi Alex.


Mereka memandangi Alex tanpa berkedip seperti makanan enak yang siap dilahap.


Alex sampai merinding.


Biasanya Body guard atau para asisten Alex akan mengusir dengan wajah seram dan tatapan dingin pada orang- orang yang mendekati Alex ditempat Umum . Bahkan sebelum mendekat.


Lagipula siapa yang mau mendekati body guard bertampang sangar, tatoan dengan badan segede gorila berdiri disekeliling Alex memelototi setiap orang dengan curiga.


Agar lebih nyaman biasanya Alex akan menyewa tempat umum yang ingin dikunjungi untuk dipakai sendiri tanpa gangguan pengunjung lain.


Kini Dia bingung menghadapi ketiga Gadis cilik yang mulai beranjak dewasa itu. Belum lagi mereka memangilnya dengan sebutan Opah.


Minimal dipanggil Om lah, ini Opah!??.


Apakah dia terlihat tua dimata para Abege itu?


" Oppa.. namaku Lisa, Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu, kamu mau nggak jadi pacarku..?" Tanya gadis kuncir dua dengan pita warna warni bernama Lisa. Tanpa basa - basi Sikapnya penuh percaya diri. Sepertinya dia merupakan kepala suku diantara ketiga teman lain.


Alex sama sekali tak menduga akan menerima pengakuan cinta dari seorang gadis remaja Lima belas tahun secara mendadak. Dia sampai tersedak Ludah sendiri lalu buru buru meminum coffe latte yang dipesanya.


" Cie..cie.." Sorak A- be-ge lain heboh.


Membuat Alex pusing.


Si gadis pita malah tersipu sipu digoda teman- temannya.


" Oppa ganteng gimana? mau nggak jadi pacar Liza?" Si gadis pita mengulang pertanyaan nya Karena Alex diam saja.


Alex tersenyum meski terpaksa.


Lalu mengeluarkan phonselnya mencari gambar Jean digalerynya.


" Maaf ya Dek, Opah udah punya pacar, Ni orangnya.."


Alex menunjukan foto Jean pada mereka.


Gadis berpita tampak kecewa, dengan dramatis dia menutup mulutnya bak drama korea. Matanya seketika berkaca kaca menahan tangis. Apalagi Wajah Jean sangat cantik, Dia pasti tengsin lah, Malu ditolak cowok keren didepan teman teman se genknya.

__ADS_1


Alex melanjutkan dengan suara lembut menghibur.


" Lagi pula, aku kan terlalu tua buat jadi pacarnya Lisa, kalian saja Manggilnya opah, memangnya gak malu punya pacar kakek- kakek?" Alex berkata polos.


" Payah, Oppa jadul, gak gaul. ketinggalan jaman, gak asyik.." sahut seorang gadis berkulit putih dengan mata sipit.


Alex makin melongo, tidak mengerti dengan perkataan si sipit.


Dengan wajah bingung menatap pada Lisa yang mulai menangis.


Alex takut di kira orang jahat yang menganggu gadis - gadis tanggung itu, Bagaimana jika Dia di eksekusi para orang dewasa yang ada disana karena salah paham.


" Cup..cup..sabar ya Liz, Oppa mah jahat banget, kan Liza jadi nangis." mereka malah menyalahkan Alex, karena Liza menangis.


" Udah ah!, yuk pergi saja, Gak Asyik.Oppa ganteng tapi sombong.." maki salah satu teman Lisa dengan wajah jutek.


Alex cuma garuk garuk kepalanya yang tak gatal melihat ke empat gadis itu pergi sambil membujuk Lisa yang masih menangis.


" Kok jadi gue yang salah..!??"


" Tuan Alexander??" Suara bariton pria membuyarkan lamunan Alex setelah sekian lama.


" Maaf lama menunggu, saya baru saja dari TKP, ada kasus baru.." Pria itu tersenyum dan duduk dihadapan Alex.


" Tidak Apa Larry, saya tahu anda Sibuk.."


ALex menatap Larry ramah.


Penampilan terlihat lelah dan acak acakan. sepertinya Larry belum sempat mandi dan tidur sepanjang waktu.


" Anda suka kopi?" Tanya Alex


Larry mengangguk.


Alex menjentikan Jari . seorang pelayan menghampiri


" Black original satu.." pesannya pada pelayan


" Oh ya tambahkan cemilan ringan saja, dua porsi. terima kasih."


" Baiklah Tuan, permisi" pelayan itu mengangguk sopan, Lalu pergi memenuhi pesanan Alex.


" Terima kasih bersedia memenuhi undangan saya, Detektif Larry."


Detektif muda itu tersenyum ramah.


" Tak masalah, seharusnya saya yang menghubungi anda, bukankah saya sudah berjanji sebelumnya, untuk mengabari perkembangan terbaru kasus anda, padahal anda sudah mengeluarkan banyak dana untuk kasus anda.." sahut Larry dengan wajah malu


Alex tertawa menanggapi.


" Saya mengerti Anda pasti sibuk sekali"


Larry mengangguk.


" Kasus Anda sangat rumit Tuan, kita tahu siapa dalang dibalik kasus anda, namun tak memiliki bukti untuk menangkapnya. Apalagi dia pengusaha yang memiliki kuasa pada semua bidang." Larry berkata prihatin


" Oleh karena itu Saya sangat membutuhkan bantuan Anda..maukah anda membantu??" tanya Alex hati hati.


Wajah Larry berubah muram,


" Kasus anda sudah ditutup " jelasnya tak enak hati.

__ADS_1


Alex terkejut.


" What!!?, Why?" Tanyanya tak mengerti


Larry menunduk menatap ujung sepatunya dengan wajah kesal.


Albert megancam dan menyogok para Atasan dan petinggi kepolisian untuk menutup kasus Anda.


" Benarkah? bagaimana bisa dia menyogok dan mengancam petinggi polisi?"


" Dengan mencari kelemahan mereka, Ancaman skandal, seperti perselingkuhan, korupsi dan kisah kelam masa Lalu."


" Alex geram sekali.


" Apakah Dalangnya adalah Albert?" Tanya Alex yakin.


" Benar sekali Tuan, pria itu sangat Licik.


" Bahkan kematian Bono, dia sendiri yang menyuntik insulin kedalam infus,


Dia juga yang memfitnah Bono atas kasus obat bius dalam minumanmu, Sebenarnya dia yang mengancam dan memasukan obat bius dalam botol minuman yang kau minum. Bono hanya memasukan sedikit karena takut menyakitimu


Alex tercenung.


" Ya aku sangat bodoh, kesalahan terbesarku mempercayai Albert secara berlebihan. Aku malah menyuruhnya menyelidiki kasus penculikan dan pembunuhanku, pasti dia yang merekayasa semua, agar aku curiga pada Bono,hingga menyulut amarahku, sampai membuat pria itu tewas dirumah sakit.


" Bono diancam oleh Albert dimalam kejadian, Albert akan membunuh Putrinya jika Bono menolak meracunimu dengan obat bius."


Alex membeku dikursi. Dia mengepalkan tangannya wajahnya sontak berubah Dingin dan mencekam.


" Kurang Ajar..!!, kupastikan Albert akan membusuk di penjara suatu hari nanti." Alex mengeram.


" Aku tak bisa mengakses lagi semua data- data yang sudah terkumpul. Semua sudah ditutup. Sulit bagiku melanjutkan kasus ini, jika melanggar aku bisa dipecat."


ujar Larry.


Kehadiran pelayan yang mengantarkan pesanan Larry, menghentikan Obrolan mereka.


" Aku hanya butuh bukti atas kejahatan walau sedikit, Apakah tak ada Cctv dirumah sakit yang melihat Albert masuk ke kamar Bono.


" Maaf Tuan, semua Cctv pada saat kejadian padam. kamar serta lorong Vvip ruamh sakit tak ada akses kamera Cctv nya, Bukankah Anda yang melarang memasang nya demi privasi.


Alex menghela nafas. Dia melepas topi pet nya dan merapikan Rambutnya dengan jari. merasa kepalanya sangat pusing dan gerah. Pergerakanya membuat Larry terpesona diam - diam.


" Pria ini sangat menggagumkan." bisik hati Larry.


Larry meminum kopi pesananya dengan nikmat. dia sangat Lelah, dan kopi itu sedikit memberi sensasi enak di mulutnya.


" Saat ini aku harus berhati hati menyelidiki,


Lagipula musuh anda orang yang berbahaya, jika tak pakai perhitungan semua yang terlibat bisa mati dibunuh Albert. Belum lagi resiko dipecat karena saya membantah Atasan."


" Saya paham, Larry. Maka carilah bukti secara hati hati, jangan mencolok, saya akan membayar Anda pantas." Alex berkata hati - hati sambil memakai kembali topi dan kacamata hitam dengan Anggun.


Dia bangun dari kursinya.


" Nikmati kopi anda, saya masih ada urusan Lain , terima kasih Larry, senang bisa mengobrol dengan Anda. Semoga Lain kaki kita bisa mengobrol dengan topik yang lebih santai daripada membahas sebuah kasus.


Larry tertawa hangat.


" Ya tuan Alex, " Dia ikut berdiri menjabat tangan kekar Alex

__ADS_1


Alex berjalan keluar dari kafe.


" kurasa Aku harus turun tangan sendiri mencari kelemahan Albert, jika ingin membuat si tua itu membusuk di penjara." Alex berguman sendiri meninggalkan kafe dengan langkah ringan.


__ADS_2