
" Tuan Albert!, gawat!, gawat!" Seorang pria muda usia 30 tahunan masuk seperti tornado keruangan Albert.
Albert kaget setengah mati, dia sedang fokus menandatangani berkas- berkas perusahaan
" Ada apa Rangga?!" Dengan suara sedikit membentak
Albert menatap Asisten pribadi nya yang baru beberapa minggu bekerja padanya.
" Semua pemegang saham terbesar perusahaan kita menarik saham mereka dari omega"
Albert berdiri karena kaget kedua tangan nya bertumpu pada meja menopang tubuh tua nya.
" kurang ajar, mereka berani main main denganku..!!?" Albert mendengus sangat kesal. Dia melotot pada Rangga seolah Ranggalah penyebabnya.
" Mereka mengalihkan sahamnya pada sebuah perusahaan kecil milik Alexander black.."
Dahi keriput Albert berkerut
" Apa katamu!?, perusahaan Alexander!?
" i- iya tuan.." gugup Rangga menjawab. dia menunduk menatap ujung sepatunya dengan muka ketakutan.
" Alex mulai merintis perusahaan baru, dia sedang mencari investor yang mau bekerja sama dengannya saat ini, dan dia berhasil membujuk pemilik saham diperusahaan Omega, lagi pula Mereka semua merupakan teman - teman lama Andrean black, papa Alexander." sembari kembali menunduk.
Buk!!!!, Tiba- tiba saja Albert sudah berada dihadapan rangga dan melayangkan tinjunya memukul perut Rangga yang malang.
" Kau asisten tak berguna! mengurusi itu saja kau tak becus, keluar kau dari ruangan ku, mulai hari ini kau kupecat..!!."
teriak Albert dengan suara lantang.
Rangga mendongak kaget
" Tu-tuan jangan pecat saya, saya mohon, saya akan bekerja lebih baik lagi.."
Rangga duduk
menyentuh kaki Albert memelas.
" KE-LU-AR!!" Albert berkata penuh penekanan.
kemudia menendang tubuh Rangga hingga terjungkal.
Albert mengenakan jas dan bergegas keluar.
" Martha aku ingin keluar sebentar ada urusan yang sangat mendesak, tunda semua schedule hari ini.." ucapnya pada sekretarisnya. mengabaikan Rangga yang masih meraung keras di dalam ruangannya.
Albert naik ke dalam BMW milik Alexander dia mulai berusaha mengubungi pengusaha yang menarik saham dari Omega Ingin mengajak mereka bertemu
Disebuah restoran termewah dipusat kota
yang merupakan salah satu Milik Alexander yang dirampas Albert.
Albert memasuki Ruangan VVIP seorang diri.
Dengan sabar dia menunggu.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, dia merasa gelisah
hampir saja mengamuk karena menunggu terlalu lama.
Merasa tak dihargai.
Hampir satu jam kurang lima menit barulah ke empat pengusaha sukses itu muncul. mereka bergegas masuk secara bersamaan kedalam Ruang Vvip.
Albert mengernyitkan alis curiga menyadari kemunculan mereka yang bersamaan
" Selamat siang tuan Albert, maaf kami terlambat, kebetulan tadi kami menghadiri suatu rapat secara bersama- sama."
Jelas herman si pria yang mirip panda.
Meski kesal Albert tetap tersenyum
" Tak masalah.." ucapnya sambil minum segelas air putih dihadapanya.
Mereka menikmati makan siang bersama tanpa bicara, hanyut dalam pikiran masing - masing.
" Kudengar tuan- tuan sekalian menarik semua saham yang ada di Omega..?"
Ucap Alex tiba- tiba membuat ke empat pria berumur didepan nya tersedak. Meski mereka sudah menduga tujuan Albert mengatur makan siang ini direstoran mewah milik Alex yang kini beralih menjadi miliknya, Karena dibahas secara mendadak tanpa basa basi membuat mereka salting.
Mereka langsung meminum air putih secara bersamaan.
Albert melanjutkan.
" Aku tahu mungkin aku terlihat kurang kompeten dan hanya bekas pelayan keluarga Andrean black, namun aku bisa melakukan apa saja untuk meraih keinginanaku.." ucap Albert dengan suara dingin.
glek!
Keempat nya menelan ludah,menyadari nada ancaman dari Albert. mereka bertatapan dalam diam kemudian meletakan peralatan makan fokus menatap Albert.
" Anda tuan herman, saya tahu saat ini anak gadis anda mengambil S-2 di Australia, Tuan Gani, istri mu sedang mengalami perawatan dirumah sakit karena sakit jantung, anda tuan marko memiliki Empat orang anak yang masih di tingkat menengah Atas dan menengah pertama, serta Anda tuan edward kedua putramu sedang berada dimaroko, bukankah begitu.??" Albert menatap dingin mereka sambil meminum anggur merah dengan nikmat terlihat Anggun bak bangsawan istana.
Mereka kompak melihat ke muka Albert yang dingin tanpa ekspresi, putih pucat, membuatnya terlihat seperti vampir yang sedang meminum darah didalam gelas sloky yang sejak tadi dipegangnya.
Mereka bergidik.
Albert dengan santai meletakan gelas Anggur yang baru diteguknya diatas meja.
" Apa kalian tidak khawatir jika terjadi sesuatu pada mereka....... "
Brak!!!
" Apa maksudmu??" Marko memotong ucapan Albert sambil mendobrak meja, membuat dentingan kecil diantara peralatan makan yang beradu.
Albert tersenyum sambil memutar gelas sloki anggur yang sudah kosong, senyum sinis terukir di bibirnya.
Dia bangkit berdiri.
" Aku kira pertemuan kita kali ini lebih dari cukup, Pikirkan lagi...Jangan coba - coba mengkhianati Albert mountery junior, atau kalian akan menyesal pernah mengenalku.."
Albert meninggalkan ke empat pria itu dengan puas.
__ADS_1
Dia tertawa terbahak bahak dengan Angkuh ketika keluar dari ruangan sehingga menarik perhatian pengunjung resto yang sedang menikmati makan siang disana.
" Makanlah sepuas anda, hari ini semuannya grastis" seru Albert pada pengunjung.
Pengunjung resto bertepuk tangan gembira, Siapa yang tak senang, mkan direstoran mewah yang satu porsinya bisa mencapai jutaan rupiah, dan kini mereka bisa makan sepuasnya dengan gratis pula.
Rezeki nomplok namanya.
Mereka mengangguk berterima kasih pada Albert, yang dibalas Albert dengan Lambaian tangan saja
" Anda terlihat sangat senang tuan Albert..?"
sapa Doni manajer restoran, berbasa basi menghampiri Albert.
" Kau benar Doni, perasaanku sedang baik hari ini, bekerjalah lebih giat, Aku akan memberimu bonus di akhir bulan." ucap Albert sambil menepuk bahu Doni.
Doni hanya mengangguk hormat. Albert berlalu meninggalkan restoran masih dengan senyum terukir dari bibirnya, padahal biasanya wajahnya kaku tanpa ekspresi. sedetik kemudian wajah Doni berubah muak.
Tak lama setelah kepergian Albert, ke empat pengusaha lainya ikut keluar.
namun berbanding terbalik dengan Albert wajah mereka terlihat Lesu.
Doni bergegas masuk keruang kerjanya.
mencari nomor Alexander di phonselnya.
" Halo tuan Alex, Albert baru saja, pergi dari restoran, Dia terlihat bahagia setelah keluar dari ruang Vvip Restaurant."
Alex tertawa," ternyata tua bangka itu masih berusaha melawanku.. ok, kerja bagus Doni, Terima kasih kamu masih berpihak padaku.."
Doni ikut tertawa senang
" Tentu saja Alexander,kau teman sekolah terbaik yang pernah ku miliki, kau sudah banyak membantuku, kini saatnya aku membantumu mengembalikan semua milikmu yang dirampas Albert"
Doni diam sesaat kemudian berkata dengan suara pelan
" ke empat pengusaha itu terlihat gelisah, mereka pasti diancam.." Doni berkata cemas.
" Tentu saja, Albert hanya mampu mengancam,," sahut Alex "dia tak punya keahlian apa pun selain menggunakan cara kotor, licik dan kekerasan untuk mencapai tujuan, tak masalah! Uncle Johny akan membantuku" lugas Alex berkata
" Syukurlah Alex, Uncle Johny menjadi pelindungmu. Dia merupakan ketua mafia terbesar dikota kita, dia pasti memiliki jaringan diluar dan dalam negeri yang bisa membantumu saat ini, Aku berharap kau bisa menjadi bos ku lagi meski tingkahmu konyol dan angkuh gak ketulungan " canda Doni sambil tertawa, dia tak sepenuhnya bercanda, Alex memang sangat Arogan.
Alex terkekeh, " maafkan aku selama ini suka bersikap se enak sendiri pada kalian.."
" tak apa kau kan sultan.."
Mereka tertawa bersama kemudian saling memutuskan sambungan telpon.
Alex meletakan ponselnya diatas meja, kemudian menarik nafas dan menghembuskan kuat.
Matanya menangkap wajah Jane di wall paper phonsel miliknya. Wajahnya menjadi murung. Memikirkan Jane membuat semangatnya Down.
Gadis itu tak pernah menghubunginya sejak percakapan terakhir mereka melalui phonsel.
" Sungguh sial nasibku, Dikhianati oleh Albert pelayan yang sudah kuanggap keluarga, jatuh miskin, bahkan gadis yang kucintai meninggalkanku karena orang tuanya meremehkan dan menolakku karena bangkrut, Baru kusadari ternyata selama ini mereka menyukai hartaku, bukan diriku dan kemampuanku,..." desah Alex sambil memijit Tengkuknya pelan pelan.
__ADS_1