Bidadari Pilihan Mamah

Bidadari Pilihan Mamah
Beasiswa 1


__ADS_3

Paginya papa Ryan sudah merasa lebih sehat lalu memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


" Bye Oppa ". Ucap Brya sambil melambaikan tanganya pada Ryan yang sudah berada di dalam mobil.


" Bye, Cucu Oppa ". Ucap Ryan sambil menutup kaca mobil. Mobilpun bergerak meninggalkan rumah Leo.


πŸƒ


πŸƒ


Leo berjalan menuju mobilnya bersama Bryan. Pagi ini sepeti pagi pagi biasanya mereka hanya berangkat berdua saja, karena sejak kejadian itu Mila seperti menghindar untuk bertatap muka dengan Leo. Seperti berangkat lebih pagi dan melewatkan sarapan bersama.


" Joko! ". Panggil Leo pada salah satu supirnya.


" Mobil sudah siap Tuan ". Ucap Joko seraya menunjuk ke arah mobil. Leo menyerahkan tasnya pada Joko.


Walaupun Leo mempekerjakan supir di rumahnya, tapi supir tersebut bekerja hanya untuk merawat mobil Leo dan mengantar jemput Bryan sekolah jika Leo sedang tidak bisa mengantar atau menjemput Bryan sekolah.


" Mas ". Panggil Mila sambil berlari ke arah Leo. Leo melihat ke arah Mila yang berlari ke arahnya dengan mengendong tas ransel berwarna biru dan masing - masing tangannya menenteng jas dan tas merah bergambar spiderman.


" Hah...hah...hah...( Mila mengambil nafas ) jas sama tas Adek ketinggalan ". Ucap Mila menyerahkan jas berwarna hitam pada Leo.


Leo menerima jas dari Mila dengan senyum samar.


" Tumben belum berangkat?. Tadi juga nggak ikut sarapan? ". Tanya Leo.


" Iya tadi Aku ngerjain tugas jadi nggak sempet sarapan. Mas Aku nebeng ya, udah mau telat soalnya ". Ucap Mila yang langsung masuk ke dalam mobil Leo.


Di dalam mobil...


" Ini, makan. Pasti Kamu Laper ". Leo menyodorkan kotak makan pada Mila.


" Makasih Mas ". Mila menerima kotak makan.


" Mas Leo sejak kapan bawa bekal ke kantor? ". Tanya Mila disela - sela makanya.

__ADS_1


" Itu punya Bryan ".


" Apa punya Adek?! ". Ucap Mila kaget. Ia menghentikan makanan yang hampir mendarat di mulutnya.


" Hmm ". Ucap Leo santai sambil fokus nyetir.


" Ya...kalau aku tahu itu punya Adek Aku nggak akan makan. Kasian Adek kalau nggak bawa bekal ". Ucap Mila menyesal sambil melihat ke kotak makan yang isinya hampir ludes dan ke arah Bryan secara bergantian. Namun Bryan seakan tidak perduli dengan bekalnya. Ia malah asik bermain game di Ipad milik Papanya.


" Udah nggak usah pasang tampang memelas. Orang Bryan juga nggak pernah makan bekalnya. Udah cepet habisin, itu sekolah Kamu udah di depan ". Ucap Leo.


" Iya, Aku habisin ". Mila pun menghabiskan sarapanya lalu buru - buru turun dari mobil dan masuk ke sekolahnya.


πŸƒ


πŸƒ


Kelas....


Mila masuk ke dalam kelas, namun di dalam kelas Mila hanya melihat beberapa orang saja padahal kelas sebentar lagi akan dimulai.


" Mereka lagi pada liat pengumuman beasiswa di papan madin ". Jawab Via.


Mila pergi menuju papan madin menyusul teman - temanya.


Nama Mila terpampang besar di papan madin sebagai salah satu penerima beasiswa.


" Selamat ya ". Ucap seseorang menepuk bahu Mila.


" Lando ". Ucap Mila menoleh ke sumber suara.


" Kamu nggak kasih selamat balik ke Aku? ". Tanya Lando sambil merentangkan kedua tangannya meminta dipeluk.


" Iya, selamat ya Ndo. Kita bakal satu kampus ". Ucap Mila menghambur memeluk Lando.


" Udah yuk ke kelas. 5 menit lagi mulai ". Ucap Mila melepaskan pelukan singkatnya pada Lando. Lando hanya mendengus malas. Padahal Ia masih pingin peluk - pelukan sama Calon Teman HidupnyaπŸ˜‚tapi menurut dia sendiri sih.

__ADS_1


πŸƒ


πŸƒ


" Dave cepat Kamu ke kamar Saya" . Panggil Ryan melalui sambungan telepon pada asistenya.


Sambil berbaring, Ryan memandangi langit - langit kamarnya. Saat sendirian seperti sekarang Ryan memang sering teringat akan almarhumah istrinya, Sifa. Ibu dari putri - putrinya yaitu almarhumah Nadia dan Aini yang sekarang entah dimana.


...FLASBACK.......


18 tahun lalu. Disebuah rumah sakit ternama di ibukota tepatnya di ruang VVIP seorang perempuan tengah berjuang melahirkan putri keduanya.


" Mamah harus kuat demi putri Kita ". Ucap Ryan sambil menggenggam tangan Sifa dan sesekali menciumi puncak kepala Sifa memberikan semangat pada Istri tercintanya.


Setelah melalui waktu dan drama yang cukup panjang akhirnya Sifa berhasil melahirkan seorang bayi perempuan. Namun tidak berselang lama Sifa menghembuskan nafas terakhirnya.


Ryan hanya bisa pasrah menerima takdir hidupnya.


" Seharusnya Aku nggak ngebiarin Kamu buat mempertahankan bayi itu, padahal kamu tahu kalau kangker darah kamu udah parah tapi kenapa Kamu keras kepala!. ". Ucap Ryan marah sambil mengacak rambutnya.


Ryan hanya bisa pasrah menerima takdir hidupnya. Belum selesai kesedihan karena ditinggal sang istri Ryan mendapat kabar bahwa salah satu supirnya berkhianat kepadanya dengan menculik putrinya yang baru 1 hari terlahir ke dunia.


...OFF...


" Kangker darah! kenapa penyakit itu merenggut harta paling berhargaku. Setelah Sifa dan Nadia Aku berharap keturunanku tidak ada yang terserang penyakit itu ". Batin Ryan.


" Pah, Shinta masuk ". Ucap Shinta masuk ke kamar Ryan.


" Gimana kondisi Papah? ". Tanya Shinta khawatir.


" Sudah Lebih baik. bagaimana? sudah dapat informasi tentang Aini? ". Tanya Ryan pada Shinta anak angkatnya yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Shinta.


Kebanyakan orang diluar sana mengira bahwa Shinta adalah anak dari simpanan Ryan. Padahan Shinta adalah asisten pribadi Ryan yang sudah Ryan anggap seperti anak kandungnya sendiri. Bahkan Leo, Angel dan Andi sekretaris pribadi Leo tidak mengetahui kebanaran tersebut. Ryan sengaja menyuruh Shinta untuk memata - matai Leo, karena sejak Nadia meninggal Leo jadi mengincar Shinta dan sering menanyai Shinta perihal Aini adik Nadia yang diculik. Ryan jadi khawatir jangan - jangan Leo mempunyai niat buruk pada kekuarganya, apalagi melihat sikap kasar Leo pada Bryan yang menganggap Bryan adalah anak pembawa sial membuat Ryan tambah resah dan menyuruh Shinta untuk mendekati Leo guna memata - matainya.


...Tbc...

__ADS_1


__ADS_2