
Setelah membereskan sisa makan malam. Kini Mila kembali berkutat di dapur untuk mencuci piring dan gelas yang kotor setelah digunakan untuk makan malam.
Sebenarnya para Maid sudah menahanya, tapi Ia masih bersikeras ingin mencuci paralatan makan sendiri. Ia sadar akan apa yang di katakan oleh suaminya jika Ia disini tidak lebih dari seorang pembantu saja. Statusnya sebagai Istri hanyalah sebuah jabatan diatas kertas saja.
Sebuah mobil mewah berwarna kuning memasuki halaman rumah Leo. Pintu mobil terbuka dan keluarlah seorang wanita cantik bak model mengenakan dress pendek berwarna merah dan menggunakan sepatu hak tinggi.
Ting Tong.....
Suara bel rumah
" Biar Aku aja Bi. Bibi nglanjutin pekerjaan Aku aja ". Ucap Mila. Ia membasuh tangannya yang penuh sabun lalu berjalan menuju pintu utama.
Cekrek....
Mila membuka pintu.
" Mana majikam Kamu? ". Tanya Shinta. Ia langsung masuk ke dalam rumah Leo tanpa salam. Ia bahkan sempat menyenggol bahu Mila, karena tubuh Mila yang agak pendek dan posisi Mila berdiri adalah di tengah - tengah jalan.
" M-majikan? Maksud Mba, Mas Leo? ". Tanya Mila ragu.
Shinta yang mendengar Mila menyebut kekasihnya dengan sebutan Mas curiga. Jangan - jangan perempuan yang ada di depanya adalah Istri kekasihnya seperti yang dikatakan oleh Bara, karena setahunya Kekasihnya itu anak tunggal.
" Oh, jangan - jangan Kamu Wanita penghibur Itu ya. Yang menjebak Leo supaya Leo mau menikahi Kamu? ". Shinta bicara sambil berkacak pinggang dan memelototkan matanya menatap Mila sangar.
Leo tidak fokus mengerjakan pekerjaanya, karena Ia mendengar suara gaduh - gaduh di bawah.
" Jawab!!! wanita penghibur!!! " Ucap Shinta menjambak rambut Mila sampai kerudungnya hampir lepas.
Mila tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya meringis kesakitan.
" Ada apa sih ribut - ribut ? " Tanya Leo sambil melangkah menuruni tangga.
Shinta yang melihat Leo turun langsung menghampiri Leo.
" Sayang ". Ucap Shinta manja. Ia langsung memeluk lengan Leo begitu Leo sampai di lantai dasar.
" Ada apa Sayang malam - malam main ke rumah Aku? ". Ucap Leo lembut sambil membelai kepala Shinta mesra. Mereka berjalan ke arah sofa.
" Cihhh ". Batin Mila berdecih. Bukanya Ia cemburu, tapi Ia tak habis pikir dengan kelakuan suaminya yang terang - terangan mengumbar kemesraan di depannya.
" Sayang apa bener yang dibilang sama Bara kalau Kamu udah nikah? Terus apa bener wanita itu Istri Kamu Sayang? ". Tanya Shinta manja menunjuk Mila.
" Ia Sayang ". Ucap Leo santai seperti tanpa beban.
" Ih, Kamu jahat Yang. Aku benci Kamu!!! ". Shinta marah. Ia melepaskan pelukanya kasar lalu memukul - mukul lengan Leo.
" Jangan marah dong Yang. Kamu tenang aja Aku nggak mungkin suka sama Dia. Aku hanya menuruti kemauan Mamah aja. Kamu tahu kan kalau Aku sampe ngebantah Mamah, Nanti Aku jadi miskin. Emang Kamu mau apa punya kekasih miskin ". Ucap Leo mesra. Ia menatap Shinta dengan tatapan penuh cinta dan menciumi tangan Shinta berulang Kali.
" Yaudah nggak papa asalkan Kamu nggak jatuh miskin. Tapi awas ya kalau Kamu sampe jatuh cinta sama Dia ( menunjuk Mila yang masih mematung di depan pintu ) Aku akan mutusin Kamu ". Ancam Shinta yang hanya dibalas dengan gelengan dari Leo.
" Nggak akan sayang ". Ucap Leo lalu mencium Shinta di depan Mila.
" Dasar pasangan gesrek. Udah tahu ceweknya matre masih aja dipelihara ". Dengus Mila di dalam hati.
" Sini Kamu! ". Perintah Leo kepada Mila setelah mengakhiri cumbuanya pada Shinta.
" Kamu mau minum apa Sayang? ". Tanya Leo lembut kepada Shinta.
" Aku mau minum lemon tea aja ". Ucap Shinta manja.
" Cepat Kamu buatin Kita kopi sama lemon tea! ". Perintah Leo pada Mila.
Mila pergi ke dapur untuk membuat minuman seperti yang Leo perintahkan.
" Silahkan diminum ". Ucap Mila sopan.
Shinta mengambil lemon teanya lalu meminumnya.
Byurrr.....
Shinta menyemburkan lemon teanya sampai terkena baju Mila.
__ADS_1
" Minuman apa ini!!! Kamu sengaja ya mau ngeracunin Aku? Rasanya asem banget!!! ". Shinta menyiran Mila dengan lemon tea sampai isinya tinggal separuh gelas.
Mila memandang Shinta geram.
" Apa Lo lihat - lihat!!! ". Tantang Shinta yang tak terima dipelototi oleh Mila. Shinta menarik kerudung belakang Mila sampai hampir terlepas.
" Maaf Mba ". Ucap Mila meminta maaf. Shinta melepaskan tangannya dari kerudung Mila.
" Udah sana - sana pergi. Dasar penghibur!!! ". Usir Shinta mendorong tubuh Mila sampai tersungkur jatuh.
Mila lalu pergi ke kamarnya.
" Emang beneran nggak enak ya minumanya? ". Tanya Leo. Ia mengambil sisa lemon tea yang tinggal setengah gelas lalu meneguknya.
" Manis kok ". Ucap Leo menatap Shinta.
" Iya emang minumanya manis. Tadi Aku sengaja soalnya Aku kesel sama Dia ". Ucap Shinta sebal.
" Aku perhatiin kayaknya Istri Kamu masih muda banget ya Yang ". Ucap Shinta.
" Iya, Dia emang masih muda banget. Umurnya aja baru 18 tahun ". Ucap Leo.
" Awas ya Yang kalau Kamu sampe suka sama Dia. Kan laki - laki jaman sekarang suka ngiler kalau lihat daun muda. Apalagi Kamu tinggal serumah sama Dia ". Ucap Shinta dengan nada seperti mengancam.
" Nggak akan ". Ucap Leo mengangguk mantap.
πππ
Setelah Shinta pulang Leo melanjutkan pekerjaanya.
Ia masuk ke dalam ruang kerjanya, namun saat Ia masuk, keadaan ruang kerjanya sudah berantakan. Bahkan berkas yang tadi sedang Ia pelajari kini sudah berubah bentuk menjadi bentuk pesawat terbang. Di atas meja kerjanya juga ada mainan mobil - mobilan.
" BRYAN!!! ". Ucap Leo geram. Segera Ia melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju kamar anaknya.
Brak!!!
Leo membuka pintu kamar Bryan kasar. Di dalam kamar tampak putrannya sedang berkutat dengan pensil warna dan sebuah buku gambar. Saat ini Bryan tengah mewarnai gambar hello kitty.
" Apa ini!!! ". Leo menyodorkan berkasnya yang sudah berbentuk pesawat.
" Pesawat ". Jawab Bryan takut.
" Kenapa Kamu rusak berkas penting papa!!! ". Leo barteriak kencang. Tubuh Bryan menggigil ketakutan, karena suara papanya. Leo sudah melayangkan tanganya untuk memukul Bryan.
Mila yang tak sengaja melewati kamar Bryan melihat Leo sedang memarahi Bryan. Bahkan Leo sudah melayangkan tanganya untuk memukul Bryan.
Ia langsung masuk ke dalam kamar Bryan dan memeluk tubuh Bryan yang sudah menggigil.
PLAK!!!
Satu pukulan mengenai tubuh Mila.
" Awww ". Ringis Mila. Ia bersyukur datang pada waktu yang tepat, karena jika telat satu detik saja mungkin pukulan keras Leo kini sudah mendarat pada pipi mulus Bryan.
" Lo??? ". Ucap Leo tidak percaya. Ia kaget, karena salah memukul orang. Ia memandang tangannya yang baru saja Ia gunakan untuk memukul Mila lalu mengacak rambutnya frustasi.
" Ah!!! Kalian sama saja ". Ucap Leo meninggalkan Mila dan Bryan.
" Bryan nggak papa kan? " Tanya Mila khawatir. Bryan hanya menggelengkan kepalanya. Ia masih syok dengan kemarahan papanya.
" Bryan duduk dulu ". Mila menggiring Bryan untuk duduk di tepi ranjang.
" Kakak mau buat susu dulu buat Kamu Nak ". Mila beranjak menuju dapur.
Kini Mila harus terbiasa untuk membuatkan Bryan susu sesuai perintah Angel. Mila masuk ke dalam kamar Bryan membawa segelas susu hangat.
" Diminum ya Sayang ". Perintah Mila lembut sambil membelai rambut Bryan sayang.
πππ
Setelah Leo kembali dari kamar Bryan kini Leo kembali melanjutkan pekerjaanya. Namun Leo tidak fokus, karena masih terbayang saat Ia memukul tubuh Mila.
__ADS_1
Akhirnya, karena Ia tidak fokus bekerja Ia memilih untuk merebahkan badannya lalu tidur.
πMIMPI LEOπ
" Mas ". Panggil Nadia pelan membangunkan Leo.
" Sayang! Kamu kembali? ". Ucap Leo tidak percaya di depannya ada wanita yang sangat Ia cintai.
Nadia yang dipanggil hanya menggeleng. Ia beranjak pergi meninggalkan Leo.
" Kamu mau kemana Sayang? ". Tanya Leo mengejar Nadia. Namun yang dikejar semakin menjauh padahal saat ini Leo tengah berlari mengejar Nadia tapi rasanya Leo seperti jalan ditempat atau tidak bergerak.
" Sayang!!! ". Leo memanggil - manggil Nadia. Namun nadia hanya menggeleng dan jarak mereka semakin jauh.
" Bulan....Bulan....Bulan....". Nadia mengucapkan kata Bulan sebanyak 3 kali lalu menghilang bersamaan dengan Leo terbangun.
" Huh...huh...huh... ". Leo terbangun dengan nafas yang memburu.
" Mila ". Tiba - tiba ia teringat akan Mila. Ia melihat ke arah jam. Saat ini pukul 12 malam. Entah mengapa Ia tiba - tiba khawatir dengan Istri kecilnya.
Ia memutuskan turun ke lantai bawah untuk melihat keadaan Mila.
πππ*
Saat ini Mila tengah berdiri di depan keca sambil melihat luka - lukanya. Hari ini tubuhnya banyak mendapat luka diantaranya luka dari jambakan dan dorongan Shinta, luka pukulan dari Leo juga luka batinya akibat perkataan kasar Leo.
" Sabar, karna Allah bersama orang - orang yang sabar ". Ucap Mila semangat sambil salah satu tangannya Ia lipat siku lalu menghentakanya di depan kacaπͺπͺπͺ
Mila lalu melanjutkan belajarnya walaupun sudah tengah malam sambil sesekali meringis menahan sakit di punggung dan lututnya.
CEKREK!!!
Leo membuka pintu kamar Mila yang tidak dikunci. Leo masuk dan melihat Istri kecilnya tengah sibuk berkutat dengan buku - buku.
" Mas Leo? ". Mila mengerutkan keningnya bingung melihat Leo sudah ada di dalam kamarnya.
Leo mendekati Mila lalu menariknya untuk duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan kotak obat.
" Mana yang sakit? ". Tanya Leo. Mila yang bingung hanya menurut, Ia menunjuk punggungnya dan lututnya.
Leo membuka baju Mila dan Ia melihat ada bekas atau lebih tepatnya cap merah berbentuk tangan di punggung putih mulus Mila.
Leo kaget melihat ada bekas tangannya di punggung Mila. Tanpa berkata - kata Ia mengobati luka di punggung dan lutut Mila.
" Lain kali nggak usah jadi pahlawan!!! ". Leo menatap tajam Mila lalu keluar dari kamar Mila setelah selesai mengobati luka Mila.
" Aneh ". Mila menatap kepergian Leo dengan tatapan aneh.
" Tadi marah - marah sekarang kok jadi baik ". Ucap Mila bingung dengan perilaku Suaminya. Ia bergidik ngeri.
πππ
" Fiuh... ". Leo merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Entah mengapa setelah mengobati Istri Kecilnya hatinya merasa lega. Kini Leo bisa tidur dengan tenang, bahkan nyenyak tidak seperti biasanya. Leo tidur sambil tersenyum seperti tidak memiliki beban.
*
*
*
*
*
Sebagai pembaca yang bijak....
Mohon untuk meninggalkan Vote, Like, Comment n Rate 5 nyaπππ
Love,
π
__ADS_1