Bidadari Pilihan Mamah

Bidadari Pilihan Mamah
Uang 500 Ribu


__ADS_3

" Ma,,,mafkan Ibu Nak. Se,,,sebenarnya Kamu bukan anak kandung Ibu ". Ucap Yanti terbata.


" Apa maksud Ibu. Mila ini anak kandung ibu! ". Ucap Mila menangis Ia menangis sambil salah satu tangannya memegang tangan Ibunya dan yang satunya mengelus pipi Yanti lembut. Namun Yanti menggeng pelan.


" Maafkan Ibu Nak. Mungkin umur ibu tidak banyak. Carilah keluargamu, mungkin kalung itu bisa membantu mu. Nanti kalau Ibu sudah tiada, carilah kebenaran yang lain. Masuklah ke kamar Ibu, di bawah ranjang ada sebuah kotak, bukalah. Kamu akan temukan jawabanya ". Ucap Yanti. Setelah mengatakan itu tiba - tiba dada Yanti sesak.


Tangis Mila meledak tatkala Ibunya baru saja menghembuskan nafas terakhir.


" Ibu... ". Ucap Mila di sela - sela tangisanya.


" Yang sabar ya Nak ". Ucap Yanti menenangkan Mila di dalam dekapanya.


🍃🍃🍃


Prosesi pemakaman berjalan dengan lancar tanpa kehadiran Leo. Sedari semalam Leo tidak bisa dihubungi. Saat ini Mila tengah duduk di ruang keluarga Angel. Tadi pagi setelah prosesi pemakaman selesai Mila langsung pulang ke mansion Leo bersama Angel dan Bryan. Ya Mila belum sempat packing dan mencari kotak seperti yang Ibunya perintahkan.


" Mama ". Ucap Bryan menyodorkan segelas air putih ke Mila. Mila mengambilnya dan tersenyum.


Tadi pagi saat Angel membawa Bryan ke rumah sakit Angel sudah memberi tahukan kepada Bryan untuk memanggil Mila dengan sebutan Mama.


" Makasih ya Nak ". Ucap Mila mengusap pucuk kepala Bryan. Bryan hanya tersenyum lalu berlari menuju ke halaman belakang untuk melanjutkan mainnya.


🍃🍃🍃


Plakkk


Angel menampar pipi Leo saat Leo pulang ke mansionya. Ia pulang saat petang dengan baju acak - acakan.


" Dari mana saja Kamu Kenapa baru pulang hah? ". Tanya Angel saat Leo masuk ke dalam mansion. Angel sangat marah, karena Leo tidak hadir saat pakaman mertuanya dan Sedari semalam Leo tidak bisa dihubungi.


" Mama kenapa sih Anak baru pulang malah dimarahin ". Ucap Leo santai. Menghiraukan pertanyaan Mamahnya, Ia malah pergi ke dapur. Di dapur Ia mengambil minuman kaleng dan langsung meminumnya sambil berdiri.


" Kamu ini ( Angel geleng - geleng kepala ) udah dewasa tapi tingkahnya masih kayak anak kecil. Kamu nggak malu sama Anak dan Istri kamu ". Ucap Angel lelah. Ia menyusul Leo ke dapur.


" Papah ". Ucap seorang anak kecil yang tak lain adalah Bryan. Bryan mendekati Leo. Saat ini Bryan tengah digendong oleh Mila.


Angel yang akan marah hanya bisa beristighfar di dalam hati. Ia tak mungkin memarahi putranya di depan Cucunya.


" Kali ini Kamu selamat ". Ucap Angel lalu meninggalkan mereka bertiga.


🍃🍃🍃


Setelah berunding dengan Angel akhirnya kini Leo bisa tinggal di rumah barunya. Tadi malam Ia meminta izin pada Angel supaya keluarga kecilnya tinggal terpisah dengan Angel. Dan kini Angel telah menyetujuinya. Ia berdalih ingin belajar hidup dewasa juga supaya Mila lebih mudah pergi ke sekolahnya, karena jarak dari rumah baru Leo dengan sekolah Mila tidak terlalu jauh.


" Ingat ya, disini status Lo itu sama kaya pembantu. Jadi Lo nggak usah berharap lebih. Dan satu lagi, jangan sekali - kali Lo ikut campur urusan Gue. Paham! ". Ucap Leo sambil mencengkram dagu Mila kasar. Mila hanya mengangguk pasrah.


" Bawa sendiri koper Lo sama Anak itu! ". Ucap Leo keluar dari dalam mobil lalu membanting pintu mobil dengan keras. Ia masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Mila dengan 2 koper besar plus 1 tas ransel punggung berwarna gelap yang berisi pakaian Mila.


" Mau Mamang bantuin nggak Non? ". Tanya Pak Satpam yang melihat Nonanya kesusahan.


" Nggak usah Pak, biar Saya bawa koper - koper ini sendiri saja, takutnya nanti Mas Leo marah. Bapak bantu gendong Bryan saja ". Ucap Mila melirik ke arah Bryan yang tertidur pulas di kursi belakang mobil.


Mila masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah Leo sudah menunggu dengan jas yang sudah bertengger di pundaknya.


Brukkk.....( Leo melemparkan jasnya ke muka Mila )

__ADS_1


" Kamar Lo disana dan satu lagi jangan pernah lo nginjakin kaki dilantai dua kecuali kalau Lo mau bersih - bersih. Inget lantai dua itu ruang private Gue ". Ucap Leo menunjuk sebuah kamar di dekat dapur.


" Iya, Mas ". Mila mengangguk.


🍃🍃🍃


Di ruang sempit inilah saat ini Mila berbaring setelah tadi Ia membereskan baju - baju dan keperluan sekolahnya di lemari sempit ruang tersebut. Ya saat ini Mila tengah berbaring di kamar pembantu. Leo menyuruhnya untuk tidur di kamar pembantu.


" Alhamdulillah ". Ucap Mila bersyukur. Setidaknya Ia masih bisa tidur dengan nyenyak di kamar tersebut. Ia juga bersyukur, karena Bryan bisa mendapatkan kamar yang lebih baik darinya. Leo membolehkan Bryan untuk menempati kamar tamu yang kini sudah Mila sulap menjadi kamar anak - anak. Entahlah, sejak Ia menikah dengan Leo, Ia seperti sudah merasa dekat dengan Bryan


Keesokan paginya......


Setelah tadi pagi Mila bangun pagi sekali, karena sehabis shalat shubuh Mila membantu bibi di dapur. Kini Mila telah siap dengan baju sekolahnya. Ia keluar dari kamar Bryan setelah selesai memandikan dan membantu Bryan bersiap - siap memakai seragamnya. Saat ini Bryan sudah bersekolah Tk dan tahun depan akan masuk sekolah dasar.


" Lama benget sih! ". Dengus Leo kesal. Ia menatap Mila sinis saat Mila sampai di meja makan bersama Bryan.


" Maaf ". Hanya kata itu yang lolos dari mulut Mila. Bukanya Ia takut, tapi Ia hanya malas untuk berdebat, karena saat ini sudah agak siang. Ia takut akan terlambat masuk sekolah.


" Nih, Uang jajan Lo sebulan. Oh, iya Lo berangkat sekolah sendiri. Gue nggak ada waktu buat nganter Lo ". Ucap Leo mengakhiri sarapanya. Ia melemparkan 5 lembar uang seratus ribuan. Bukanya Leo pelit atau sedang tidak punya uang, tapi Ia memberikan uang sedikit pada Mila sebagai bentuk permainan pertamanya. Ia akan melihat apakah Mila sanggup bertahan dengan uang jajan yang hanya sebesar 500 ribu selama sebulan.


🍃🍃🍃


Di sekolah.....


Mila masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas sudah ada Dina dan Zulfa yang sejak tadi menunggu Mila.


" Kamu kemana aja Mila dari kemarin? Di chatt nggak bales, kamu juga gak masuk sekolah ". Tanya Zulfa saat Mila mendudukkan dirinya di samping Dina.


" Sorry ya teman - teman Dari kemarin Kita lose contac. Sebenernya kemarin aku sibuk ngurusin pemakaman Ibu ". Ucap Mila menunduk sedih.


" Yang sabar Ya Mil. Aku yakin pasti Ibu Kamu udah bahagia disana ". Ucap Dina ikut memeluk Mila


" Awas - awas, Hayo Kalian apain Mila sampe Mila nangis kaya gini? ". Tanya Lando, Ia melepaskan pelukan Dina dan Zulfa dari Mila.


" Mila Kamu nggak diapa - apain kan sama Mereka. Kalau ada yang jahat sama Kamu bilang aja ke Aku ". Ucap Lando khawatir, salah satu tangannya menunjuk Dina dan Zulfa dan salah satu tangannya merengkuh bahu Mila.


" Biasa aja dong, nggak usah main lepas - lepas pelukan orang. Lagian mana ada Kita buat Mila sedih. Ya nggak Zul ". Ucap Dina melirik Zulfa. Ia sebal, karena tiba - tiba Lando melepas pelukan Mereka dan manuduh mereka yang tidak - tidak.


" Udah jangan ribut. Aku nggak papa ". Ucap Mila menghapus air matanya.


" Mil, Kemarin Kamu kemana aja kok nggak masuk? Aku dari kemarin rasanya tuh rindu banget sama Kamu ". Tanya Lando. Ia bertanya sambil menunjukan ekspresi khawatirnya.


" Dasar Gombal, Raja Drama. Muka udah jelek malah tambah dibuat - buat jelek ". Cibir Zulfa. Ia tak suka jika Sahabatnya di gombalin playboy cap kaleng krupuk kayak Lando.


" Sirik amat sih Lo ". Ucap Lando mendelik ke arah Zulfa. Yang ditatap hanya melengoskan wajahnya jengah.


" Makasih, ya Ndo. Kamu udah khawatirin Aku. Tenang aja Aku nggak apa - apa kok. Kemarin Aku nggak masuk, karena kemarin Ibu Aku habis meninggal ". Ucap Mila tersenyum getir. Ia mencoba tegar di hadapan Lando.


" Aku turut berduka cita ya. Maaf Aku nggak tahu jadi Aku nggak bisa memberikan penghormatan terakhirku sama Ibu Martua ". Ucap Lando percaya diri.


" Idih, PD ( Percaya Diri ) Lo. Udah yuk temen - temen kita baris, kan bentar lagi bel ". Ucap Dina menarik Zulfa dan Mila keluar kelas meninggalkan Lando.


" Sirik Lo ". Ucap Lando, matanya mengekor kepergian Zulfa, Mila dan Dina. Dina hanya melihat lalu menjulurkan lidahnya ke arah Lando.


🍃🍃🍃

__ADS_1


Saat jam makan siang Bara mengunjungi kantor Leo. Ia ingin mengajak Leo untuk makan siang bersama.


" Nih orang nggak ada malu - malunya tiap hari datengin Leo terus. Dasar ganjen ". Gumam Bara. Saat mobilnya memasuki tempat parkir perusahaan Leo, Ia melihat Shinta kekasih sekaligus Kakak ipar Leo baru saja meninggalkan perusahaan Leo. Tidak sengaja mobil Mereka berpapasan.


Cekrek....


Bara membuka pintu ruang direktur utama Alvaro Grup tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Dasar tua - tua keladi Lo. Tante - tante gitu aja masih Lo embat ". Ucap Bara masuk ke ruang Leo. Tante - tante yang Bara maksud adalah Shinta. Disana tampak Leo tengah duduk di kursi kebesaranya sambil salah satu tangannya memijat pelipisnya. Ia lelah, banyak pikiran.


" Dasar Jin Lo Bar. Tahu - tahu dateng, nggak ketok pintu lagi ". Dengus Leo sebal. Ia melihat ke arah Bara yang sudah berkacak pinggang di depanya.


" Gue nggak tahu sama jalan pemikiran Lo. Cewek ganjen kayak Shinta aja Lo pertahanin ". Decak Bara geram.


" Udahlah nggak usah dibahas. Lo kesini mau ngapain? ". Tanya Leo mengalihkan pembicaraan. Ia jengah jika harus berdebat dengan Bara, apalagi soal Shinta pasti nggak ada habisnya.


" Oh, iya sampe lupa untung Lo ingetin Gue ". Ucap Bara nyengir.


" Gue kesini mau ngjak Lo makan siang di cafe Gue yang baru aja buka ". Ajak Bara.


" Sorry Bar, kali ini Gue nggak bisa. Gue mau ke makam ". Ucap Leo menolak ajakan Bara.


" Oh, pasti Lo lagi kagen ya sama Nadia. Oke, kalo menyangkut masalah Nadia Gue ijinin. Sana buruan nanti jam makan siang keburu abis ". Ucap Bara tersenyum memaklumi suami dari almarhum sahabatnya, Nadia. Sebuah senyum kegetiran yang hanya Bara seoranglah yang tahu.


🍃🍃🍃


Di makam.....


Leo bersimpuh di depan pusara almarhum istrinya, Nadia. Setelah sebelumnya Ia menaburkan bunga di atas pusara Nadia.


" Nad, Aku lelah harus kayak gini terus ". Ucap Leo memulai menceritakan keluh kesahnya. Air mata Leo mulai luluh tak terbendung.


" Sampai saat ini Aku belum menemukam perempuan yang Kamu maksud. Aku udah lelah berpura - pura mencintai Shinta untuk menemukan informasi tentang keberadaan adik Kamu ". Ucap Leo berurai air mata.


" Maafkan Aku Nad, saat ini Aku belum bisa menjadi Ayah yang baik buat putra Kita. Bukanya Aku nggak mau ngejalanin amanah Kamu, tapi Aku butuh waktu. Sampai saat ini Aku masih terpukul saat Kamu meninggalkan Aku untuk selama - lamanya ". Leo mengelus batu nisan Nadia.


" Semoga Kamu bahagia disana Sayang. Impian mu untuk berjuang seperti Ibu mu sudah tercapai ". Ucap Leo mengecup batu nisan Nadia lalu menghapus air matanya. Jam makan siang hampir berakhir, jadi Ia harus cepat kembali ke kantor sebelum jam makan siang benar - benar berakhir.


Walaupun Leo seorang CEO, tapi tidak membuat Ia semena - mena terhadap waktu apalagi menyangkut kedisiplinan waktu kerja. Ia harus menjadi contoh bagi semua karyawanya.


Tbc.....


*


*


*


*


*


Vote sebanyak - banyaknya


**Love,

__ADS_1


😘**


__ADS_2