Bisakah Aku Mencinta?

Bisakah Aku Mencinta?
Part 37: Hujan mengingatkan kenangan


__ADS_3

Pagi ini cuaca terlihat tidak bersahabat.


Angin bertiup sangat kencang, suara gemuruh terdengar beberapa kali, hujan pun turun begitu deras.


Terbangun dari tidurnya karena suara petir yang bergemuruh, Lina mematikan AC yang sejak malam tadi menyala. Menyingsingkan korden yang menutup jendela kamarnya, lalu duduk menghadap jendela


Memandang suasana sekitar yang terlihat samar samar ditutupi derasnya hujan.


Tak seorang pun terlihat melintas disana. Seketika, dia teringat akan beberapa kisah masalalu yang pernah dia alami bersama sang ibu yang kini sudah berada di surga. Beberapa kenangan yang sempat terlupakan, kini teringat lagi. Hujan itu mengingatkannya dengan semua kisah indahnya.


(udah lama banget gak turun hujan. Dulu kalau hujan, biasanya mama ngajak main main di tengah hujan, lari larian kesana kemari, dan ngucapin permohonan. Mama selalu percaya, ketika hujan turun, berkat Tuhan juga turun bersama derasnya hujan. jadi kalau hujan turun, mama pasti ngucapin permohonan. Mama juga suka masak mie pedas favorit aku kalau hujan gini, minum teh manis hangat, seneng banget. Andai mama masih ada disini, pasti seru banget, bisa ngulang masalalu. Hmm.. Ma, apa mama disana liatin aku yang disini? aku butuh sosok mama yang bisa aku ajak bicara, banyak hal yang terjadi sama aku ma. Kadang aku gak sanggup jalanin itu semua. Aku butuh sosok mama dampingin aku disetiap cerita hidup aku. Meluk aku kalau aku lagi sedih, jagain aku. Kalau mama masih ada, semua pasti lebih baik) Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Tanpa disadari, airmatanya kini jatuh membasahi pipinya. Dia menangis mengingat kenangan yang terputar kembali dalam benaknya. Kesedihannya semakin dalam ditengah derasnya hujan. Sejak kecil hingga sekarang hanya ada kak jhon yang menemaninya. Walau sebenarnya kak jhon sangat baik padanya, selalu mendampinginya dalam situasi apa pun, memenuhi setiap keperluannya dan juga memanjakannya. Tetap saja, sosok seorang ibu lah yang sangat dia butuhkan saat ini. Terutama ketika dia mengalami hal hal yang membuatnya terluka.


Beberapa saat setelah hujan berhenti, matahari mulai menampakkan sinarnya, udara pun mulai terasa hangat.


Segera dibukanya jendela kamarnya, agar udara pagi bisa memasuki seluruh ruangan. Lalu bergerak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu, bersiap turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi ditemani sang kakak.


Dia tetap diam dirumah, tak beranjak kemana pun. Melakukan aktivitas nya hanya dirumah saja.


Peralatan dapur dan peralatan makan yang kotor dia cuci semua hingga bersih, Menyapu dan mengepel lantai seluruh ruangan, mencuci pakaian kotor yang sudah menumpuk sejak kemarin dan menyirami tanaman yang ada dihalaman belakang rumah.

__ADS_1


Walau pun dirinya masih belum pulih sepenuhnya, tapi semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat. Tak satu pun tertinggal.


(beres, huft.. Capek, semua serba menumpuk, hedehh.. duduk dulu ah) batinnya


Dia mengambil minuman dingin dari lemari pendingin, membawanya menuju ruang TV. Duduk dan menonton sendirian.


Acara hiburan yang ada di TV membuatnya merasa terhibur. Sampai acara tersebut selesai, dia tidak mengganti siaran sama sekali.


Siang harinya ketika dia mulai mengantuk, dia memutuskan untuk tidur siang di sofa, karna merasa malas untuk naik lagi kelantai atas.


Lelahnya terbalas sudah, dia tidur dengan sangat pulas. Walau hanya beralaskan bantal sofa yang tidak selembut bantal tidur yang ada dikamarnya.

__ADS_1


__ADS_2