
Perlahan ku buka mataku, samar-samar terlihat secercah cahaya.
"Cepat, cepat. Kita harus segera melakukan operasi darurat, siapkan ruang operasi segera. tidak ada waktu lagi. Cepat..!"
Kulihat ke arah suara itu berasal, seorang pria dengan jubah putihnya sedang teriak-teriak agar memberikan jalan dengan gayanya yang seperti mengusir semua penghalang.
Perlahan suara itu menjadi samar dan tak terdengar satu pun suara di telingaku, diikuti dengan kesadaranku yang mulai menghilang dan semua menjadi gelap.
KRIIIINGGGGGGGGG...
Dering alarm begitu nyaring terdengar di telingaku, sedikit menyadarkan ku dari tidur lelapku.
"Sayang, ayo bangun sayang..."
"Sudah waktunya untuk kita berangkat..."
Suara seorang wanita paruh baya yang sangat aku kenali membangunkan ku dari tidurku, Ibu. Ucapku dalam hati saat aku membuka mataku karena elusan halus dari tangan ibuku di atas kepalaku, elusan yang penuh kasih-sayang seorang ibu.
"Bu... kita mau ke mana?" tanyaku kepada ibuku yang sedang duduk di samping ku dan masih mengelus-elus kepalaku.
"Kita akan pergi berlibur ke pantai sayang, bukankah kau ingin ke pantai?" kata ibuku memberikan penjelasan.
"Baiklah Bu, aku akan siap-siap" ucapku sambil bangun dari tidurku.
"Ibu akan menunggumu dibawah, jangan lama-lama yah. Ayah sudah menunggu di mobil sejak tadi"
Aku mengangguk dan ibuku pergi meninggalkanku sendiri, aku mulai mempersiapkan diriku lalu keluar dari kamar menuju mobil.
Disepanjang perjalanan kami bertiga bernyanyi-nyanyi dalam mobil, sangat bahagia.
Ibu dan ayah duduk di kursi depan, sedangkan aku hanya sendiri duduk di kursi belakang. Aku, Hyorin. Anak satu-satunya dari kelurga sederhana, kini berusia 16 tahun, bertubuh ramping dengan wajah imut dan pastinya manis dengan sedikit lesung pipit di pipi sebelah kiri dan satu gigi gingsul, tinggi badan 150cm, berat badan 45kg, berambut hitam lurus sepinggul dan bermata hitam pekat.
Saat ini aku sedang menikmati liburan tahun baru dan keluargaku memilih kemping di sebuah pantai yang sedang marak jadi perbincangan di sosial media, untuk mengabulkan keinginanku maka ayah meminjam sebuah mobil di pusat peminjaman atau sewa mobil.
"Ibu, ibu... lihat, laut bu" teriakku bahagia sambil menunjuk keluar jendela.
"Iya, sebentar lagi kita akan sampai Hyorin" Ucap ayahku sambil bertukar pandang dengan ibuku dan tersenyum.
__ADS_1
Aku menikmati angin yang bertiup melalui jendela, aku benar-benar sangat bahagia memiliki orang tua yang sayang padaku. Walau kakek dan nenek juga keluarga dari ayahku tidak merestui pernikahan ayah juga ibuku dan diriku, namu kami bertiga tetap dapat hidup bahagia walau dalam kesederhanaan.
Sepanjang jalan aku terus menyanyikan lagu kesukaanku, sambil melihat pemandangan laut yang luas dari dalam mobil.
"berapa lama lagi baru kita sampai ayah?" keluhku merasa bosan
"Sabar Hyorin, sebentar lagi kita akan sampai" jawab ayahku
Aku mulai merasa lelah duduk di dalam mobil dengan hanya memperhatikan laut yang luas di bagian sebelah kiri jalan dan gunung-gunung juga hutan di bagian sebelah kanan jalan, selama kurang lebih 2 jam perjalanan hanya itu yang bisa aku lihat dan membuatku sangat ngantuk. Ibu berbalik dan memberikan sebuah snack kepadaku yang dia temukan di dalam tas jinjingannya, aku menikmati snack itu sambil terus menyanyikan sebuah lagu yang ayah putar di dalam mobil untuk mengatasi kejenuhanku. Ibu pun kembali ikut bergabung bernyanyi bersamaku dan beberapa menit kemudian di ikuti oleh ayahku yang tidak ingin kalah dengan kami.
BRAKKKK...
CRIITTTTTTZZZ...
BRAKKK... BRAKKKKK...
Mobil yang kami kendarai tiba-tiba saja tertabrak oleh sebuah bus yang melaju dari arah berlawanan dan terjadi tabrakan beruntun, mobil yang ayah kendarai terhempas dan terbalik.
Tiiiiiiiiiiiiinnnnnnn...
Duaaarrrrrrr...
suara ledakan terdengar dari kejauhan dan dentumannya cukup keras untuk sebuah ledakan mobil.
"A..yah... i..b..u..." panggilku dengan suara yang sangat pelan dan lemah, aku mencoba menatap ke arah sekitar dengan pandangan yang masih sedikit buram.
"Hyorin, apa kau bisa mendengar ayah?" Panggil ayahku dengan suara yang sangat panik.
"Aku mohon, setidaknya selamatkan anakku. Dia hanyalah seorang gadis biasa, ku mohon..." Ucap ayahku dengan penuh harapan dan tangisan.
"Dan jika aku menyelamatkannya, maka apa yang ku dapatkan?"
Terdengar suara seorang pria yang sedang berbicara dengan ayahku, namun aku tak dapat melihatnya dengan jelas karena penglihatanku yang masih buram. Aku merasa sangat lemah dan sulit untuk menggerakkan kakiku, bahkan untuk mengeluarkan suara rasanya aku tak sanggup.
"Hyorin... bertahanlah nak..." Ucap ayahku
"Aku bisa menyelamatkannya, tapi aku miliki satu syarat"
__ADS_1
"Katakanlah, apapun itu akan ku lakukan. Aku mohon padamu, Hyorin kami..." Ayah menangis dengan sangat pilu dan putus asa.
"Syaratku..."
Ngiiiiiiiiiiiiiiinggg...
telingaku berdengung seketika merasakan sakit yang menyiksaku, kesadaranku semakin lenyap perlahan-lahan. Namun, aku berusaha agar tetap terjaga dari sadar ku walau itu sangat sulit bagiku saat ini.
"... ku bukanlah sembarangan yang dapat dengan mudah ku berikan untuk menolong orang"
Suara pria itu kembali terdengar saat beberapa menit dengungan di telingaku tidak lagi berbunyi, namun aku tidak tahu sebagian kata yang diucapkan pria itu selama telingaku berdengung.
"Ba...baiklah, aku.. akan serahkan Hyorin kami padamu. Tolong... selamatkan Hyorin kami, ku mohon..." ucap ayahku dengan nada suara yang sangat parau dan sangat pelan hingga aku hampir tidak dapat mendengarnya.
Tidak lama setelah ayahku tidak lagi bersuara, ada sebuah tangan putih bersih dan kekar yang menarik tubuhku agar keluar dari mobil lalu membawaku pergi jauh ke dalam sebuah hutan.
GLUP...!
Aku merasakan sebuah sentuhan lembut di bibirku dan terasa bagai ada cairan yang cukup kental masuk kedalam mulutku juga melewati tenggorokanku, rasanya begitu tajam dan seperti tembaga.
"Hyorin, apakah kau bisa mendengar ku?"
Aku membuka mataku, mengerjapkannya perlahan. Wajah seorang pria tampak di hadapanku, pada awalnya terlihat buram, kemudian menjadi jelas dan aku dapat melihat sosok pria tampan bermata merah menyalah dengan rambut hitamnya yang menjadi tirai dan memblokir pandanganku.
siapa pria ini..? lalu, ibu dan ayah..?. aku mencoba mencari celah untuk pandanganku di sela-sela rambut pria tersebut, namun rasa sakit kembali menusuk di sekujur tubuhku.
"Masih belum..." Ucap pria tersebut.
Aku memperhatikannya lalu sepasang taring muncul sesaat sebelum pria itu menggigit lengannya sendiri, membuat dua lubang kecil yang mengeluarkan darah berwarna merah gelap.
Perlahan pria itu menunduk ke wajahku dan menempelkan bibirnya di atas bibirku, menyalurkan cairan darah yang ada di dalam mulutnya ke dalam mulutku dan memastikan aku menelan semua cairan darah itu.
'Darah..?! tidak, aku tidak ingin minum darah. Hentikan..!!' ucapku dalam hati.
Aku berusaha melawan dan ingin menjauhkan pria itu dariku, namun tenagaku tidak cukup kuat untuk mendorong tubuh kekarnya yang memelukku dengan erat.
Setetes demi setetes aku menelan habis semua darah itu di sela-sela batukku, rasa sesak mulai kurasakan dan rasa sakit di sekujur tubuhku semakin terasa. Kulitku serasa bagai tertarik-tarik dan sangat perih, beberapa tulangku di bagian kaki aku dengar berbunyi-bunyi dan itu sangat menyakitkan hingga aku tidak dapat menahan rasa sakit itu dan pandanganku mulai kabur ditutupi oleh air mata. Pikiranku mulai kosong dan kesadaranku mulai hilang saat pria itu menarik wajahnya untuk menjauh.
__ADS_1