BLOODY RING

BLOODY RING
18


__ADS_3

Aku menatap ke arah atas tebing, dari kejauhan aku melihat sosok Tuan Vilan yang sedang melompat ke arahku.


Air mataku semakin bercucuran, hatiku sangat bahagia melihat kehadiran Tuan Vilan. Aku menjulurkan lenganku ke atas, namun lagi-lagi pria yang menculikku menyiksaku dengan cara mengoyak bajuku di punggungku dengan cakarnya yang tajam hingga membuatku terluka.


Tak henti sampai disitu, ia pun menggigit punggungku dan meminum darahku layaknya vampire. Tuan Vilan yang melihat hal itu tidak tinggal diam, dengan kekuatannya Tuan Vilan tiba-tiba menghilang dan muncul tepat di hadapanku lalu memberikan pukulan yang kuat kepada penculikku hingga pria itu terhempas beberapa ratus meter ke belakang.


Aku yang telah kehilangan banyak darah dan tak bertenaga kini tergeletak di atas tanah yang dingin, Tuan Vilan masih belum memperhatikan diriku sebab ia sibuk dengan kegiatannya yang terus melawan sang penculik yang tidak aku ketahui asal usulnya dan kaki tangan siapa.


Tuan Vilan dan pria itu saling mengadu kekuatan hingga kelompok yang dipimpin Ryu tiba, hutan yang tadinya banyak pepohonan kini menjadi hutan yang penuh dengan pohon-pohon tumbang akibat pertempuran.


"Hyorin..." Ryu meraihku dan membantuku duduk dan bersandar di dadanya.


"Issk..." Rintihku merasa perih karena luka di punggungku mengenai baju Ryu.


"Bertahanlah Hyorin" Ucap Ryu sambil membalut lukaku dengan baju kemeja miliknya yang telah ia lepaskan untuk menahan aliran darahku.


Sebagian anak buah Ryu membantu Tuan Vilan mengejar sang penculik untuk menangkapnya karena pria itu melarikan diri, Ryu terus berusaha membantuku agar berdiri namu tubuhku sangat lemah untuk bergerak.


Rintihan demi rintihan terdengar dari arah belakangku menandakan pria itu telah tertangkap, hatiku mulai merasa legah saat seorang anak buah Ryu datang melapor bahwa pria itu sekarang berada di tangan Tuan Vilan.


"Hyorin, Tubuhmu semakin dingin. Sebaiknya aku menggendongmu dan membawamu kembali ke rumah agar kau dapat dirawat oleh dokter" Ucap Ryu.


Aku hanya mengangguk pelan sebab suaraku tak dapat lagi keluar karena terlalu lemahnya diriku, Ryu mulai berdiri dan hendak mengangkat tubuhku. Namun, saat itu juga sosok pria yang menculikku terseret tepat di bawah kakiku dengan wajah dan tubuh yang penuh darah.


Ryu yang hendak menggendongku kembali mengurungkan niatnya dan menatap Tuan Vilan yang sedang menginjak kepala pria itu, aku pun ikut menatap Tuan Vilan meminta penjelasan.


"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan padanya" Ucap Tuan Vilan dengan tegas sambil menatapku.


Air mataku kembali bercucuran melihat Tuan Vilan yang begitu sangat baik padaku, rasa sukaku pada Tuan Vilan kini semakin besar.


'Aku tidak ingin melihat dia lagi... aku ingin dia mati... hiks...' Ucapku dalam hati sambil terus menatap Tuan Vilan dengan wajah yang basah karena air mata.

__ADS_1


Senyuman sadis tersunggunging di bibir Tuan Vilan seakan mendengar kata hatiku, Tuan Vilan menarik rambut pria itu hingga ia berdiri.


Tanpa menunggu lama dan aba-aba, tebasan tangan Tuan Vilan tepat di leher si penculik hingga memisahkan kepala dan tubuh sang pria tepat di depan mataku. Darah bercucuran dari potongan kepala yang masih dipegang Tuan Vilan dan bagian tubuhnya jatuh tergeletak di kakiku dengan darah yang masih menyembur keluar bagaikan air mancur, Ryu yang kaget dengan spontan meraih kepalaku dan menghalangi pandanganku dengan kedua tangannya.


"Singkirkan tanganmu dari Hyorin!!!" Bentak Tuan Vilan.


"Apa kau gila?! Kau menyuruh Hyorin menyaksikan semua kengerian itu!?" Bantah Ryu melawan Tuan Vilan.


"Hyorin! jangan pernah menutup matamu, lihatlah dan saksikan semua yang aku lakukan tanpa terkecuali!!" Perintah Tuan Vilan membuatku menyingkirkan tangan Ryu yang menghalangi pandanganku.


Air mataku terus mengalir membasahi pipiku, aku terus menatap Tuan Vilan dan potongan kepala yang ia pegang. Rasa mual dan pusing menyiksaku, namun aku tidak dapat memalingkan wajahku dari Tuan Vilan sebab perintahnya.


"ALARIC!!!" Bentak Ryu pada Tuan Vilan.


Rasa kesal terlihat jelas di wajah Tuan Vilan, ia melempar potongan kepala itu jauh-jauh lalu meraih lenganku dan menarikku dalam pelukannya.


"Hyorin adalah milikku, kau pun tahu akan hal itu" Tegas Tuan Vilan lalu ia menggendongku ala bridal dan membawaku dengan kekuatannya yang cepat.


"Aku tidak senang mencium bau mereka di tubuhmu" Ucap Tuan Vilan.


"Tuan, rasanya aku tidak kuat lagi" Ucapku parau dan lemah, tubuhku mulai merasa menggigil karena rasa dingin.


Tuan Vilan menatapku lekat dan sesaat kemudian ia menggigit lengannya dan menyuruhku meminum darahnya lagi, aku memang tidak menyukai hal itu namun aku tahu bahwa tubuhku ini tidak kuat lagi dan aku tahu bahwa dengan meminum darah Tuan Vilan akan mengembalikan kekuatanku.


Dengan perlahan aku menikmati tiap darah yang keluar dari lengan Tuan Vilan hingga bekas gigitan itu kembali menutup dengan sendirinya, tenagaku telah kembali sedikit.


Setidaknya aku tidak merasakan dingin lagi, darah Tuan Vilan membuat tubuhku merasa sedikit hangat.


"Sudah waktunya kita pulang" Ucap Tuan Vilan sambil menatap langit yang telah berubah warna menjadi langit sore.


Pertempuran Tuan Vilan dan kejadian hari ini terjadi begitu cepat hingga tidak terasa waktu telah membuat langit berubah menyambut sang malam, Tuan Vilan kembali menggendongku dan kami kembali ke halaman rumah Ryu.

__ADS_1


"Chitose tidak akan membiarkanmu membawanya, Alaric" Ucap Ryu yang sejak tadi telah menunggu kami di dekat mobil mewah milik Tuan Vilan.


"Dan gertakanmu itu tidak akan bisa menghalangiku" Tantang Tuan Vilan.


"Seharusnya kau tahu bahwa Hyorin adalah tunanganku sejak lama, Alaric..." Balas Ryu


"Dan kau pun tahu bahwa Hyorin telah menjadi milikku sejak kejadian itu..." Jawab Tuan Vilan tidak ingin kalah.


Ryu dan Tuan Vilan terus beradu pandangan tanpa sepatah kata pun, sedangkan aku masih menahan rasa sakit di semua bagian luka-lukaku. Tuan Vilan berbalik arah menatapku yang meringis kesakitan.


"Jangan menghalangiku Ryu..." Ucap Tuan Vilan memberi peringatan pada Ryu.


Ryu yang melihatku mulai merasa tersiksa akibat rasa sakit mulai membuka jalan untuk kami masuk ke dalam mobil yang bermerk Rolls-Royce, salah satu mobil mewah milik Tuan Vilan.


"Katakan pada Chitose bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan apa yang telah menjadi milikku" Ucap Tuan Vilan dalam mobil, memperingati Ryu kembali bahwa aku adalah milik Tuan Vilan seorang.


"Jalankan mobilnya Gideon" Perintah Tuan Vilan pada Gideon yang telah siap di bangku supirnya.


Dengan kecepatan yang tidak biasa, Gideon melakukan mobil yang aku tumpangi hingga kediaman Ryu tidak lagi terlihat hanya dalam hitungan menit.


Di dalam mobil Tuan Vilan mulai merobek baju yang aku kenakan dan melepaskannya dari tubuhku, aku terus melawannya namun tenagaku masih belum cukup untuk menahannya hingga tubuhku yang hanya mengenakan pakaian dalam benar-benar terpampang jelas di hadapan Tuan Vilan dan Gideon.


"AAAAARRRGH..!" Teriakku kesakitan saat Tuan Vilan menjilati luka yang ada di punggungku.


Rasa sakit dan perih membuat air mataku mengalir, aku terus memohon agar Tuan Vilan berhenti menjilati luka-lukaku namun ia tidak memperdulikan aku. Gideon pun terlihat sangat tak acuh, mengabaikanku dan kegiatan Tuan Vilan yang terus menjilati semua bagian luka-luka yang ada pada tubuhku tanpa terkecuali.


Sesekali Tuan Vilan menggigit lengannya dan meneteskan darahnya di bagian luka-lukaku hingga membuat luka-luka itu menutup dengan cepat tanpa bekas, namun hal itu sangat menyiksa diriku.


Rasa sakit akibat tarikan kulitku di semua luka-luka yang telah ditetesi darah Tuan Vilan benar-benar terasa menyakitkan, sepanjang perjalanan aku terus teriak dan menangis juga memohon ampun pada Tuan Vilan karena rasa sakit yang begitu menyiksa.


Saat kami telah sampai di kediaman Tuan Vilan, semua luka-luka yang ada pada tubuhku telah hilang dan kulit tubuhku kembali mulus seperti kulit bayi. Namun proses itu membuat diriku pingsan beberapa kali selama perjalanan karena aku tidak dapat menahan rasa sakitnya, Tuan Vilan menggendongku yang lemah dan membawaku hingga kamar.

__ADS_1


"Selamat malam..." Bisik Tuan Vilan lalu mengecup singkat bibirku.


__ADS_2