
"Hyorin..."
Sebuah suara terdengar samar-samar di telingaku, antara mimpi dan nyata. Pandanganku sedikit buram dan mataku menemukan sosok pria yang sangat aku rindukan, air mataku mulai terbendung di kelopak mataku.
"Tuan Vilan..." Ucapku dengan suara serak karena menahan tangis, Tuan Vilan tersenyum dengan sangat ramah hingga membuat tangisku pecah.
"Tuuuaaan Viiilaaan... hiks..." Rengekku sambil merangkukan lenganku di leher Tuan Vilan dan memeluknya dengan erat, tangisku kini tak terbendung lagi.
Tuan Vilan menyambut pelukanku dengan sangat gentle, membelai rambutku dengan lembut dan mengecup keningku.
"Jangan menangis Hyiorin, lihatlah matamu sudah seperti bola tenis" Ledek Tuan Vilan.
"Huweeeeeeee..." Tangisan ku semakin pecah, aku terus memukuli dada Tuan Vilan yang bidang. Merengek dan terus memukul-mukulnya hingga Tuan Vilan menangkap kedua lenganku.
"Apa kau segitu merindukan aku?" Tanya Tuan Vilan sambil tersenyum licik padaku.
Aku menganggukkan kepalaku mengiyakan jahilan Tuan Vilan, tangisan ku masih menggema hingga aku tersedu-sedu.
"Me..menga..pa Tu..tu..an Vil..an ba..ba..baru dah..tang.. pah..pa..dahkuuuu....huweeee..." Ucapku terbata-bata.
Tawa Tuan Vilan menggema membungkus suara tangisku dalam ruangan, ia terus tertawa meledek ucapanku yang terbata-bata dan melihat mataku yang membengkak.
"Maafkan aku..." Ucap Tuan Vilan sambil mengusap air mataku dan tersenyum ramah padaku.
"Tenanglah, sebentar lagi kita akan pulang. Istirahatlah sejenak, aku akan mengurus beberapa masalah dahulu. Setelahnya kita akan pulang kembali, istirahatlah Hyorin..." Lanjut Tuan Vilan menenangkan aku dan membaringkanku kembali sambil mengecup keningku.
Tangan Tuan Vilan menutup kedua mataku dan ia menyuruhku untuk segera tidur agar saat aku terbangun nanti perasaanku akan jauh lebih membaik, aku membantah perkataan tuan Vilan dan terus menyingkirkan tangannya dari mataku.
"Jika aku tidur Tuan Vilan akan hilang lagi, aku tidak mau..." Ucapku sambil mengusap-usap mataku yang masih mengalirkan air mata.
"Tenanglah Hyorin, aku tidak akan hilang" Ucap Tuan Vilan mencoba menenangkan diriku kembali, namun usahanya itu sia-sia karena aku terus saja melawannya.
Wajah Tuan Vilan terlihat sangat kesal dengan tingkahku, ia mulai menggigit pinggir bibirnya hingga terluka dan berdarah.
"Kau tahu kalau aku sangat tidak menyukai perlawanan" Ucap Tuan Vilan dingin, ia menatapku tajam dan memegang rahangku dengan kuat.
Amarah Tuan Vilan terlihat sangat jelas di wajahnya, ia menundukkan kepalanya dan mendaratkan sebuah kecupan yang sangat intens di atas bibirku.
__ADS_1
Tuan Vilan menekan dan ******* menikmati bibirku dengan sangat kuat, perlahan lidah Tuan Vilan mulai berusaha menerobos bibirku dan masuk kedalam mulutku membuat darah Tuan Vilan ikut masuk ke dalam tenggorokanku. ******* demi ******* dan tarikan demi tarikan di lidahku yang Tuan Vilan lakukan membuatku kualahan, pikiranku mulai kosong dan nafasku mulai berat.
"Bernafaslah Hyorin, jangan tahan nafasku seperti itu.." Ucap Tuan Vilan dan kembali menikmati bibirku hingga terasa panas dan membengkak bagai adonan roti yang didiamkan.
Taring Tuan Vilan mulai terasa menggesek bibirku dan perlahan tuan Vilan menggigit bibirku hingga jeritanku sedikit keluar karena tersentak rasa sakitnya, darah yang keluar dari bibirku dilumat oleh Tuan Vilan dengan sangat rakus.
Ciuman kami semakin menggairahkan, lenganku mulai bergerak sendiri menjelajahi dada Tuan Vilan yang sangat bidang dan kekar. Aku sedikit mengutuk kain yang menutupi dan menghalangi tanganku untuk menikmati sensasi kulit dada Tuan Vilan, perasaan frustasi mulai menggerogoti pikiranku karena mendamba.
Wajahku memerah merasa malu saat Tuan Vilan memaksa tubuh kami terpisah dan menyudahi ciuman yang begitu menggairahkan, nafasku terengah-engah dibawah wajah Tuan Vilan karena kualahan mengimbangi permainannya yang sangat lihai.
Tubuh dan wajahku semakin panas ketika mata Tuan Vilan yang indah menatapku lekat, perasaanku sangat mengharap dan mendambakan Tuan Vilan lebih lagi dan lagi.
"Istirahatlah..." Bisik Tuan Vilan tepat di samping telingaku.
Kini aku tidak dapat melawan perintah Tuan Vilan, mataku mulai terasa berat saat nafasku kembali normal. Perlahan aku memejamkan mataku setelah beberapa saat Tuan Vilan beranjak pergi meninggalkanku saat seorang pelayan datang memanggilnya untuk bertemu Ryu, entah hal apa yang akan mereka bicarakan namun semua itu tidak membuat hatiku risau.
Saat kesadaranku mulai menjelajah ke alam lain, aku tersentak mendengarkan suara ketukan pintu dari luar ruangan. Kubuka mataku dengan berat dan melihat pintu kamar yang perlahan terbuka, seorang pria memasuki ruangan dengan pakaian rapi khas bodyguard.
"Nona, saatnya kita berangkat" Ucap pria itu.
"Maaf Nona, saya bukan pelayan Tuan Vilan" Ucap sang pria memotong perkataanku saat aku menyebutkan nama Tuan Vilan yang akan menungguku hingga aku terbangun kembali dari tidurku.
"Apa maksudmu? Tuan Vilan tadi mengatakan padaku bahwa ia akan membawaku pulang" Ucapku merasa kaget dan khawatir.
Apakah pertemuanku dengan Tuan Vilan tadi adalah mimpi? dan ciuman tadi...
Aku menyentuh bibirku untuk memastikan apakah tadi hanyalah sebatas mimpi ataukah nyata, namun bibirku masih terasa panas dan sedikit perih karena gigitan Tuan Vilan.
"Saya adalah utusan dari nenek anda" Kata sang bodyguard.
Aku lupa bahwa nenek itu telah menjanjikan akan mengutus seseorang untuk membawaku, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Hatiku mulai merasa khawatir, aku berusaha bangun dari tidurku walau terasa berat. Pria itu terus berjalan semakin mendekatiku hingga ia tepat ada di samping ranjang ku dan menatapku, rasa khawatir semakin menggerogotiku. Aku tidak ingin pergi dan tinggal bersama nenek itu, aku terus berpikir hal apa yang harus aku lakukan agar tidak dibawa oleh pria kiriman nenek sialan itu.
"A..aku rasa kita harus membicarakannya dahulu dengan Tuan Vilan..." Ucapku.
"Tidak perlu Nona, sebab kita tidak punya waktu banyak" Bantahnya.
__ADS_1
"Wa..waktu..?" Ulangku.
Pria itu memegang lenganku dengan sangat kuat dan memaksaku untuk turun dari ranjang hingga aku tersungkur di atas lantai, pria itu membangunkanku dengan sangat kasar.
"Leepaaaskaaan!" Teriakku meronta.
"Kau tidak mungkin utusan Chitose!" Ucapku lagi.
"Ckh!!" Cetusan suara kekesalan terdengar keluar dari mulut pria itu.
"TUUUAAAAAAN VIIILAAAAAAN..." Teriakku.
Tidak lama setelah aku berteriak, terdengar suara derapan kaki menuju ruanganku dan pria yang memaksaku itu semakin marah menatapku kesal. Seketika pria itu mulai berubah menjadi siluman serigala yang memiliki telinga dan ekor, matanya merah karena marah padaku.
"AAAAAAARRGH..!!" Teriakku saat kuku-kuku tajam pria itu menusuk luka bekas gigitan Vampire yang ada di lenganku.
Dengan kasar pria itu menarikku tanpa memperdulikan darah yang mengalir keluar dari lenganku, Tuan Vilan sampai duluan di dalam kamar sebelum yang lainnya. Namun Tuan Vilan kalah cepat dengan pria itu, aku diangkat dan dibawa pergi oleh pria itu melompat melewati balkon saat Tuan Vilan tiba.
"Tuan Viiiilaaaaaaan..." Teriakku sambil menjulurkan tanganku meminta Tuan Vilan meraih ku, namun pria yang membawaku lebih cepat.
"Lepeskan akuuu... leeepaaaass..." Rontaku namun pria itu tetap berlari melintasi pohon-pohon dan hutan sambil membopongku di lengannya bagai karung beras yang ia angkat dengan entengnya.
Teriakanku dan ocehanku terus aku lontarkan pada pria yang menculikku, perutku bagai terkoyak-koyak di dalam akibat guncangan dan tekanan dari lengan keras pria yang menahan tubuhku.
"Hugh..! Rasanya aku jadi muuuuaaaaaaaal.." ucapku saat pria itu melompat terjun ke bawah dari atas tebing yang sangat tinggi.
Saat pria itu telah mendaratkan kakinya di atas tanah, aku mulai menggigit lengannya dengan sangat kuat hingga pria itu melemparkanku dengan kuat untuk melepaskanku.
BUGH!!
kepalaku terbentur disebuah batang pohon hingga berdarah, penglihatanku menjadi kunang-kunang akibat rasa sakit dari benturan itu.
Dengan rasa kesal pria yang melemparku kembali meraih kepalaku dan menarik rambutku dengan sangat kuat, bayangan akan mimpiku sebelumnya tergambar di ingatanku. kejadian yang aku alami saat ini seperti dalam mimpiku itu dan rasa sakitnya melebihi yang aku bayangkan, air mataku mengalir membasahi pipiku dan teriakanku menggema di dalam hutan.
"HYORIN..."
"Tuan Vilan..."
__ADS_1