
Sebelum aku mati karena terbunuh oleh para vampire atau Tuan Vilan itu, sepertinya aku akan mati duluan karena menaiki semua tangga-tangga ini setiap hari menuju ruangan Tuan Vilan itu. Ucapku dalam hati sambil memasang raut wajah yang sangat sedih bercampur kesal.
Rasa lelah seakan benar-benar menyiksaku, betisku terasa sangat pegal menaiki semua tangga-tangga yang ada di hadapanku.
Kami terus berjalan hingga sampai di depan kamar Tuan Vilan, Gideon pamit meninggalkan aku seorang diri untuk menghadap Tuan Vilan.
TOK... TOK... TOK...
Ku ketuk pintu besar bermandikan emas yang ada di hadapanku, lalu aku mengambil langkah pendek kebelakang agar tidak terlalu dekat dengan pintu.
"Masuklah" Perintah sebuah suara yang ada di dalam ruangan tersebut yang ku duga itu adalah Tuan Vilan.
Aku membuka pintu itu dan melihat sosok pria dengan tubuh maskulin dan juga kekar sedang berdiri tegap bersandar di samping jendela kaca besar kamarnya yang terbuka lebar dan terpaan angin yang menerbangkan tirai-tirai halus tembus pandang yang ada pada pintu kaca di bagian sisi lainnya menambah sebuah sentuhan drama romantis dalam pandanganku, jauh di hadapanku Tuan Vilan sedang membaca sebuah buku dalam remang-remang cahaya rembulan yang masuk dari balik jendela kaca dan beberapa cahaya lilin yang ada pada kamar.
Sebuah kaca mata baca bertengger indah di atas matanya yang berwarna hijau menyalah, semakin membuatnya terlihat sangat sexy di mataku.
Mengapa kau begitu tampan dalam kegelapan ini? dan mengapa tidak menyalahkan lampu? bukankah ada lampu indah yang besar tergantung di atas langit-langit kamar ini? Ucapku sambil melihat ke arah langit-langit.
"Aku tidak begitu menyukai banyak cahaya" Jelas Tuan Vilan padaku.
"Kemarilah, persiapkan air mandiku. Aku harus bersiap-siap menghadiri sebuah pertemuan" Ucap Tuan Vilan.
Aku pun masuk dan menutup pintu kamar, menuju kamar mandi untuk mempersiapkan air di dalam bathtub yang berukuran sangat besar.
"Airnya telah siap Tuan" Ucapku saat air itu telah penuh dan aku menghadap Tuan Vilan untuk melapor.
"Baiklah" Jawab Tuan Vilan sambil berjalan menuju meja yang ada di dalam kamar itu, ia menaruh buku itu kemudian berjalan menuju ku dan menghadap ku.
"Tunggu apa lagi? Bukakan pakaianku dan mandikan aku, bukankah kau telah diberitahukan oleh Gideon tentang pekerjaanmu?"
Heeeee~eeeeh...??! Yang benar saja? membuka bajunya dan memandikannya? Apakah kau seorang bayi? Protesku heran dalam hati.
Tuan Vilan terus menatapku sambil menaikkan sebelah alisnya, menungguku membuat sebuah gerakan yang harus melucuti semua pakaiannya.
__ADS_1
"Cepatlah, aku tidak mau terlambat dalam sebuah acara" Desak Tuan Vilan sambil mengambil kedua lenganku lalu menaruhnya tepat di atas dadanya, menyuruhku membuka semua pakaiannya tanpa tersisa. Tanganku bergetar hebat saat mulai membuka baju kaos yang ia kenakan.
GLUP...
Aku menelan ludah dengan sangat susah payah saat Tuan Vilan mulai mengangkat kedua lengannya dan sebagian bajunya telah terangkat hingga menonjolkan bentuk tubuhnya yang sixpack dan maskulin, jantungku mulai berdegup bagai pacuan kuda.
"Hayolah, mengapa hanya membuka pakaianku kau begitu tegang dan lama. Cepatlah, aku sudah tidak sabar..."
"Heh..?! Tidak sabar..?" Tanganku terhenti lalu menatap wajah Tuan Vilan.
"Apa yang kau lihat?! Cepatlah, aku gerah. ingin mandi!"
Oooh... tidak sabar mandi? dasar, aku sangka apa maksudmu. Keluhku dalam hati, aku pun melanjutkan kegiatan ku yang sempat aku hentikan. Melepaskan baju kaos Tuan Vilan hingga semua tubuh bagian atasnya terpampang sangat jelas di depan mataku, Oh Tuhan apakah ini sebuah keajaiban ataukah sebuah cobaan darimu?
Saat ku perhatikan tubuh bagian bawah Tuan Vilan, rasanya tanganku tidak sanggup melanjutkan.
"Oh ya ampun, mengapa tanganmu terhenti lagi?!" Ucap Tuan Vilan dengan sangat kesal
"A..aku.."
"Buka" Perintah Tuan Vilan dengan nada kesal.
Tanganku mulai bergerak sendiri, aku pun merasa sangat bingung mengapa tanganku dapat bergerak sendiri. Aku mencoba menarik kedua tanganku agar menjauh dari celana itu, namun tidak bisa.
Tanganku terus saja membuka kancing celana Tuan Vilan hingga celana itu kini ku turunkan melewati betis-betisnya yang indah, hatiku terus berteriak-teriak mengutuk tanganku yang bergerak sendiri tanpa perintahku.
"Yang ini lagi dan mandikan aku segera" Ucap Tuan Vilan sambil menunjuk sebuah ****** ******** yang masih tersisa dan melekat di tubuhnya.
Saat aku mulai membuka ****** ***** itu, aku segera menutup kedua mataku. berharap aku tidak melihat sesuatu yang dapat membinasakan detak jantungku, dalaman itu berhasil ku lepaskan dari tubuh Tuan Vilan.
Perlahan ku buka mataku saat aku mendengar tuan Vilan telah berjalan menuju kamar mandi, sebuah gambaran buah peach besar indah sedang bergoyang-goyang dengan sangat lentur dan terlihat kenyal di dalam pandanganku.
Oooh Tuuuhaaaaan...! Mataku telah ternodai, aku telah menatap bokong Tuan Vilan yang indah itu. Ucapku dalam hati sambil menutup kedua mataku dengan kedua telapak tanganku, berharap pemandangan yang wow itu tidak terlihat lagi.
__ADS_1
"Hyorin!!!" Teriak Tuan Vilan dari dalam kamar mandi.
Aku berlari menuju kamar mandi dan pemandangan buah peach itu terlihat lagi saat aku menghadap Tuan Vilan, dengan cepat aku menundukkan kepalaku.
"I..iya Tuan.." Jawabku.
Tuan Vilan membalikkan tubuhnya, menghadap padaku dan saat aku ingin menutup mataku. Jemari Tuan Vilan meraih daguku dan menariknya perlahan ke arah atas, membuatku menyaksikan sesuatu yang benar-benar membinasakan detak jantungku.
Aku melihatnya Tuhan... Aku melihatnya...!! oh tuhan... mataku semakin ternodai.. hiks...! Ucapku ulang-ulang kali dalam hati saat pandanganku melewati kejantanan Tuan Vilan yang begitu kekar, rasa malu dan kacau berkecamuk di dalam diriku.
Saat pandangan kami bertemu, aku melihat matanya kini telah berubah menjadi warna merah menyalah. Matilah aku kali ini. Tangisku dalam hati, berharap Tuan Vilan tidak akan menyedot habis darahku dan membuatku menjadi tinggal tulang terbungkus kulit.
Perlahan Tuan Vilan menundukkan kepalanya, rambutnya yang panjang tergerai lembut menjadi tirai-tirai halus memblokir pandanganku.
"Darahku pahit, darahku baru saja terserang flu. Jika anda meminumnya, maka Tuan bisa sakit dan Mati..!!" Teriakku spontan dan panik saat Tuan Vilan membelokkan kepalanya menuju arah samping kepalaku.
Pft...
"Aku akan sakit dan mati? dan apa itu yang ku dengar? darahmu baru saja terserang flu..?!Hahahahahaha..."
Tawa Tuan Vilan menggema dalam kamar mandi, pemikiranku pun kembali jernih saat mendengar tawa itu dan mulai merasa malu atas apa yang telah ku ucapkan dan membuat Tuan Vilan tertawa.
"Aku tidak akan sakit dan aku memang sudah mati, aku tidak memiliki detak jantung sepertimu itu. Lalu, darahmu itu bukannya pahit. Namun yang tercium dari ku, dan yang ku tahu bahwa darahmu itu sangat manis" Jelas Tuan Vilan sambil menggenggam telapak tangan kananku dan mendekatkannya di bibirnya lalu menggoda jari manis ku dengan lidahnya, membuat jantungku dan perasaanku semakin kacau.
"Argh..." Teriakku merasakan sakit saat taring Tuan Vilan menusuk jari manis ku dan membuat darah keluar sedikit dari bekas taring itu.
Tuan Vilan mulai memasukkan jari manis ku ke dalam mulutnya dan menghisap darahku kemudian kembali menggigitnya.
"Putus... putus.. putus..! jariku akan putus... hiks.." Panikku sambil meneteskan air mata karena menahan sakit.
Tuan Vilan mengeluarkan jariku itu dari mulutnya lalu menjilatnya, tanda gigitan dari tuan Vilan berbekas di jari manis ku membentuk sebuah lingkaran bagai cincin.
"Segera mandikan aku dan pakaikan pakaianku, mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan semua itu. Kamu adalah pelayan pribadiku yang bertugas melayaniku, maka singkirkan sikap malumu itu bagai seorang virgin" Jelas Tuan Vilan.
__ADS_1
"Apa maksudmu..? Akukan emang seorang Virgin... tapi baru saja kau menodai mataku ini.." Celotehku pelan dan kesal.
Aku pun segera memandikan Tuan Vilan, dalam hati aku terus berkata Anggap saja dia ini anak kecil, anak berusia lima tahun yang manja dan harus ku urus.